Pembelajaran dari Sang Supir

sumber: Kompas/Agus Susanto

Hari ini aku berangkat lebih siang dari biasanya. Menjadi sedikit jngkel ketika sang supir angkutan bolak balik ngetem dalam jangka waktu yang lama. Namun tidak sampai marah karena di satu sisi aku memahami kondisi angkutan yang hanya terisi olehku dan satu orang siswa SMP. Terpikir untuk turun dan mncari angkutan lain, tetapi entah kenapa masih bersabar. Setelah ngetem beberapa saat, Angkutan akhirnya berhasil mendapat muatan dua orang dewasa dan tiga orang siswa SD di depan Bumi Jatiwaringin (jarak yang masih dekat dari tempat aku naik angkot) .

Tak jauh dari tempat rombongan terakhir turun, di depan Binalindung, sang supir menghentikan mobil dan diganti supir lainnya. Tak jauh, dari sana, did pan Unkris, dua orang dewasa dan ketiga siswa SD turun, sehingga sang supir pun mengeluh, “ abis deh sewanya.” Saat itu tinggallah hanya aku dan satu  siswa SMP.

Komposisi penumpang tetap sama hingga radar (pinggiran tol) ternyata supir pun berubah lagi. Setelah supir kedua memberikan laporan, ‘sewa sep,’ sang supir ketiga pun menggantikan di kemudi. Kali ini sang supir membaca Bismillah sebelum angkutan umum berjalan. Dan angkutan umum itu pun berjalan dengan lancar. Rupanya sang supir ketiga tidak memilih opsi ngetem. Walaupun komposisi penumpang hanya bertambah dua orang (yang satunya pun kawan si supir) hingga di Pangkalan Jati.

Kondisi mulai berubah, ketika angkutan sampai di depan kampus Borobudur. Masuklah dua orang dewasa dan satu anak-anak. Aku yang duduk di belakang supir pun mendengar sang supir berucap, “Alhamdulillah.” Ajaibnya, setelah itu, satu per satu penumpang naik dan turun. Tidak pernah sampai penuh memang, namun sama sekali tidak kosong. Hanya empat bangsu saja yang tersisa saat angkutan umum itu sampai di otista (kampus STIS). Itu pun karena beberapa orang sudah turun sebelumnya. Aku pun kemudian menyerahkan ongkos dan turun di lampu merah depan kampus STIS.

Hmmm, ini tidak sekedar kata Bismillah dan Alhamdulillah yang mendatangkan rejeki. Ini tentang keikhlasan dan rasa syukur terhadap rizki yang diberikan. Sang supir tidak mengeluh ketika dilapori ‘sewa sepi.’ Sang supir tetap menjalankan tugasnya, menyetir dengan baik, ga ngetem, bersyukur atas penumpang yang datang. Dan barang siapa bersyukur, maka Allah akan memberi lebih.

sekarang aku tau persis kenapa aku masih bersabar, dan tetap naik angkutan itu, walaupun si supir pertama ngetem lama banget. Karena Allah ingin menunjukan sesuatu. Lagi, lagi, dan lagi, mengagumi cara-Nya mengajarkanku..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s