Terminal Khusus TKI

Pertama kali dalam sejarah aku salah gate di bandara. Kejadian itu kualami minggu lalu di Bandara Internasional Dubai. Aku sudah mengecek berkali-kali jadwal dan gate yang terpampang di papan besar, yang menyatakan aku harus menunggu di gate 125. Nyatanya, aku nyasar di gate 215. Tapi aku percaya bahwa tidak ada kebetulan di dalam hidup ini. Begitulah cara hidup mempermainkan, sekaligus mengajari kita.

Ketika sedang menyandarkan diri di kursi, seorang perempuan setengah baya datang menghampiriku. Mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan kerudung hitam. Sebut saja namanya Teh Lilis (bukan nama sebenarnya), aku menerka dia adalah seorang Buruh Migran asal Indonesia. Benar saja, dia mengajakku berbicara dengan bahasa Indonesia dan bertanya aku dari mana. Ketika kujawab, dia kembali bertanya, ‘Turki itu dimana?’ Wajar saja, Turki memang bukan Negara tujuan Buruh Migran Indonesia.

Rupanya Teh Lilis sedang bingung, karena penerbangannya masih 11 jam lagi. Ketika dia bertanya kepada petugas di Bandara, mereka memintanya menunggu dan mengambil makanan terlebih dahulu. Keterbatasan bahasa Teh Lilis membuat dia tidak bisa menangkap secara utuh arah yang ditunjukan oleh petugas. Lalu dia memutuskan untuk beristirahat sebentar, sehingga dia duduk dan lalu menyapaku.

Akhirnya perbincangan kami berlanjut. Sesekali dia membenahi kerudungnya yang kerap turun mengganggu. Dia bercerita tentang banyak hal. Tentang dia yang sudah bekerja sebagai Buruh Migran selama sembilan tahun, tentang keluarganya, tentang dia yang tidak bisa menghadiri pernikahan putrinya dua bulan lalu karena masih terikat kontrak kerja di Kuwait, tentang majikannya, tentang suaminya yang terus mendorong dia untuk bekerja keluar negeri. Aku tak kalah semangat menanggapi. Bertanya mengapa dia tidak menggunakan uang hasil kerjanya di luar negeri untuk modal usaha, agar ia tidak harus ‘seumur hidup’ menjadi buruh migran. Jawabannya seperti yang kuduga, dia takut gagal. Ah, betapa banyak Teh Lilis-Teh Lilis yang lainnya. Perempuan-perempuan yang jadi tumpuan ekonomi keluarga, yang jerih payahnya habis untuk hal-hal konsumtif, yang akhirnya harus berulang kali mengadu nasib di negeri orang, di tengah kerentanan akan kekerasan.

Lalu perbincangan kami menjadi fokus. Matanya terlihat menerawang, menyiratkan kekhawatiran ketika berbicara tentang terminal khusus TKI. “Kita semua harus pulang melalui terminal tiga. Kata teman saya yang tempo hari baru pulang, semua tas kita akan diperiksa, dan semua uang kita harus ditukarkan di bandara saat itu juga. Padahal, harga di tempat penukaran itu lumayan berbeda dengan tempat penukaran yang lainnya,” ungkap Teh Lilis. Cerita Teh Lilis pun berlanjut. “Di terminal khusus TKI itu justru kami apa-apa harus bayar mahal. Orang yang membantu mengangkat tas saja, sudah memaksa mengangkat tas kami tanpa diminta, mengangkatnya pun dekat saja, tapi minta bayaran mahal. Kalau ditanya, katanya seikhlasnya, tapi diberi Rp10 ribu selalu ngomel dan minta lebih.”

Bukan rahasia umum bahwa terminal khusus TKI yang katanya merupakan bentuk upaya perlindungan pahlawan devisa kita, justru menjadi tempat pemerasan bagi mereka. Karena mereka tahu pasti bahwa Buruh Migran yang baru datang membawa uang banyak. Maka mereka berlomba-lomba agar mendapatkan sebanyak-banyaknya ‘bagian’ dari hasil keringat Buruh Migran tersebut.

Hal lain yang juga menarik adalah bagaimana terminal khusus TKI itu amat tertutup. Sulit untuk orang umum memasukinya. Bahkan kabarnya, beberapa peneliti maupun aktivis LSM kerap mencoba masuk untuk observasi dan melihat langsung apa yang terjadi di dalam sana. Namun selalu gagal. Kabarnya pula, beberapa kali diupayakan untuk diadakan sidak. Namun informasi akan adaya sidak selalu bocor. Maka ketika sidak dilakukan, semua seakan sudah dipersiapkan. Miris bukan? Gembong mafia, di sebuah bandara internasional. Tempat dimana Buruh Migran diperas dan mengalami kekerasan, di negerinya sendiri.

Kembali ke Teh Lilis, rupanya perbincangan kami masih belum selesai. Kekerasan terhadap Buruh Migran pada tahap kepulangan tidak berhenti di terminal khusus TKI. Untuk pulang ke rumah dari bandara Soekarno Hatta, mereka diwajibkan menggunakan travel milik pemerintah. Lagi-lagi kebijakan tersebut mengatasnamakan perlindungan Buruh Migran. Para buruh migran harus menunggu sampai travel penuh, baru diantarkan ke kampung halaman. Kadang-kadang mereka bahkan harus menunggu berhari-hari di bandara, sampai jumlah penumpang mencukupi untuk mobil travel itu berangkat. Dan nyatanya, di atas travel kembali terjadi pemerasan.

Para buruh migran yang sudah membayar sebelum diberangkatkan pulang ke kampung halaman, kembali diminta bayaran oleh sopir dan petugas mobil travel di tengah jalan. Biasanya mereka dimintai bayaran ratusan ribu rupiah. Jika tidak mau membayar, ancamannya adalah mereka akan diturunkan di tengah jalan. Di antara mereka bukannya tidak ada yang melawan. Namun menurut teh Lilis, “ya kalaupun ada satu dua yang protes tetap kalah sama yang lain Mbak. Karena kebanyakan pasrah saja, yang penting bisa sampai ke rumah.” Tak hanya itu, pernah kudengar terjadi pemerkosaan. Buruh Migran diperkosa di atas mobil yang bertuliskan nama sebuah lembaga pemerintah (baca:mobil resmi).

Bagiku, terminal khusus TKI, pada dasarnya merupakan suatu bentuk diskriminasi, dan bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Siapapun warga Negara yang menggunakan jasa bandara, seharusnya berhak untuk memilih terminal mana yang harus dilewatinya (biasanya berdasarkan pesawat). Seharusnya Buruh Migran tidak dibeda-bedakan dengan Warga Negara Indonesia lainnya dengan harus pulang melalui terminal khusus TKI, dan harus menggunakan travel pemerintah. Mereka harus bebas memilih alat transportasi untuk pulang, juga bebas untuk menukarkan uangnya atau tidak, atau memilih tempat penukaran manapun yang mereka pikir lebih menguntungkan mereka.

Apalagi, pengkhususan-pengkhususan itu justru menjadi ladang kekerasan dan pelanggaran hak bagi Buruh Migran. Hal ini merupakan evaluasi besar, dan seharusnya menjadi pertimbangan signifikan dalam pembentukan kebijakan ke depan. Momen diratifikasinya Konvensi Migran 1990 12 April 2012 lalu, dan momen revisi UU No. 39 Tahun 2004 di DPR seharusnya menjadi kesempatan bagi evaluasi terminal khusus tersebut. Karena kekerasan dan pelanggaran hak yang terjadi pada buruh migran ada di setiap tahapan. Dari mulai pra penempatan, penempatan, hingga kepulangan di negaranya sendiri, tempat seharusnya dia bisa merasa lebih aman. Faktor utama pelanggaran hak dan kekerasan pada tahap kepulangan adalah terminal khusus TKI.

Begitulah, perbincanganku dan Teh Lilis pun berhenti di terminal dan travel khusus. Kemudian aku menemaninya untuk menghampiri seorang bertugas bandara, dan bertanya di mana dia bisa mengambil makanannya. Beruntung, sang petugas tidak hanya menunjukan arah, tetapi bersedia mengantar Teh Lilis ke tempat tersebut. Aku pun duduk sesaat sebelum aku mendengar pengumuman, bahwa pesawatku sudah boarding di gate 125. Untungnya, aku tidak terlalu mengantuk dan bisa mendengar pengumuman tersebut scara seksama. Aku pun setengah berlari meninggalkan tempat duduk yang menjadi saksi perbincanganku dengan Teh Lilis.

Benar kan? Tidak ada kebetulan di dunia ini

One response to “Terminal Khusus TKI

  1. Ping-balik: Terminal Khusus TKI | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s