22 Desember Tahun Ini

Aku tau aku sudah terlalu lelah saat ini. Tapi aku tidak bisa menunggu barang sekian jam untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan.

Hari ini, tepat di hari ibu, seorang Ibu bercerita. Setiap tiga bulan, anaknya harus menjalani cuci darah. Terakhir, dokter menyatakan ginjal anaknya harus diangkat. Membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi bagi sang Ibu, yang tidak memiliki penghasilan tetap. Puluhan juta tentu saja menjadi angka yang besar baginya.

Sepanjang dia bercerita, aku hanya bisa menatapnya. Melihat beberapa kerut di matanya, di wajah yang usianya tak terlampau jauh dari kakak pertamaku.

“Tapi kalau buat anak mah, jual rumah juga saya lakuin, yang penting bisa menyembuhkan anak saya,” ungkapnya.

Sawahnya sudah terjual, tanah miliknya pun Januari depan, akan lepas ke tangan orang.

Dia masih ingat beberapa waktu lalu, ketika harus membayar biaya rumah sakit anak. Dia datang ke ‘bank keliling,’ karena tidak tau harus ke mana lagi. Memohon kepada bank keliling untuk memberinya pinjaman Rp2juta. Yang sempat ditolak karena waktu buka bank keliling sudah usai.

Lalu uang 2 juta berhasil didapat. Tidak, bukan 2 juta, karena ‘aturannya’ harus dipotong 300 ribu. Sang Ibu pun hanya menerima 1,7 juta. Dan yang harus dikembalikan, tak kurang dari 2,4 juta, yang harus dicicil langsung per minggunya sebanyak 200 ribu. Terpaksa dia mengembalikan 700 ribu lebih besar dari yang ia dapatkan. 700 ribu seharga obat yang harus selalu diminum anaknya untuk 7 hari.

Matanya meredup ketika dia bercerita, suatu malam anaknya menghampiri sang Ibu yang tengah berdebat dengan suaminya. Berkata,” Kalau Mama sudah tidak ada uang, saya tidak usah diobatin, Mama nungguin aja, saya sudah senang. Biar uang yang ada untuk masa depan adik.” Seketika sang Ibu menangis, memeluk anaknya, menegaskan bahwa dia akan tetep terus berjuang untuk kesembuhan anaknya.

Dan sang Ibu memang terus berjuang. Seorang mantan Buruh Migran, yang tau persis berbagai kerentanan yang dialami Buruh Migran, yang kisahnya selama ini selalu menjadi pembelajaran. Karena dengan pengalaman dan semangatnya, dia berhasil membantu banyak Buruh Migran lainnya, menangani berbagai kasus, melalui organisasi yang didirikannya. Namun untuk anaknya, dia siap untuk kembali bekerja keluar negeri. Meski harus menempuh berbagai kerentanan, yang dia tau persis, dia pernah alami, dia pernah saksikan, dan sering dia perjuangkan.

Pernah dia berpikir, rasanya ingin mendonorkan ginjalnya untuk anaknya. Namun kawannya mengingatkan, bahwa dia adalah tulang punggung keluarganya. Bahwa dia yang selalu banting tulang mengerjakan apa saja secara serabutan, menghabiskan energi, dan pikiran untuk keluarganya. Secara ekstrim sang kawan berkata, “lo bunuh seluruh keluarga lo kalo melakukan itu. “

Dan yang menakjubkan, aku masih bisa menemukan sinar di wajahnya. Dan seulas senyum, ketika dia becerita, anaknya sudah terlihat lebih baik setelah ke dokter terakhir, tubuhnya tak lagi membiru, dan itu cukup. Cukup membuat sang Ibu tersenyum, cukup memberikannya dua kali lipat semangat, untuk bekerja lebih keras lagi. 

Sebentar setelah sang Ibu selesai bercerita, aku kembali berhadapan dengan Ibu-Ibu lainnya. Satu di antara mereka, juga seorang mantan Buruh Migran. Dia berangkat ke luar negeri, sebuah Negara dimana dia mengira penduduknya baik, karena beragama islam.

Suatu ketika, dia dibuat tidak sadar dengan obat tidur, lalu diperkosa. Dia juga disiksa hingga tidak bisa jalan, patah bagian punggung dan kaki. Sampai sempat tak bisa berjalan.

Lalu, dia malah dipenjara. Dia yang diperkosa, malah dituduh berzina. Melahirkan di penjara, mempertahankan mati-matian anaknya yang ingin ‘dibeli’ oleh sang pemerkosa. Melawan sakit akibat penganiayaan yang diterimanya. Semua dijalaninya di dalam penjara.

Dan aku merasa tak bisa bernafas. Ketika sang Ibu menceritakan proses persalinannya di penjara.
Dia yang tak bisa jalan, apalagi kabur,

Melahirkan, dalam keadaan kaki diborgol kanan dan kiri. Begitu pula tangannya.

Hffff *ketika menuliskannya, aku sekali lagi menarik nafas begitu panjang.

Tuhan izinkan aku menangis lagi malam ini. Sebentar saja. 
Karena esok, aku akan melangkah lebih tegap, dan bersuara lebih lantang

Bekasi, 22 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s