Babies: Empat Peradaban dalam Satu Negara

Babies

Jenis Film
Documentary

Produser
Alain Chabat, Amandine Billot, Christine Rouxel

Sutradara
Thomas Balmes

Produksi
Focus Feature

Durasi
79 menit

Ponijao, BayarJargal, Mari, dan Hattie. Namibia (Afrika), Mongolia, Tokyo (Jepang), dan San Fransisco (Amerika). Empat bayi, empat Negara, empat kebudayaan, dan empat kehidupan yang berbeda di atas bumi yang sama.

Menonton film Babies membuatku mengagumi penciptanya. Kagum bukan karena melihat hal baru yang ditunjukan di dalam layar itu. Tapi karena ide dan upayanya merekam empat peradaban anak manusia yang sangat berbeda. Memperlihatkan betapa empat bayi yang mungil yang lahir di atas bumi yang sama, namun mengalami jalan hidup yang sangat berbeda.

Film tanpa dialog bukan berarti membosankan. Dari awal sampai akhir, kita disajikan proses tumbuh para bayi yang sangat berbeda. Kadang membuat kita tersenyum, kadang geli, kadang miris, dan kadang-kadang menjerit-jerit karena si bayi melakukan sesuatu yang mungkin takkan kita biarkan anak kita melakukannya.

Well, menonton film Babies, pastilah meninggalkan kesan berbeda2 di setiap orang yang menonton. Film ini mengajarkanku tentang kasih sayang orang tua, terutama Ibu. Bagaimana mereka melahirkan anak-anaknya ke dunia. Dengan kondisi apapun, dengan atau tanpa fasilitas, satu hal yang sama, bahwa keempat bayi tumbuh di dalam kasih sayang orang tuanya.

Melihat Hattie yang baru lahir tertawa-tawa ketika ditiup Mamanya, membuatku ingin mendekap bayi di dalam pelukanku. Tawa Ponijao yang memperlihatkan gigi putihnya di tengah2 tubuh tembaganya, Bayarjargal yang menatap polos Ibunya ketika dimarahi, juga Mari yang menangis kesal karena geregetan sama mainannya sendiri, membuatku melihat betapa bayi merupakan sebuah keajaiban dalam keluarga. Betapa mereka tumbuh dalam keceriaan, baik yang tidur di atas tempat tidur, atau dipangkuan kakaknya di atas tanah. Baik yang mandi dengan shower, maupun hanya dibersihkan dengan mulut Ibunya. Apapun kondisi mereka, aku percaya bahwa Ibu mereka telah memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Ketika menilik lebih jauh lagi, film ini tak sekedar menampilkan perbedaan. Tapi bagaimana suatu kesenjangan semakin lebar. Kapitalisme Global. Entahlah satu frase yang mungkin tengah diperlihatkan di sepanjang film. Satu Frase yang membuatku berpikir setengah mati bagaimana menjelaskan kepada empat anakku yang ikut menonton bersamaku saat itu. Mimpi2 yang banyak menjadi slogan. Kita begandengan tangan, dunia penuh keadilan dan kesetaraan, dan slogan-slogan lainnya. Ahh,, mereka hanya slogan. Sementara nyatanya kesenjangan itu terus melebar.

Dan bagiku, perbedaan serta kesenjangan yang diwakili empat Negara di tiga benua itu tidak perlu jauh2 ditemukan. Karena ada sebuah Negara, di mana di dalamnya terdapat kesenjangan yang sangat lebar. Dimana empat peradaban yang sangat berbeda itu ada di dalamnya. Itulah negaraku, Indonesia.

Ponijao (Namibia)
Bayerjargal (Mongolia)

Mari (Tokyo)

Hattie (San Fransisco)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s