Sang Penari

Tulisan ini bukan resensi tentang film sang Penari yang diputar di bioskop sejak tanggal 10 November 2011. Bahasan ini juga lepas dari bagaimana film ini sukses/tidak memvisualisasikan cerita di dalam buku. juga tidak mengulas kualitas film, teknik film, sinematografi, atau segi-segi lainnya yang memang aku tidak ahli untuk membahas tentang hal tersebut.

Tulisan ini lebih menggambarkam pengalaman pribadiku ketika aku menonton film berdurasi 111 menit ini. Seorang kawan mengajakku menonton Sang Penari kemarin. Dan ke-impulsif-an ku langsung menjawab: hari ini aja. Lalu berangkatlah aku tanpa membaca referensi, ataupun ulasan tentang film ini. Ditambah aku memang jarang nonton televisi, dan hanya membaca media dengan mengklik link berita yang kuanggap menarik dari twitter. Jadilah aku benar-benar ‘buta’ tentang film yang akan kutonton.

Di awal film, sebenarnya saya sudah bisa menduga film ini terkait dengan Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Karena dari awal menceritakan tentang ronggeng, dan lokasinya di Dukuh Paruk. Yang kalau benar, film ini akan berlatar belakang situasi politik tahun 1965. Suatu situasi politik yang penuh dengan trauma mencekam yang entah kenapa, aku merasa memiliki koneksi yang kuat dengan situasi tersebut.

Pemiskinan, Pembohongan Sejarah, dan Seksualitas Perempuan

Dan benar saja, film ini turut merekam adegan tentang orang-orang yang tak mengerti apa-apa dibantai dengan sadis.

Orang-orang yang hanya antre bibit untuk bertani,orang-orang yang memimpikan kehidupan lebih baik karena selama ini diperas tenaganya untuk menggarap lahan tuan tanah dengan imbalan tak seberapa. Bahkan orang-orang yang melestarikan kesenian, yang masih begitu polos dan memiliki kesadaran sebata kesadaran magis, paling banter naif. Orang-orang yang namanya dicatat, dengan alasan untuk pengambilan jatah makanan.

Mereka dibunuh, tanpa tau kesalahannya. Apalagi tau soal Partai Komunis Indonesia. dan tentunya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembunuhan jenderal-jenderal di Jakarta. Di sebuah kota besar yang bagi mereka mungkin hanya sekedar impian manis dibanding dukuh kecil dan miskin mereka.

Mama pernah bilang, dimana ada kemiskinan, di situ ada komunisme. Mama bukan orang yang mengerti politik. Hanya tamat SMA, dan sama sekali tidak mau terlibat dalam hal-hal berbau politik apalagi partai, dan melarangku untuk mendekati makhluk politik, bahkan sejak SMP melarangku ikut OSIS, BEM, dan organisasi-organisasi lainnya.

Aku tidak tau seberapa benar atau seberapa salah pendapat Mama tersebut, tapi yang jelas Komunis hadir di situasi Dukuh Paruk yang memang miskin. Mayoritas penduduk buta huruf dan hanya menjadi buruh tani (penggarap). Dalam film sama sekali tidak digambarkan sentuhan pendidikan, entah apakah Dukuh Paruk memiliki sekolah atau tidak, yang jelas Dukuh Paruk seakan terisolasi di dalam keyakinan budaya mereka, yang mungkin buat kita sangat tidak rasional, dan bahkan membuatku mual.

Betapa tidak, bagaimana para istri malah berebut, berharap suami mereka bisa tidur dengan Ronggeng. Cerita ini memang bukan cerita porno, namun cerita tentang budaya, dimana justru aku bisa melihat betapa seksualitas perempuan dijadikan objek oleh budaya kita sejak lama.

Berbagai isu bisa diulas dari film ini, mulai soal sejarah, tentang sudut pandang si penulis dalam melihat kejadian 65 yang sampai sekarang tak tentu kebenarannya. Soal relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, melalui peran dari ronggeng itu sendiri dikaitkan dengan seksualitas perempuan yang menjadi objek, ataupun tentang kemiskinan, bukan, lebih tepatnya pemiskinan, yang hebatnya dipelihara hingga hari ini. -Kita semua tau yang terjadi di Papua, terkait Freeport kan? Gambaran yang relatif mirip seperti tuan tanah-buruh tani.

Oh, aku salah, bukan hanya soal pemiskinan dan persoalan tuan tanah-buruh tani. Apa yang dipaparkan di film itu, juga bukunya masih menyisakan PR yang tak kunjung selesai, atau memang sengaja tidak diselesaikan. Tentang jutaan nyawa yang terbuang tanpa ada keadilan, bahkan setidaknya pengungkapan kebenaran bahwa mereka tidak bersalah. Juga tentang seksualitas perempuan  yang hingga kini masih menjai objek dimana otoritas terhadap seksualitas itu sendiri justru tidak dimiliki oleh si perempuan.

2 responses to “Sang Penari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s