Sekedar Curhat

Semakin hari, tampaknya kebijakan UI semakin memperlihatkan tujuan sebenarnya. Ya, bisnis pendidikan. Frase itu yg saat ini tengah dihadapi berbagai lembaga pendidikan kita, termasuk UI. Akhir-akhir ini, kita beramai-ramai memberikan tanggapan atas bangunan nan megah yg bak rumah teletubies atau markas power ranger.

Berbagai tanggapan berlontaran, baik yang positif, negatif, atau datar-datar saja. Memang terlihat bijaksana ketika kita berbicara, “ya ini kan kebijakan yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas akademis, didukung aja dulu.”

Namun, sebagai mahasiswa apalagi sarjana, terlalu naif apabila kita hanya melihat persoalan perpustakaan mewah sebagai persoalan yang berdiri sendiri. Hendaknya kita melihat persoalan ini secara komprehensif, melihat keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, antara satu proyek dengan proyek lainnya.

Tidakkah kita melihat, akan seperti apa UI nanti? Sebuah universitas megah, mahal, dan mewah, yg sangat eksklusif yg hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu.
Gampang kok mewujudkan itu:
1. Biaya mahal –> sudah
2. Pembangunan fisik –> on progress

Saat BOP naik alasan yg dikemukakan adalah kebutuhan UI. Kebutuhan yg sampai sekarang hanya berupa angka2 imajinatif, tanpa ada laporan yg benar dari kebutuhan UI..

Jadi, BOP naik untuk apa?

Jelas! BOP naik untuk mewujudkan rencana2 ambisius, agar UI menjadi kampus megah, mahal, mewah, eksklusif hanya untuk kalangan tertentu.
Jelas! Untuk mewujudkan ambisi tentang pembangunan fisik.

Terus masalahnya apa?
Emang kenapa kalo orientasi pembangunan UI adalah orientasi pembangunan fisik? Toh perpustakaan adalah salah satu sarana peningkatan kualitas?

Hmm,, coba pikir!
Apa si yg kalian butuhkan dr perpustakaan?
apa yang bikin otak kalian lbh cerdas?
Ac dingin?
Fasilitas canggih?
Interior dan desain mewah?

Atau buku yang lengkap?
Jurnal online yg bisa diakses setiap saat?
Perpustakaan yang terjangkau dengan kapasitas yang memadai?
Petugas perpustakaan yang bisa memberikan rujukan buku yang kita butuhkan?

Yg jelas ketika akhir2 kuliah saya di tahun 2009, ketika saya sedang skripsi, ketika rumah teletubies itu mulai dibangun, saya kesulitan mengakses jurnal2 online..

Katanya siiiiiii
Krna UI utang bayar jurnal online, ga bisa bayar, terus langganannya dicabut.

Terus soal buku
Yah, setidaknya saya hanya bisa menceritakan pengalaman saya. Meskipun skripsi saya empiris, tapi saya tetap butuh buku. Dan buku yg saya peroleh itu lbh banyak saya dapatkan di luar.. Hanya sekitar 15% buku saya dapatkan di UI. Padahal saya tidak hanya mencari di FH, tetapi juga di MBRC dan perpustakaan2 lainnya..

Sudahkan masalah kelengkapan buku terpecahkan??

Terus kenapa juga kalo kampus ini jadi mewah, dan eksklusif? Apa salahnya?

Yup ini masalah keberpihakan..

Satu hal yang jelas adalah orientasi pembangunan fisik (yang mewah) berdampak langsung terhadap kenaikan biaya UI. Dia mungkin salah satu faktor, (siapa tau ada faktor lain, spt korupsi) tapi sangat mungkin menjadi faktor terbesar penentu besaran bop dan pembiayaan lainnya.

Akibatnya, UI tidak bisa terakses oleh semua lapisan masyarakat. UI menjadi diskriminatif secara ekonomi.

Ini masalah keberpihakan
UI memang tidak akan kenapa2, dia bisa jalan terus dengan segala kebijakan2 pembangunan fisiknya. Pemuda Indonesia terlalu banyak hingga UI tdk mungkin kehabisan peminat. Yang kaya dan pintar, satu saringan yg sangat realistis didapatkan oleh UI.

Enak tho?
Yang datang kaya dan bisa bayar mahal, dan juga pintar, tanpa bersusah payah mengajarpun, mereka akan relatif cemerlang.

Kan ada BOP’B’
Bullshit!
Tahun 2005, bayaran smt UI untuk FH 1,3 juta. Relatif terjangkau dibanding sekaranf. Tapi begitu melihat angka dlm admission fee: 10 juta, aku hampir menyerah dan bilang ke mama, udah d ma ga usah diambil. Padahal saat itu aku sudah dinyatakan lulus SPMB. Mungkin kalau kami mengetahui biaya tersebut sebelum memilih jurusan dan univ pada saat spmb, aku TIDAK AKAN memilih UI.

Kalau dr sebelum SPMB aja gambaran biaya UI sudah menghantui, gimana mau masuk UI? Milih aja takut.. Mau tak mau, semakin lama, saringan UI (hanya untuk yg kaya dan pintar) akan berlangsung dengan sendirinya, tanpa UI harus memasang pengumuman: HANYA UNTUK YANG PINTAR DAN KAYA..

Well, cerita tidak berakhir di sini.
Apa yg akan kita alami ke depannya?
Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh berita mata kuliah wanita dan hukum akan dihapuskan.

Bagi saya, mata kuliah itu penting untuk menghadirkan perspektif yang membuka mata kita tentang kontruksi budaya yang menempatkan perempuan dan laki2 tidak dlm posisi yg seimbang.
Yang sangat penting untuk memanusiakan korban pemerkosaan misalnya, yang trnyata tidak bisa diperlakukan sebatas ‘2 alat bukti dan keyakinan hakim.’

Kami berjuang untuk mata kuliah tersebut.
Tapi kemudian kami sadar.
Ada yg lebih besar.
Sebuah ‘proyek’ menjadikan UI 3 rumpun: humaniora, sains, kesehatan (CMIIW).
Saya lupa mencatat ketika dia berkampanye pada pemilihan rektor saat itu, apa alasannya menjadikan kita menjadi tiga rumpun..

Yang bisa kami pahami, adanya tiga rumpun itu menggeser beberapa mata kuliah yg ‘dianggap’ tidak dibutuhkan.

Yang kami tahu, program serupa pernah diterapkan di australi, dan hasil evaluasinya menyatakan program itu gagal..

Lalu? Buat apa dnk ada tiga rumpun itu?
Logikanya, 3 rumpun artinya efisiensi mata kuliah, artinya lagi efisiensi dosen.

3 rumpun artinya mahasiswa akan menguasai banyak ilmu,
namun tidak spesifik. Untuk siap kerja, dibutuhkan ilmu yg spesifik, tapi kita tdk mendapatkannya di S1 yg tiga rumpun itu. Akhirnya? Ya ambil S2 lah..

Solusi sempurna untuk bisnis pendidikan🙂

So?
Masing2 dari kita pasti punya sikap masing2,
Dan hidup harus berpihak,
Hanya saja, kita harus terus BERPIKIR KRITIS untuk memastikan bahwa kita memihak yg memang hendak kita pihaki..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s