Apa yang Kamu Pikirkan Ketika Mendengar ‘G 30 S 65’?

Apakah kamu satu generasi denganku? Generasi dimana setiap tahunnya kamu dicekoki film propaganda yang saat itu menunjukan kebengisan sekelompok orang terhadap enam orang jenderal dan beberapa orang lainnya. Kesadisan perempuan-perempuan yang menari sambil mencabut kuku satu per satu dan mencongkel mata manusia.

Film penuh kebohongan yang setiap tahun terus menerus wajib ditonton. Dan kebohongan itu juga diabadikan dalam sebuah monumen yang berdiri tegak di kawasan Pondok Gede, tak jauh dari rumahku.

Tahukah kamu?

Bahwa kebohongan yang dipaparkan, yang membuat mata kecilku yang saat itu masih duduk di sekolah dasar begitu takut. Yang membuatku hanya mengangguk ketika seorang teman mengatakan begitu membenci PKI.

Tenyata, aku justru ‘dilindungi’ dari kenyataan akan kejahatan, kebengisan, dan kesadisan yang jauh lebih besar daripada itu.

Tentang jutaan orang yang nyawanya melayang, kepalanya ditebas, beberapa ditembak, beberapa hanya dibuang sembarangan, beberapa diasingkan di sebuah pulau, beberapa diisolasi di dalam suatu kawasan tandus yang dipagari aliran listrik.

Tentang sungai-sungai yang warnya berubah menjadi merah, dimana raga yang tak lagi memiliki jiwa mengapung di sana.

Tentang teriakan marah, histeris penuh hasutan kebohongan yang membuat darah mendidih

Tentang teriakan Allahuakbar di mulut, mendahului parang di tangan siap menebas kepala-kepala manusia hingga tak bernyawa

Tentang suara tembakan yang mengisi malam yang tadinya sunyi mencekam.

Tentang lebih banyak lagi orang yang dipenjara, disiksa, diperkosa, tanpa diadili, apalagi mendapat keadilan

Tentang lebih banyak lagi orang yang kehilangan ayah, ibu, kakak, adik, anak, yang diambil paksa di malam hari lalu tak pernah pulang

Tentang lebih banyak lagi orang yang mengalami pemiskinan, stigma, diskriminasi, seumur hidupnya

Kejahatan yang begitu luar biasa, yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Oleh generasi  yang setiap tahunnya dipaksa menonton kebohongan

Lalu?

1965 sudah berlalu 46 tahun

Rezim sudah berganti, dengan pemimpin yang sudah berkali-kali berganti

Indonesia mendeklarasikan diri sebagai Negara yang menjunjung Hak Asasi Manusia, bahkan meratifikasi sejumlah Konvensi dan Kovenan Internasional terkait Hak Asasi Manusia

Tapi apa yang terjadi?

Kenapa kasus  65 tidak juga diungkapkan secara benar di pengadilan?

Apakah kita tengah menunggu seluruh saksi mata meninggal dunia, agar kejadian 65 tidak akan terungkapkan?

Lalu ketika banyak pihak yang hanya mencoba menyajikan sisi lain, berdasarkan mata, telinga, mereka, ataupun berdasarkan literatur yang mereka baca, karya mereka diberangus.

John Roosa yang bukunya dilarang terbit, padahal isinya sangat logis, dan membuat kita berpikir kritis tentang peristiwa kudeta tahun 65

Yang lebih parah, tahun 2007, buku-buku pelajaran sejarah dibakar, HANYA KARENA tidak mencantumkan PKI di judul bab Gerakan 30 September.

Oleh pemerintahan yang katanya reformis, hasil reformasi yang sanggup menggulingkan kekuasaan dikatator korup selama 32 tahun.

Jelas-jelas bangsa ini, begitu pengecut, tidak sanggup bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk  mengungkapkan kebenaran.

Bahkan Museum manipulasi sejarah itu dipoles, diperbaiki, dibaguskan, ditambahkan relief, seakan berdiri sombong dan meledekku setiap aku melewatinya.

6 responses to “Apa yang Kamu Pikirkan Ketika Mendengar ‘G 30 S 65’?

  1. salam kenal mbak,
    sepertinya kita satu generasi. karena saya juga mengalami masa-masa dicekoki film propaganda itu. dan sepertinya doktrin-doktrin seperti ini masih melekat kuat. karena kemarin-kemarin waktu iseng tanya-tanya tentang “peristiwa purwodadi” ada yang nyeletuk awas bahaya laten komunis.
    padahal saya cuma pengen tahu cerita lengkapnya saja karena toh peristiwa itu sudah terjadi jauh sebelum saya lahir😀

    • hehe, sepertinya begitu Mas, iya, lucunya sampai sekarang pun masih ada kelompok-kelompok orang yang berteriak, awas bahaya laten komunis.

      Memang akhirnya justru orang2 luar, seperti John Roosa, atau Saskia yang membahas tentang gerwani yang menurut saya bisa memberikan gambaran yang lebih logis soal peristiwa itu.

      Tapi ya mau gimana lagi tho?
      wong muter film dokumenter kayak Shadow Play aja, bisa digrebek F*I :p

  2. “sejarah” itu memang terkadang sesuai dgn kondisi atau kepentingan penguasa. ganti rezim, ada yg ganti “suasana” ada pula yg tetap. sayangny, (maap) belum semua guru sejarah di sekolah dpt meningkatkan minat siswa/pelajar indonesia utk suka sejarah sehingga ketika mahasis/dewasa/bekerja mau untuk tetap mencintai sejarah dgn lbh baik dan lbh luas. salah satunya ttg peristiwa g 30 spki yg penuh intrik dan konflik. dan memang sulit rasanya klo kemudian untuk menjadi “kasus hukum”. hanya bisa berharap anak2 muda makin cinta sejarah dan mau mempelajarinya dgn baik, bukan kebenaran sesaat dr peristiwa sejarah masa lalu yg diinginkan tp tetap kontinue mempelajarinya adalah yg utama. proses lbh utama drpd hasil🙂

    • hhmm, iya, sepertinya memang susah untuk masuk menjadi kasus hukum, mengingat mayoritas saksi mata sudah meninggal.
      Tapi sebenarnya yang saya inginkan lebih adalah bagaimana kita diberi kebebasan untuk mencari sejarah, untuk tidak dilarang2 dalam membaca buku, menonton film, dan berdiskusi. Karena berbagai versi bisa bergulir di media2 pembelajaran tersebut. Dan saya pikir kita yang memiliki akal dan kesadaran kritis bisa memilah informasi untuk menjadikan itu bermanfaat bagi kita.

      Karna itu sangat mengherankan ketika buku2 dilarang beredar, dan pemerintah membiarkan kekerasan2 yang membuat diskusi dan pemutaran film terjadi.

      • negara yang dibesarkan oleh kaum kapitalis sudah barang tentu seperti,dan tidak mungkin orang yang dibesarkan oleh filsafat kapitalis akan berpihak kepada kita-kita yang dibesarkan diladan sawah dan kebun.

  3. sebuah ideologi komunis sebenarnya bukanlah musu bagi siapapun akan tetapi komunis menjadi musuh bagi semua orang diindonesia karena memang sudah dibuat untuk menjadi musuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s