Pendidikan Seks untuk Anak

Gara-gara tadi pagi liat TL nya mbak @justsilly, aku jadi nge-googling seputar #SexEducation for Children. Kenapa penting? Ada beberapa alasan yang membuat sex education menjadi penting untuk diberikan sejak dini. Sex education bisa mencegah hal-hal yang terjadi apabila:

1. Anak kurang mendapatkan informasi terkait seks, bisa berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan, hingga penyakit menular seksual dan penularan HIV. Selain itu, juga mencegah pelecehan seksual, atau paling tidak membuat si anak tahu apa yang harus dilakukan apabila menjadi korban kekerasan seksual.

2. Anak justru mendapatkan bebagai informasi dari luar. Pada masa internet seperti saat ini, berbagai informasi mengenai seks tersebar di luar sana. Pencarian tanpa panduan, justru akan menyebabkan informasi-informasi yang masuk tidak diolah dengan tepat. Akan jauh lebih baik apabila anak mendapatkan informasi dari orang tua, guru, atau pihak lainnya, ataupun literatur yang tepat terlebih dahulu sebelum mereka ‘kebanjiran’ informasi dari luar sana. Dampak lebih lanjutnya, anak bisa mengalami kecanduan (video prono, bacaan porno, dsb). Padahal beberapa ahli mengatakan bahwa kecanduan pronografi lebih berbahaya dibandingkan kecanduan narkoba. pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi).

Menurutku, ada dua poin penting terkait pendidikan seks. Pertama, bagaimana dia diajarkan sedini mungkin (sesuai porsinya yang nanti akan dibahas lebih lanjut). Kedua, bagaimana kita membongkar perspektif kita yang selama ini melihat hal-hal terkait seks sebagai ‘benda tabu.’

Pendapatku di atas muncul karena pengalamanku sendiri. (1). Waktu kecil, aku pernah mengalami pelecehan seksual. Saat itu aku diam saja, karena tidak mengetahui bahwa ‘itu’ adalah pelecehan seksual. à akibat ketiadaan pengetahuan mengenai seks. (2). Setelah dewasa pun, aku pernah kembali mengalami pelecehan seksual, namun tetap diam saja karena malu. à akibat hal-hal terkait seks dianggap tabu. (Terkait juga dengan kondisi patriarkis dimana perempuan dibebankan kewajiban lebih dalam menjaga dirinya terkait seks).

Oke, kita mulai dari mana ya, hmm, gimana kalo berdasarkan 5 W 1 H? Biar informasinya lebih jelas dan teratur, plus ga ngelebar kemana-mana. Jadi, berdasarkan beberapa literatur yang aku temukan di internet, beberapa hal yang bisa dirangkum adalah sebagai berikut:

1. Siapa

Siapa di sini, ada dua. Siapa yang pertama adalah siapa yang kita ajak berhak mendapakan pendidikan seks, yaitu si anak. Nah, lalu siapa yang memberikan? Di beberapa Negara pendidikan seks diberikan di sekolah, sehingga guru yang memberikan informasi tersebut. Namun, sebenarnya yang paling tepat untuk memberikan pendidikan seks adalah ORANG TUA. Selain karena orang tua yang sehari-hari berada di sekitar si anak, juga penting untuk anak memiliki dan menentukan seseorang yang bisa dipercaya untuk menanyakan masalah seks. Dan orang tua relatif paling tepat untuk dijadikan pihak untuk bertanya.

2. Apa

Apa si yang harus diceritakan terkait pendidikan seks? Pendidikan seks, tidak semata-mata mengenai hubungan seksual. Dia mencakup anatomi tubuh, termasuk alat kelamin, fungsi alat kelamin, pubertas, perkembangan bentuk tubuh terkait pubertas, fungsi reproduksi, dan proses reproduksi, juga proses terjadinya pembuahan hingga tumbuh menjadi bayi.

Lebih lanjut kita menjelaskan tentang hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa terjadi, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit-penyakit menular seksual, HIV, dan lain-lain. Kita juga bisa mengajarkan beberapa pedoman, apa yang boleh apa yang tidak. Misalnya tidak boleh ada seorangpun yang menyentuh alat kelamin kita, dll. Juga apa yang harus dilakukan apabila kita mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain.

Nah yang terpenting, beri mereka pemahaman secara bertahap, dan yakinkan mereka bahwa mereka bebas bertanya pada kita tentang apa saja, dan kapan saja, agar kita (orang tua) menjadi referensi pertama dan utama dari semua pertanyaan mereka terkait seks.

3. Di mana

Diskusi tentang seks, akan lebih nyaman dilakukan di dalam ruang privat. Pendidikan seks di sekolah meski dibutuhkan, tetapi tidak cukup untuk memberikan pemahaman yang lengkap sesuai kebutuhan anak-anak. Masing-masing anak memiliki reaksi, tingkat sensitivitas dan pengalaman yang berbeda terkait informasi seks. Karena itulah, orang tua memegang peran utama dalam memberikan pendidikan seks di rumah.

4. Kapan

Pertanyaan kapan adalah pertanyaan yang paling sering muncul untuk memberikan pendidikan seks pada anak-anak. Jawabannya bisa beragam.

“Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak mereka mereka mulai menstruasi atau sejak mereka mimpi basah,” ungkap dr Boyke Dian Nugraha. Sumber: kompas female.

“Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal,”

– Dr Rose Mini AP, M.Psi-

Sementara dalam sebuah artikel di betterhealth.vic.gov.au, dikatakan bahwa kita harus memulai membicatakan tentang isu-isu puberty pada saat anak usia 9. Lebih lanjut artikel itu menjelaskan, beberapa anak perempuan bahkan mulai mengalami perkembangan payudara sejak usia 8 tahun. Sementara, anak laki-laki butuh tahu tentang ‘unwanted erection’ dan mimpi basah, sebelum keduanya terjadi. Sehingga penting untuk mulai berbicara dengan anak perempuan ataupun anak laki-laki sebelum mereka ‘tumbuh’ dan mengalami perubahan tubuh.

Secara garis besar, pendidikan seks sebenarnya bisa dimulai sedini mungkin. Hanya saja, hars bertahap sesuai usia dan perkembangan pribadi mereka.

 

Balita (1-5 tahun)

Pada usia ini, kita bisa mulai memperkenalkan organ-organ seks miliknya secara singkat. Kita bisa memberitahu anatomi tubuhnya, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut , juga penis dan vagina atau vulva. Lalu terangkan perbedaan alat kelamin antara miliknya dengan milik lawan jenisnya,

Pada usia ini anak juga sudah mulai bisa diberi pemahaman, misalnya bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, atau apabila ada  yang menyentuhnya tanpa diketahui orang tua, maka si kecil harus berteriak keras-keras dan melapor kepada orang tuanya.

 

Usia 5-10 tahun

Pada usia ini, anak biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya pertanyaan dari mana ia berasal. Jawaban-jawaban yang sederhana dan terus terang biasanya efektif.

Misalnya : “Bu, adik berasal dari mana?” kita bisa menjawab dari perut ibu. Atau kita bisa tunjukkan seorang ibu yang sedang hamil dan menunjukan lokasi bayi di perut ibu tersebut.

Bisa juga ia bertanya, “Mengapa bayi bisa ada di perut?” Kita bisa menjawab bahwa bayi di perut ibu karena ada benih yang diberikan oleh ayah kepada ibu.

 

Usia Menjelang Remaja

Saat inilah kita mulai menerangkan mengenai haid, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada seorang remaja. Seperti perubahan bentuk payudara, tumbuhnya jakun, atau akan aanya bulu-bulu yang tumbuh di sekitar kelamin.

Usia Remaja

Saat ini, kita perlu lebih intensif mendampingi anak-anak. Kita mulai berbicara tentang  hubungan seksual dan risiko yang bisa muncul. Seperti kehamilan tak terencana, dan dampak negatif yang akan timbul. Juga tentang penyakit menular seksual, dan lain sebagainya.

*Penting bagi kita untuk memberikan informasi secara bertahap kepada anak, agar ia bisa memahami secara menyeluruh keterkaitan antara fungsi organ, hingga hubungan seksual. Sehingga kita tidak membombardir mereka dengan seluruh informasi sekaligus yang justru akan mengakibatkan mereka hanya sebatas tahu, namun tidak paham secara tepat.

5. Bagaimana

Bagaimana cara memberikan pendidikan seks? Caranya bisa macam-macam, setidaknya ada beberapa poin yang bisa aku tulis di sini.

1. Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Hal ini, secara tidak langsung juga dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminya,

2. Tidak harus dilakukan dengan langkah yang formal, tapi bisa juga dilakukan saat santai ataupun sembari menonton televisi.  Cari beberapa momen dimana kita bisa mulai mengajaknya bicara. Misalnya, dengan menanyakan, apakah kamu pernah berpikir bagaimana kamu bisa lahir ke dunia? Atau kita bisa mencari kesempatan untuk membuka percakapan dengan mengomentari kerabat yang sedang hamil.

3. Jangan tunggu mereka bertanya. Banyak anak-anak yang malu untuk bertanya kepada orang tuanya terkait seks. Kitalah yang harus memberikan informasi awalan, dan membangun kepercayaan untuk si kecil bisa berdiskusi dan terbuka dengan kita mengenai seks.

4. Katakan/jawab dengan tegas, jujur dan sebenarnya. ketidaktegasan dalam memberikan jawaban justru akan membuat anak mencari informasi dari luar. Gunakan nama yang benar untuk penis dan vagina. Apapun pertanyaan yang diajukan, kita harus menjawab dengan jujur. Termasuk ketika kita tidak bisa menjawab atau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mereka, maka katakan dengan jujur dan beri mereka pengertian.

5. kita bisa menggunakan bahan-bahan pendidikan seks yang baik dan sesuai dengan usia mereka. Seperti buku, video, ataupun literatur lainnya.

Baiklah, sekian hasil berselancar pagi ini. Monggo lho, kalau mau dikoreksi dan ditambahkan. Semoga bermanfaat.

Yuk, jadi ‘orang tua’ cerdas, bahkan sebelum jadi orang tua!

Sumber-sumber:

Kompasfemale.com

tipsanda.com

majalah-lifestyle.com

episentrum.com

sweetspearls.com

tanyadokteranda.com

http://www.youtube.com/watch?v=aMf0WbB-F4I&feature=related

bettehealth.vic.gov.au

onlymyhealth.com

mayoclinic.com

smith-lawfirm.com

PS: untuk mencari-cari bahan pendidikan seks, bisa juga dengan membuka situs The Hormon Therapy, http://www.thehormonefactory.com/topic.cfm?categoryid=1&topicid=20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s