Tentang Perahu Kertas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku:

Judul: Perahu Kertas

Penulis: Dewi Lestari

Penerbit: Bentang Pustaka

Film:

Judul: Perahu Kertas

Produser : Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko

Produksi : STARVISION, MIZAN PRODUCTIONS & DAPUR FILM

Sutradara : Hanung Bramantyo

Well, lagi-lagi mungkin ini ga tepat disebut resensi si, tapi ulasan yang pengen gw ulas aja soal Perahu Kertas. Setelah baca bukunya, akhirnya gw juga nonton filmnya, karena penasaran bakal kayak gimana. Secara garis besar, ya gw lebih suka bukunya daripada filmnya. Tapi wajar, karena dari buku gw bisa dengan bebas mengkhayal, dan memvisualisasikannya dengan amat kaya. Dan juga bukan berarti filmnya ga bagus. Menurut gw filmnya bagus kok. Ada beberapa improvisasi dari bukunya meski ga banyak, dan karena ga banyak jadi ya ketebak hampir seluruh adegannya, hehe.

Intinya, kalo bisa melepaskan apa yang udah kita baca di bukunya, filmnya pasti jadi bagus banget. Sayangnya, gw udah baca bukunya, dan lebih sayangnya, gw baca bukunya ga lama sebelum filmnya tayang. Jadi masih bener-bener inget sama jalan cerita, bahkan detil ceritanya. Ohiya, sebelum lanjut ngebahas, peringatan aja, bisa jadi ini Spoiler. So, buat yang belum baca atau nonton dan berencana baca atau nonton, kayaknya lebih baik ga lanjut baca. hehe

Tokoh dalam bayangan dan dalam Film

Kalo dibandingin sama bukunya, di awal film udah ada improvisasi, ketika Kugy mau pindahan pake dus, padahal kalo di buku, Kugy Cuma bawa tas ransel. Selain itu di beberapa adegan Kugy nya juga rada kurang berantakan. Kelihatan cuek iya si, tapi ga berantakan, hehe. Cuma jujur gw juga ga kepikiran si siapa lagi yang lebih cocok meranin Kugy, dibanding Maudy Ayunda.

Sementara tokoh yang lain terasa pas. Eh nggak juga de, soalnya tokoh Eko yang gw bayangin ga sekonyol yang ada di film. Hehe. Tapi yang lainnya pas. Baik itu Wanda, Ojos, Luhde, Noni, dan juga Keenan.

Ah ya, khusus untuk Keenan, Adipati Dolken itu emang ganteng banget ya. Mancung, keriting, dan mukanya juga pas disorot kamera ga terlalu mulus. dan gw suka banget sama tatapan mata dia, baik ke Kugy maupun ke Luhde. Berasa kalo dia lagi jatuh cinta, meski tanpa kata. Haha.

Sementara untuk Remi, alias Reza Rahardian, ga tepat kalo gw bilang dia ga pas. Tapi dia tetep beda sama yang gw bayangin di buku. Bukan soal fisik, tapi visualisasi-visualisasi lainnya, gimana sikapnya, gimana dia natap Kugy, dll. Soalnya Remi yang ada di film lebih keren daripada Remi yang ada di bayangan gw pas gw baca bukunya. Seperti biasalah ya, Reza Rahardian emang keren. Secara fisik si ga ganteng versi gw, tapi entah kenapa selalu terlihat keren.

Adegan yang Terlewat

Ohiya, beberapa adegan di buku juga di cut. Misalnya waktu mereka lagi main truth or dare, dan Eko ngaku pernah suka sama Kugy. Menurut gw itu cukup signifikan, karena ngegambarin gimana akhirnya mereka berempat terbonding, dan sebenernya akan signifikan juga kalo konfliknya Kugy-Noni lebih dipertajam kayak di buku. Karena di filmnya, konfliknya diper-simple hanya karena Kugy ga dateng ke ulang tahunnya Noni.

Nah, sebenernya adegan di buku yang paling bikin air mata gw berderai-derai tu adegan pas Noni akhirnya ngebaca buku yang Kugy buat untuk ulang tahun Keenan, dan akhirnya Noni sadar kalo kugy jatuh cinta sama Keenan. Tapi pas di film agak kurang dramatis si. Meski gw tetep nangis (secara emang cengeng, hee).

Banyak adegan yang dipotong si, tapi wajar lah ya, karena persoalan durasi. Ohiya, Perahu Kertas juga rencananya akan dibagi jadi dua film, makanya yang film pertama ini belum selesai. Posisinya masih Kugy sama Remi, Keenan sama Luhde. Sementara Noni nikah sama Eko. Meski sebenernya udah lebih dari setengah buku (kalo ga salah), tqpi memang konflik pasca pernikahan Eko Noni sampe akhir lumayan seru si. Jadi gw menduga akan ada banyak adegan di buku yang dipertahankan. Harapan gw, dan sepertinya memang akan menjadi kenyataan, Reza Rahardian tetep akan meranin Remi. Karena gw si ngebayangin beberapa adegan Remi di buku itu bakal keren banget kalo Reza Rahardian yang bawain.

Dari semua yang kepotong-potong, gw agak menyayangkan nama panggilan sayang Keenan ke Kugy yang ga dipake. Kecil. Menurut gw nama panggilan itu jadi faktor yang signifikan di Perahu Kertas. Karena gw selalu dapet kesan yang special tiap Keenan manggil Kugy dengan panggilan Kecil. Karena Kugy memang kecil, dan entah kenapa terasa begitu intim, dan special.

Dramatisasi

Nah, selain adegan yang dipotong, ada juga adegan-adegan lain, yang sepertinya memang ditujukan untuk mendramatisasi cerita. Misalnya Bayu yang terlihat cemburu ngeliat kedekatan Keenan sama luhde, atau partner kerjanya Remi (gw lupa namanya) yang juga terlihat cemburu ngeliat kedekatan Kugy dan Remi. Karena adegan-adegan itu ga gw tangkap di buku,

Terus, seinget gw di buku justru Kugy ga buatin kopi pas lagi magang. dan itu dipertegas lewat kalimat di dalam cerita. tapi di film, Kugy justru terlihat beberapa kali sibuk membagikan kopi untuk tim Advocado yang lain.

Selain itu, pas adegan ultahnya Noni, ada adegan Noni sangat terlihat tidak menikmati pesta, dan langsung meninggalkan ‘panggungnya’ setelah meniup lilin di kue ulang tahunnya, sehingga mengundang pertanyaan dari para undangan. Padahal kalo di buku ceritanya para undangan ga sadar bahwa sebenarnya pesta itu sudah kacau, dan buat gw justru itu (yang di buku) terasa lebih miris. Tapi ya mungkin sulit untuk menggambarkan kekecewaan di dalam hati Noni ke dalam wujud film, kecuali kalo kekecewaan itu diperlihatkan.

Dipermanis

Selain itu ada degan yang menurut gw ‘dipermanis.’ Adegan apa itu? Adegan ciuman! Kalo di buku ada beberapa kali ciuman antara Luhde dan Keenan, juga Kugy dan Remi, tapi di film masing-masing Cuma sekali. Dan dijadikan berbarengan. Tapi jadinya ‘manis’ banget, dan jadi ‘aman’ ditonton sama remaja si. Hehe.

Jalan memutar

Baik di buku maupun di film pasti ada unsusr-unsur utama yang ga mungkin dihilangkan. Kayak gaya Kugy dengan tangan antena neptunusnya, karakter Kugy yang berantakan, dan Keenan yang cool, si Fuad yang sering mogok, dan lain-lain.

Dan yang pasti merasuk ke setiap pembaca dan penonton adalah pesan bahwa cita-cta kadang harus memutar. Tapi meskipun kita harus jadi orang lain dulu, cepat atau lambat, kita akan menjadi diri kita sendiri.

“Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri.”

– Keenan to Kugy.

Tapi ternyata jalan memutar itu ga Cuma buat cita-cita, tapi juga cinta. Memang seinget gw ga ada quoteyang menjelaskan itu secara tersurat si. Tapi kita semua pasti tau bahwa cinta Kugy dan Keenan harus memutar melalui Luhde dan Remi. Buat gw, intinya, cita-cita ataupun cinta, kalaupun dia harus berputar, cepat atau lambat dia harus kembali ke tujuan yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s