Kenapa Internet dan Perempuan

Ada banyak hal yang ingin aku tulis beberapa waktu belakangan ini. namun sayang karena load pekerjaan dan hal lainnya, jadi banyak yang tertunda. Salah satunya mengenai Indonesia Internet Governance Forum (Indo IGF). Jadi, Indo IGF itu sebuaf forum yang membicarakan tata kelola internet, dimana salah satu jaringanku, yaitu Perempuan Erotis, memiliki kepentingan untuk masuk ke jaringan tersebut.

Well, nyatanya perlu perjuangan lho, sampai kelompok perempuan bisa ‘masuk’ ke forum itu. Bahkan upaya tersebut disambut dengan pertanyaan, “Memang apa hubungan antara perempuan dan internet. Pertanyaan terebut juga ga sekali ditanyakan, di forum pun kami beberapa kali menghadapi pertanyaan yang sama.

Jadi, di tulisan kali ini sebenarnya aku ga membicarakan tentang Indo IGF itu sendiri, melainkan soal perempuan dan internet.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa perempuan menjadi warga ‘kelas dua’ atau bahkan ‘kelas tiga’ dalam budaya bangsa ini. berbagai kekerasan berbasis gender terjadi akibat struktur relasi kuasa yang timpang antara perempuan dan laki-laki. Nah, berhubung internet itu bukan ruang yang sama sekali terpisah sama kehidupan nyata, melainkan extended reality (minjem istilahnya Mbak Nani Buntarian), maka yang terjadi di dunia nyata juga terjadi di internet.

Terjadi deh tu kekerasan terhadap perempuan di internet, dari mulai kata-kata yang kasar terhadap perempuan. Kata-kata yang digunakan media mainstream pun seringkali bias gender. Selain itu, terdapat pula becandaan-becandaan yang seksis, termasuk kekerasan seksual. Bahkan, di internet, perempuan  seringkali dilihat sebagai tubuh, dan menjadi objek seksual.

Karena internet itu (sekali lagi) extended reality, maka kadang kala yang terjadi di internat juga terkait/berdampak dengan dunia nyata. Misalnya seorang temenku di Filipina, dia melakukan penelitian di sebuah lokalisasi pekerja seks. kemudian seseorang memposting fotonya di tempat lokalisasi tersebut, bersama beberapa orang pekerja seks. akhirnya kejadian tersebut membahayakan dirinya, dan dia tidak bisa melanjutkan penelitiannya.

Atau, ga usah jauh-jauh ke FIlipin deh. Di Indonesia ada beberapa kasus kekerasan seksual, bahkan perkosaan, yang dilakuakn oleh teman Facebook. dari yang tidak saling mengenal, kemudian berkenalan di dunia maya, janjian untuk bertemu, dan ternyata menjadi korban kekerasan.

Sampai sini, mungkin ada yang bertanya-tanya, kalau gitu, kenapa isunya harus perempuan dan internet, kenapa spesifik internet?

Masalahnya, internet menyimpan data-data kita, yang dengan mudah disebarkan oleh orang lain. Ketika kita memposting foto di internet, maka foto kita berada di ruang bebas, yang siapapun bisa mengakses, mendownload, kemudian menyebarkannya lagi ke jaringan mereka. Contoh kasus Novi, betapa mudah fotonya tersebar ke (mungkin) jutaan pengguna internet. Di tambah dengan masyarakat kita yang moralis, maka Novi yang menjadi korban karena fotonya disebarkan, dia kembali menjadi korban ‘cacian’ masyarakat yang menstigmanya sebagai perempuan ‘tidak baik.’

Jadi, kerentanan perempuan menjadi berlipat, tidak sekedar dua kali lipat, tetapi jutaan kali lipat di internet. Karena di internet informasi bisa tersebar dengan amat mudah. Sementara seringkali internet juga menjadi ‘ruang aman’ bagi pelaku kejahatan, karena mereka merasa bisa menggunakan akun anonim, atau segera menghapus akunnya di internet.

Ohiya, aku sempat membuat artikel untuk blog Perempuan Erotis terkait salah satu sesi indo IGF, monggo yang mau membaca di:

http://perempuanerotis.blogspot.com/2012/11/leluasa-melakukan-kejahatan-di-internet.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s