Mencipta Bahagia

Pernah ga si kita merenungi hidup kita sendiri? Mengukur-ngukur apa yang telah kita capai, dan mempertanyakan, apakah kita bahagia.

Kenapa pecapaian dan bahagian? Well, menurutku, dua hal itu saling berkaitan. Seringkali kita mengukur “apakah kita bahagia” dari pencapaian yang kita peroleh. Bahkan tak jarang ukuran itu tidak kita buat sendiri, namun dengan membandingkan dengan pencapaian yang diperoleh orang lain.

Si A sekarang gajinya sudah 8 juta lho, padahal kita lulus di tahun yang sama, dari universitas dan fakultas yang sama, dengan IPK yang ga jauh beda.

Si B sekarang udah S2, di luar negeri lagi. Cum laude pula. Padahal kita seumur.

Si C kemarin nikahnya di hotel. Resepsi mewah, makanan melimpah, tamu juga banyak banget.

Si D abis beli mobil, padahal dia baru 2 tahun kerja. Ternyata udah bisa beli mobil sendiri

Sementara aku, kayaknya maih gini-gini aja, kerja naik angkot, salary pas-pasan, langsung dipotong pula buat setor ke orang tua tiap bulan. Boro-boro mau kuliah ke luar negeri, mau les bahasa inggris aja belom kesampean karena belum ada budget yang bia dialokasikan.

Ya kira-kira begitulah gambaran kita yang kerap membanding-bandingkan.

Masalahnya dimana?

Menurutku lucu aja, membandingkan kebahagiaan kita dari pencapaian orang lain, padahal orang lain itu punya tujuan yang beda ama kita. pencapaian itu kan bisa dilihat dari tujuan yang sudah kita tetapkan. Ada tujuan, lalu sejauh apa tujuan2 tersebut dicapai. Jadi lucu kan, masa kita bandingin apa yang kita capai dengan yang orang lain capai, padahal pencapaian kita dan mereka menuju kea rah tujuan yang berbeda.

Ada yang bilang, kita memang tidak memiliki banyak yang orang lain miliki, tapi mereka juga tidak memiliki banyak hal yang kita miliki. Bener si. Tapi menurutku ga sampe itu. Persoalan selanjutnya adalah, memangnya membandingkan apa yang kita miliki, tapi orang lain ga milikin, dan juga sebaliknya ada relevansinya sama kebahagiaan? Kan belum tentu kita mau apa yang mereka punya begitu juga sebaliknya.

Buatku, yang terpenting dalam mencapai kebahagiaan, adalah kita tau apa yang kita mau. Kita jalanin apa yang mau kita jalanin, kita pilih apa yang kita mau pilih.

Kesadaran Kritis!

Itu kucinya.  Kita tau persis bahwa setiap pilihan yang kita lakukan adalah benar-benar keinginan kita. tentu saja sepaket dengan segala konsekuensi dan risikonya.

Karena ga ada kata ‘harus’ dalam kamus hidupku

Aku yang menjalani, aku yang menentukan, aku yang menikmati dan menanggung resikonya. Tanpa beban, tanpa paksaan, karena semua datang benar-benar dari hati dan pikiran kita.

Kalau sudah begitu, kita akan menjalani semuanya dengan ringan, senang, dan pastinya BAHAGIA 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s