Mempertanyakan Kesaktian Pancasila

#Versi berita bisa dicek dihttp://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4ca615a12c7f8/komnas-ham-optimis-penyelidikan-peristiwa-65-rampung-tahun-ini

45 tahun sudah peristiwa Gerakan 30 September berlalu. Gerakan 30 September, yang menajadi pangkal dinobatkannya 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, bukan semata-mata tentang terbunuhnya enam orang jenderal Angkatan Darat.

Lebih mengerikan lagi, jutaan nyawa hilang sejak hari itu. Sarwo Edhi Wibowo sebagai Komandan RPKAD-kini Kopasus- saat itu, mengklaim sudah membunuh tiga juta orang yang dianggap PKI.

Stigma buruk terhadap PKI dan beberapa organisasi yang dekat dengannya seperti Gerakan Wanita Indonenia (Gerwani), ataupun Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra), terus ditebarkan selama massa orde bar.

Sejarah versi pemerintah orde baru tentang kekejaman PKI terus disuarakan, termasuk melalui buku pelajaran, dan film propaganda berjudul Pengkhianatan G 30/S PKI yang wajib diputar setiap tahunnya.

Akibatnya, terjadi diskriminasi besar-besaran terhadap orang yang dianggap PKI. Selain dibunuh,, benyak juga orang yang ditangkap dan dipenjara. Mayoritas dari merela dipenjara puluhan tahun, bahkan dibuang ke pulau buru tanpa melalui proses pengadilan.

Setelah keluar dari penjara mereka masih harus menghadapi diskriminasi. Misalnya, KTP mereka ditandai dengan hufuf XT (X-Tapol), sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Keturunan mereka pun tidak bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ternyata, runtuhnya kekuasaan orde baru tidak meruntuhkan stigma buruk terhadap para korban. Hingga kini stigma buruk tentang PKI masih ada di masyarakat. Meskipun, stigma itu sudah tidak separah ketika zaman orde baru. Stigma buruk PKI tidak hanya melanda masyarakat, tetapi juga masih melekat di aparat-aparat Negara.

Stigma buruk PKI yang masih melekat di aparat pemerintah, dibuktikan dengan adanya pelarangan buku. Tahun 2007, pembakaran buku-buku sejarah pernah terjadi. meminjam istilah Asvi Warman Adam, dalam seminar melawan pelarangan buku beberapa bulan lalu, pelarangan buku yang terjadi tahun 2007 adalah pelarangan buku paling biadab.

Pembakaran itu dipicu keputusan Kejaksaan Agung yang melarang sejumlah buku sejarah beredar di masyarakat. Buku-buku sejaraj itu dibakar hanya karena tidak mencantumkan PKI di judul bab G30 S. Pembakaran buku terjadi setelah reformasi memasuki tahun ke sembilannya.

11 tahun reformasi, pelarangan buku kembali terjadi. Di penghujung tahun 2009, Pemerintah, melalui Jaksa Agung melarang beredarnya beberapa buku terkait kejadian G 30 September yang berbeda dengan versi pemerintah orba. Salah satunya adalah buku “Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto” karya John Roosa.

Sejumlah kalangan menilai buku yang diterbitkan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan Hasta Mitra ini sebagai suatu karya yang bersifat akademik. Namun, melalui Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor KEP-139/A/JA/12/2009 tanggal 22 Desember 2009 Kejaksaan Agung melarang buku yang diterbitkan tahun 2008 ini.

Upaya hukum telah ditempuh oleh pihak penerbit buku John Roosa. Pengadilan Tata Usaha Negara dan Mahkamah Konstitusi menjadi tumpuan harapan mereka untuk melawan pelarangan buku yang dilakukan oleh Jaksa Agung.

Sayangnya, Majelis Hakim PTUN Jakarta mengamini tindakan Jaksa Agung melarang buku John Roosa yang didasarkan oleh penilaian clearing house. Sementara hingga saat ini MK belum memutus judicial review terhadap UU No. 4/PNPS/1963.

Mungkin Komnas HAM adalah satu2nya lembaga negara yang berniat membongkar kasus 65. Komnas HAM telah melakukan penyelidikan yang melibatkan lebih dari 400 orang saksi. Targetnya, proses penyelidikan akan selesai akhir tahun ini.

45 tahun sudah sejak 1 Oktober dinobatkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Kejadian yang memakan jutaan nyawa masih gelap dalam sejarah kita. Berbicara tentang kesaktian Pancasila, berbicara pula tentang salah satu silanya yang menyatakan Kemanusiaan yang adil dan Beradab. Akankah pembantaian terhadap jutaan nyawa yang mengoyak rasa kemanusian menapatkan keadilan dari kesaktian pancasila?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s