sotoy-sotoy-an

Selama dua hari kemarin, curhatan beberapa orang teman mampir ke YM gw. Mereka beberapa orang yang berbeda, dengan beberapa cerita yang berbeda. Tapi anehnya, advise (*maklum lagi sok bijak) yang gw kasih ada yang sama lho. Ada beberapa hal prinsipil (buat gw) yang akhirnya berkali2 gw ketik di ym box gw. Nah, ketika buat mereka (mudah2an) bermanfaat, kenapa enggak gw bagi di note. Jadi ga perlu curhat, udah bisa dapet tu kata2,, hee.. *sok penting deh.

Tentang Kegagalan, Patah Hati, dan Teman-temannya

Buat gw, hidup itu adalah sebuah proses pembelajaran tanpa ujung. Gw sangat besyukur dengan semua yang udah Allah kasih keg w dalam hidup. Well, persoalannya, bukan apa yang Allah kasih, tapi bagaimana kita menyikapi itu dengan bijaksana dan mengambil setiap ibroh yang berada di baliknya.

Sedih, kecewa, patah hati, itu semua yang bikin kita tu jadi bangkit. Bikin kita ga takut untuk melangkah lagi. Patah hati mungkin membuat kita merasakan sakit dalam beberapa waktu. Seminggu? Sebulan? Setahun? Menyakitkan mungkin pada saat itu. Tapi ketika diri ini berhasil melewati proses (dan ingat itu adalah proses kita dengan diri kita sendiri, bukan kita dengan si laki2 atau orang lain), maka yang terjadi adalah kita mendapatkan satu pembelajaran berharga.

Mungkin kalo gw ga pernah patah hati, gw ga akan berani untuk jatuh cinta dan berharap. Kalo gw ga pernah gagal, mungkin gw ga akan berani untuk mencoba hal2 baru yang berbau kompetisi. Dan pada titik itu, gw merasa semua yang terjadi dalam diri gw, yang pernah mengecewakan dan bikin sakit hati itu adalh anugreah. Kalau sudah begitu sama sekali GA ADA PENYESALAN dalam kamus hidup gw .

So, percaya deh, itu semua pembelajaran yang berharga bagi semua orang, lebih spesifik untuk perempuan. Kita makhluk kuat kok. Bangkit adalah keniscayaan. Ga usah khawatir untuk melangkah, mau jatuh berkali-kali, kita pasti akan berdiri lagi, dan setelah jatuh, kita akan belajar untuk tidak jatuh ke lubang yang sama, kecuali kita jatuh atas pilihan kita.

Tentang Naik Kelas

Seorang sahabat (hmm mungkin orangnya akan gw tag) pernah berkata ke gw, tantangan itu datangnya bertahap, sesuai kelas kita. Karena, tantangan datang untuk menaikkan kualitis diri kita. Ketika satu tantangan bisa kita hadapi, artinya saat itu kita naik kelas, atau kualitas diri kita meningkat. Jadi jangan heran ketika kita menghadapi persoalan yang ga pernah kita hadapi sebelumnya. Itu artinya kita memang sudah naik kelas, tidak lagi berhadapan dengan persoalan yang sama, dan akan naik kelas lagi kalau berhasil menghadapi persoalan yang baru ini.

Nah, gimana ceritanya bisa naik kelas kalo dalam menghadapi satu problem, kita malah sibuk mikirin problem itu. Problem itu dihadapi, dijalanin, kalo dipikirin terus mah tetep ga selesai. Dan tenang aja, kesempatan kita untuk mencoba lagi (baca: belajar lagi) kok. Balik ke yang atas, hidup itu pembelajaran. Bukan soal apa yang terjadi kepada kita, tapi bagaimana kita memandang si apa yang terjadi kepada kita itu dan menyikapinya.

Konsistensi dan Kesadaran Kritis

Dari tadi gw ngomongin ‘bagaimana kita menyikapinya.’ Jadi gimana donk menyikapinya. Well, gw juga bukan ahli problem solving atau ahli menjadi dewasa si. Tapi buat gw, yang penting adalah konsistensi dan kesadaran kritis.

Kesadaran kritis ketika kita memilih dalam setiap keputusan kita. Kita memilih karna kita, karna diri kita, karna itu yang kita mau, atau paling nggak karna itu pilihan yang ‘mendingan’ menurut kita disbanding pilihan lainnya. Biasanya si gw sebelum memilih akan ngejembrengin semua opsi yang ada terus dipikirin deh konsekuensi dari masing2 pilihan itu. Nah, mana konsekuensi yang paling bisa gw hadapin (walaupun sebenernya apa yang terjadi pasti bisa kita hadapin kok) itu yang gw ambil. Atau gw justru milih yang konsekuensinya paling berat, tapi menurut gw worth it buat dipilih. Tapi satu yang penting, kita gw tau konsekuensinya dan siap untuk menghadapi konsekuensi itu.

Pernah satu kali gw jatuh cinta pada seorang pria yang menurut gw ‘cukup.’ Cukup sepadan, cukup pantas untuk disukasi dengan segala kualifikasi yang dia miliki, dan yang terpenting cukup layak untuk diperjuangkan. Beberapa teman terdekat gw ngedorong gw untuk menyatakan perasaan gw ke dia. Dengan berbagai alasan, dari mulai, sekarang udah mahfum kok cewek ngomong duluan, sampe hal2 yang lebih menghitung untung rugi. “lo tinggal bilang Nis, kalo dia cukup dewasa, dia akan menanggapi elo dengan dewasa kok.” Lagian ya kalo gw pikir2 juga, misalnya dia ngejauh, insyaallah temen gw masih banyak *huehehe. Intinya ga rugi lah kalo bilang ke dia.

Tapi,, karena satu dan lain hal gw mutusin untuk ga ngomong. Bukan karena ga siap sama konsekuensinya, sama sekali bukan. Dan ketika gw milih untuk ga ngomong, gw bukan sekedar menghindar dari konsekuensi2 yang akan terjadi kalo gw ngomong. Tapi justru gw mengambil sebuah konsekuensi lainnya. Gw ga punya kesempatan buat tau perasaan dia ke gw, dan gw harus siap ketika dia ,hmm,, apa ya istilahnya? Ya, ketika gw keduluan cewek lain. Dan benar saja, bentar lagi dia mau nikah lho,, hehehe. Tapi berhubung gw udah siap sama konsekuensi itu, ya sudah, hati gw tu rasanya lebih lapang aja. Sedih si, dikit, selebihnya tinggal mendoakan dia mendapatkan yang terbaik. Tulus.

Ketika kita sudah memilih dengan kesadaran kritis, paham dan siap dengan konsekuensi yang  akan datang. Maka keputusan itu tinggal dijalanin dengan konsisten. Hasilnya, langkah tu jadi ringannn banget. Ngejalanin hidup juga jadi ringan deh.😀

Toples: Wadah Segala Elemen

Pernah baca atau denger cerita soal toples ga? Jadi ada beberapa benda, dari batu, kerikil, beras sampe pasir. Dan gimana semua benda itu bisa masuk semua ke toples. Ternyata kuncinya adalah “Masukin yang gede dulu, baru yang lebih kecil, sampe yang paling kecil.” Sang toples menjadi perumpamaan dari bagaimana kita menggunakan otak kita untuk berpikir. Skala Prioritas. itu kata kuncinya. Bagaimana kita memikirkan dan menempatkan hal-hal ‘besar’ yang menjadi skala prioritas kita untuk diatasi terlebih dahulu, baru deh mikirin yang lebih kecil sampe yang paling kecil.

Hmm, kalo gw, biasanya suka bilang ke temen2 gw,“ngapain si hal-hal perintilan dan ece2 kayak gitu dipikirin?” atau “Elo tu terlalu penting, buat mikirin hal-hal ga penting kayak gitu!” ya, kadang-kadang kita disibukan dengan pikiran2 ga penting yang tanpa sadar bikin kita ga produktif. Dan seringkali itu masalah ‘hati.’

Well, mengalihkan pikiran ke hal-hal positif dan penting itu menyenangkan lho. Dulu, beberapa tahun yang lalu, di sebuah pertandingan voli, pernah seorang sahabat (banyak kan sahabat saya :D) bilang, tukan giliran kita main voli sig geng itu ga pada nonton dan ngasih support.

Gw nyaut: daripada lo fokusin pikiran lo ke situ, kenapa lo ga liat satu2 muka temen2 yang dateng ke sini. Gila ya, mereka mau2an dateng ke sini support kalian. Bersyukur  lah! Segala sesuatu itu selalu punya dua sisi. Tergantung gimana kita berfikirnya. Cara kita ngeliatnya. Dan itu semua kita yang nentuin. Tergantung kita mau ngeliatnya gimana! Kita melihat apa yang ada di dalam benak kita. So, kenapa ga kita kendaliin benak kita untuk melihat yang bagus-bagus. Dan yang bagus2 itu pasti jadi kenyataan.

Well, segitu dulu ah sok taunya buat sekarang. Gw pribadi masih banyak harus belajar, buat konsisten sama apa yang gw ungkapkan di atas. Ya kadang2 ada aja kan godaan, marah2 kesel sendiri, gapapa lah, asal abis itu BANGKIT. Dan bangkit itu adalah keniscayaan.

Makasih banget buat sahabat2 gw yang udah ngasih gw inspirasi, di mana apa yang gw ungkapin ke kalian, ga sekedar agar kalian tenang atau sedikit lega. Tapi juga mengingatkan gw untuk selalu mengaplikasikannya.

Mengajarkan gw soal hidup, soal menjadi diri sendiri, dan memegang kendali atas si diri. Soal melangkah mantap dan menjalani keputusan dengan konsisten, serta tegas pada diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s