Pulang

Sebuah Cerpen

Aku tak menyangka akhirnya bisa menjejakkan kakiku di Indonesia. Tanah kelahiranku, tanah tempat orang-orang yang kucintai. Akhirnya aku pulang. Betapa aku merindukan kampungku. Merindukan Kang Mansyur, suamiku, kekasihku. Terutama juga kurindukan anak semata wayang kami yang saat ini sudah berusia empat tahun. Kami menamainya Tama. Singkatan dari namaku, Tati, dan nama Kang Mansyur, lambang cinta kami yang sejati.

Aku bangga menikah dengan Kang mansyur. Meski dia tidak terlalu tampan, namun ia adalah pria pilihanku. Ketika perempuan-perempuan di desaku harus menikah dengan pria yang dijodohkan orang tuanya, Bibiku yang selama ini mengasuhku membebaskanku dalam hal memilih suami. Dulu, Ibu dan Ayahku menikah karena dijodohkan. Dengan kulitnya yang terbilang cerah, Ibuku menjadi primadona di kampung kami. Dia lalu dinikahkan dengan Ayahku, anak tuan tanah yang ternyata suka bermain perempuan. Tak hanya itu, kabarnya Ayah juga seringkali memukuli Ibu, sehingga Ibu kerap pulang ke rumah orang tuanya. Namun Ibu malah dimarahi, dan selalu disuruh kembali ke suaminya. Suatu hari, Ibu datang membawaku yang masih berusia 2,5 tahun. Meninggalkanku di rumah Nenek, dan bergegas pergi. Sejak hari itu, aku tak pernah bertemu dengan Ibuku lagi.

Sampai di Jakarta ini, aku tak bisa mengabarkan keluargaku. Ponselku dirampas ketika aku di penjara. Maka aku bergegas mencari travel ke Indramayu, kampungku. Sepanjang perjalanan aku mencoba memejamkan mataku. Kembali aku meningat orang-orang yang kucintai. Dulu, ketika aku berangkat, satu janji yang diucapkan Kang mansyur. “De, kamu carilah uang yang banyak untuk Tama, Akang akan selalu berdoa untukmu, Akang akan setia menunggumu di sini, Akang janji,” rasanya baru kemarin kata-kata itu dibisikannya di telingaku. Janjinyalah yang menguatkanku. Kepercayaanku yang begitu besar padanya mendorongku ke luar negeri, tepatnya ke Arab Saudi untuk mencari penghidupan yang lebih layak bagi aku, dia, dan terutama Tama. Aku yakin, doa Kang Mansyur jugalah yang membantuku, hingga aku bisa pulang sekarang.

Lolos dari hukuman pancung tentu bukan pengalaman yang biasa. Aku yang bekerja keras untuk mencari nafkah, malah dituduh membunuh teman sesama PRT dari Indonesia. Malam itu beberapa pria tiba-tiba masuk ke dalam kamar kami, dan mematikan lampu. Aku berteriak memanggil nama Almarhumah Teh Lina, PRT asal Karawang yang juga bekerja di rumah yang sama denganku. Namun tiba-tiba seseorang mendekap mulutku, mengancamku untuk diam. Aku hanya bisa diam sementara aku mendengar Teh Lina sempat berteriak seperti kesakitan. Lalu tiba-tiba orang yang membekapku melepaskan bekapannya, dan pergi bersama teman-temannya. Dalam kegelapan aku mencari Teh Lina. Dalam kegelapan aku menemukannya, dengan cairan agak lengket berceceran di sekitarnya. Darah.

Aku berteriak histeris dan berlari menggedor rumah utama tempat majikanku dengan anak-anaknya. Mereka keluar dan segera menghubungi polisi. Ketika polisi datang, aku sempat lega. Tak disangka aku justru dijemput paksa, diperiksa di kantor polisi, bahkan dipaksa mengaku kalau aku yang membunuh Teh Lina. Dalam kekalutan menerima kabar Teh Lina telah meninggal, aku dipaksa berdiri selama 3 hari, tidak boleh tidur, tidak boleh makan. Namun mengingat Kang Mansyur dan Tama membuatku sanggup diam. Aku tetap membantah melakukan pembunuhan, karena memang bukan aku yang melakukannya.

Selama lebih dari setahun aku dijebloskan di penjara. Penjara Malaaz namanya. Di sana aku bertemu dengan banyak perempuan Indonesia yang juga pergi ke Arab Saudi untuk bekerja. Beberapa dari mereka dituduh sihir. Lucu rasanya Negara yang mengaku islam ini masih percaya sihir. Beberapa lainnya diperkosa, namun justru dipenjarakan dengan tuduhan zina. Beberapa dari mereka tengah mengandung di penjara. Tanpa gizi, tanpa kondisi yang layak bagi Ibu hamil.

Menjalani tiga kali sidang, aku tak mendapat bantuan. Tak ada pengacara ataupun perwakilan pemerintah Indonesia. Aku hanya pernah ditanya nama, asal, dan status perkawinan, lainnya tidak. Pernah satu kali aku mendengar tuduhan mereka terhadapku. Aku dituduh membunuh, dan diancam hukuman mati, hukuman pancung.

Baru ketika sidang keempat ada seorang pria berwajah Indonesia mengaku perwakilan pemerintah Indonesia. Dia hanya menghampiriku, menanyakan kejadian yang membuatku trauma, hingga aku menitikan air mata. Lalu dia pergi setelah sebelumnya berjanji akan menolongku.

Lalu tiba-tiba kemarin malam seorang petugas penjara mengambilku dari penjara. Tanpa berkata tujuan kami ke mana dia membawaku menggunakan mobil polisi. Ternyata dia membawaku ke bandara, memberikanku tiket, sejumlah uang dan passport, lalu mengantarkanku sampai terminal keberangkatan. Kejadian itu terjadi kemarin malam, tapi hingga sekarang rasanya aku masih tak percaya aku benar-benar pulang.

Bagaimanakah kabar kampungku? Kabar keluargaku yang mengetahui aku tengah menghadapi ancaman hukuman mati. Kabarnya media di Indonesia tengah menyiarkan kabar tentangku. Aku yakin Kang Mansyur tak henti-henti mendoakanku. Aku yakin dialah yang berjuang hingga akhirnya aku ditilong oleh pemerintah, dan sekarang bisa pulang. Ah, aku tak sabar untuk sampaik ke rumahku. Malam ini aku hanya ingin semalaman memeluk Kang Mansyur dan Tama.

Tiba di rumah, aku mengucapkan salam. Namun mungkin karena watu sudah larut, Kang Mansyur dan Tama sudah tidur. Seperti biasa rumahku tidak dikunci. Aku masuk dengan jantung yang berdebaran. Senang, sekaligus mengira-ngira bagaimana reaksi Kang Mansyur nanti. Aku meraih pintu kamar kami, Bismillah kuucapkan sebelum aku membukanya.

Di atas tempat tidur kami, aku mendapati Kang mansyur, dengan seorang perempuan muda, tidur berpelukan. Jantungku berhenti berdetak, aku tak mampu memahami pengelihatanku sendiri. Tiba-tiba aku melihat Tama datang, “Mama? Mama pulang? Aku tersentak memandangnya. Namun bibirku masih terkunci rapat. Kembali aku mengarahkan pandanganku kepada suamiku yang masih berpelukan di atas ranjang kami. Tama memeluk kakiku, sambil berkata pelan, “Kata Papa, itu Mama baru, karena katanya Mama mau dipancung di Arab Saudi.”

Seketika duniaku runtuh. Seperti tubuhku yang juga runtuh. Pandanganku kabur, yang kuliat hanya gelap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s