Sehari Bersama Kirana

Hari ini, ups lebih tepatnya kemarin, aku seneng banget. Hari pertama libur ramadhan, dan entah kenapa semua aktivitas tu terasa pas. Tapi yang aku sadari, semuanya tu jadi terasa pas karena satu hal, yaitu keberadaan Kirana, ponakan pertamaku yang berusia 12 tahun.

 

Cuci piring, telur ceplok, dan buku cerita

Kemarin itu dimulai dengan sahur. Mulai hari itu, kami sekeluarga harus berbagi tugas rumah tangga. Pasalnya Mbak Ningrum, PRT kami sudah pulang ke kampung halaman untuk berlebaran bersama keluarganya.

 

Setelah sahur, seperti tahun-tahun sebelumnya akulah yang bertugas mencuci piring. Namun tak seberapa karena Kiranapun ikut turun tangan mencuci piring dan gelas. Seperti biasa setelah subuh aku tidur, hehe. Apalagi aku sudah libur. Jadilah tidur tanpa sadar bahwa matahari sudah meninggi. Bangun tidur, aku mulai membersihkan rumah. Membereskan beberapa barang dan menyapu seluruh bagian rumah. Lagi-lagi pekerjaan terasa ringan karena Kirana membantuku. Dialah yang mengepel seluruh lantai, setelah aku menyapu. Sesekali Muthia kecil (keponakanku yang berusia 5 tahun) merecoki kami, bolak balik merengek ingin membantu.

 

Hari itu Kirana manis sekali, dia yang juga berpuasa, memasakan telur ceplok untuk Muthia lalu menyuapinya sampai habis. Awalnya Muthia yang memang termasuk susah makan terus menolak untuk makan. Namun mengikuti ‘gayaku,’ Kirana tanpa banyak kata menggorengkan telur dan menyiapkan piring dan nasi untuk Muthia. Setelah matang, Kirana duduk di sebelah Muthia yang sedang bermain, lalu menyuapkan sesendok demi sesendok hingga habis.

 

Siang harinya, aku Kirana, dan Muthia berkumpul di ruang tamu. Ketika minggu lalu Muthia ulang tahun, aku membelikannya sebuah buku. Buku itu berisi 10 cerita yang mengisahkan tentang kasih sayang seorang ibu. Buku itu juga dilengkapi gambar, dan ceritanya ditulis dalam dua bahasa (Bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia). ceritanya menarik, gambarnya pun bagus. Aku pun tenggelam dalam cerita-cerita di buku itu, seraya berharap buku itu bisa bertahan hingga nanti aku memiliki anak, dan bisa membaca (entah kapan, haha).

 

Sebuah Rahasia

Ketika sore hari, sopir kakaku tiba di rumah. Muthia dan Tristan (ponakanku, berusia 8 tahun) bergegas mandi dan bersiap-siap untuk ikut menjemput Bunda mereka. Tapi Kirana tidak mau ikut. Karena aku dan Kirana punya rahasia. Kami akan jalan bareng, berdua saja.

 

Malam harinya, setelah buka puasa, solat, dan beres-beres, aku pun pergi berdua dengan Kiranaku, ke mall di sekitar tempat tinggalku. Di sana ada satu tempat semacam wahana 4 dimensi. Filmnya bukanlah film-film yang diputar di bioskop. Ada yang jusulnya Roller Coaster, Rocket, sampai rumah hantu.

Saat kami sampai., tempat itu sedang penuh. Aku dan Kirana sepakat untuk menonton City Tour. Namun, kami baru bisa masuk 30 menit kemudian. Akhirnya kami ke toko buku, dan membeli beberapa barang secara random. Film Princess (Disney), buku panjang untuk buku arisan sepupu-sepupu, serta label dan pembatas kertas yang kata Kirana si, dia lagi butuh.

 

Puncak Kegembiraan

Selesai belanja kami bergegas kembali ke tempat 4 dimensi. Benar saja, tak lama giliran kami untuk masuk. dan inilah puncak dari kesenanganku hari itu. Sebenarnya konsep wahananya sederhana. Hanya sebuah mobil-mobilan berkapasitas enam orang dan sebuah layar besar. Dan ketika film itu mulai, maka mobil itu ikut bergerak menukik, berguncang sesuai dengan gambar yang da di layar. Rasanya sangat riil. Mobil itu bergerak sangat cepat, menukik, sampai aku merasa nyaris jatuh, menabrak sampai aku berteriak dan bahkan tanganku bergerak ‘melindungi’ kepalaku dari batu. Lalu tiba-tiba jalanannya terputus, dan kami meluncur ke bawah, curam sekali. Adegan serupa, menabrak, meluncur, menukik, diulang-ulang hingga akhir film.

 

Awalnya aku sakit perut, tegang, dan bolak balik menutup mata. Sementara Kirana bolak balik teriak dan tertawa. Aku pun mencoba sepertinya, melepaskan teriakan dengan kencang, dan alhasil, seperti Kirana akupun bisa tertawa. Tak hanya itu, rasanya semua gundah gulana, kepenatan, dan tekanan yang beberapa hari belakangan menghimpitku benar-benar terlepas begitu saja. Hilang menguap, tak meninggalkan sisa.

 

Kirana mungkin tak sadar. Hanya dalam lima menit, dia berhasil membantuku keluar dari energi-energi negatif yang aku rasakan. Semua benar-benar lepas, dan aku benar-benar merasa gembira. Sampai-sampai ketika kami meninggalkan tempat 4 dimensi tersebut, kantong belanjaan yang kami titipkan tertinggal. Akhirnya kami balik lagi untuk mengambilnya, seraya tak bisa menghentikan tawa.

Lalu malam itu masih berlanjut dengan mencari beberapa barang di mall tersebut. Dan Kirana berhasil merayuku untuk membeli sebuah dvd Coboy Junior bajakan. Setelah itu kami mampir ke kedai bakso, dan memesan mie ayam. Di sana kami bernostalgia tentang betapa menyebalkannya Kirana kecil ketika menolak makan.

 

Kirana dan Kucing

Kiranaku memang orang yang keras, bahkan sejak ia kecil. Ketika usianya belum dua tahun, Ibunya susah payah menyuapi dia di teras. Dia tidak menangis, tidak menolak, namun juga sama sekali tidak membuka mulutnya. Ketika ibunya mulai marah karena tak sabar, Kirana hanya memandangi ibunya dengan tatapan polos, dengan mulut yang semakin merapat, sama sekali tidak terbuka sedikitpun.

Sampai akhirnya ibunya tidak sabar dan meninggalkannya di teras sendirian. Aku yang saat itu masih duduk di bangku SMP keheranan. Bisa-bisanya kakakku meninggalkan Kirana kecil di bangku teras. Bagaimana kalau dia jatuh? Bagaimana kalau ada penculik? Dan bagaimana-bagaimana lainnya melintas di kepalaku saat itu.

 

Akhirnya aku pun keluar ke teras dan menggendong Kirana. Aku bawa Kirana dan juga mangkok berisi makanannya jalan-jalan ke luar rumah. Kirana suka sekali kucing, maka aku panggil kucing-kucing yang ada di gang rumahku, untuk menemani Kirana. Akhirnya Kirana bolak balik tertawa senang ketika melihat kucing-kucing itu. Setiap dia tertawa, akan ada sesendok makanan masuk ke mulutnya. Begitulah, sampai mangkok makanan itu pun kosong.

 

Keras, Tapi Peka

Itulah Kiranaku, lebih dari 10 tahun yang lalu. Sekarang dia sudah beranjak remaja, 12 tahun, dan sudah SMP. Dia sudah menjadi kakak bagi adik dan sepupu-sepupunya, menyuapi Muthia, menggendong Dylan (3tahun)  yang menangis ketakutan, juga menghibur Derryl (3 tahun) yang seringkali diganggu oleh Radit (7 tahun).

 

Kiranaku tetap keras, tegas berkata tidak kalau dia tidak mau, bahkan dengan ancaman tidak dibelikan baju lebaran sekalipun. Tapi dia juga memiliki hati yang peka. Marah pada pemerintah ketika menonton film tentang penggusuran, menangis ketika menonton film Alangkah Lucunya Negeri Ini, dan dengan gamblang menyalahkan SBY ketika harga pangan naik.

 

Kirana tidak lagi terobsesi pada warna pink, dan benda-benda bergambar princess-princess Disney. Dia hanya tak mau ketinggalan kalau ada Coboy Junior di TV, dan sekarang dia menyukai warna ungu. Warna kesukaan Iqbal, personil Coboy Junior favoritnya.

 

Malam itu pun ditutup dengan menghabiskan seluruh cemilan, dan menonton DVD Coboy Junior sampai habis. Berama Kiranaku

 

Bekasi, 16 Agustus 2012

02.10 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s