Untuk Cahaya yang Tak Pernah Padam

Delapan Tahun, Cahaya itu Tetap Tak Pernah Padam

Aku masih belia ketika banyak orang sudah mengagumimu. Membicarakanmu, memujimu, sekaligus berduka hati karena kehilanganmu.

Saat itu, usiaku hanya belasan. Masih mengenakan putih abu-abu, menikmati masa remajaku, segala fasilitas yang dibiayain orang tuaku. Bagiku hidup itu tawa, hidup itu ceria.

Perjuangan? Kata itu sering terdengar, sering kubaca, namun kupahami hanya sebatas belajar untuk ujian, atau sekedar merengek meminta uang tambahan.

Lalu sosokmu muncul di televisi. Bertepatan dengan berita duka kematianmu. Peristiwa yang mengundang berbagai pertanyaan, 7 September, delapan tahun yang lalu.

Kata mereka, Kamu adalah cahaya. Kamu adalah sosok yang berani. Tak hanya menyuarakan, tapi juga menuntut hak asasi manusia.

Ku mendekat, melihat cahaya, terang hangat, menyeru kemanusiaan

Petani, nelayan, buruh, bahkan nama-nama orang yang hilang, juga masyarakat miskin yang terpinggirkan adalah kawan-kawanmu, yang terus kau bela. Hebatnya kamu berangkulan bersama mereka, membuat mereka menjadi berdaya, membuat mereka bermental sekual baja, berani, dan mampu memperjuangkan nasib mereka sendiri.

Kupun mengerti kehidupan, perjuanganlah jalan terpenting manusia

Rasanya menakjubkan, mengetahui di dalam dirimu terdapat kekuatan yang begitu besar. Kekuatan yang menggerakan kekuatan-kekuatan lainnya untuk berdaya. Padahal sososkmu begitu sederhana. Sesederhana keinginanmu yang ingin menghabiskan masa tuamu untuk menjadi petani. Keinginan yang direngut begitu saja, ketika kamu melakukan perjalanan untuk melanjutkan studimu di Belanda.

Sayang, aku mengenalmu lebih dalam, baru ketika jiwamu telah meninggalkan ragamu. Racun arsenik yang secara terencana, dijadikan alat oleh entah berapa banyak orang, untuk merenggut nyawamu. Di udara, di atas pesawat yang perusahaan penerbangannya Kau pilih sendiri, karena keuntungannya akan kembali ke Negara.

Saat cahaya padam, gelap pun datang, kesedihan membayang kau tinggal serpih kenangan

Ya, mungkin kamu tinggal kenangan. Tapi kenangan itu terus membara, bersama semangat yang tak mungkin padam. Menyulutku dan banyak jiwa-jiwa lainnya. untuk mengerti perjuangan, untuk memahami kata melawan. Bagi kami, Engkau tidak pernah mati.

Bara luka, penyambung hidup, gerakan kaki, tantang sang gulita

Tahun-tahun pun telah lewat. Namun sosokmu tak juga lekang dari ingatan. Sebagaimana aku memilih studi yang sama seperti S-1mu dulu. Lalu tanpa aku sadari, jalan yang kupilih tak juga terlepas dari bayang-bayangmu. Meski secara fisik kita tak pernah bertemu. Namun kisahmu tak bisa berhenti menginspirasiku, memberikanku semangat, dalam menentukan setiap langkah hidpuku.

Dalam langkahku, kau datang lagi, tak terlihat, hanya terasa di hati.

Cak, hari ini, tepat delapan tahun sejak kepergianmu. Membunuhmu adalah kejahatan besar, yang tak hanya menyakiti keluarga dan orang-orang terdekatmu. Tapi juga menyakiti bangsa ini. Bangsa yang tengah bangkit dan senantiasa membutuhkan sosokmu. Jika pengorbanan adalah keniscayaan, maka pengorbananmu harus berbuah keberdayaan. Bangsa ini, akan terus melawan.

Maka kami, anak-anak bangsa yang berutang untuk menyejahterakan bangsa ini, yang terus mendapatkan kekuatan darimu, bahkan sampai delapan tahun Engkau direnggut dari sisi kami. Kami tak akan berhenti berjuang. Kami tak akan diam. Bukan hendak mendendam. Namun damai kami takkan berarti, tanpa keadilan bagi cahaya kami. Karena keadilan bagimu Cak Munir, adalah keadilan bagi kami.

Kali ini kumengerti, maaf bukan berhenti. Damai tak berarti tanpa keadilan

Terinspirasi dari Lagu Cahaya, karya Asfinawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s