Terorisme dan Gaya Otoritarianisme

Edisi Refleksi 12 Tahun Reformasi

Akhir-akhir ini media kita dipenuhi berita-berita ‘keberhasilan’ Densus 88 dalam membunuh teroris. Banyak kontroversi yang beredar. Di satu sisi terorisme merupakan extra ordinary crime yang wajib diberantas tuntas. Namun di sisi lain, membunuh teroris di tempat tanpa pengadilan rentan terhadap pelanggaran HAM, termasuk ketika salah sasaran, dan ternyata si tersangka teroris itu bukan teroris, maka kita tidak bisa mengembalikan nyawanya lagi.

Di luar perang argumentasi itu, saya mendapatkan statement dari Direktur Eksekutif Elsam, Agung Putri. Menurutnya, cara yang digunakan pemerintah dalam menanggulangi terorisme erat kaitannya dengan cara orde baru mempertahankan kekuasannya. Pada masa orde baru, (1) operasi-operasi rahasia dan (2) menyebarkan stigma merupakan dua cara yang senantiasa berdampingan untuk digunakan.

Di dalam aksi-aksi pemberantasan terorisme, stigma-stigma juga ditebarkan untuk menumbuhkan kebencian di dalam masyarakat. Misalnya, komisioner Komnas HAM Yoseph Adi prasetyo mengungkapkan ada indikasi yang kuat bahwa intelejen turut mengorganisir masyarakat untuk menolak pemakaman tersangka teroris yang meninggal. Mbak Putri sendiri berkeyakinan bahwa stigma2 buruk teroris memang sengaja disebarkan oleh pemerintah, termasuk lewat disiarkannya operasi-operasi terorisme secara live di stasun televise. Mbak Putri pun mengingatkan, “Kalau cara ini (operasi rahasia dan penyebaran stigma-red) tidak dikoreksi, maka dia berpotensi besar untuk menjadi bakal tumbuhnya otoritarianisme kembali di Indonesia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s