Inspirasi dari Teh Rosita

Pertemuan pertamaku dengannya berlangsung lebih dari satu tahun yang lalu. Saat itu, parasnya terlihat tirus dan pucat. Meski demikian, senyumnyatak pelit ia bagikan. Mungkin sedikit lega, karena akhirnya bisa pulang ke kampung halaman.

Namanya Teh Rosita. Kulitnya putih bersih, dengan tubuh mungil, dan paras cantik. Kebutuhan hidup mendorongnya bekerja ke luar negeri. Uni Emirat Arab menjadi tujuannya mencari rezeki, jauh dari keluarganya. Namun, alih-alih meningkatkan kesejahteraannya, dia malah harus menghadapi penjara dan ancaman hukuman pancung.

Teh Rosita yang mengalami kekerasan justru dituduh membunuh rekannya sesama PRT dari Indonesia. dia ditangkap, dipaksa mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan, dilarang menghubungi pihak lain, Dia dipukuli oleh polisi, dan tidak boleh tidur selama lima hari. Tak hanya mengalami ‘dipenjara’ selama 20 tahun, Ibu satu anak ini juga menghadapi tiga persidangan sendirian, sebelum akhirnya pihak perwakilan Indonesia mengetahui keberadaannya dan memberikan bantuan.

Sampai akhirnya dengan berbagai perjuangan yang ia lakukan sendirian (sebelum pihak KBRI datang), termasuk keluarganya yang berjuang terus menerus di dalam negeri, Teh Rosita bisa kembali ke kampung halaman. Tanggal 11 Juni 2011 kembali ke Indonesia, Teh Rosita datang ke kantorku pada tanggal 14 Juni. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya. Lalu kami bersama ke Kementerian Luar Negeri dan mendapatkan kenyataan bahwa pihak KBRI Dubai sebagai perwakilan terdekat dari tempat Teh Rosita dipenjara bahkan tidak mengetahui bahwa Teh Rosita sudah pulang ke tanah air.

Kembali ke tanah air, bukan berarti perjuangan Teh Rosita berhenti. Pasalnya, Teh Rosita masih memiliki hak atas gaji selama 26 bulan Teh Rosita berada di Uni Emirat Arab. Berbagai jalan pun ditempuh, melalui berbagai instansi pemerintah, dan juga melalui media.

Tak hanya itu, Teh Rosita bertekad untuk membagikan pengalamannya kepada banyak orang. Dia tidak ingin kawan-kawannya sesama PRT migran mengalami hal yang serupa dengan dirinya. Selain berbicara di berbagai media, dan berbagai forum, Teh Rosita juga memberikan kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, melalui sidang Citizen Law Suit (Gugatan Warga Negara) Pekerja Rumah Tangga, (CLS PRT) Kamis, (03/11). Teh Rosita berharap pemerintah dapat menciptakan sistem perlindungan yang memadai bagi buruh migran. Dia pernah berkata,“Jangan ada lagi Buruh Migran yang mengalami nasib seperti saya.”

Akhirnya setelah lebih dari tiga tahun datanglah surat panggilan dari Kementerian Luar Negeri. Melalui surat tertanggal 3 Agustus 2012,Direktur Perlindungan WNI dan BHI menyatakan majikan Teh Rosita telah membayar gaji Teh Rosita, dan meminta Teh Rosita untuk hadir ke Kementerian Luar Negeri, guna menerima haknya.

14 Agustus aku kembali bertemu dengan Teh Rosita. Tentu saja bukan pertemuan kedua kami, karena aku banyak menyaksikannya berjuang di berbagai forum. Dan kuharap itu juga bukan pertemuan terakhir kami. Begitu melihatnya, aku langsung memeluk erat Teh Rosita. Badannya kini sudah berisi. Kulitnya yang putih bersih agak kecoklatan. Aku sempat bertanya nanti kalau sudah menerima gajinya, akan digunakan untuk apa. Dia bilang, ingin buat sawah. Karena saat ini Teh Rosita beraktivitas sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Hari itu janji Kementerian Luar Negeri benar-benar terwujud. Teh Rosita mendapatkan hak 26 bulan gajnya. Sempat ia ingin menyumbangkan sebagian haknya tersebut kepada SP (kantorku). Namun tentu saja kebijakan kantor kami tidak dapat menerima uang hak buruh migran yang selama ini sudah mengalami berbagai ketidakadilan.

Bagiku, Teh Rosita memberikan pelajaran mengenai kegigihan seorang Buruh Migran Perempuan dalam mencapai hak-haknya. Teh Rosita merupakan satu dari banyak wajah perempuan yang maju memperjuangkan dirinya sendiri dan orang lain. Dia terus berjuang meski jalan yang harus ditempuh panjang dan tidak mudah. Teh Rosita mendapatkan haknya, bukan sekeda karena bantuan pemerintah, bukan juga karena bantuan kawan-kawan SP. Hak gajinya akhirnya tercapai tentulah berkat perjuangan dia dan keluarganya yang tak pernah henti, dan tak kenal putus asa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s