(Masih) Ada Harapan

 

Kemarin aku ke FHUI, sebuah kampus yang setiap sudutnya kujelajahi selama kurang lebih empat tahun. Tempat aku memasuki sebuah dunia yang berbeda dari dunia anak sekolahan, tempatku tak sekedar belajar hukum, tapi juga belajar hidup.

UI. mungkin banyak yang sudah mendengar kisah kisruh Universitas yang menyandang nama bangsa ini. untuku yang begitu mengenal dan mencintainya, UI masih menjadi sebuah institusi dimana aku merasa patah hati.

Tentu saja, empat tahun benar-benar tak cukup untuku mengenalnya dengan baik. untuk tahu betapa banyak pelanggaran dan korupsi yang dilakukan dari setiap pembanguna fisiknya. untuk memahami betapa banyak profesor pintar yang pikirannya begitu pendek. untuk tahu betapa banyak mahasiswa yang terlibat langsung dalam upaya komerialisasi pendidikan di negeri ini.

kembali ke soal kisruh UI, sudah lama aku tak terlibat, tak melihat, bahkan menghindar dari gembar-gembor yang keluar atas nama ingin menyelamatkan UI (baca: saveUI).

Aku hanya mengerenyitkan dahi ketika tahu bahwa ang Rektor memiliki prioritas kebijakan yang tak ramah bagi si miskin. Bahwa ia memilih membangun perpustakaan megah, jalur sepeda, kandang rusa, memindahkan pohon langka, yang menarik banyak dana dari mahasiswa, dan memungkinkan terjadinya korupsi dimana-mana.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat para profesor dan pejabat kampus di MWA yang dengan lantang meneriakan otonomi kampus ala BHMN demi langgengnya kedudukan mereka.

Namun saat aku tahu, bahwa mahasiswa pun bernada sama. memilih berperan aktif mengingkari hak atas pendidikan yang tertera jelas dalam berbagai peraturan perundang-undangan, bahwa konstitusi negara kita. mengaku membela rakyat, namun melanggengkan status badan hukum, yang jelas dari aspek filosofis, yuridis, dan terlihat nyata dalam tataran sosiologis mencekik kantong anak bangsa. membuat banyak yang takut masuk UI. membuat banyaknya impian yang pupus begitu saja, demi melihat angka puluhan juta di kolom admission fee, dan 5-7,5 juta yang harus mereka bayar setiap enam bulan.

Aku tak bisa bereaksi. Syarafku terasa mati, aku patah hati.

Hingga hari kemarin, ketika aku melangkah kembali.

Tahun 1997, aku datang pertama kali ke kampusmu yang megah di Depok, terenyum dan berkata dalam hati, “aku akan kuliah di sini”

Tahun 2005, aku melihat namaku di koran, aku berhasil lulus SPMB, dan bersiap melewati tahun-tahunku bersamamu.

(masih) Tahun 2005, aku tersentak hebat, koran itu menunjukan biaya admission fee yang sangat besar, menimbulkan tanda tanya besar di hatiku, bagaimana orang tuaku bisa sanggup membayar jumlah itu.

(masih) Tahun 2005, aku ikut antre, menyerahkan sejumlah berkas, meminta belas kasihanmu, untuk memberiku keringanan, sekedar mencicil admission fee mu yang terlalu besar.

Tahun 2008, aku mendengar berbagai cerita, tentang cita-cita di ujung negeri sana, tentang ungkapan-ungkapan bersemangat, yang tiba-tiba patah, karena kamu meminta jutaan rupiah, untuk diserahkan setiap enam bulan.

(masih) Tahun 2008, aku tak mau putus asa, harapku ada pada kawan-kawanku, yang masih bersemangat, memperjuangkan mahasiswa baru, dan berani berteriak, demi perubahan kebijakan yang berpihak pada kami.

Tahun 2009 aku meninggalkanmu. namun hanya ragaku, hatiku, pikirku, tetap kucurahkan untukmu. meski aku bersedih, karena aku wisuda, tanpa nyanyian dari adik-adiku yang melepaskan impiannya, karena mahalnya hargamu.

Tahun 2011 muncul sebersit harapan. tentang orang-orang yang bersuara lantang, meneriakan #saveui. berbicara di media, aktif bergunjing di mimbar-mimbar.

(masih) tahun 2011, aku pusing bukan kepalang. berbagai kepentingan dimainkan, tak jelas, abstrak, absurd.

(masih 2011) aku tersadar, Institusi ini tak lagi memiliki harapan. tidak rektornya, tidak pejabatnya, tidak profesornya, tidak mahasiswanya. Bagiku, UI hanya menjadi bangunan kopong, yang segera kutinggalkan, membuatku melangkah pergi, tanpa harapan.

Tahun 2012, aku kembali menyentuh sudut-sudutmu, berusaha mengenag kemesraan kita, namun tidak berhasil. Semuanya tak lagi sama. Kamu, dengan perpustakaan hebatmu itu, yang bahkan memuat kedai kopi beromset 9 juta per hari, terasa terlalu angkuh untuku.

(Masih) Tahun 2012 aku bertemu dua orang adikku, mengejutkan, mereka membuatku merasa ada harapan. Mereka yang tahu persis apa itu hak atas pendidikan. Mereka yang mau berjuang, menyediakan waktu dan energi, demi UI yang tak hanya menampung, tapi juga menjadi tempat mewujudkan harapan.

Mungkin sinar harapan itu masih redup, aku tak peduli! Hari ini aku bisa mengangkat kepalaku, dan berharap lagi.🙂

One response to “(Masih) Ada Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s