I Don’t Forward Violence

Lagi-lagi berita bullying di sekolah mewarnai halaman media kita hari ini. Kejadian ini pertama kali terungkap ke publik ketika seorang Ibu dari anak yang menjadi korban bullying   membagikan pengalaman anaknya melalui jejaring sosial twitter. Apa yang dialami Ary, siswa kelas 1 SMA Don Bosco Pondok Indah ini, tentunya bukan kejadian pertama, apalagi kejadian satu-satunya. Fenomena Bullying yang biasanya ‘masuk’ melalui kegiatan siswa/mahasiswa baru (MOS/OSPEK), terus dialami selama bertahun-tahun, bahkan dianggap wajar, dan parahnya dianggap sebagai ‘tradisi.

Saya sendiri masih ingat ketika pada masa kuliah, bersama beberapa orang kawan, bermimpi untuk menghapuskan bullying  di OSPEK kampus. Well, pada saat itu di kampusku sendiri memang tidak ada pemukulan, sundutan rokok, seperti yang dialami Ary. Namun, bagiku ketika kami dibentak-bentak untuk kesalahan yang tidak kami perbuat, ataupun ketika kami diperintahkan hal-hal yang tidak masuk akal maka itu adalah bagian dari Bullying.

Alasan pembentukan mental untuk ‘marah-marah’ adalah common bullshit. Berbagai bentuk bullying itu sama sekali tidak terkait dengan pembentukan mental, mendorong keberanian, atau hal-hal semacamnya.

Alasan lucu lainnya adalah tradisi. Come on! Sejak kapan tradisi buruk dan ga ada gunanya layak untuk dipertahankan? Atau justru pertanyaannya adalah, sejak kapan berbuat kekerasan dianggap sebagai tradisi, yang dilanggengkan secara turun menurun. Sebuah ‘tradisi’ yang diwariskan melalui rasa dendam.

Namun, satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, bahwa orang yang melakukan kekerasan atau bullying biasanya adalah orang yang juga pernah menjadi korban kekerasan. Saya bukan ahli psikologi si, jadi tidak bisa memberikan penjelasan yang ilmiah mengenai hal itu. Tapi setau saya, memang ada studi yang menyatakan demikian, bahwa orang yang menjadi korban kekerasan cenderung akan melakukan kekerasan.

Saya sering mendengar Ilustrasi terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebagai berikut: Kebutuhan ekonomi yang dialami seorang keluarga seringkali membuat sang  ayah (sbg pencari nafkah) stress, pelampiasannya melalukan kekerasan terhadap istrinya. Istrinya yang juga stress karena harus mengatur pangan keluarga, ditambah mengalami kekerasan dari suaminya, akhirnya melampiaskan dengan melakukan kekerasan kepada anaknya. Lalu si anak, akhirnya turut melakukan kekerasa, terhadap PRT mereka.

Pada intinya, korban kekerasan cenderung akan melakukan kekerasa balik terhadap orang/pihak yang kedudukan/posisinya kuasanya lebih rendah dibanding dia. Maka kekerasan itu akan terus menjadi kekerasan berantai yang menelan banyak korban.

Kondisi yang lebih spesifik dialami oleh anak. Pada dasarnya, anak mencontoh orang dewasa di sekitarnya, mengambil prilaku orang dewasa sebagai role model  kemudian menduplikasinya menjadi prilaku dia. Maka apabila kamu melihat seorang anak berprilaku dan bergaya bicara kasar, aku jamin, pasti ada orang dewasa di sekitar si anak yang memiliki gaya dan prilaku yang mirip dengan anak tersebut.

Bagaimanapun orang tua pada khususnya, dan semua orang dewasa pada umumnyalah yang paling bertanggung jawab terhadap anak, termasuk memberikan contoh baik untuk prilaku mereka. Kita tidak bisa melarang mereka untuk melakukan hal-hal buruk yang kita sendiri melakukannya. Kita juga tidak bisa mewajibkan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik yang kita sendiri tidak melakukannya. Karena pada dasarnya, mereka belajar dengan mencontoh orang-orang dewasa di sekitarnya.

Kita jugalah (orang dewasa) yang bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan kita sehingga kondusif bagi si anak untuk tumbuh dengan baik. Termasuk tidak menutup mata dan telinga ketika terjadi kekerasan.

Sebelum berbicara mengenai kebijakan yang harus dibuat, terkait tanggung jawab sekolah, atau pihak-pihak lainnya, ada langkah sederhana yang bisa diambil. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakui bahwa Bullying itu benar-benar terjadi. Bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga kekerasan verbal dan serangkaian tindakan tidak masuk akal lainnya adalah bentuk Bullying. Kita harus sama-sama sadar bahwa yang terjadi adalah sebuah kekerasan, bukan proses menempa mental, apalagi proses pelestarian tradisi.

Dengan begitu kita tidak boleh diam. Kekerasan harus terus dilawan, harus terus dihilangkan. Pengecut itu adalah orang yang melakukan Bullying dan takut dilaporkan, bukannya korban bullying yang dianggap ‘mengadu.’ Sebaliknya tindakan bersuara dan melawan ketika menjadi korban bullying adalah tindakan pemberani.

Selain itu, mungkin kita semua pernah menjadi korban kekerasan, maka yang harus kita lakukan adalah berkomitmen untuk tidak memforward kekerasan. Karena seperti yang saya uraikan di atas, orang yang menjadi korban kekerasan cenderung akan menjadi pelaku kekerasan.

I Don’t Forward Violence!!!!

Eh tapi kalo pelestari ‘tradisi’ Bullying itu justru dosen dosen yang masih demen neriakin Maba (Mahaiswa Baru) gimana ya? #justsaying :p

Sahabat Menulis Setia sejak 2008 ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s