Target Berani

 

Di saat orang-orang terlibat dengan euphoria tahun baru di tanggal 31 Desember 2010, aku memilih untuk tidak terlibat. Cukuplah bersenda gurau hangat dengan beberapa sahabat. Itu pun tak ingin berlama-lama. Jam 8 malam, kami sudah berhamburan kembali ke rumah masing-masing. Takut terjbak macet di lautan manusia yang memilih merayakan tahun baru di jalanan.

Sampai di rumah, aku membuak kunci rumah. Sendirian. Mama, papa, Mbak Rie, keluarga Mbak Kie, sedang melepas suara di Inul Vista Pondok Gede. Sementara keluarga Mbak Sie, merayakan tahun baru di warnet mereka yang baru buka beberapa bulan ini. Membakar aneka daging, sekaligus memberikan nuansa kekeluargaan kepada pelanggan warnet BiruKuning tersebut.

Aku pun melepas lelah dengan mandi dan bersih-bersih, merebahkan diri di kamar Mama, sampai rombongan yang karokean pulang ke rumah. Lalu pindah ke kamarku sendiri, dan berharap bisa segera tidur. Waktu sudah menunjukan pukul 12 kurang saat itu. Dan aku tidak bisa tidur. Suara petasan dan kembang api bersautan entah dari berbagai titik di rumahku.

Entah kenapa aku merasa terganggu, menjadi sinis, dan meracau tak tentu arah. Entah aku merasa terasing di tengah hingar bingar yang saatitu menurutku sangat berlebihan. Padahal memang aku yang menyingkir. Memilih untuk tidak terlibat dalam kehebohan tahun baru. Memilih untuk menganggap pergantian tahun itu hanyalah pergantian hari seperti hari-hari biasanya.

Di saat orang lain sedang berbahagia dan bergairah menyambut tahun baru, aku malah berbicara tentang anak jalanan, tentang manusia-manusia gerobak. Mereka yang meskipun tahun baru telah berganti tetap tak memiliki rumah tetap untuk berteduh.

Ahh,, aku jadi merasa seperti seorang tokoh yang menggugat Hari Ibu ketika kita sedang beramai-ramai menumpahkan kasih sayang kita kepada Ibu kita, dalam berbagai bentuk di tanggal 22 Desember itu. Separah itukah aku? Toh setiap orang berhak untuk bersemangat, bahagia, bergairah menyambut tahun baru dengan harapan baru. Yang sayangnya saat itu terasa begitu klise bagiku.

Di tengah kecuekan dan ke-apatis-an ku hari itu, bukan berarti aku tak berpikir. Well, aku memang tak pernah macam2 dalam menentukan target hidupku. Cukuplah kurasa apa yang sudah kulalui di tahun 2010 sebagai satu proses hidup yang kuinginkan. Tapi bukan berarti aku tidak terpikir mimpi-mimpi besar yang sampai saat ini baru ada di bayanganku.

S2, kalaupun tidak di tahun 2011, setidaknya aku harus memulai apa yang belum kupunya. Les bahasa inggris, tes toefl, tabungan dan lain sebagainya?

Mengajar, kalaupun tidak di tahun 2011, setidaknya aku mulai meenyusun kapan langkah itu akan kuambil secara konkret, dan bersiap menentukan, mau jadi ahli apa si aku nanti?

Bikin Buku, kalaupun tidak di tahun 2011, setidaknya aku harus menetukan buku apa yang ingin kubuat. Mengumpulkan naskah demi naskah yang mungkin nanti akan kukompilasi. Memperbanyak menulis. Memasang target setidaknya sehari satu tulisan, toh aku sudah punya blog pribadi.

Menikah, kalapun tidak di tahun 2011, ah ini biar menjadi rahasia Allah dan akan menjadi kejutan indah pada saatnya nanti. Tapi setidaknya aku harus mempersiapkan segala tanggung jawab yang harus dipersiapkan. Termsuk lagi-lagi tabungan. Kali ini bukan sekedar tabungan materi, tetapi juga amalan, dan keahlian. Menikah bukan resolusi, menikah bukan obsesi, menikah bukan ‘New Year Wish,” menikah hanyalah satu proses hidup yang nanti akan dilalui, dan proses hidup yang ini butuh dipersiapkan.

Hmm, semua list di atas kulabeli dengan “kalaupun tidak di tahun 2011.” Ahh, masa aku tak bisa menentukan target berani. Mungkin di antaranya ada yang bisa kujadikan target tahun 2011?? Mengajar misalnya, atau bikin buku? Rasanya tawaran bikin buku yang pernah ditawarkan kepadaku, mungkin saja bisa kutanya lagi.

Atau mungkin, semua target bisa kutetapkan tahun ini?? S2, hmm, target yang sangat ambisius, tapi bukan brarti tidak mungkin kan? Menikah? Ah, biar jadi rahasia Allah saja.

 

#Aku adalah pemimpi, karena itu aku suka sekali bintang. Setiap melihat bintang di langit, aku pun teringat akan mimpi-mimpiku. Dan bertekad untuk meraih mimpi-mimpi itu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s