Menyoal Ketidakamanan Berinternet

sumber gambar: http://m.jpnn.com

Setiap harinya, banyak orang bekerja menggunakan internet. Coba tengok rekan kerja di kiri kanan Anda, bisa jadi mereka sedang membuka email, berdiskusi melalui skype, browsing, menulis di blog, atau bahkan membuka Facebook. Internet, dengan segala fasilitas di dalamnya dari mulai email, facebook, twitter, blog, skype, aplikasi chatting, dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebagian orang, menggunakan internet tidak hanya untuk mendapatkan informasi, namun juga mengungkapkan berbagai pikiran dan gagasan melalui ruang-ruang online dimana kita bisa saling membaca satu sama lain. Apalagi, dalam era saat ini, ketika media mainstream dikuasi oleh pihak-pihak berkepentingan, saat informasi dari twitter justru bisa lebih dipercaya dibandingkan informasi dari media besar, internet menjadi begitu diandalkan. Berbagai ekspresi dan pengetahuan terungkap melalui internet. Internet bahkan sudah menjadi bagian dari kerja-kerja kampanye baik perorangan maupun organsasi dalam menyebarkan nilai-nilai dan memperoleh dukungan bagi nilai-nilai tersebut.

Kebutuhan akan internet tersebut tentunya menuntut internet menjadi sebuah dunia yang aman, selayaknya kita menghendaki keamanan di dunia nyata. Dengan kata lain, ketika kita memiliki hak atas rasa aman di dunia nyata, maka hak atas rasa aman pun selayaknya kita miliki di dunia maya. Karena itu, hak atas rasa aman di dunia maya sudah sepatutnya juga menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia.

Namun, pernahkah terpikir oleh kita, sejauh apa kita aman berinternet. Pernahkan terpikir bahwa mungkin ada orang-orang yang tengah memantau blog-blog bersuara lantang, tweet-tweet progresif, maupun gerakan-gerakan yang tercipta di Facebook? Pernahkah terpikir bahwa mungkin ada pihak yang mengaitkan antara satu argumen dengan argumen lainnya, antara satu orang di gerakan satu dengan gerakan lainnya? Apakah saya terkesan paranoid? Saya pikir tidak.

Tahun lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam suatu forum yang membuat saya belajar banyak tentang internet, antara lain tentang  pembatasan internet di berbagai Negara, tentang kriminalisasi terhadap aktivis Hak Asasi Manusia dengan menggunakan internet, termasuk banyaknya blogger yang dipenjara, juga ketidakamanan berselanjar dan berkampanye di internet. Dalam forum yang dihadiri oleh aktivis-aktivis perempuan dari berbagai Negara Asia tersebut,  para peserta tidak bersedia untuk dipublikasikan. Hal itu dikarenakan kesadaran mereka akan situasi yang rentan apabila mereka terindentifikasi. Kami pun bersepakat untuk tidak mempublikasikan apapun terkait tempat spesifik, pihak penyelenggara, dan peserta-peserta yang hadir dalam workshop ini, baik melalui publikasi resmi, media, maupun blog pribadi kami masing-masing, termasuk sosial media lainnya.

Saya yang berasal dari Indonesia mulanya melihat permasalahan berinternet hanya terkait kriminalisasi yang akhir-akhir ini sering terjadi. Dari kasus Pritta vs Omni, Luna Maya yang pernah diadukan infotaiment terkait tweetnya, atau kasus-kasus pencemaran nama baik yang seringkali menimpa whistle blower di Negara ini. Nyatanya, banyak kerentanan dalam berinternet. Di forum tersebut saya belajar bahwa setiap ponsel dan komputer, termasuk leptop/netbook memiliki nomor seri yang unik dan tidak ada duanya. Bahwa dari nomor seri tersebut, berbagai data kita bisa dengan mudah dilacak. Apalagi, jika kita menggunakan wireless di tempat umum. Ada sebuah program yang bisa dengan mudah melacak dan masuk ke dalam akun-akun kita. Dan sadarkah kita berapa banyak yang sudah kita sebarkan ke dunia. Nama, alamat, tempat tanggal lahir, bahkan foto, juga berbagai ide, dan pernyataan sikap baik pribadi maupun untuk publik, strategi kerja jaringan, dan lain sebagainya.

Bagi para aktivis hak asasi manusia yang seringkali berhadapan dengan banyak pihak termasuk Negara, tentunya kami memiliki risiko yang lebih besar terkait keamanan berinternet. Namun, risiko tersebut sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja. Kalaupun perusahaan-perusahaan seperti google, facebook, modzilla, wordpress memiliki independensi dan kemanan hingga tidak bisa diakses oleh pihak-pihak tertentu, banyak program yang bisa mendeteksi keberadaan kita, dan mengakses akun-akun kita. Sebagai contoh, tahukah Anda, bahwa password terakhir yang berhasil dipecahkan berjumlah 20 karakter, dengan kombinasi huruf, angka, dan simbol?

Masalah lain yang terjadi di Indonesia, Negara justru menyusun regulasi yang berbahaya bagi kemanan dan hak berinternet kita. sebut saja Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang pengaturan-pengaturan di dalamnya berpotensi mengkriminalkan para pengguna internet. Soal keamanan berinternet tidak ada hubungannya dengan apakah kita melakukan hal yang benar atau salah. Karena di dunia ini benar dan salah menempati posisi relatif yang mudah berganti dan berubah. Prita contoh nyatanya, bagi dia, dan mungkin sebagian besar dari kita, mengungkapkan keluhan tentang pelayanan publik yang buruk adalah hal yang benar. Namun nyatanya, dia harus menghadapi kriminalisasi.

Setelah sadar betapa internet sudah menjadi suatu ruang dimana kita bisa dengan mudah terdeteksi, lalu apa yang bisa kita lakukan? Solusi yang ditawarkan oleh forum yang saya ikuti tersebut bukanlah tentang menginisiasi kebijakan untuk melarang dan melawan pihak-pihak yang akan melacak kita. Forum ini hanya bisa memberikan solusi yang intinya, bagaimana kita bersembunyi di tengah hutan belantara bernama internet. Berbagai aplikasi yang mampu menyamarkan IP address kita, menyimpan sekaligus mengubah password kita menjadi sederetan angka, huruf dan simbol tak bermakna, menjadikan email kita encrypted, dan menghadirkan sebuah floppy disk tersembunyi di komputer kita, yang baru akan muncul dengan menggunakan password tertentu.

Ketidakamanan berinternet, maupun pelanggaran hak internet lainnya tidak hanya melanggar hak kita untuk berekspresi dan mengungkapkan ide serta pemikiran, namun juga pelanggaran terhadap hak mendapatkan informasi. Namun, sampai kapankah kita harus berinternet secara takut-takut dan bersembunyi? Mungkinkah hak atas rasa aman di dunia maya mampu terwujud?

One response to “Menyoal Ketidakamanan Berinternet

  1. Ping-balik: Menyoal Ketidakamanan Berinternet | IHRBA | Indonesian Human Rights Blog Award

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s