Internet dan Kerentanan Pembela HAM

Pernahkah Anda masuk ke Facebook dari Negara lain, lalu diminta untuk melakukan sejumlah langkah untuk memastikan bahwa yang sedang mencoba masuk ke akun Anda adalah benar-benar Anda. Biasanya ada dua pilihan, yaitu menjawab sejumlah pertanyaan, atau melihat sejumlah foto dan menentukan siapakah teman Anda yang ada di foto tersebut.

Awalnya, mungkin yang terpikir di benak Anda sama seperti yang terpikir di benakku. Wah, Facebook keren banget ya, dia memproteksi penggunanya dan memastikan akun kita tidak dimasuki oleh orang lain.”

 

Tapi sadarkah kita bahwa hal itu justru menunjukan Facebook mampu mendeteksi kita. Opsi menebak gambar menjadi opsi yang menyeramkan bagiku.Tadinya kupikir Facebook mampu mengidentifikasi siapa yang ada difoto mana, karena memang foto-foto yang kita masukan ke dalam Facebook itu kita tag ke orang-orang tertentu. Facebook hanya mengidentifikasi berdasarkan foto-foto yang memang sudah ditag oleh pengguna, sehingga jelas siapa orang yang ada di dalam foto itu. Namun, suatu saat aku meng-upload beberapa foto, dan ketika aku masuk ke opsi ‘tag people,’ maka di beberapa foto tersebut Facebook sudah menebak orang-orang yang ada di foto tersebut, dan seringkali tebakan itu benar. Artinya, Facebook benar-benar bisa mengidentifikasi wajah kita melalui foto.

Selain itu, ilustrasi di atas juga menunjukan ketika kita log in dari Negara lain, ternyata Facebook mengetahuinya.  Sebenarnya, tidak hanya facebook yang mampu mengidentifikasi keberadaan kita. Jelas internet bukanlah hutan belantara yang luas, melainkan sebuah pemukiman luas dan padat dengan alamat yang sangat spesifik. Alamat spesifik tersebut bernama IP Address.

Setiap orang menggunakan Internet Service Provider (ISP) dalam berinternet. Mayoritas ISP berupa perusahaan telekomunikasi besar, di samping sangat sedikit ISP yang sifatnya independen. ISP yang independen pun masih terkoneksi dengan perusahaan-perusahaan ISP yang besar. Ketika kita terkoneksi dengan intenet, ISP menyediakan IP Address, yang berupa nomor-nomor spesifik. IP Addres inilah yang berfungsi mendeteksi keberadaan kita, karena masing-masing Negara memiliki IP Address yang berbeda yang ditentukan oleh ISP. Selain berbeda di setiap Negara, setiap ISP juga memberikan IP Address yang berbeda. Anda bisa mencoba dengan mengunjungi http://whatismyipaddress.com/ melalui browser Anda. Anda akan melihat sejumlah informasi, antara lain no. IP Address, ISP, Kota, wilayah, dan Negara. Di bawah ini adalah contoh IP Address saya.

IP Information: 69.22.170.110

ISP: nLayer Communications
Organization: GIGLINX
Connection:
Services: Network Sharing Device
City: Torrance
Region: California
Country: United States

Tak hanya itu, website yang kita kunjungi juga memiliki IP Address. Artinya ada dua alamat yang sangat spesifik yang menunjukan kita dari mana, dan ke mana. Maka, saat ini internet mengetahui kita sedang dimana, bahkan menggunakan ISP yang mana, dan website-website apa saja yang kita buka. Ini belum termasuk email, yang isinya mungkin bisa diketahui baik oleh ISP, maupun pihak-pihak lain yang tidak kita kehendaki untuk mengetahuinya.

Kerentanan bagi Pembela Hak Asasi Manusia (Human Right Defender)

Pernahkah terbayangkan apabila pihak lain yang menggunakan informasi-informasi kita di internet adalah pihak-pihak yang bisa membahayakan kita. Sebut saja pemerintah. Apabila sekelompok orang sedang melakukan pengorganisasian gerakan yang dianggap bertentangan, atau paling tidak mengganggu pemerintah, maka internet menyediakan banyak informasi yang bisa digunakan untuk melacak kita. Selain pemerintah, mungkin pihak yang lebih mengancam adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan untuk menghancurkan gerakan-gerakan masyarakat sipil.

Saat ini, mungkin bahaya tersebut belum terlihat oleh kita. Namun potensinya tetap harus diperhitungkan. Karena ke depannya, kita tidak pernah tahu kapan pemerintah menyadari ketersediaan informasi tersebut, dan ingin menggunakannya. Atau bahkan mungkin saat inipun mereka sudah menggunakan informasi-informasi tersebut untuk isu-isu sensitif tertentu, seperti kemerdekaan, ataupun terorisme.

Di Negara lain, Syria misalnya, seorang perempuan pembela HAM dikriminalisasi, hanya karena memiliki blog dan menulis impiannya tentang kedamaian dan kesetaraan. Kriminalisasi blogger juga banyak terjadi di berbagai banyak Negara yang internetnya dikontrol oleh pemerintah. Bagaimana dengan Indonesia? Kita tentu belum lupa wacana memantau twitter yang pernah dikeluarkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika. Lagipula, kontrol terhadap internet bisa dilakukan dengan sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan kita.

Kerja-kerja Hak Asasi Manusia seringkali berhubungan dengan internet. Sebagai bagian dari kampanye, kita menggunakan Facebook, Twitter, Blog, maupun penyedia layanan internet lainnya. Beberapa orang memilih untuk membuat blog anonim karena tidak ingin identitasnya diketahui. Namun, apabila kita melihat cara kerja internet, maka membuat blog anonimpun tidak berarti kita anonim di dunia internet. Karena masing-masing kita memiliki IP Address sebagai suatu alamat spesifik yang mampu mengidentifikasi kita dimanapun.

Kriminalisasi blogger menjadi fenomena yang terjadi dimana-mana. Seringkali kita keheranan karena sebenarnya konten yang termuat di blog-blog tersebut tidak selalu ‘mengancam.’ Namun, kriminalisasi blogger terjadi tidak hanya untuk mengekang pemikiran dan pengaruhnya, namun juga membungkam gerakan-gerakan progresif yang dianggap mengancam kekuasaan.

Saat inipun, Indonesia telah memiliki UU Informasi dan Transaksi Elektronik  (ITE) yang berpotensi mengkriminalisasi kegiatan di internet, termasuk email, blog dan lain sebagainya. Kasus Pritta Mulyasari bisa menjadi contoh bagaimana UU ini digunakan ketika seorang masyarakat biasa harus berhadapan dengan Rumah Sakit besar. Bayangkan ketika kepentingan penguasa, perusahaan, atau pihak-pihak yang memiliki kuasa lainnya, bertemu dengan budaya dan perspektif yang tidak berpihak pada hak asasi manusia, disokong oleh peraturan perundang-undangan yang berpotensi mengkriminalkan masyarakat. Pertemuan berbagai pihak tersebut menjadikan risiko kita, sebagai blogger yang juga bekerja untuk Hak Asasi Manusia menjadi berkali-kali lipat.

Terlepas dari persoalan konten apa yang kita tampilkan, atau tujuan apa yang ingin kita capai melalui menulis, yang jelas kita sebagai manusia memiliki hak asasi manusia, berupa privasi. Kita yang menentukan apakah kita ingin dikenali atau tidak, informasi apa yang ingin kita bagi kepada orang lain, informasi apa yang tidak, siapa yang berhak mendapatkan informasi kita, siapa yang tidak. Kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi juga menjadi bagian hak asasi manusia yang tidak boleh dibungkam oleh siapapun. Bagi saya, pembungkaman dalam menulis dan menyebarkan informasi tidak hanya merupakan pelanggaran kebebesan berbicara dan berpendapat, tetapi juga mencederai hak masyarakat untuk mendapatkan informasi.

3 responses to “Internet dan Kerentanan Pembela HAM

  1. Ping-balik: Internet dan Kerentanan Pembela HAM | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

  2. Jika dilihat Teknologi Informasi (Internet) memang memiliki dua sisi mata uang, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Untuk poin yg terakhir, aku setuju, bahwa Kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi juga menjadi bagian dari HAM. Namun tentunya tetap mematuhi aturan-aturan atau norma-norma yg berlaku. Mohon diberi komentar pada tulisanku yang ini ya. Hak Anak Sebagai Amanah Tuhan dan UUD RI

    • Terima kasih, Mas
      Terkait tidak kebablasan, memang terkait dengan berbagai ketentuan yang ada di Indonesia. Namun memang batas-batas yang biaslah yang harus diwaspadai.

      Ok, saya akan baca postingannya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s