Menulis

Pasca berdiskusi dengan beberapa kawan malam ini, aku kembali berfleksi terkait sebuah tema yang kami perbincangkan. Bagi kami yang memiliki beban kerja ‘lumayan,’ dengan jam kerja selalu lebih dari delapan jam per hari, bahkan terkadang harus bergadang dan menginap di kantor, kami kehilangan atau mengalami pengurangan sebuah kenikmatan berupa membaca. Bacaan-bacaan yang kami konsumsi lebih berupa dokumen-dokumen terkait isu yang kami kerjakan di kantor. Padahal, membaca adalah sebuah modal untuk menambah wawasan, dan juga menjadi dasar untuk memproduksi tulisan-tulisan dengan berbagai isu. Karena aku sendiri percaya, bahwa kunci banyak menulis, adalah banyak membaca.

Kenapa menulis menjadi begitu penting? Bagiku menulis bukanlah untuk unjuk pemikiran, atau aktualisasi kebutuhan eksistensi diri di ruang publik. Menulis juga bukan sekedar membagi pemikiran dan pengalaman kepada banyak orang. Menulis bagiku merupakan sebuah proses pendokumentasian pribadi. Baik itu proses pembelajaran, pemikiran, perkembangan paradigma, maupun kapasitas dalam menulis itu sendiri yang membuatku bisa terus berefleksi, sekaligus mengingatkan diri sendiri akan cita-cita, dan tujuan hidup yang mungkin mulai terlupakan karena kita telah ‘menduduki’ zona nyaman.
Terkadang, beberapa tulisan lama membuatku terbahak ketika kubaca di hari kini. Beberapa tulisan terlihat begitu naïf, beberapa memperlihatkan sudut pandangku yang ‘salah kaprah,’ beberapa terlihat salah eja di sana sini. Namun, tulisan-tulisan itu menjadi saksi dari berprosesnya seorang manusia, yaitu aku. Sekaligus membuatku bisa menjadi lebih bijaksana dan memahami betapa manusia memang berpores, dan selalu ada kesempatan bagi setiap manusia untuk menjadi lebih baik dan lebih matang.

Tak hanya itu, proses pengembangan kapasitas dan pengetahuan juga berjalan pada saat kita menulis. Maksudku, dengan menulis kita juga membaca, karena seringkali sebuah tulisan perlu diperkaya dengan berbagai literatur. Sehingga, apa yang ada dipikiran saja tidak cukup untuk dituangkan ke dalam tulisan. Biasanya, aku memulai setiap tulisan dengan sebuah list berjudul ‘ide nulis’ yang aku miliki. Semua ide yang tepikir kutuliskan di dalam daftar tersebut, kapanpun ide itu muncul, meski tidak bisa langsung menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.

Ketika satu persatu tulisan mulai dibuat, biasanya aku otomatis mencari bahan-bahan bacaan, sehingga dasar argumentasi di dalam tulisan lebih akurat, dan tidak ‘asal bunyi.’ Jadi, dari proses menulis itu sendiri dapat mendrong kita untuk mencari banyak hal, dan meningkatkan kapasitas pengetahuan kita.

Begitulah, sesibuk apapun pekerjaanku, sepadat apapun aktivitasku, menulis tetap menjadi suatu hasrat yang tidak bisa tidak dipenuhi. Apalagi, aku slalu haus akan berbagai informasi. Tidak cukup ketika aku bekerja untuk isu Buruh Migran Perempuan, maka tulisanku hanya tentang Buruh Migran. Karena pastinya kepentingan yang kita miliki tidak hanya tentang apa yang sehari-hari kita kerjakan.

Tulisan kali ini, tentunya ditulis buka tanpa maksud. Sebagai sebuah bagian dari proses kehidupanku, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat sekaligus penyemangat, ketika konsistensi menulis menjadi sebuah tantangan di tengah-tengah kesibukan.

Sekian,
Selamat membaca, selamat menulis, selamat mendokumentasikan proses diri melalui tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s