Feminisme Menakutkan?

hanya sekelumit pemikiran sok tauku dalam keterbatasan ilmu yang aku punya

Munculnya femnisme didasarkan pada suatu ketidakseimbangan relasi antara perempuan dan laki-laki di masyarakat. Para feminis mencoba mendobrak ketimpangan nyang sudah membudaya dan mengakar kuat dalam perspektif, tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan.

Suatu gerakan yang ingin mengubah masyarakat pastinya sudah paham akan konsekuensi dari masyarakat yang budayanya sudah mapan. Resistensi senantiasa muncul dan menghadirkan berbagai stigma tergadap gerakan perempuan.

Feminism dicap sebagai budaya barat yang identik dengan kebebasan tanpa aturan. Dia dianggap merusak tidak hanya budaya tetapi juga ajaran suatu agama. Feminisme dianggap melanggar kodrat keperempuanan yang diharuskan oleh masyarakat. Feminism dianggap mengajarkan perempuan untuk meninggalkan peran domestiknya, membangkang kepada suami, bahkan memilih untuk tidak menikah.
Berbagai gerakan feminism yang diajarkan pada teori memiliki definisi yang baku masing-masing. Feminis liberal, sosialis, radikal, dan post modernis, seakan-akan menjadi klasifikasi, feminisme seperti apakah yang dianut setiap orang yang memperjuangkan perempuan.

Segala stigma yang justru menutup mata dari fakta-fakta yang terjadi terkait perkembangan feminism. Well. Saya memang tidak tahu bagaimana perkembangan feminism di Negara-negara lainnya. Tapi dari berbagai literature yang saya baca setidaknya saya sedikit mendapat gambaran tentang feminism di Indonesia.

Poin utamanya adalah, gerakan feminism terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, entah tepat atau tidak, saya merasa teori feminis liberal, sosialis, dll sudah using ketika kita menggunakannya untuk membagi-bagi gerakan prempuan yang ada sekarang. Utamanya di Indonesia, segala bentuk feminis itu menjadi lebih sulit tuk diintegrasikan. Indonesia memiliki perkembangannya sendiri, sehingga semakin sulit bagi saya apabila saya menggunakan klasifikasi-klasifikasi tersebut.

Pergerakan perempuan di Indonesia dimulai entah dari sekian lama. Setidaknya kita disadarkan akan gerakan perempuan sejak munculnya pemikiran-pemikiran Kartini dan teman-teman seangkatannya, termasuk Dewi Sartika. Saat itu gerakan perempuan fokus pada isu poligami dan pendidikan. Para aktivisnya menularkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, dan bagaimana poligami yang saat itu lebih kepada adat feodalisme jaman kerajaan menjadi tidak adil untuk perempuan.

Pemikiran itu tentu saja didasarkan pada budaya yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Tak hanya itu, dalam beberapa konteks, perempuan ditempatkan sebagai objek, bukan subjek.Perempuan biasa digunakan sebagai symbol takluknya kerajaan. Perempuan diserahkan kepada raja yang memenangkan perang, dan dijadikan isteri entah yang keberapa. Terkait pendidikan, kita sudah sering mendengar cerita tentang satu keluarga yang memiliki anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan yang diberikan tugas domestic oleh budaya dianggap tidak perlu sekolah. Hal itu bahkan masih berlanjut hingga saat ini. Ketika suatu keluarga memiliki keterbatasan ekonomi untuk menyekolahkan semua anak-anaknya, maka anka laki-laki akan diprioritaskan untuk bersekolah dibandingkan anak perempuan.

Tak hanya itu, gerakan perempuan selanjutnya mulai menyentuh isu kebagsaan. Kemerdekaan pun mulai digaungkan di kongres perempuan yang muncul sebelum kongres pemuda. Mereka menggagas tentang kemerdekaan Indonesia, dan memulai pergerakan kemerdekaan.

Gerakan perempuan berkembang pada tahap selanjutnya mulai menyentuh isu-isu perempuan di ruang publik. Tanpa meninggalkan isu poligami dan pendidikan, gerakan perempuan tahun awal tahun 60an seperti Gerwani mulai menyuarakan perempuan untuk lebih didengarkan. Perempuan bisa lebih didengar ketika menempatiruang-ruang publik. Maka isu perempuan menjadi anggota DPR perempuan duduk di kursi kementerian, perempuan menjadi pemimpin mulai disuarakan.

Pasca terjadinya tragedi 65 gerakan perempuan ditumpas habis ole horde baru. Organisasi perempuan yang ada hanya melakukan aktivitas, lomba masak, lomba bepakaian kebaya, dll. Semua gerakan yang lebih progresif (tidak hanya gerakan perempuan) pada saat itu dianggap subversive dan menentang pemerintahan.

Gerakan perempuan kemudian muncul dengan Kalyanamitra, Solidaritas Perempuan, dll yang mulai berani untuk bersuara. Bahkan, elemen yang prtama kali melakukan demonstrasi terhadap rezim otoritarianisme orde baru adalah elemen gerakan perempuan. Tidak berhenti di sana, gerakan-gerakan perempuan juga turut aktif dalam proses reformasi bersama gerakan lainnya hingga rde baru pun tumbang.

Selanjutnya, gerakan perempuan turut serta dalam semua isu-isu krusial. Tidak hanya memperjuangkan perempuan, mereka juga aktif dalam gerakan pemberantasan korupsi, dan gerakan-gerakan lainnya.
Di tengah kesadaran bahwa relasi yang timpang timbul tidak hanya di budaya masyarakat, tetapi juga dibakukan ke dalam hukum positif. Termasuk bagaimana hukum tidak responsive akan kebutuhan-kebutuhan perempuan yang mengalami perlakuan sebagai warga kelas dua, gerakan perempuan mulai mengkritisi berbagai kebijakan yang muncul. Mereka menginsiasi kebijakan-kebijakan yang responsive gender, sekaligus aktif mengadvokasi perempuan-perempuan korban, ketika mereka harus berhadapan dengan hukum.

Well, tampaknya saya kelamaan ngejelasin perkembangan gerakan perempuan. Sebenarnya saya Cuma mau bilang, faktanya gerakan prempuan di Indonesia memiliki perekembangannya sendiri, dan dia muncul dari kesadaran terkait fakta sosial yang ada di masyarakat.

Nah, itu klo dari segi materi gerakan. Sekarang kita beralih ke simbol-simbol. Ketika gerakan perempuan dipertentangkan dengan agama, lebih khusus lagi terlakit pemakainan jilbab, buat aku itu cerita lama.

Ya, dulu aktivis-aktivis perempuan memang sempat masuk ke perdebatan, emang pantes feminis pake high heels? Apakah memakai rok sesuai dengan apa yang diperjuangkan para feminis? Apakah make up merupakan salah satu hasil dari pe-lebel-an untuk perempuan dari budaya Patriarkhi? Lalu apakah jilbab merupakan pembatasan untuk perempuan, dan banyak perdebatan lainnya.

Tapi diskusi-diskusi itu sidah ditinggalkan sekarang. Feminisme sejatinya berasal dari hak asasi manusia. Ada pluralism yang dihargai di sana. Menurutku, feminis yang benar-benar paham gerakan perempuan secara utuh dan holistic justru akan menghargai pluralism. Bahwa masing-masing dari kita berbeda dengan keyakinan yang kita miliki masing-masing.

Feminisme tidak meributkan soal apa yang kita pakai, symbol yang kita gunakan, dsb. Ketika kita punya pilihan akan satu keyakinan, maka jalankanlah keinginan itu. Toh kita melakukan dan memilihnya dengan kesadaran kritis. Maka apapun yang kita yakini benar akan dihargai sebagai satu pluralitas, dan feminism memang bukan untuk meributkan itu.

Seorang feminis pernah berkata, kalau jilbab dilarang, maka saya akan jadi orang pertama yang menetangnya.

Banyak ibu rumah tangga yang menjadi binaan LSM-LSM perempuan hingga mereka sadar akan hak perempuan, dan memiliki perspektif gender. Apakah lantas mereka semua memutuskan untuk meninggalkan perannya sebagai Ibu? Tidak. Mereka tetap menjadi Ibu yang baik sekaligus menjadi aktivis pmbela hak perempuan.

So,
Ini bukan tentang mengajarkan kita untuk meninggalkan keluarga,,
Ini bukan tentang mengajarkan kita untuk tidak mau menikah dan membenci laki-laki..
Ini bukan tentang kebebasan dan menolak semua ajaran agama.
Ini bukan tentang mengajarkan kita untuk sex bebas, beprilaku semau kita, dan aborsi.

Tapi ini tentang perempuan-perempuan yang tidak bisa ekolah hanya karena dia perempuan

Ini tentang perempuan yang diceraikan, ditinggal begitu saja, harus menafkahi anak tanpa nafkah lagi, padahal selama ini dia dilarang bekerja oleh suaminya.

Ini tentang perempuan-perempuan yang pagi harinya harus bekerja memecahkan batu, dan menjadi pekerja seks komersial di malam harinya. Sementara sang suami hanya berjudi.

Ini tentang buruh-buruh yang bekerja siang dan malam, 48 jam tanpa istirahat, yang harus tetap bediri walaupun sedang haid, dengan upah yang jauh lebih rendah daripada laki-laki.

Ini tentang korban pemerkosaan yang tak berani bersuara. Yang harus mengalami pemerkosaan berkali-kali lagi ketika polisi, jaksa, hakim, advokat bertanya dengan bahasa-bahasa intimidaif.

Ini tentang korban KDRT yang tetap tidak diizinkan (melalui putusan) cerai oleh hakim karena si suami tidak mau menceraikannya.

Ini tentang korban pelecehan seksual yang diremehkan laporannya dan dianggap berlebihan padahal pelecehan seksual itu berdampak trauma seumur hidup.

Ini tentang perempuan yang dibatasi keinginannya, dianggap hak milik oleh keluraga dan masyarakatnya, dianggap tabu ketika melakukan ini itu, hanya karena dia perempuan.
Dan ini adalah tentang tentang lainnya, yang saya yakin teman-tyeman pun bisa menambahkan list ini sampai entah berapa halaman lagi.

Karena itu semua fakta, ini semua kejadian riil yang bisa kita saksikan di masyarakat. Betapa tidak hanya culture, tapi juga structure bahkan substance hukum kita menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua.

Bukan hanya budaya patriarki, tapi juga bahasa undang-undang yang mendomestikan perempuan dalam menjalankan perannya.

Kondisi riil itulah yang menimbulkan kesadaran bagi para feminis. Entah dia berjilbab atau bertato. Entah berok panjang, atau ber hot pants. Entah ibu rumah tangga ataupun aktivis LSM yang memilih untuk tidak menikah. Mereka punya pilihan masing-masing, dan inti perjuangan gerakan perempuan sama sekali bukan menegasikan cirri-ciri tertentu.

Penutup:
Yuniyanti Chudzaifah, ketua Komnas Perempuan merupakan salah satu isnpirasi saya. Beliau adalah seorang feminis yang ikut berjuang sejak gerakan perempuan berupaya menjatuhkan orba.

Pada satu kesempatan wawancara dia menceritakan kehidupan pribadinya bersama suami dan anak-anaknya. Bahwa dia membuatkan kopi untuk suaminya setiap hari, bahwa dia berupaya untuk menjalankan perannya sebagai ibu dan istri dengan baik. Dia pun berkata:

Anak adalah tanggung jawab kita. Kalau sampai anak kita jadi koruptor, itu merupakan tanggung jawab kita, dosa kita kepada bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s