Mei 98

Apa yang teman-teman ingat ketika “Mei 98” disebutkan? Lengsernya Soeharto? Atau mulainya era reformasi? Kedua hal itulah yang banyak terlintas di dalam benk kita ketika mendengar “Mei 98.”

Namun dibalik dua peristiwa penting itu terdapat suatu peristiwa besar yang penyelesaiannya tak pernah tuntas hingga sekarang.

Anak-anak bangsa ditembaki, ditendangi, dipukuli, di injaki. Diculik dan tak muncul hingga sekrang. Masih ada 13 keluarga korban penculikan dan penghilangan paksa yang menunggu kabar dari tentang para korban. Mereka pernah berkata, hidup ata mati anak, adik, kakak, mereka mereka pasrah. Kalau masih hidup mereka minta dikembalikan. Tapi kalau sudah meninggal, mereka minta ditunjukan dimana dimana kuburannya.bagaimana ia meninggal?sudah disolatkankah ia?

Ratusan bahkan mungkin ribuan perempuan mengalami kekerasan seksual. Suatu kekerasan yang menimpa etnis tertentu dari warga Negara Indonesia. Tak hanya perempuan-perempuan Tionghoa, perempuan dari suku lainpun ikut menjadi korban ketika memiliki ciri-ciri fisik yang relatif serupa.

Yang terjadi di Mei 98 adalah Pelanggaran HAM. Bukan tergolong pelanggaran HAM biasa, tapi pelanggaran HAM berat.

Seberapa besarkah perhatian Negara ini pada pelanggaran HAM berat, terutama pelanggaran HAM masa lalu?

Rasanya tak heran apabila kita dibilang bangsa pelupa. Karena suatu pelanggaran HAM berat bisa berlalu begitu saja. Tanpa ada tindakan hukum yang dilakukan, tanpa ada pengusutan yang tuntas.

Orang bisa dibunuhi, dan pelakunya bisa hidup tenang, bahkan kaya

Orang bisa diperkosa, dan pelakunya tetap menyeringai bebas dan berkeliaran.

Yang dibunuh itu nyawanya hilang tak kembali.

Yang diperkosa itu, terkungkung dalam trauma yang abadi.

Apakah suatu pelanggaran HAM berat, yang bersifat massal, yang mengoyak rasa kemanusiaan, yang bahkan binatangpun tak pernah berpikir demikian kejam, pantas dilupakan begitu saja?

Tak hanya Mei 98, Bangsa ini berkali-kali mengalami pelanggaran HAM berat. Menimpa kakek, nenek, ibu, ayah, kakak, adik, dan kawan-kawan kita, tapi apa penyelesaiannya? Kematian orang seperti Munir yang kehebatannya tak tersanggahkanpun masih menyisakan misteri dan orang2 yang tak bertanggung jawab masih berkeliaran. Apalagi orang biasa seperti kita?

Komnas HAM berdasarkan kewenangannya telah menyelesaikan penyelidikan lima kasus pelanggaran HAM berat.

1.Trisakti, semanggi I, dan semanggi II pada tahun 2002
2. Mei 98 pada tahun 2003
3. Wasior Wamena pada tahun 2004
4. penculikan dan penghilangan paksa pada tahun 2007
5. Talang Sari pada tahun 2008.

Semua berkasnya sudah diberikan kepada jaksa Agung. Namun hingga saat ini, tidak ada tindak lanjut sama sekali. Bahkan DPR sudah memberikan rekomendasi kepada presiden untuk mengeluarkan Keppres pembentukan Pengadilan HAM ad hoc, untuk peristiwa2 yang terjadi sebelum November 2000 (kecuali Wasior Wamena yang terjadi setelah tahun 2000). Tapi apa presiden kalian bergeming? Sama sekali tidak.

Tahun 98 juga pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta untuk investigasi kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan. Mereka yang kelaminnya tidak hanya dipenetrasi oleh alat kelamin laki-laki, tapi juga benda2 yang bukan organ tubuh. Mereka yang disiksa, diambil kehormatannya, dirampas masa depannya. Bahkan ada dari mereka yang ditinggalkan keluarga. Yang suaminya tak bisa menerima keadaannya, dan meninggalkannya begitu saja. Sebatang kara.

Tapi apa ada tindak lanjut dari hasil investigasi itu? Hasil investigasi yang dibilang mengada-ngada karena tak ada korban yang muncul untuk melapor. Tidakah mereka paham trauma dan rasa rendah diri yang dialami korban kekerasan seksual? Hasil investigasi yang menunjukan pelaku adalah orang2 yang berciri relative serupa. Rambut cepak, badan tegap, itukah yang menakutkan mereka?

Saat ini pun Komnas HAM tengah dalam proses penyelidikan terhadap tiga kasus pelanggaran HAM berat. Kasus 65 yang penyelidikannya sudah selesai, dan laporannya tengah disusun, kasus penembakan misterius, dan kasus Lapindo.

Kasus-kasus yang diselidiki Komnas HAM adalah kasus pelanggaran HAM. Yang dinamakan pelanggaran HAM pastilah dilakukan oleh Negara. Pun itu masa lalu, kenyataannya Negara tak sanggup mengakuinya.

Rezim orde baru katanya sudah rubuh. Tapi kenapa pelanggaran HAM 98, 65, Talang Sari, dan yang lainnya sulit sekali untuk terungkap? Kenapa hasil penyelidikan yang tinggal ditindaklanjuti itu tak sudi tuk disentuh Jaksa Agung dan Presidenku?

Katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya

Ternyata Bangsa yang begitu besar ini begitu pengecut. Begitu ketakutan akan masa lalunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s