The Act of Killing: Pembantaian 65 dari Kacamata sang Pembunuh

Judul Film: The Act of Killing

Sutradara: Joshua Oppenheimer

*Spoiler Warning*

“Kalau PKI Kejam, kita lebih kejam”

(Adi Zulkadry dalam The Act of Killing)

Beberapa waktu yang lalu akhirnya saya berkesempatan menonton The Act of Killing. Sayangnya pada kesempatan tersebut kami tidak sempat berdiskusi, sehingga banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya setelah menonton film tersebut. Namun sebelum membahas pertanyaan atau memberi komentar pada filmnya, saya akan sedikit membahas mengenai film tersebut.

Review Singkat

The Act of Killing menceritakan tentang seorang ‘algojo’ 65 bernama Anwar Congo, yang menuturkan pengalamannya bersama beberapa kawannya ‘mengeksekusi’ orang-orang yang dianggap sebagai PKI di wilayah Medan. Film ini memperlihatkan bahwa peembantaian 65 banyak menggunakan’jasa’ organisasi pramiliter, salah satunya Pemuda Pancasila dimana Anwar menjadi anggotanya.

Dalam film berdurasi 140 menit tersebut, Anwar dan beberapa orang kawannya menceritakan dengan bangga, bagaimana mereka ‘berjasa’ menumpas komunis di Indonesia. Anwar juga menceritakan, dan mempraktikan bagaimana cara mereka mengintrogasi, membunuh, bahkan metode mana yang paling efisien dalam membunuh, yang didapatkan Anwar dari film-film gangster yang biasa dia tonton.

Selain kesaksian Anwar, di dalam film ini juga menampilkan kesaksian beberapa orang lainnya yang terlibat di dalam pembantaian 65 tersebut. Salah satunya adalah Ibrahim SInik, pemilik harian Medan Pos, yang kantornya juga digunakan untuk tempat menginterogasi dan membunuh orang-orang PKI. Tak hanya itu, ia juga mengaku dalam proses interogasi untuk keperluan berita, memang ‘diusahakan’ agar pemberitaan memancing kebencian masyarakat terhadap PKI.

Adegan dalam Adegan

Film The Act of Killing, kabarnya menghabiskan waktu hampir tujuh tahun untuk proses pembuatan. Kalau boleh saya memisahkan, di dalam film ini ada dua kelompok adegan. Pertama adalah adegan wawancara dengan beberapa ‘tokoh.’ Kelompok kedua adalah adegan di dalam adegan. Jadi, memang Anwar Congo dkk yang tergabung di dalam kelompok preman bioskop, berniay untuk membuat  film bertajuk Arsan dan Aminah, untuk mengenang jasa mereka dalam membantai PKI.

Adegan demi adegan dimana Anwar Congo dkk menjadi bintang filmnya. Juga ditampilkan di dalam The Act of Killing. Namun, kita tidak hanya menonton adegan Arsan dan Aminah, tetapi juga adegan di balik pembuatannya, termasuk berbagai wawancara dengan tokohnya.

Adegan di dalam adegan tersebut langsung dimainkan oleh Anwar dengan mempraktikan adegan-adegan interogasi dan pembunuhan. Di dalam salah satu adegan, tokoh PKI yang diinterogasi diperankan oleh pria yang ayah angkatnya menjadi korban pembunhan 65, ketika dia kecil. Setelah  adegan selesai dia perankan, dia terus menangis.

Adegan lainnya menunjukan penyerbuan Pemuda Pancasila ke sebuah perkampungan, menyeret orang-orang yang dianggap PKI, dan membakar rumah mereka. Adegan ini juga melibatkan anak-anak dan perempuan. Bagi saya, adegan tersebut menunjukan kengerian yang luar biasa. Visualisasi diseretnya para pria, diiringi suara bentakan dari orang-orang Pemuda Pancasila, dilengkapi dengan jeritan dan tangisan perempuan dan anak-anak yang memekakan telinga. Adegan itu, sukses mencekam perasaan saya. Setelah adegan selesai, sejumlah anak yang terlibat dalam film tersebut tidak berhenti menangis, sementara  seorang perempuan pingsan.

Preman = Freeman?

Peran organsiasi paramiliter dalam hal ini Pemuda Pancasila juga sangat menonjol di dalam film. Peran-peran untuk ‘membela’ Pancasila melalui forum-forum pertemuan mereka terus digelorakan. Berkali-kali istilah preman dikaitkan dengan free man. Bebagai argumentasi tentang perlunya ada preman juga keluar di dalam film ini. bukan hanya dari Anwar, dkk, tapi juga dari sejumlah tokoh, seperti Yapto, Gubernur Sumatera Utara, anggota MPR, Deputi Kementerian Pemuda dan Olah Raga, serta Jusuf Kalla. Melihat sejumlah tokoh di dalam film ini, saya menjadi yakin bahwa negara ini dijalankan oleh Preman.

Kekuasaan Pemuda Pancasila sebagai preman pun masih berlanjut sampai saat ini. bahkan, dalam salah satu adegan sempat ditunjukan bagaimana seorang pimpinan Pemuda Pancasila Medan ‘mengemis dengan kekerasan’ kepada para pedagang Tionghoa di Pasar.

Kasihan Itik

Adegan ‘menarik’ lainnya adalah ketika Anwar Congo bersama kedua cucunya sedang memberi makan ituk. Dalam adegan tersebut, Anwar menyuruh cucunya meminta maaf kepada salah satu ana itik yang kakinya pincang, karena terpukul/tertendang (saya lupa persisinya) oleh cucu Anwar. Anwar sempat berkata, kasihan itiknya. Kontras, mengingat dia telah membunuh manusia tanpa rasa kasihan.

Ruang untuk Pelaku

Sebenarnya pertanyaan saya lebih banyak tertuju kepada proses produksi dari film The Act of Killing. Apakah para aktor diberikan ruang dan dilibatkan dalam menentukan plot cerita, adegan mana yang dimasukan ke dalam film, adegan mana yang di cut, dll. Karena saya mendapatkan kesan, seolah-olah mereka memang ingin membuat sebuah film, untuk memperingati jasa mereka sebagai penumpas PKI, serta mengingatkan agar PKI tidak muncul lagi. Namun, secara keseluruhan saya justru mendapat kesan bahwa film ini hendak membongkar sebuah ‘kejahatan kemanusiaan’ yang jelas terjadi di Indonesia.

Di dalam film juga terlihat perdebatan mengenai salah atau benar tindakan para algojo membunuhi warga sipil ini. Joshua Oppenheimer bahkan menegaskan bahwa berdasarkan hukum internasional yang berlaku, perbuatan para algojo ini salah, dan bisa disidangkan di Pengadilan Ham Internasional Den Haag.

Di beberapa media, Anwar mengemukakan keberatannya terhadap The Act Of Killing. Bahkan dalam sebuah media yang saya baca Anwar merasa ditipu. Di media lain, Anwar juga mengaku belum menonton hasil akhir dalam film tersebut.

Tapi apapun itu, film ini menjadi bukti bahwa impunitas terjadi di Indonesia. seorang pembunuh (menurut pengakuannya 100 korban), yang secara gamblang menceritakan perbuatannya, masih bisa berkeliaran dan hidup tenang. Sementara keluarga korban tidak mendapatkan pemulihan apapun, malah masih banyak yang ketakutan dengan stigma PKI, mengalami pengucilan, dan lain-lain.

Trauma Healing

Hal lainnya, yang menjadi concern saya adalah beberapa orang yang dilibatkan dalam proses pembuatan film, yang berpotensi trauma. Saya pribadi saja, yang hanya menonton merasakan sebuah kegoncangan. Apalagi orang-orang yang terlibat di dalam pembuatan film tersebut. Antara lain, seorang pria yang memerankan PKI yang diinterogasi. Mungkin dia meningat ayah angkatnya yang dulu ikut dibunuh. Selain itu, beberapa anak-anak dan perempuan juga mengalami histeris setelah memerankan penduduk kampung yang suami/ayahnya dituduh PKI, sehingga diseret, dibunuh, dan rumah mereka dibakar.

Bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah mereka mengalami trauma? Adakah upaya untuk pemulihan bagi mereka?

Menarikan Apa?

Pertanyaan saya lainnya adalah soal beberapa adegan perempuan-perempuan yang menari, yang menjadi pembuka film, dan muncul melalui beberapa adegan lainnya. katakanlah saya tidak mengerti seni perfilman. Tapi saya memang tidak paham keterkaitan adegan tersebut dengan isi cerita.

Apresiasi

Bagaimanapun, buat saya film ini harus diapresiasi. Film ini menjadi begitu jujur dalam menceritakan sejarah kelam bangsa Indonesia. kalau biasanya, film-film dokumenter menjadi ruang bagi para korban 65 bercerita, kali ini, yang diangkat adalah sutu pandang si pelaku. Buat saya pribadi tidak terlalu penting seberapa bangga mereka sebagai pelaku pembunuhan. Toh kita sama-sama tahu betapa propaganda Orba memberangus nilai kemanusiaan kita terhadap orang-orang yang dilabel PKI. Namun yang penting adalah bahwa fakta-fakta yang mereka paparkan harusnya menjadi modal bagi kita dalam mengungkap sejarah bangsa ini. pembantaian 65 jelas terjadi tidak hanya dibuktikan oleh para korban/keluarga, tetapi juga secara gamblang dipaparkan oleh para pelaku.

Tapi saya perlu mengingatkan kawan-kawan yang ingin menonton film ini. terutama apabila kawan-kawan memiliki keterkaitan dengan para korban. Keinginan kita untuk membongkar sejarah kelam bangsa ini, dimulai dari diri kita sendiri. Seberapa bisa kita menghadapi kisah yang (setidaknya bagi saya pribadi) menggoncang rasa kemanusiaan kita. Cerita 65 itu sangat kelam, tetapi itulah kenyataan bangsa ini.

4 responses to “The Act of Killing: Pembantaian 65 dari Kacamata sang Pembunuh

  1. Ping-balik: Perempuan di Tengah Konflik | Berbagi Dunia

  2. Apakah para aktor diberikan ruang dan dilibatkan dalam menentukan plot cerita, adegan mana yang dimasukan ke dalam film, adegan mana yang di cut, dll.

    Para aktor utama, dalam hal ini Anwar dan Herman, terlihat dalam film mengunjungi Ibrahim Sinik. Singkat cerita, Anwar minta bantuan Ibrahim Sinik agar dibuatkan sebuah skenario film berdasarkan Arsan & Aminah  catatan harian yang dinovelisasi sendiri oleh pelaku pembantaian lain di Serdang Berdagai (http://edsus.tempo.co/konten-berita/politik/2012/10/01/432916/6/Kebun-Sawit-Inspirasi-Film-The-Act-of-Killing). Sebagai, “orang film” Ibrahim Sinik menyanggupi. Ibrahim Sinik, yang juga pernah menjadi produser film dan juga Ketua Festival Film Indonesia selain menjadi pemilik koran Medan Pos, majalah Misteri, serta Supranatural dan Seksologi, menunjuk dua wartawannya, salah satunya Soaduon Siregar untuk mengadaptasi secara bebas novel tersebut menjadi sebuah skenario film. Soaduon bersama rekannyalah yang menuliskan plot cerita tersebut dibawah ‘supervisi’ Ibrahim Sinik. Kalau Anda perhatikan, Soaduon juga memerankan hantu Moncot ayah Aminah dalam Arsan & Aminah.

    Walau ada skenario, banyak sekali adegan dibuat berdasarkan improvisasi di set bergantung ide yang muncul secara spontan, atau masukan sesuai dengan pengalaman/ingatan dan ide Anwar–baik pengalaman kehidupan nyata di masa lampau, maupun ide yang didapatnya dari film yang ditontonnya sewaktu ia masih muda ketika ia bekerja sebagai pencatut karcis bioskop. Pemeran korban, yang sehari-hari adalah Ketua SOKSI, mengusulkan dialog “Terima kasih atas eksekusinya…” di air terjun, dan ide itu serta merta disambut baik oleh Anwar.

    Banyak sekali faktor produksi diserahkan kepada Anwar dan kawan-kawannya, termasuk soal memilih pemeran, kostum, make up, set, dll. Walaupun begitu, Anwar tahu bahwa Arsan & Aminah tidak pernah dimaksudkan sebagai film yang utuh, terpisah, dan tersendiri. Proses pembuatan film Arsan & Aminah adalah ruang yang diciptakan oleh Jagal/The Act of Killing sebagai tempat Anwar mengekspresikan gagasan dan imajinasinya.

    Secara umum, Arsan & Aminah dishoot oleh kru yang biasa membuat sinetron di Medan, sementara kami mengambil gambar persiapan, dan ‘behind the scene’nya. Walaupun begitu, semua bahan mentah hasil shooting ‘film’ berdasarkan skenario buatan Anwar, Ibrahim, Soaduon, dan kawan-kawan ini dibawa ke London untuk diedit sebagai bagian Jagal/The Act of Killing. Bagian mana yang masuk (juga bagian dari wawancara mana yang masuk atau tidak) sepenuhnya adalah pertimbangan estetik dan kebutuhan naratif yang diputuskan oleh sutradara, ko-sutradara, dan para penyunting.

    Di beberapa media, Anwar mengemukakan keberatannya terhadap The Act Of Killing. Bahkan dalam sebuah media yang saya baca Anwar merasa ditipu.

    Dan di media lain, http://www.gatra.com/kolom-wawancara/18796-joshua-oppenheimer-saya-tidak-pernah-menipu-siapapun.html,  sutradara Joshua Oppenheimer juga sudah menjelaskan dan membantah soal tipu-menipu ini.

    Di media lain, Anwar juga mengaku belum menonton hasil akhir dalam film tersebut.

    Kami bisa sampaikan di sini bahwa Anwar telah menonton hasil akhir, film Jagal, dengan teks bahasa Indonesia, director’s cut, 159 menit, dari depan sampai habis.

    Antara lain, seorang pria yang memerankan PKI yang diinterogasi. Mungkin dia meningat ayah angkatnya yang dulu ikut dibunuh.

    Suryono adalah tetangga Anwar yang direkrut untuk mendukung Arsan & Aminah karena mereka mengetahui bahwa ia seorang aktor, pelatih drama, dan sering main dalam pementasan. Suryono tidak pernah bercerita kepada kami, baik di dalam shooting maupun di luar shooting mengenai latar belakang dan sejarah keluarganya, sampai dalam kesempatan istirahat, dia ceritakan pada pemeran lain di set. Pada saat Suryono bercerita kru TAoK tidak betul-betul menangkap ceritanya. Satu orang dari kru TAoK yang paling memperhatikan mengira bahwa itu adalah salah satu cerita yang didengar Suryono waktu ia kecil.

    Cerita Suryono baru dipahami sepenuhnya di meja editing ketika dialog telah ditranskrip, dan semua hasil shooting dipelajari lagi dengan seksama. Tim TAoK lalu menelusur lagi cerita Suryono dari teman-temannya di PP, dan mendapatkan konfirmasi bahwa memang betul ibu kandung Suryono menikah dengan Abun yang dibunuh pada 1965 sebagaimana diceritakannya.

    Bagaimana Suryono yang ada di pihak korban mau bekerjasama dengan kelompok para pelaku, yang boleh dibilang turut membunuh ayah angkatnya, kami sendiri tidak pernah mendapatkan penjelasan langsung darinya. Ketika kami berusaha menemuinya kembali, sayangnya Suryono telah meninggal dunia. Tapi kami melihat, ketika ia mengatakan bahwa, “Ini bukan koreksi….” sebetulnya Suryono sedang memproklamirkan kekalahannya sebagai pihak korban. Ia menunjukkan sebuah kompromi mutlak dan ketidakberdayaannya dihadapan para pelaku. Sebuah ketidakberdayaan yang dipertunjukkan itu menjadi sebuah keberdayaan untuk menyintas dan meneruskan hidup.

    Selain itu, beberapa anak-anak dan perempuan juga mengalami histeris setelah memerankan penduduk kampung yang suami/ayahnya dituduh PKI, sehingga diseret, dibunuh, dan rumah mereka dibakar. Bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah mereka mengalami trauma? Adakah upaya untuk pemulihan bagi mereka?

    Semua pemeran dalam adegan pembantaian kampung diambil dari keluarga besar Pemuda Pancasila, termasuk Suryono (yang bisa Anda lihat berseragam PP duduk di mobil kuning dalam acara Dialog Khusus TVRI.) Motivasi mereka adalah membantu menyukseskan apa yang dibayangkan Anwar sebagai penjelmaan dari ingatan dan imajinasinya. Selain itu, seperti dikatakan Herman pada briefing sebelum shooting, ini adalah sebuah kesempatan untuk membuat PP mendunia, “Dunia! London ini. Inggris sana. Bukan Jakarta. Jakarta berapalah….”

    Sementara anak-anak, mereka senang mendapat kesempatan untuk berperan, bagi mereka ini adalah sebuah permainan. Kabar mereka sekarang baik-baik saja sejauh yang kami pantau. Mereka tidak trauma berkepanjangan. Tapi betul bahwa ketika adegan itu dishoot, beberapa anak menjadi ketakutan karena adegannya terlihat seperti sungguhan. Kru TAoK memastikan bahwa setelah shooting semua anak baik-baik saja. Anak-anak selalu mendapatkan hak untuk tidak ikut shooting setiap saat mereka tidak mau. Tapi, justru dengan anak-anaklah kru merasa mudah bekerjasama, karena, walaupun mereka sering menangis dalam peran mereka, sesungguhnya mereka tidak se-rewel Oom, Tante, dan orangtuanya yang ikut dalam film. Setelah istirahat beberapa waktu mereka sudah ceria dan siap bermain lagi. Yang lebih susah justru menggerakkan para preman yang tubuhnya sudah tidak lagi atletis itu.

    Di sela shooting, pada waktu istirahat, sering ada rumor beredar di antara pemain, terutama figuran lokal yang diambil dari sekitar lokasi shooting, bahwa di sekitar tempat shooting terdapat kuburan massal korban-korban pembantaian ’65. Ibu yang terlihat pingsan dalam film itu, menurut pemain lain, bisa jadi kemasukan arwah korban pembantaian yang tidak tenang di alam lain. Ibu itu segera dilarikan ke rumah sakit di Medan untuk diperiksa dan dirawat, ia kemudian merasa sehat, dan pulang dari rumah sakit hari itu juga. Menurut dokter, ia mengidap darah tinggi.

    Intinya, sebagaimana yang ingin disampaikan juga di dalam film, gambar yang terlihat di layar bukanlah cerita keseluruhan mengenai apa yang terjadi di set.

    Pertanyaan saya lainnya adalah soal beberapa adegan perempuan-perempuan yang menari, yang menjadi pembuka film, dan muncul melalui beberapa adegan lainnya. katakanlah saya tidak mengerti seni perfilman. Tapi saya memang tidak paham keterkaitan adegan tersebut dengan isi cerita.
    Proses pembuatan adegan musikal (air terjun, ikan beton raksasa) sedikit berbeda lagi. Tapi di sini Anwar juga yang paling banyak berperan sebagai sutradara: dia memilih lagu, dan bersama kawan-kawannya, merancang dan melaksanakan kedua adegan tersebut. Anwar dan figuran lain juga bebas membuat perubahan sepanjang prosesnya.
    Pada akhirnya, kami bekerja dengan sangat berhati-hati dalam adegan ikan mas raksasa, menghadirkan motif dari mimpi yang setengah dilupakan. Mimpi buruk Anwar yang indah? Sebuah alegori bagi ‘gula-gula’ penyampaian kisahnya? Untuk kebutaannya atas realitas? Untuk sebuah kebutaan yang disengaja dan menjadi kacamata penulisan semua sejarah, dan oleh sebab itu, tak terelakkan, kita mengenali (dan gagal mengenali) diri kita sendiri? Adegan ikan berubah sepanjang film, tapi adegan itu selalu menjadi sebuah dunia untuk cuci mata, dunia penuh kekosongan dan hantu. Kalau saja semua hal itu bisa dijelaskan dengan kata-kata, kami tidak akan merasa perlu memasukkan adegan tersebut ke dalam film.
    (dari Catatan Produksi, selengkapnya di: http://jagalfilm.com/?page_id=682 atau http://www.facebook.com/notes/jagal-the-act-of-killing/catatan-produksi/246261448830354)

    Bisakah Anda membayangkan Hitler menari di Auschwitz? Kesimpulan apa yang bisa Anda ambil jika pembantai massal bisa menarikan cha-cha di tempat ia melakukan pembunuhan terhadap puluhan atau ratusan orang?

    Anwar, selain seorang atlet bowling dan petinju di masa mudanya, juga adalah seorang pedansa. Ia juga menggemari film-film musikal. Ia ingin, sebagaimana Born Free dijadikannya sebagai soundtrack hidupnya, menjadikan dansa-dansi itu sebagai bagian yang penting dari film Arsan & Aminah. Karena film ini adalah hidupnya, atau siapapun bisa mengatakan yang sebaliknya, karena hidup Anwar adalah sebuah film yang diperankannya sendiri.

    Dan terus ia menari.

    Seperti para pembunuh massal dan pelanggar HAM berat lain yang masih bisa menari-nari di atas kuburan massal yang tersebar di seluruh bumi nusantara ini.

  3. kata nya membela pancasila, tp kelakuan nya bertentangan dg pancasila. kata nya umat beragama, tp kelakuan nya spt tdk beragama. membunuh org semena mena.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s