‘Tradisi’ PSAF

Yak, setelah sekian tahun ga ‘maink-main’ ke kampus, akhirnya gw dateng lagi ke Fakultas tercinta itu. Percaya atau nggak, gw diundang dateng PSAF (semacam ospek), suatu acara yang sudah bisa dipastikan gw banyak ga sepakatnya. Bentar, gw bukan ga sepakat sama keberadaan acara pengenalan kampus buat mahasiswa baru. Tapi gw ga sepakat sama metode yang digunakan. Gw masih inget banget tu pas PSAF jaman gw. dari mulai alarm, bunyi gong, sampe disuruh duduk rapat dengan kata-kata “cium bau keringat kawan kalian.” Eitz ga itu aja, belojm lagi hormat bikun dan Dada-dada sama kereta. Dan yang paling menyebalkan adalah suara melengking Kakak-kakak panitia di depan muka. Ga Cuma bikin pengang, tapi kadang-kadang muncrat juga.

Well, pas jaman gw dulu si, ga semua Kakak-kakak itu gw sebelin. Ge respect kok sama beberapa orang, yang emang bisa diajak dialog, dan bahkan mereka selalu ngejelasin apa kesalahan gw, apa yang mereka harapkan dari gw, dll. Ngomongnya si ga sambil mesam-mesem. Tetep tegas. Tapi juga ga bacrit teriak melengking gitu. Mereka-mereka itulah yang akhirnya sampe gw ga jadi Maba lagi, dan menjalani tahun-tahun di FH terus menjadi kakak-kakak tempat bertanya dan bercerita akrab. Termasuk juga dengan senang hati masuk ke kepanitiaan yang mereka jadi PJ nya. Hehe.

Tapi sayangnya, yang model begitu Cuma sebagian aja. Masih banyak yang justru bikin sebel. Soalnya, masalah sebenernya justru ada pada sistem PSAF itu sendiri. PSAF itu buat apa, dan ngebawa semangat apa. Sebuah tradisi yang dipertahankan terus menerus, atas nama kedisiplinan dan menumbuhkan solidaritas, tanpa ada hubungan antara dua nilai baik tersebut dengan metode yang disajikan.

Balik ke FHUI tahun ini, PSAF tetep ada. Awalnya gw berharap adik-adik kelas gw yang harusnya lebih ‘modern’ ga lagi mempraktikan bullying yang so last year itu. Nyatanya, bentakan ga penting tetap ada. Ketika seorang mahasiswa baru ingin mengemukakan pendapatnya, lalu kakak-kakak di sekitarnya mengerubunginya, menyuruhnya duduk, berteriak keras-keras di depan mukanya.

Memang, tidak ada kekerasan fisik di PSAF. Namun tetap saja benar-benar membuat tidak nyaman. Dan lagi-lagi, menurutku ketidaknyamanan itu tanpa esensi. Hey, ga ada seorangpun yang berhak membuat diri kita ga nyaman.

Selain itu, gw percaya bahwa praktik bullying yang terus dilestarikan itu punya andil signifikan terhadap terbentuknya feodalisme dan senioritas ga penting di FHUI. Kita ga bisa nutup mata bahwa di kampus besar itupun, masih banyak praktik-praktik ketidakadilan, dari mulai soal nilai, sampe ‘tubruk-tubrukan’ dalam rangka jenjang karir. Contoh ekstremnya, beneran ada lho yang kesandung di mata kuliah tertentu, sampe ga lulus-lulus, dan akhrinya harus pindah ke ektensi untuk mendapatkan gelar SH, cuma gara-gara dosen mata kuliah itu ga suka sama dia.

Satu hal si yang gw bingung, pas ada berita IPDN, Don Bosco, dll pada protes. Pada ngomongin soal kemanusiaan, seakan-akan mereka anti Bullying. Gw pikir ga perlu gelar SH buat tau kalo yang namanya kekerasan tu bukan cuma kekerasan fisik.

Sebenernya pas PSAF kemaren itu, berhubung gw punya kesempatan ngomong di depan Maba, gw juga nyebut-nyebut si kalo harusnya mereka ngelawan. Kalo mereka ngerasa ada yang salah ya lawan aja. Tapi gimanapun gw ga bisa nyalahin Mabanya juga. Apalagi PSAF itu adalah rangkaian penerimaan mahasiswa baru yang legal. Harusnya memang sistemnya yang diubah. Tapi ya gimana? Kalo dosen yang in charge di PSAF aja masih hobi neriakin mahasiswa baru ya apa yang mau diharapkan coba?

Ya mudah-mudahan aja, kampus gw tercinta itu akhirnya mendapatkan pemimpin yang tepat, yang juga concern sama penghapusan bullying. Jadi selain regulasinya juga dibuat tepat, orang-orang yang dipilih untuk menyelenggarakan PSAF juga orang-orang yang tepat.

Dan harapan gw, semoga ada generasi yang cukup cerdas dan kritis. Yang ketika giliran generasi itu menyiapkan ‘penyambutan’ untuk mahasiswa baru akan mengubah sistem agar adik-adik mereka tidak mengalami ketidaknyamanan yang mereka alami. Bukan generasi pendendam yang melestarikan tradisi bullying yang ga penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s