Tawuran, Tanggung Jawab Masyarakat

Peristiwa tawuran yang memakan korban jiwa kembali terjadi. Tak tanggung-tanggung terjadi dua tawuran berbeda dalam waktu berdekatan di DKI Jakarta. Saya sempat membaca berbagai opini yang beredar, baik melalui pemberitaan media maupun twitter. Saya juga sempat mendengarkan beberapa komentar di televisi, termasuk komentar Muh Nuh, Mendikbud kita.

Di beberapa tulisan saya ke belakang sebenarnya sudah saya ulas mengenai kekerasan dan bullying. Salah satunya adalah bahwa sistem MOS atau OSPEK yang memang perlu dijaga dan dicermati. MOS/OSPEK yang saya maksud di sini bukan sekedar yang diselenggarakan oleh sekolah, tapi bagaimana pengawasan terhadap adanya intervensi senior yang menghasut melalui media apapun kepada siswa/mahasiswa baru.

Namun di tulisan ini, saya ingin kembali menegaskan bahwa baik pelaku maupun korban sebenarnya sama-sama korban. Apalagi, keduanya masih tergolong anak. Meskipun kabarnya salah satu ‘pelaku’ sudah berusia 19 tahun, namun bagaimanapun dia masih duduk di bangku SMA. Usia memang tidak terkait langsung dengan kedewasaan bukan? Jadi orang dewasalah yang bertanggung jawab dalam hal ini. baik guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan masyarakat secara luas. Bagaimana sampai saat ini kekerasan masih terus dibiarkan dan dipertontonkan  seakan-akan menjadi hal yang wajar saja. Satu hal yang kita sadari, bahwa anak selalu meniru orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya. Termasuk nilai yang selama ini kita tanakan secara sengaja atau tidak sengaja.. Adanya televisi, internet, dan media-media lainnya menjadikan orang dewasa yang dicontoh oleh anak.

Cobalah masing-masing dari kita bertanya dan berkaca, sudahkah kita menanamkan kebaikan kepada anak? Mencontohkannya dengan konkret dalam kehidupan kita sehari-hari? Ataukah kita masih bertoleransi terhadap kekerasan yang selama ini terjadi. Contoh, kekerasan terhadap ahmadiyah, LGBT, dan lain-lain. Atau justru kita memaki kekerasan dengan kekerasan dan kebencian pula?

Jujur saya tidak setuju untuk memenjarakan anak, termasuk ketika dia membunuh. Karena penjara tidak akan membuat seorang anak menjadi lebih baik. Kita sama-sama tahu bagaimana kondisi penjara kita. bahkan sebelum sampai penjara pun, dia masih harus melewati proses hukum yang rumit dan seringkali sangat tidak ramah terhadap anak. Meski kita sendiri sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak, dan bahkan memiliki UU Perlindungan Anak, nyatanya masih banyak aparat yang tidak memahami hak anak. Bahkan menjalani prosedur sesuai dengan ketentuan saja kadang tidak dilakuakan.

Menghapus ‘Budaya’ Kekerasan

“Ketika saya tanya puas Mas, sudah membunuh? Dia jawab,puas Pak.” –M Nuh (MenDikBud)

Quote di atas saya ambil dari pernyataan yang saya dengar melalui salah satu tayangan (yang saya pikir tayangan gossip) di satu stasiun televisi swasta. Saya pribadi menganggap statement tersebut sangat tidak tepat. Pertama, terkait pertanyaan dari M Nuh sendiri. Saya memang bukan psikolog, tapi saya membayangkan seorang remaja yang habis membunuh seseorang, seharusnya jiwanya terguncang. Apalagi dia mendapatkan tekanan di mana-mana. Maka jawaban yang dia berikan atas pertanyaaan, “Puas kamu Mas?” mungkin saja secara otomatis terlontar tanpa adanya kesadaran dan pikiran jernih. Saya membayangkan dia menjadis edemikian defensive karena diserang dimana-mana, dan akhirnya menyatakan demikian.

Kedua, ketika statement tersebut diumumkan ke publik, tentu berpotensi memancing kemarahan masyarakat. apalagi ‘penyajian’ yang diberikan oleh stasiun TV tersebut (dengan sound effect tertentu) sangat dramatis seakan ingin memberi garis tebal pada kata puas. Meskipun ketika membaca di berbagai media, statement M Nuh dilanjutkan dengan analisisnya sendiri yang berasumsi bahwa si pelaku menanggung beban dalam hidupnya, namun hal itu tidak disampaikan ketika saya menonton acara TV tadi. Entah dipotong, atau mungkin tak diutarakan.

Akhirnya kekerasan dibalas lagi dengan kekerasan dan kebencian. Masyarakat mungkin menjadi marah tanpa sadar bahwa masyarakatlah yang selama ini membiarkan kekerasan dan memberikan ‘pendidikan’ untuk melakukan kekerasan tersebut. Karena itu, peristiwa tawuran seharusnya tidak hanya menjadi refleksi bagi para pelaku tawuran itu sendiri, tetapi juga kita, sebagai masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk membentuk budaya. Apakah kekerasan akan tetap kita pertahankan sebagai budaya? Belum lagi feodalisme yang secara langsung atau tidak langsung memberikan kedudukan langgeng terhadap turun temurunnya ‘budaya kekerasan’ itu sendiri.

Anak bukan hanya membutuhkan gizi, pakaian, dan rumah tinggal yang layak. Anak perlu kita ‘isi’ dengan berbagai nilai kebajikan. Bukan terus menerus dipertontonkan pada berbagai kekerasan yang terjadi. Coba lihat di sekeliling kita, dari ranah rumah tangga kekerasan (KDRT) sudah terjadi, dan berapa banyak dari kita yang bertoleransi terhadap KDRT tersebut. Berawal dari keluarga, kekerasan lalu berlaku di ruang publik sekolah, kampus, kantor, angkutan umum, kekerasan mayoritas terhadap minoritas, bahkan kekerasan yang dilakukan oleh Negara. Parahnya, berapa banyak dari kita yang merutuki kekerasan dengan kebencian dan kekerasan juga. Cobalah berkaca, kekerasan berawal dari hal yang kecil, namun ternyata dampaknya sangat luas, dan masing-masing dari kita bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan dan pembiaran terhadap kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s