Mengungkap Kebenaran, Bukan untuk Mendendam

Edisi Refleksi 12 Tahun Reformasi

Di tulisan sebelumnya, Mei 98, dan juga di beberapa status, saya banyak berbicara tentang belum terungkapnya pelanggaran-pelanggaran Berat HAM yang terjadi pada masa Soeharto. Membicarakan itu bukan berarti saya dendam pada mantan presiden RI kedua itu. Saya cenderung tak peduli. Toh orangnya sudah meninggal.

Tapi saat ini masih tersisa banyak hal yang menjadi PR bangsa ini. Adanya pelanggaran HAM pada masa orde baru merupakan hal yang tak bisa dibantah. Korban-korban jelas ada dan masih bisa menuturkan kesaksian tentang kejadian yang mereka alami. Walaupun korban dan saksi 65 sudah banyak yang meninggal, namun masih ada beberapa orang yang bisa menuturkan apa yang terjadi pada masa itu. apalagi korban Mei 98. Masih banyak yang mengingat persis peristiwanya, bahkan masih merasakan rasa sakitnya. Termasuk orang tua dan keluarga korban penghilangan paksa. Setidaknya ada tiga belas korban penghilangan paksa yang keluarganya masih memperjuangkan kejelasan nasib mereka hingga saat ini.

Di tahun 65, ribuan orang dibunuh. Dibariskan, lalu satu per satu ditembak dan dibuang ke sebuah luabang besar yang dalam. Mereka yang berbaris menyaksikan orang-orang di samping mereka dipenggal satu per satu, sambil menunggu giliran pedang itu memutus leher mereka. Pembunuhannya buatku sama nilainya dengan Genosida. Bedanya, yang dibantai bukan etnis tertentu, tapi kelompk politik tertentu, bahkan orang-orang yang sebenaranya tidak termasuk kelompok politik itu.

Jutaan orang ditangkap, dipenjara, disiksa, diperkosa, dibuang ke pulau Buru tanpa diadili. Tak hanya sampai di situ, keluarga korban pun distigma dengan cap yang jauh dari kemanusiaan. Sudah kehilangan orang yang mereka cintai, kehilangan tulang punggung mereka, mereka pun mengalami penyingkiran sosial. Tak diterima masyarakat, menjadi PNS pun mustahil.

Itu baru 65. Belum yang dialami Talang Sari, Tanjung Priok, Trisakti, Semanggi I, Semanggi II. Termasuk penembakan misterius yang diarahkan ke orang-orang yang dianggap preman, penjahat, dan kriminal tanpa melalui proses peradilan.

Mereka yang tidak hanya dibunuh, disiksa, dibantai, tapi juga mengalami stigma sebagai orang jahat. Sebagai musuh pemerintah. Ditunjuk sebagai orang-orang yang subversif, dan ditakdirkan oleh penguasa menjadi musuh bagi semua orang. Disampaikan lewat film yang wajib diputar setiap tahun. Lewat berita-berita yang penuh sensor dan kebohongan. Lewat museum yang penuh manipulasi, lewat buku sejarah yang mengabarkan sejarah palsu.

Jadi berlebihankan kalau para korban berharap kebenaran untuk diungkap. Mereka yang hingga saat ini masih mencari, masih bertanya-tanya, dimana Ayahku, dimana Ibuku, dimana Kakakku, dimana Adikku? Masih hidupkah dia? Sudah meninggalkah dia? Di mana kuburannya? Sudah disolatkankah dia?

Pengungkapan kebenaran bukan untuk mendendam pada Soeharto. Bukan untuk membencinya, dan semata-mata melihat kesalahan-kesalahannya.

Walaupun memang yang namanya kejahatan harus diadili. Ketika korban sudah bicara, fakta sudah terkumpul, maka tidak mengadili orang-orangnya adalah suatu tindakan pengecut.

Tapi ada hal yang lebih besar dari itu. Pertama, pengungkapan kebenaran adalah upaya pertanggungjawaban terhadap korban. Tidak hanya membersihkan nama mereka dari stigma, tapi Negara juga wajib memberikan ganti kerugian kepada mereka. Walaupun uang sebesar apapun takkan mampu menggantikan nyawa-nyawa yang sudah tiada. Namun pengakuan dari Negara, kejelasan status para korban yang ditunggu, dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi menjadi keinginan bagi setiap korban dan keluarga korban.

Kedua, pengungkapan kebenaran penting untuk pembelajaran. Sungguh lucu ketika hingga saat ini pun, setelah reformasi berjalan lebih dari 11 tahun, ketika ada pihak-pihak yang menuturkan lewat buku, sebagai upaya untuk mengungkapkan kebenaran, Jaksa Agung yang pengecut itu malah mengeluarkan SK pelarangan.

Tahun 2007, kurang setahun menjelang 10 tahun reformasi, buku2 sejarah yang hanya mencantumkan istilah G 30 S (tanpa PKI) malah dibakar. Sejarah masih ditutup-tutupi. Bagaimana bangsa ini bisa belajar?

Bangsa ini harus belajar bahwa setiap pergantian ordenya diperoleh lewat darah dan air mata. Lewat membunuh warga-warganya, membantai anak negerinya. Bangsa ini harus belajar bahwa kita pernah berada di masa otoriter yang tidak hanya membungkam suara-suara yang tak senada. Tidak hanya menggunakan senjata dengan entengnya. Tidak hanya menilai nyawa manusia seharga nilai binatang yang bisa dipenggal kapan saja.

Tapi juga betapa masa otoriter ini menupulkan pemikiran kritis. Membuat rakyat malas bertanya. Atau takut bertanya. Takut diculik tiba-tiba, dijerat pasal-pasal karet yang isinya tetap saja pembungkaman (toh ternyata mental penegak hukum yang menggunakan pasal2 itu masih mental untuk membungkam kekritisan warga Negara). Takut dituduh subversif dan dianggap musuh Negara.

Masa otoriter yang menyebarkan budaya korupsi. Mewariskan mental birokrasi yang bobrok. Yang hingga sekarang menjadi ganjalan hingga Negara ini tak bisa berjalan benar. Mental yang mencari keuntungan sebesar-besarnya. Mental pemerintah sebagai penguasa dan bukan pelayan rakyatnya. Dan dilanggengkan oleh kekuatan yang membungkam bagi siapapun yang hendak membongkar kong kalingkong kotor ini. Dengan mental yang seperti ini, jangan pernah bicara rakyat akan sejahtera.

Perjalanan sejarah kita, bukan untuk mengutuki manusia. Bukan untuk mendendam tanpa ujung. Tapi untuk kita belajar. Untuk kita melangkah ke depan. Untuk memahami masalah dari segi historis dan latar belakang social politiknya. Hingga masalah itu bisa dikenali, dan diatasi.

12 tahun reformasi
Tampaknya yang ada di atas sana pun produk-produk orde baru yang tak berubah. Yang masih asik membuat Sekretariat Gabungan tuk menyusun kekuatan. Menghantui pelaksanaan hukum melalui Mahkumjapol. Maka kita harus belajar. Belajar untuk tak lengah, belajar untuk senantiasa menggunakan kesadaran kritis kita, dan kekuatan untuk mencegah kembalinya masa otoriter yang mulai kembali membayangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s