Filosofi Puzzle

Kepikiran nulis ini setelah berdiskusi sama seorang kawan terkait film Perahu Kertas

Seringkali Mama membahas tentang nikah. Ya wajar lah ya, sebagai orang tua dengan lima anak (empat anak perempuan dan satu laki-laki), tentunya Mama ingin anak-anaknya segera menemukan jodoh yang baik. Apalagi, akhirnya lengkaplah sudah keempat kakakku telah memilih pasangan hidup mereka masing-masing, membangun sebuah keluarga, dan memberikan Mama cucu-cucu yang hebat. Biasanya percakapan Mama dan aku seperti ini:

Mama: kamu nikah gih sana. Seumur kamu mama udah punya anak dua.

Aku: Mau nikah sama siapa Ma? Pacar aja ga punya.

Mama: Ya kamu si terlalu pemilih.

Aku: (Dalam hati: Lah, punya pilihan aja nggak)

Nah, biasanya perbincangan lalu berlanjut ke pertanyaan Mama, emang nyari cowok yang kayak gimana si? Biasanya si aku jawab dengan gaya mengkhayal gitu. Mata bersinar, senyum mengembang lebar, dan pipi bersemu-semu merah. Jawabnya juga semangat: “Aku tu nyari potongan puzzle yang bisa klik sama aku.” Nah sampe situ, Mama malah BT, kelihatan males ngedengerin gitu. Padahal aku punya penjelasannya lho. Berhubung Mama ga mau denger, aku tulis di sini aja ya.

Bayangin deh sebuah puzzle lengkap. Puzzle itu kan terdiri dari kepingan-kepingan puzzle tuh. Bentuknya macem-macem, malah kebanyakan si setahuku bentuknya ga ada yang sama. Makanya, meski bentuknya kelihatan cocok, tapi kalo ternyata kepingan puzzle yang kita gabungin salah, pasti akan ketahuan. Dua keping puzzle yang ga cocok itu, ga akan terpasang dengan rapat. Ga akan mengikat satu sama lain. Tapi kalau kepingan itu cocok pasti langsung ‘klik’ rapet, dan mengikat satu sama lain.

Nah itu tu yang aku cari. Bukan orang yang mirip apalagi sama seperti aku. Profesi kami bisa berbeda. Selera music, selera film, hobi, sifat, ga musti sama. Tapi perbedaan yang kami miliki bisa membuat kami lengkap satu sama lain. Rasanya tu ‘klik’ gitu. Bisa saling bertemu di sepanjang sisi yang nempel, dan jadinya rapet. Orang yang membuat aku merasa lengkap, merasa utuh, yang bersama dia, aku ga harus menambah atau mengurangi apa yang ada di dalam diri kita.

Dua Keping Puzzle kan ga akan bikin sebuah puzzle lengkap?

Yup, karena di dalam hidup ini, kita kan ga Cuma berdua. Tapi gimana dengan kami berdua, kami bisa berkontribusi bersama banyak orang lainnya, supaya hidup itu lengkap. Gimana kami merumuskan konsep masing-masing kami sebagai pribadi, lalu konsep kami dalam sebuah relasi antar kami, dan juga konsep kami di dalam masyarakat. Supaya akhirnya, setiap relasi yang ada di setiap sisi puzzle, bisa secara tepat berhubungan, dan akhirnya menciptakan sebuah gambaran yang utuh tentang hidup yang kita inginkan. Tentang impian, tentang keberpihakan, tentang kebahagiaan.

Kenapa Harus Beda?

Pertama karena manusia emang ga pernah sama si, haha. Tapi yang terpenting sebenarnya adalah selama ini kita terlalu takut akan perbedaan. Padahal perbedaan itu adalah kekayaan. Dan aku pengen hidup itu kaya. Bukan kaya dalam arti ‘sekedar’ materi. Tapi kaya makna. Eh, tapi memang si, ada hal-hal prinsip yang harusnya tetap sama. Visi hidup yang sama, nilai yang dipercaya yang sama-sama diperjuangkan, ya, hal-hal yang kesannya absurd tapi mau ga mau selalu jadi dasar dari setiap tindakan kita lah. Makanya, kepingan puzzle yang aku cari, tentunya berasal dari puzzle yang sama. Jadi kepingan demi kepingan yang tersusun itu, yang isinya ga Cuma kami berdua, tapi juga banyak pihak-pihak ‘seperjuangan’ lainnnya kelak akan membentuk sebuah gambaran utuh, yaitu visi kita bersama.

Selain itu, masih dengan membayangkan puzzle, coba deh bayangin apa jadinya kalau dua keping yang bentuknya sama persis disatuin. Kemungkinannya ada dua. Pertama kalau puzzlenya jenis yang bentuknya bergelombang ga beraturan, jelas kedua keping yang sama itu ga akan bisa nyatu.

Atau kedua ini yang bisa menipu. Kan ada puzzle yang bentuknya ga bergelombang tu, jadi Cuma kayak sebuah puzzle yang dipotong-potong miring jadi bentuknya kayak kotak, trapesium, atau bentuk bidang lainnya. Nah misalnya kalo bentuknya sama-sama kotak. Ketika disatuin emang kelihatannya cocok tuh. Sisi yang satu secara sempurna nempel ke sisi yang lain. Tapi coba deh puzzle nya dibalik. Kedua keping itu, ga mengikat satu sama lain, jadinya gampang deh terlepas satu sama lain.

Haha, filosofinya rada maksa ya, soalnya tiba-tiba aku jadi ngebayangin, terus kalo jenis puzzle yang ga bergelombang itu, meski bentuknya beda tetep sama-sama ga ngiket donk? Iya sih ya. Tapi ya intinya gitu deh. Kenapa aku memasukan soal kotak sama kotak itu, karena kadang-kadang orang tu bilang kita cocok sama orang lain, dengan nyama-nyamain kita dengan orang yang dibilang cocok itu. Dari soal fisik, kegemaran, selera musik/film, profesi, sampe topik isu yang lagi difokusin. Padahal sama tu ga asik, justru ga bisa saling melengkapi dong.

Hmm, mungkin lebih gampang kalau aku pake analogi cerita di perahu kertas ya. Kan di atas aku bilang tuh kalau aku nulis ini karena abis diskusi sama seorang kawan soal Perahu Kertas. Nah lihat Kugy sama Keenan. Ga usah ngomongin perbedaan fisik, sifat, dll kali ya. Sederhana aja.

Kugy mau jadi pendongeng. Keenan impiannya melukis. Pendongeng sama pelukis kan jelas beda. Tapi impian mereka jadi utuh, ketika mereka berkolaborasi lewat dongengnya Kugy, dan ilustrasi dari Keenan.

Karena bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi

-Kugy to Keenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s