Curhat Patah Hati Sang Sopir Taxi

Langitku yang selalu Berbintang, meski tanpa pacar😀

 

Tadi malam kemacetan membatalkan niatku, Mbak Ari, dan Vicky untuk pergi ke suatu tempat yang memang akan tutup di jam 8. Kami tertahan tak bergerak di Pancoran, yang belakangan diketahui kemacetan itu diakibatkan adanya Transjakarta yang mogok. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Taman Ismail Marzuki. Niat awal kami sekedar menikmati malam yg cantik bersama taburan bintangnya. Sambil mengisi perut kami yang lapar dengan nasi bebek.

Sesampainya di TIM, kami malah tertarik melihat poster film yang terpampang di depan gerbang TIM. Shaolin! Kami pun langsung sepakat mengubah rencana kami malam ini. Tanpa menghitung dengan seksama jam berapa kami akan selesai apabila menonton film itu. Memutuskan untuk makan di tempat yang paling cepat dan mengejar jam tayang Shaolin 18.15.

Kembali ke judul, catatan ini bukan resensi tentang film Shaolin. Apalagi membahas makanan siap saji yang berjudul padang tapi dengan cita rasa Jawa yang kami makan semalam. Cerita ini ada, setelah akhirnya aku memutuskan naik Taxi. Seperti yang sempat kusinggung di atas, aku tidak menghitung dengan cermat akan selesai jam berapa. Jadilah aku kesulitan mendapatkan angkutan umum ketika pulang. Tadinya hanya berniat sampai kampung Melayu, tapi karena aku pun tidak memiliki uang pecahan untuk naik angkutan umum, maka kuputuskan untuk melanjutkan naik Taxi ke rumah.

Aku naik taxi bersama Mbak Arie sampai Kampung Melayu. Sepanjang perjalanan, kami memang mengobrol tentang banyak hal. Sampai akhirnya mbak Arie turun di Kampung Melayu, sang Sopir Taxi pun mulai berbasa-basi:

Sopir(S): Kayaknya temen mantap banget tu Mbak.

Saya (N): heh? Maksudnya temen mantap?

S: ya, kayaknya temen banget gitu, dari ngobrolnya, terus dri ekspresinya sama

N: hoo

S: Biasa pulang jam segini Mbak?

N: nggak, tadi lagi jalan aja

S: emang butuh ya buat refreshing

N: he eh

S: emang ya, saya juga malam minggu kemarin ngeliat pasangan tu kayaknya enak banget gitu, (curhat pun dimulai), saya melipir aja masuk ancol

N: Hmmm

S: emang ya mbak, langit tu ga indah kalo tanpa bintang. Hidup tuh ga indah kalo tanpa pacaran

N: (Cuma bisa) Hmmmm

S: saya baru putus Mbak 5, baru 5 bulan yang lalu sama pacar saya

N: (sempat terpikir bilang: masu saya kenalin sama temen saya tadi? *piss Mbak Arie :p)

S: Pacar saya itu jalan bareng temen saya Mbak

N: (ekspresi kaset rusak) Hmmm

S: emang tega banget tu temen saya, padahal tau itu cewek saya, masih diambil juga. Padahal temen makan bareng apa bareng. Saya sempet Tanya, bilangnya enggak, enggak, akhirnya ketangkep sama temen saya yang lain jalan sama Cewek saya. Sempet minta maaf, tapi udahlah tanggung, saya bilang kamu terusin aja, biar saya putus.

N: (untuk yang ke sekian kali) Hmmm

S: Padahal saya juga udah mau tunangan. Yah mungkin emang belom jodoh ya mbak

N: Hmmm

S: Kalo Mbak sudah berkeluarga

N: (akhirnya bukan jawaban Hmmm) Belom.

S: Tapi pacar udah ada kan Mbak?

N: Udah (melanjutkan alam hati: Pernah)

Dan percakapan pun berakhir, sunyi senyap, sampai aku menyerahkan uang untuk membayar tol. Selanjutnya percakapan hanya berlanjut di saat-saat aku menunjukan jalan pulang ke rumah…

Dan pagi ini, sebuah lagu yang disetel abang angkutan 16 mengingatkanku pada curhatan sang Sopir Taxi semalam.

…… Wo O, kamu ketauan, pacaran lagi, dengan dirinya teman baikku …..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s