Muthia dan Mbak Ningrum

Hari ini aku pulang relatif lebih cepat dari biasanya. Aku sampai ke rumah sekitar pukul 20.00, setelah mengisi PSAF (semacam ospek) di FHUI, dan beridikusi bersama beberapa kawan terkait advokasi UU Pendidikan Tinggi.

Sampai rumah, aku menjumpai Muthia di depan televisi. Dia merengek, bahkan nyaris menangis. Aku pun menghampirinya, dan bertanya dia kenapa. Dia menjawb dengan nada yang begitu dramatis, “Mbak Ningrum pulang kampung.” Aku pun tersenyum. Mbak Ningrum adalah PRT kami sejak beberapa tahun yang lalu. Tak hanya Muthia yang menyayanginya, Mbak Ningrum pun terlihat sangat menyayangi Muthia. Dari cerita yang aku dengar kemudian, Muthia menangis dan merajuk di kaki Mbak Ningrum, ketika si Mbak pamit mau pulang kampung.

Aku pun tersenyum dan memeluk Muthia, mencoba menghiburnya, dan dalam hati berdoa, ‘semoga si Mbak kembali ke rumah ini.’

Bekasi, 14 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s