Belajar Mendengar

Mendengar itu bukan dengan telinga, tetapi dengan hati, maka kau akan mengerti.

Sepulang dari ajang Forum Indonesia Muda (FIM) IX banyak yang bertanya pada ku. Lewat sms, lewat FB, dan kebanyakan lewat YM. Pertanyaan dating dari berbagai orang, mulai dari yang tidak tau FIM itu apa, hingga alumni FIM sendiri.

Well, buatku FIM itu ajang silaturahim akbar pemuda-pemuda Indonesia. Bayangkan saja, sekitar 134 peserta berkumpul di sana. Mereka berasal dari daerah yang berbeda. Dari ujung Papua hingga ujung Sumatera, semua ada di sana.

Bisa dibayangkan betapa beragamnya warna di sana. Warna kulit, warna jaket almamater, juga warna perspektif dan ideologi. Ya, perspektif kami berbeda-beda. Cara kami berpikir, cara kami mencerna, cara kami mengolah, dan cara kami menyikapi suatu permasalahan berbeda-beda.

Karenanya jujur, di sana aku lebih tertarik untuk mengobservasi daripada larut dalam perang wacana dan argumentasi. Aku melihat perbedaan di sana. Suatu harmoni yang luar biasa. Seperti yang Imad pernah bilang, pelangi itu indah, karena warna warni, karena memiliki warna yang berbeda-beda.

Aku adalah orang yang ga sabaran, suka geregetan sendiri,  dan pengen cepet dan instan. Tapi di FIM, aku belajar untuk sabar, untuk mau mendengar. Awalnya sulit, karena banyak yang bicara dan semua berbeda. Awalnya aku tak tahu bagaimana membuat semua itu berjalan dalam alur yang sistematis dan lagi-lagi serba cepat.

Namun pada satu tiitk aku sadar, alur itu tak perlu dipaksakan. Cara yang biasa kugunakan dalam FGD, atau diskusi, bukanlah satu-satunya cara. Ada banyak cara. Dan cara-cara yang lain itu bukan tidak efektif. Hanya saja selama ini aku terlalu kaku pada satu cara yang sama.

Dan saat aku tersadar, aku mulai belajar, mendengar itu bukan dengan telinga tapi dengan hati, maka kau akan mengerti. Bahwa setiap kata, setiap kalimat, setiap intonasi, menggambarkan pengetahuan luar biasa, kegelisahan dan keresahan yang harus didengar, dan jalan pikiran yang menarik tuk ditelusuri.

#Toh kalimat-kalimat dan alur yang ada di sana jauh lebih konstruktif dibandingkan konferensi BEM SI yang pernah kuhadiri :p

Keberagaman itu membuatku mendapat tontonan gratis. Berbagai tarian, lagu daerah, beragam seni dan budaya disajikan. Buat ku rasanya amazing banget, rasanya luar biasa. Dan sedikit malu, karena ga satupun tarian betawi kukuasai,, hee. Tapi seriusan, aku ngerasa beruntung banget bisa ngeliat itu semua. Karena emang pada dasarnya aku suka banget nonton seni2 tradisonal.

Dari segi materi, well, klo nyari materi2 yang isinya muatan emang bukan di sini. Kita ga bisa nemuin perdebatan ideologi, perdebatan aliran hukum dan politik, pemahaman dan perspektif HAM, metode gerakan, dan makna gerakan, Pengorganisasian basis massa, atau pemikiran-pemikiran dari Che, Marcos, Pram, Tan Malaka.

Di sini kita lebih diberikan suntikan motivasi dan inspirasi. Bagaimana kita bermimpi, dan bahwa mimpi itu sudah berada di hadapan kita, tinggal kita berjalan ke arahnya.

Dan entah kenapa, semangat kekeluargaan begitu terbangun mungkin karena Pak dan Bu Elmir sebagai penasehat yang menempatkan kami sebagai anak-anak mereka, sebagai satu keluarga. Sehingga tanpa kami sadari, solidaritas begitu saja terbangun di setiap masing-masing kami.

Hari terakhir ditutup dengan menyenangkan. Outbond. Walaupun aku udah sering banget ikutan yang namanya outbond, tapi tetap saja selalu ada hal baru yang menyenangkan. Kami belajar mengenyampingkan lelah, meninggalkan letih. Yang kami bawa dan kami suarakan hanya semmangat. Pokoknya lakukan sebisa-bisanya, pantangmenyerah, dan tak ada kata gagal. Dan outbond nya menyenangkan. 10 permainan, ratusan pembelajaran, ribuan semangat.

Panitia Hebat

Tak hanya soal konsep acara, tapi yang paling hebat dari panitia adalah kecepatan mereka, saya benar2 salut ngeliat sertifikat pembicara yang fotonya diambil pada saat pembicara itu sedang tampil. Atau CD yang langsung jadi ketika peserta sudah harus pulang,, eriusan, persiapan teknis-teknis nya itu bener2 rapi, dan capt,, keren banget Salut,, Makasih ya panitia,, makasih buat segala persiapan yang apik, rapih, dan menyentuh, segala materi, segala ketulusan, kerja keras dan jerih payah,, Insyaallah kalian mendapat lebih dari yang kami dapat,,

Review Diri.

Selama menjadi mahasiswa, saya memiliki optimism luar biasa. Percaya bahwa kemakmuran negeri dan kesejahteraan rakyat akan tercapai. Bahwa suatu saat parlemen dan istana akan ideal (ideal di benakku tidak bersih sepenuhnya. Dinamisasi pasti tetap ada, hanya saja setidaknya mereka lebih berpihak dan bisa diukur dan dikontrol kebijakan dan realisasinya).

Setelah lulus, saya masuk ke dunia di mana saya belajar banyak dan dihadapkan dengan realita. Saya menemukan bahwa yang saya anggap ideal itu sangat jauh dari kenyataan. Saya sampai pada satu titik tidak percaya dengan hukum. Menutup mata karena jenuh dengan segala dagelan politik hukum yang ditampilkan, dan menutup telinga tak mau tahu tentang wacana kenegaraan yang kuanggap absurd, dan ngalor ngidul tak karuan.

Ketika saya dipertemukan dengan teman-teman FIm, pemuda pemudi dari berbagai penjuru bangsa. Yang optimis, yang cerdas, yang kritis, yang peduli, yang menginspirasi. Saya jadi teringat optimisme masa lalu. Optimisme yang kembali mengalir deras di setiap sudut ruangan yang menjadi saksi semangat kami yang takkan pernah henti..

Dan melihat mereka artinya melihat representasi bangsa Indonesia J



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s