Kejutan Kecil Nan Manis

Cerita dari Rombong Belajar Kukusan

Aku sedang tertidur dengan nyaman ketika sayup-sayup mendengar suara bocah kecil di sekelilingku. itu jelas bukan suara Sarah, itu suara bocah laki-laki yang bawel bertanya ini itu. Aku pun tersadar bahwa suara itu tidak sendiri. Ada suara bocah perempuan di antara kebawelan si bocah laki-laki. dan lagi-lagi, itu bukan suara Sarah.

Akhirnya akupun terbangun dari tidurku. Sisa kantuk masih terasa setelah terjaga hingga jam setengah 4, dan terbangun Subuh tadi. Sepertinya baru 15 atau 20 menit aku tidur kembali karna tidak sanggup menahan kantuk. sebagian besar rombongan Rombong yang lain sedang pergi makan siang di luar, dan aku tidak sanggup ikut dengan mereka karena kantuk-ku.

Ketika kuterjaga, ada tiga orang bocah, satu laki-laki dan dua perempuan. Ian, dialah bocah bawel yang membangungkanku barusan, sementara 2 perempuan manis disebelahnya bernama Henny dan Indri. sambil mengucek-ngucek mata, kuperhatikan mereka satu per satu. Ian memang aktif bertanya ini itu. Ian yang sebentar lagi masuk SD usianya kira-kira sebaya dengan anak kedua ku (Tristan). Indri dan Henny berambut lurus panjang. keduanya akan naik ke kelas lima. sama dengan anak pertamaku (Kirana).

Tyas mendampingi mereka bertiga dan mengajak mereka mengobrol. Ketika aku hendak ke kamar mandi untuk mengambil Wudhu, sekilas aku mendengar Ian bertanya tentang burung-burungan yang kubuat dari kertas marmer untuk Sarah. Tyas pun mengatakan bahwa burung-burungan itu adalah buatanku. Aku pun mengatakan kepada mereka mau solat Zuhur terlebih dahulu, dan berjanji akan mengajari mereka membuat burung-burungan itu.

Seusai solat, kudapati mereka tengah melipat-lipat kertas marmer dan mengikuti instruksi dari Tyas. Aku pun datang dan siap mengajari mereka untuk membuat burung2an. Namun karena mungkin cara yang kubisa terlalu rumit akhirnya mereka tidak mengikutiku sampai habis. Akhirnya Tyas mengajari mereka untuk membuat kamera. Sementara Putri mengajari Henny untuk membuat pesawat terbang. Tak sengaja kuperhatikan wajah Henny yang manis. Wajah yang serius itu tiba-tiba berubah. Sebuah senyum merekah memberikan garis keindahan pada wajahnya, ketika ia berhasil membuat pesawat terbang. Aku yang melihat perubahan wajah itu, merasakan perasaan yang sungguh luar biasa. ya, rasanya luar biasa. Tidak terlukiskan, tidak tergambarkan. Hanya luar biasa.

Kami pun melanjutkan kegiatan dengan bermain. Setelah selesai dengan kertas marmer, kami bernyanyi bersama dengan berbagai gaya. Dari mulai lagu Indonesia Tanah Air Beta, Lagu Kolam Renang nya Mbak Rika, Lagu Kalau Ada Gempa (biasa dipakai MBC untuk mengajarkan anak2 melindungi diri ketika terjadi Gempa Bumi), dan bermain ‘Konsentrasi’ untuk kami saling mengingat nama satu sama lain. Sarah pun tak mau kalah ikut bernyanyi dan bertepuk tangan sambil tertawa.
Belakangan bergabunglah Tiara dan Dova. Terakhir, Kami bermain domikado yang dilanjutkan dengan Ular Naga Panjangnya, hingga akhirnya, kami para kakak kelelahan.

Karena kelelahan, aku pun membaringkan tubuhku di atas bantal. Baru sebentar, mereka mengerubungiku+Arruum dan berkata, “Kakak,, Kakak ke ruang sebelah ya,, Kita mau bikin Surprise tapi ga bisa kalo kakak di sini.” Aku yang sedang di posisi nyaman tentu saja malas mengangkat tubuhku. “Udah, aku merem deh, aku ga liat kalian ngapain. Aku merem ni ya.” Arruum ikut membantuku merayu mereka agar kami tidak perlu pindah ruagan. Tapi mereka ngotot mengusir ku dan Arruum ke ruangan sebelah. Setengah malas aku pun beranjak bangun. Mereka masih berpesan bawel, “Kakak jangan ngintip ya, kalo ngintip nanti bintitan”

Di ruang sebelah sesekali aku iseng, “Udah Belom? Kakak itung ya,, Satu,, Dua,” mereka pun menjawab panik, “Belum Kak, belum,,bentar lagi.”

hingga akhirnya mereka memanggil kami untuk menunjukan surprise yang sudah mereka siapkan. Aku dan yang lainnya pun melangkahkan kaki ke ruang sebelah. Awalnya aku tak menemukan surprise yang mereka maksudkan. Namun tiba-tiba aku tersadar,

Buku-buku yang berserakan sudah tersusun rapi, begitu pula dengan bantal-bantal yang bertebaran. mereka ditumpuk indah di salah satu sisi ruangan. Karpet pun terlihat lenggang dan rapi.

Akupun kehilangan kata-kata. Buatku inisiatif mereka untuk memberikan kami kejutan dengan merapikan ruangan benar2 amazing. Aku pun memeluk mereka satu persatu dengan ucapan terima kasih. Tak hanya di bibir. Hatiku pun melantunkan kekaguman yang luar biasa untuk mereka. Diiringi rasa malu mengingat betapa jarangnya aku membereskan ruang pribadiku,, hee

Kami pun foto bersama di ruangan yang sudah dirapihkan itu. Sore telah datang dan waktunya untuk kami berpisah. Para bocah pun pulang disertai kebawelan kami, “Ayo pada mandi ya, sudah sore, besok-besok kita main lagi.”

Dan pergilah mereka. aku menghela nafas panjang, masih takjub dengan pengalamanku hari itu. Berbagai rasa campur aduk, senang, gembira, bangga, bahagia. Ada harapan di sana. Harapan bahwa keberdaan kami tak sekedar mengundang gelak tawa. Tetapi juga memberikan sutu kebermanfaatan yang besar bagi mereka. Semoga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s