Melukis Impian

Empat hari tiga malam yang kulalui di Taman Wiladatika Cibubur menggoreskan makna dan memberi warna tersendiri di salah satu sudut hatiku.

Ini memang bukan tentang narasumber dan hebatnya suatu tindakan konkret dan militansi dalam menyusun satu renstra gerakan. Ini memang bukan tentang adu argumentasi dan menyusun kajian komprehensif tentang suatu permasalahan. Ini memang bukan tentang perng wacana penuh konspirasi tentang siapa di balik siapa, dan kepada siapa kita harus berpihak. Ini bukan tentang pertentangan ideologi dan pergulatan ide tanpa henti. Dan ini juga bukan tentang terjun ke lapangan mengorganisasi kelompok masyarakat marginal.

Ini tentang kebersamaan, energi positif, dan impian..

Ini tentang melihat ke dalam diri, mencari ruang-ruang kosong hati yang butuh terisi.

Ini tentang kembali mengkaji dan merefleksi Tentang makna hidup, apa, siapa, mengapa, bagaimana, mau apa?

Seraya bergandengan tangan, meniupkan dukungan dan semangat persahabatan..

Penuh keyakinan, dalam langkah yang begtu mantap, menerjang sepoi hingga badai yang menghadang.

Aku, kamu, kita..

Meniti mimpi merajut asa. Impian kita mungkin beda, yang ku mau yang kau mau, yang mereka mau yang kami mau, tidak mungkin seragam. Tapi pruralisme itu indah, keberagaman itu kaya.

Aku bicara, kamu bicara, kita bicara. Nadanya bisa berbeda, katanya pun tak jua sama. Tapi di depan kita semua, ada lukisan yang sangat indah,, manis,, memberikan sensasi yang sama di setiap diri masing-masing kita. Kata yang tak sama itu, nada yang berbeda itu, mengalun dalam satu desiran yang sama. Desiran yang mengalir lembut, menguakkan semangat dan keyakinan, pada lukisan indah di depan sana.

Ada anak-anak yang tertawa bahagia, mereka belajar tanpa beban. Tanpa sistem pendidikan yang mengungkung, tawa mereka mengalir deras, sederas aliran ilmu pengetahuan yang mereka temukan dan menemukan mereka.

Ada kelompok-kelompok masyarakat di sana, hidup bersih, sehat, dan bahagia. Mampu memanfaatkan apa yang ada. Sampah pun menjadi lebih berharga.

Ada kumpulan-kumpulan orang di sana, memainkan, menyanyikan,menarikan, berbgai budaya yang terus tumbuh di hati kita, lestari, berkembang, mewarnai dunia dengan indahnya Indonesia.

Ada pengetahuan di mana-mana. Tak hanya ssekolah, tak hanya TPA. TV, Koran, radio, website, sajikan berbagai sentuhan yang bermakna. Menyentuh mata, pikir, hati, dan menumbuhkan keluhuran budi di sana.

Ada pemerataan di sana. Aku, kamu, kita. Timur, tengah, barat, utara, selatan, tenggara, barat daya, menamilkan gambaran sejahtera.

Ada kejujuran di sana. Di setiap kata dan sikap para pengemban amanah. Bekerja penuh damai, walau mereka memang berbeda-beda. Tapi sekali lagi, pluralisme itu indah, keberagaman itu kaya. Namun mereka, tetap mau bergandeng tangan, menyingkirkan ego pribadi dan golongan.

Utopis mungkin, absurd memang, tapi siapa peduli???

Mau jaraknya sangat jauh, waktu yang dibutuhkan sangat lama tak perlu jadi beban pikiran. Yang penting, langkahku, kamu, kita terus menuju ke arah sana. Selangkah demi selangkah, tapi lihatlah, lukisan itu indah terbentang.

Dan aku, kamu, kita sedang bergandengan tangan. Berjalan mantap, menuju ke arahnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s