Nyai Ontosoroh

Nyai Ontosoroh berjalan melintasi ruangan. Dengan dagunya yang diangkat tinggi, dan sinar matanya yang menyiratkan kekuatan dan ketangguhan. Sekan menyembunyikan perasaan yang ada di hatinya. Cara berjalannya, sorot matanya sama sekali tidak menunjukan bahwa ia sedang sedih. Baghwa ia akan segera kehilangan anak perempuannya. Bahwa ia kehilangan segala-galalanya.

Itulah penggalan adegan “Mereka memanggilku Nyai Ontosoroh” yang diselenggarakan oleh institute ungu. Pertunjukan teater yang digelar di Erasmus Huis Selasa lalu ini, hanya diperankan oleh empat orang dengan Sita (salah satu personel Rida Sita Dewi) sebagai Nyai Ontosoroh.

Adegan demi adegan berasal dari sebuah koper yang menyimpan seluruh kenangan dan kisah hidup sang Nyai. Dari mulai selendang yang ia kenakan ketika pertama kali bertemu dengan orang yang menjadi teman hidupnya, hingga surat keputusan pengadilan putih yang merengut anak perempuannya.
Nyai Ontosoroh yang bernama asli Sanikem, terkenal dengan kecantikannya sejak ia baru menjajaki remaja. Sejak umur 13 tahun ia mulai dipingit. Pada umur 14 tahun, dia sudah dipandang sebagai perawan tua.

Ternyata ayahnya memiliki rencana tersendiri untuknya. Ia hendak diberikan kepda seorang aministratur gula Belanda, Herman Mellema dengan haraga 25 gulden. Ibunya hanya bisa menyangkal tanpa melawan. Jadilah ia diserahkan kepada Herman Mellema yng berbadan besar dan berusia lebih dari tiga kali lipat umurnya.

Sejak itu pula, dia tak mau bertemua ayah ibunya. Berkali-kali ayah ibunya dating menjenguk, berkali-kali itu pula dia menolak kedatangan mereka. Pikirnya, ‘buat apa dia menjadi ayahku, kalau memperlakukanku seperti kuda yang diperjual belikan. Buat apa dia menjadi ibuku kalau tak mampu melawan suami dan melindungi anak perempuannya.’

Begitulah, hidup Sanikem berubah drastis. Dia meninggalkan Sanikem yang dulu, dan tumbuh menjadi pribadi yang baru. Sejak itu Sanikem yang akhirnya berubah menjadi Nyai Ontosoroh, menjalani kehidupannya sebagai seorang Nyai. Mengalami kebahagiaan sekaligus kepahitan. Menjadi matang dengan segala persoalan yang ada. Ditinggalkan oleh Herman dan anak laki-lakinya, dan pada akhirnya harus kehilangan anak perempuan yang disayanginya.

Hanya karena dia pribumi, dia tidak diakui sengai ibu dari Annelies (anaknya). Sementara di akte resmi Annelies mendapatkan pengakuan dari ayahnya, Herman mellema. Jadilah ia anak akuan Herman Mellema (dalam istilah hukum perdata kita lebih familiar dengan istilah anak luar kawin yang diakui). Dan nama Sanikem atau Ontosoroh tidak pernah ada sebagai ibunya. Kenapa? Karena dia pribumi.

Nyai Ontosoroh mengajarkan kita tentang banyak hal. Tentang apa yang terjadi di jaman Belanda. Ketika pribumi menjadi warga kelas bawah yang harus mengikuti apa mau belanda. Menjadi perempuan pribumi mengalami diskriminasi dua kali. Pertama karna dia pribumi, maka dia tidak punya hak apa-apa. Karena dia perempuan, maka ia pantas dijual seperti kuda.

Dia mengajarkanku tentang ketidakberdayaan. Tentang dia yang tak bisa melawan ketika ditinggalkan begitu saja dengan orang asing di dekatnya. Tentang ia yang tak bisa mencapai keinginannya untuk dikawini secara resmi oleh Herman. Selamanya dia tak pernah jadi Mefrow. Selama dia tetap menjadi Nyai.

Tapi dia juga yang mengajariku tentang kekuatan. Dengan tangan dingin dan kecerdasannya dia kendalikan perusahaan. Dia yang berhadapan dengan semua pelanggan. Mengatur anak buahnya, menentukan berkembangnya perusahaan.

Dia mengajariku tentang melawan. ‘Dengan melawan kita tidak kalah,’ katannya. Ketika Annelies dinyatakan harus berada di bawah perwalian kakak satu ayah lain ibunya di Belanda sana. Dia tidak jatuh dan melemah. Dia meradang. Marah karena dia, yang melahirkan dan membesarkan Annelies tidak diakui sebagai Ibunya. Karena manusia hanya dinilai dari selembar kertas, bukan fakta bahwa dialah yang melahirkan putrinya. Daia tidak menyerah, dia tetap bertekad tuk melawan. Walau bukannya ia tak sadar, apalah bisa pribumi di hadapan pengadilan putih? Maka ketika masih bisa melawan, diam berarti kekalahan.

Dan dia mengajariku tentang keteguhan hati. Ketika dia menyaksikan putrinya pergi dari hadapannya. Ketika putrinya mengatakan tidak akan kembali, dia memang menangis, dia pun bersujud di hadapan putrinya. Hatinya begitu terkoyak mendengar ucapan putrid kesayangannya.

Namun ia bangkit kembali. Dengan dagu terangkat tinggi, dan sinar matanya yang menyiratkan kekuatan dan ketangguhan.

Saat Minke, menantunya berkata, ‘kita telah kalah Ma.’ Dia hanya berucap, ‘kita sudah melawan.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s