Budak Rating

Pekerjaanku sekarang memberikanku kesempatan untuk sampai di rumah dua hingga tiga jam sebelum jam tidur. Sekaligus memberikanku kesempatan untuk sejenak menemani mama yang hobi nonton sinetron. Dulu, aku terbiasa pulang lebih malam, langsung bersih-bersih dan istirahat. Sehingga menonton televisi menjadi hal yang hampir tidak pernah kulakukan.

Oke, kembali ke kesempatan bergaul dengan layar kaca, saya jadi menyaksikan berbagai keodohan yang mengisi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. saya tidak ingin berbicara tentang jalan ceritanya. Saya pikir teman-teman bisa menilai betapa jalan cerita itu tidak masuk akal dan sangat dibuat-buat.

Hanya saja saya menemukan beberapa pola karakter dari para tokoh:

  1. Tokoh perempuan yang ‘baik’, tapi (maaf) terlihat sangat lemah dan bodoh.
  2. Tokoh laki-laki ‘baik’, tapi (lagi-lagi) tetap bodoh
  3. Tokoh perempuan jahat, yang menggunakan berbagai macam cara untuk merebut perhatian laki-laki yang tidak mencintainya. Berbagai macam cara di sini artinya, tidak segan-segan untuk mengantarkan saingannya (si perempuan ‘baik’ nan bodoh tadi) ke jalan kematian.
  4. Perempuan/laki-laki yang lagi-lagi sangat jahat dan menghalalkan berbaga jalan (lagi-lagi) termasuk kematian untuk mendapatkan harta.
  5. Dan kombinasi-kombinasi lainnya yang sejenis

Dari empat contoh karakter di atas aja (umumnya semua sinetron punya empat tokoh ini), kalau teman-teman disuruh memilih, apakah teman-teman mau untuk menjadi salah satunya? Bahkan karakter si tokoh utama pun sama sekali tidak layak dicontoh!

Coba bayangkan ketika setiap hari suguhan-suguhan seperti itulah yang mengisi ruang-ruang keluarga kita. Dimana anak-anak justru belajar dari karakter yang sangat memperihatinkan itu. Lebih parah lagi, mereka menjadikan karakter-karekter tersebut sebagai role model mereka. Mengingat sifat televisi yang begitu massive, maka akan sangat mudah karakter-karakter memperihatinkan itu terinternalisasi ke dalam kehidupan masyarakat kita, merusak pola pikir dan karakter generasi penerus bangsa. Menjadikan kita sebagai bangsa yang pengecut, lemah, dan bodoh. Atau malah menjadikan kita sebagai bangsa jahat, licik, dan tidak memiliki hati nurani (no wonder kalo prilaku koruptif akan semakin menjamur ketika hati nurani sudah tidak lagi dimiliki).

Hmmm, idealisme. Setauku, idealisme yang dimiliki seorang pekerja seni, khususnya film adalah mengahsilkan film/sinetron dan karya-karya lainnya yang berbobot, dan memberikan pembelajaran berarti bagi masyarakat yang menontonnya. Karya-karya yang memang dibuat dengan idealism tidak akan menjadi kara-karya picisan yang seragam atas nama selera masyarakat yang didasarkan pada rating semata.

Sayangnya mayoritas sinetron di Indonesia tidak dibuat oleh para pekerja seni. Melainkan para budak rating yang menjadikan sinetron semata-mata sebagai indutri yang menghasilkan uang. Tidak peduli betapa sinetron yang dia buat akan berdampak sangat luas dan signifikan, dan menentukan kaakter bangsa ini ke depannya.

#fiuhhh, apakah idealisme film hanya bisa kita peroleh dengan berlangganan TV kabel? Atau TV kabel sama aja?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s