Sumbangsih untuk Si Mbak

Tadi malam, aku mendengar Muthia kecilku mengetuk kamar si Mbak, yang letaknya persis di sebelah kamarku. Aku mendengarnya memanggil si Mbak, dan minta dibuatkan susu. Segera kubuka pintu kamarku, dan memanggil Muthia. Si Mbak yang terlanjur terbangun, kuminta kembali tidur, dan akupun membuatkan susu untuk Muthia.

Pernahkah kita berpikir tentang jam kerja bagi para pekerja rumah tangga? Bagaimana mereka harus bangun teramat pagi sebelum yang lain bangun, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Belum lagi kalau harus mengurus anak-anak, memandikan, menyuapi, menyiapkan seragam dan buku-buku sekolah. Sementara si anak sekolah, dia melanjutkan pekerjaan rumah tangga, mencuci, menjemur pakaian, membersihkan dapur, masak, dan lain sebagainya. Aktivitas mereka tak pernah berhenti bahkan ketika jam kerja kita sudah habis, dan kita pulang sampai ke rumah. Lalu ketika mereka sudah bisa beristirahat karena telah berhasil mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, mereka masih harus stand by hingga entah kapan, apabila si kecil sewaktu-waktu memanggil meminta susu, atau ingin ke kamar mandi.

Pernahkah kita berpikir tentang berapa usia si Mbak? Apa yang kita lakukan ketika kita seusianya. Sekolah? Kuliah? Sibuk bermain-main, hang out di mall, atau sibuk pacaran? Sementara si Mbak, yang mungkin usianya belum 18, (berdasarkan UU Perlindungan Anak masih tergolong anak), sudah harus bertanggung jawab untuk banyak pekerjaan. Padahal, apabila masih tergolong anak, sebenarnya dia memiliki hak untuk bermain, hak atas pendidikan, hak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, dan juga hak-hak anak lainnya, yang terpaksa dirampas demi menghidupi keluarganya.

Pernahkah kita berpikir, berapa besar beban kerja mereka, dari mulai mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, mengurus anak, dan lain sebagainya. Berapa sebenarnya kita pantas menghargai mereka? Berapa gaji yang pantas, dan bagaimana perlakukan yang pantas kita berikan? Bagaimana dengan risiko kerjanya yang justru relatif lebih rentan daripada kita? Apa kita memberikan jaminan sosial seperti yang selama ini kita tuntut kepada perusahaan tempat kita bekerja? Apa kita memberikan mereka tunjangan, apa kita memberikan mereka hari libur, cuti tahunan, cuti haid, THR, dan hak-hak pekerja lainnya?

Pernahkan kita berpikir, berapa besar kontribusi Pekerja Rumah Tangga? Aku, mungkin kamu, punya Pekerja Rumah Tangga. Dokter-dokter handal yang menyembuhkan banyak orang, insinyur-insinyur hebat yang membangun gedung-gedung megah, para anggota dewan, gubernur, menteri, dan bahkan presiden, mereka memiliki dan merasakan sumbangsih dari pekerja rumah tangga. Tapi apakah kita memberikan sumbangsih yang layak bagi orang-orang super yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga dan mendidik anak-anak kita?

Apakah berlebihan jika mereka hanya menuntut untuk diperlakukan dan diakui sebagai pekerja? Yup! Worker, not Helper. Dari tadi, entah disadari atau tidak, aku menggunakan istilah PEKERJA Rumah Tangga. Namun Pekerja Rumah Tangga bukan sekedar sebuah istilah. Pekerja menunjukan adanya hubungan kerja, sehingga juga menimbulkan hak dan kewajiban di atas hubungan kerja tersebut. Karena sejatinya, Pekerja Rumah Tangga memiliki hak yang sama dengan hak Pekerja lainnya, yang juga merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia. Maka hak atas upah layak, hari libur, pendidikan, jaminan kesehatan, dan hak-hak pekerja juga hak asasi manusia lainnya juga merupakan hak Pekerja Rumah Tangga. Sudah sepantasnya hak itu dijamin dalam bentuk peraturan perundang-undangan dan dijalankan oleh semua pihak.

Berbicara tentang bagaimana hak-hak Pekerja Rumah Tangga bisa diimplementasikan, maka yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma kita. Pernyataan-pertanyaan di atas sebenarnya merupakan pancingan untuk kita melihat si Mbak dengan kacamata baru. Bahwa apa yang selama ini dia lakukan bukan pekerjaan mudah. Bahwa pekerjaan tersebut juga memerlukan kerapihan, ketelitian, kerajinan, dan bahkan skill. Dan terutama bahwa apa yang selama ini mereka lakukan adalah PEKERJAAN bukan sekedar bantuan.

Pasalnya, masalah pelanggaran hak atau kekerasan terhadap Pekerja Rumah Tangga tidak hanya terletak pada tataran kebijakan, tetapi tantangan yang terbesar justru datang dari level budaya (kultur). Selama ini, Pekerja Rumah Tangga kerap diletakan di nomor sekian dalam strata status sosial masyarakat. Struktur budaya yang patriarkis tidak menghargai pekerjaan rumah tangga yang berada di dalam sektor domestik. Pekerja Rumah Tangga juga cenderung dianggap rendah, dengan istilah-istilah seperti babu, batur, jongos, kacung. Bahkan, kamus bahasa Indonesia memiliki frasa khusus untuk membedakan antara pekerja rumah tangga perempuan yang disebut babu dan pekerja rumah tangga laki-laki yang disebut jongos.

Mayoritas Pekerja Rumah Tangga Indonesia merupakan kaum perempuan dengan tingkat pendidikan yang rendah serta berasal dari keluarga miskin di daerah pedesaan. Berdasarkan data ILO, 34,82 % dari total keseluruhan PRT berusia anak-anak antara 15 s/d 18 tahun. Berbagai situasi tertebut menempatkan Pekerja Rumah Tangga di dalam kerentanan terhadap berbagai jenis kekerasan, dari kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi. Hal ini diperparah dengan kondisi kerja mereka yang tertutup di dalam rumah. Sehingga, seringkali kekerasan terhadap Pekerja Rumah Tangga dianggap sebagai urusan privat.

Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan seorang Pekerja Rumah Tangga Anak yang mengalami kekerasan, termasuk disetrika oleh majikannya. Tetangga majikannya yang peduli mencari LSM atau organisasi yang bisa membantu. Kamipun bertemu di twitter sebelum akhirnya bertemu di dunia nyata. Ketika si tetangga berusaha membantu, dia justru dihakimi oleh warga sekitar termasuk ketua RT. Dia dituding mencampuri urusan orang lain, dan harus berhadapan dengan belasan warga termasuk si pelaku yang semuanya menyalahkannya. Bayangkan! Seorang anak disiksa dengan setrika, dan hal itu masih dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak bisa dicampuri?

Upaya perlindungan dan perwujudan hak-hak Pekerja Rumah Tangga memang patut didorong melalui kebijakan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah membongkar paradigma dan budaya, serta sudut pandang masyarakat dalam melihat Pekerja Rumah Tangga. Sebuah upaya yang bahkan bisa dilakukan oleh siapa saja, dengan memberikan gaji yang layak bagi mereka, jaminan kesehatan, hari libur. Bahkan melalui langkah kecil berupa memberikan hak istirahat mereka dengan konsisten, dan tidak membiarkan si kecil ‘mengganggu’ si Mbak, pada saat jam istirahat tersebut.

3 responses to “Sumbangsih untuk Si Mbak

  1. Ping-balik: Sumbangsih Untuk Si Mbak | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

  2. Aku punya perasaan yang agak ambigu terhadap eksistensi PRT. Di satu sisi, aku merasa bahwa posisi PRT perlu diformalkan (artinya dikenali secara khusus dalam hukum) sehingga mereka bisa mendapatkan perlindungan yang lebih luas dan menyeluruh sebagai pekerja. Di sisi lain, aku merasa bahwa penformalan posisi PRT malah akan mengganggu hubungan non-formal yang seringkali sifatnya hangat dan kekeluargaan antara majikan dan pembantunya.

    • Sebenarnya, pemformalan status dan posisi PRT itu tujuannya untuk melindungi PRT yang secara kenyataannya di berbagai tempat mengalami berbagai pelanggaran Hak dan Kekerasan.

      Saya pikir, sifat hangat dan kekeluargaan antara majikan dan PRT nya bisa tetap berlangsung meski mereka terikat secara kontrak kerja. Sifat hangat dan kekeluargaan pada dasarnya bergantung pada masing-masing individu. beberapa majikan yang sudah menerapkan kontrak kerja dengan PRT pun, sikapnya tetap hangat dan kekeluargaan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s