Resepsi dan Stigma

Berdiskusi dengan mamaselalu menjadi waktu favoritku. Aku tidak hanya akan mendapatkan cerita-cerita menarik masa remajanya. Tak hanya tentang masa2 pacaran mama sama papa atau yang lainnya. Tak hanya tentang mama yang ngebandel ke bioskop atau pesta sama teman2 nya.

Lebih dari itu, berdiskusi dengan Mama membuatku menjadi memahami perasaannya yang sangat khawatir anak kesayangannya ini (PD Gila) terjun ke dunia politik.

Pernikahan dan Gedung Resepsi

Kami sedang membicarakan gedung pernikahan dalam rangka membahas beberapa kawan yang akan menikah dan sedang mencari gedung. Dia bercerita bahwa dulu ketika Mama menikah, gedung pernikahan masih sangat jarang. Yang paling terkenal adalah Gedung Wanita, sebuah gedung yang terletak di Menteng, yang dulu sering kulewati ketika akan meliput konferensi pers di Imparsial, sewaktu LSM HAM tersebut belum pindah Sekret ke Slamet Riyadi. Tiba-tiba tercetuslah dari mulut Mama: “Dulu kita udah sewa gedung ya Pa, akhirnya Hari-H dibatalin.”

Stigma PKI dan Ancaman Tetangga

Hari-H Dibatalkan?? Aku pun bertanya lebih lanjut kepada Mama. Mama menjelaskan, bahwa ada seorang tetangga yang tiba-tiba datang. Entah dengan alasan apa, dia mengancam, apabila pernikahan mama dilangsungkan di gedung, maka dia akan melaporkan kepada aparat bahwa mama adalah keluarga PKI. Alhasil, pernikahan di gedung pun terpaksa dibatalkan, dan pernikahan dilangsungkan di rumah. Seorang Om, pada hari-H harus menunggu di gedung yang tadinya dipesan untuk member tahu para tamu yang terlanjur datang, karena undangan sudah tersebar dengan pencantuman gedung tersebut sebagai tempat resepsi mamaku.

Wali yang Sah

Tak hanya soal gedung, ternyata mama pun mengalami kendala terkait wali. Demi keamanan, Mama, yang seharusnya diwalikan oleh Kakak laki-lakinya, harus diwalikan oleh wali hakim. Papa tentu saja tidak mau. Sebagai pemegang agama yang teguh, papa tau persis bahwa yang sah secara islam menjadi wali adalah Kakak laki-laki Mama. Akhirnya satu hari sebelum tanggal pernikahan, mama pun dibawa ke penghulu, bersama kakak laki-lakinya, papa, dan kakak laki2 papa. Di sanalah mereka sebenar-benarnya bersumpah untuk menjadi suami istri di hadapan Allah.

Begitulah, salah satu cerita dari banyak cerita lainnya yang kudapat dari mama. Pernikahan Mama berlangsung tahun 1970-an (hee, ga tau tepatnya kapan), dan stigma PKI yang sangat jahat itu masih mencengkeram bumi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s