Payudara dan Rok Mini

Beberapa waktu yang lalu, pemberitaan ramai oleh sosok Malinda Dee. Yang menggondol uang nasabah Citibank. Pemberitaan terus bergulir, dan akhirnya yang membuat ramai justru bukan kejahatannya melakukan penipuan dan pencucian uang yang mengakibatkan sejumlah pihak mengalami kerugian

Lucu sekali, bahwa akhirnya pemberitaan menjadi ramai membicarakan seputar kehidupan pribadi Malinda Dee, dari mulai soal mobilnya, pacarnya yang berondong dan artis, sampai soal yang sifatnya (menurut saya) pribadi terkait ukuran dan operasi payudara yang dia lakukan

Pertama kali mendengar itu, saya hanya bergumam, kurang kerjaan amat si media ngeberitain ukuran payudara? Tapi anehnya, sepertinya memang ukuran payudara menjadi daya tarik jauh lebih besar daripada tentang penipuan yang dia lakukan.

Nyatanya, media semakin banyak memberitakan soal payudara, dengan segala embel-embel gosipnya, hingga media gossip pun tidak mau ketinggalan.

Yang (menurut saya) lebih parah lagi, adalah celetukan-celetukan tidak terkendali di media sosial. Dari mulai nada heran, mencibir, menertawakan, bahkan menjadikannya bahan becandaan yang tak pantas

Lalu belakangan muncul charity palsu, dengan Fifi Buntaran sebagai tokohnya. Charity palsu tersebut ditampilkan di sebuah stasiun televisi swasta, dengan menampilkan konsep lelang untuk amal. Yang nyatanya, lelang itu palsu, tidak ada satu rupiah pun yang diberikan kepada Nando (Seorang anak penderita gagal ginjal, dan infeksi usus) atau mungkin yang membutuhkan lainnya.

Saya mengangkat Malinda Dee, dan Fifi Buntaran bukan lantaran keduanya berteman. Namun karena keduanya mengalami hal yang mirip. Isu tentang charity palsu akhirnya bergulir ke masalah payudara. Setidaknya hal itu dimunculkan sebuah akun yang sekarang ditutup (ditutup karena Indonesia kalah lawan Malaysia di final, bukan karena Fifi Buntaran). Akun twitter anonim tersebut membicarakan soal Fifi Buntaran terkait payudaranya, tak lupa mengaitkan dengan Malinda Dee. Lalu karena akun itu memiliki banyak follower, maka banyak orang lainnya yang yang ikut memperbincangkan payudara Fifi Buntaran.

Saya tau kok! penipuan itu memang kejahatan yang merugikan banyak orang

Saya juga benci banget sama amal palsu, penipuan yang bener-bener menyakiti nurani dan kemanusiaan kita.

Tapi soal payudara besar, asli ataupun palsu, itu adalah otoritas si empunya.

Terserah dia donk mau operasi atau nggak, selama dia tau risikonya apa, dan menjadi pilihannya sendiri untuk operasi, terus kenapa harus heboh?

Operasi plastik bukan tindak kejahatan kan?

Itu hak, karena perempuan memiliki otoritas penuh atas tubuhnya, dan kami punya kontrol penuh terhadap tubuh kami.

*mengutip tweet seorang kawan

Jadi Malinda Dee, (diduga) bersalah karena menipu atau karena payudaranya?

Ratu Atut (dianggap) bersalah karena korupsi atau karena bedaknya yang tebal?

Lalu, dalam konteks sedikit berbeda, namun sesungguhnya memiliki benang merah, kejadian perkosaan yang terjadi di dalam angkutan umum tempo hari.

Dimana reaksi gubernur yang mengaku ahli tapi nyatanya Jakarta malah semakin semerawut, malah menghimbau perempuan untuk tidak menggunakan rok mini.

Lagi-lagi ini soal otoritas tubuh perempuan,

Jadi yang merupakan tindak pidana itu apa?

Pakai rok mini?

Atau tindakan memperkosa??

Tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga syahwat itu ada pada diri Anda sendiri. Dalam hal ini, yang harus dijaga adalah nafsu untuk tidak melakukan perbuatan memperkosa. Bukan soal pakai rok mini, atau gamis.

Selama ini, perempuan selalu dibebankan tanggung jawab untuk “menjaga kehormatan.” Tapi kalau seorang perempuan menjadi korban perkosaan, lalu kehormatan siapa yang sebenarnya pantas hilang? Korban yang ga pernah mau apalagi minta untuk diperkosa, atau pelaku yang memperkosa??

Budaya kita yang menganggap seksualitas itu tabu untuk dibicarakan juga mengambil andil dari bungkamnya perempuan korban kekerasan, terutama kekerasan sekual.

Berapa banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual di tempat umum, bahkan diperkosa bungkam?

Kenapa? Karena malu. Karena takut masyarakat malah menyalahkan mereka, dan paling parah menganggap mereka ‘tidak suci.’ Tanpa itu semua, trauma yang harus diatasi sudah sangat hebat. Tanpa dipersalahkan pun hati mereka sudah terluka luarbiasa.

Sedini mungkin, anak perempan harus diajarkan tentang haknya. Bahwa tubuhnya adalah milik mereka, hak mereka, otoritas mereka. Bahwa tidak seorang pun berhak mengatur tubuh mereka,. Bahwa tidak ada seorang pun berhak menyentuh mereka dan membuat mereka tidak nyaman. Bahwa mereka berhak berteriak ketika mereka merasa tidak nyaman.

Bahwa yang harusnya malu adalah pelaku kekerasan seksual, bukan mereka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s