Wedding Dream

Jadi panitia nikahan, bukan hal yang baru buat gw. dari mulai peran kecil, jadi tukang ngipasin penganten pas masih SD  (pake dodotan lho), ikut ngurus sana sini pas nikahan kakak (dari ikut milih undangan, sampe begadang ngerjain dekor), atau ngebantuin teman untuk mengordinir buku tamu dan pager ayu+bagus.

Nah, dari semua acara nikahan yang gw terlibat, bahkan yang dimana gw Cuma jadi tamu, adalah pernikahan tradisional. Memang dari semua adat pasti ada hal yang menarik. Dari mulai ngeliat para penari piring yang kakinya berdarah-darah, atau para jagoan silat yang bertanding memperebutkan dandang. Semuanya memiliki sisi menariknya masing-masing.

Sementara pernikahan internasional, Cuma pernah gw liat di film. Favorit adalah bagian makan malam sebelum resepsi, dimana orang2 terdekat speech tentang si calon isteri/suami. Selain itu, bagian ‘father daughter dance.’

Nah, tiba-tiba gw dapet tawaran (baca:permintaan) untuk terlibat di acara nikahan seorang sahabat gw. gw langsung tertarik mengingat dia tidak akan menyelenggarakan pernikahan tradisional. Konsepnya lebih ke internasional, tapi juga ga berkiblat ke barat. Dengan segala keterbatasan yang ada, pernikahan itu akan diselenggarakan dengan semanis mungkin.

Bukannya gw ga sadar bahwa tanggal pernikahannya ga sampe dua bulan lagi. Bukannya gw ga inget bahwa dua hari sebelum hari H gw masih menyelenggarakan kepanitian di Jogja, yang berlangsung selama lima hari. Gw juga inget pasti bahwa 2 hari setelah hari-H, gw udah harus ada di Bali, buat menyelenggarakan sebuah acara regional.

Di tengah kesadaran itupun, gw bilang iya. Inipun akan menjadi pengalaman pertama gw sebagai koordiator acara.

Dan hari ini, adalah H-22 pernikahan itu akan dilangsungkan. Belum ada yang fixed si. Tempat belom DP catering apalagi. Tapi bukannya panik, kami malah asyik ngomongin konsep acara. Dari mulai gimana ‘memanfaatkan’ teman-teman yang bisa nyanyi buat nyumbangin lagu, bikin konsep buku tamu yang ga biasa (masing2 tamu nulis harapan untuk kedua mempelai di atas kertas kecil, terus digantungin di pohon yang udah disiapin), masukin survey harga burung merpati ke to do list, dan masih banyak lagi. Setelah diskusi pun, gw masih asyik nge-googling gambar2 pesta kebun, untuk membayangkan kira-kira pohon-pohon besar di taman tempat resepsi itu mau diapain.

Justru konsepnya sangat sederhana, dan membutuhkan kreativitas untuk berpikir dan mewujudkannya. Dan sedikit banyak, pengalaman gw yang satu ini juga memberikan inspirasi untuk gw ngebayangin pernikahan gw nanti kayak gimana. Bukannya gw ingin menghilangkan adat istiadat, atau kesakralan dari suatu prosesi pernikahan. Tapi gw membayangkan sebuah acara yang lebih cair, dimana para tamu bisa duduk, dan berbincang akrab.

Gw sangat berharap pengalaman kali ini akan ngasih gw banyak hal. Termasuk untuk belajar, sehingga lebih siap pas saatnya gw nanti. Hee. Harapannya, bisa berhasil juga buat sahabat gw. semoga kami bisa mewujudkan pesta pernikahan yang berkesan dan menjadi kenangan indah tak terlupakan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s