Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Cerdas Realita Negeri

Alangkah Lucunya (Negeri Ini):

Satir Cerdas Realita Negeri

Pendidikan adalah alat untuk melompat.

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Muluk, yang menyandang gelar Sarjana Manajemen. Muluk, seperti banyak sarjana lainnya kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Muluk kerap kali ditantang dan disindir untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya Muluk dipertemukan dengan seorang pencopet kecil bernama Komet. Pertemuannya dengan Komet mengantarkannya pada satu pekerjaan yang dilematis.

Film yang digarap Dedy Mizwar ini mengangkat realita sosial dengan komedi satir yang cerdas. Perdebatan diawali dengan penting tidaknya pendidikan. Satu kondisi yang riil dewasa ini, karena pendidikan tinggi ternyata tidak menjamin kesejahteraan sesorang. Buktinya, Muluk yang notabene sarjana, belum juga mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya, Muluk memutuskan untuk berbuat sesuatu terhadap Komet dan teman-teman pencopetnya yang berusia belasan. Dia melakukan kesepakatan dengan bos para mereka yang bernama Jarot untuk membantu para pencopet itu berkembang dengan ilmu manajemen yang ia miliki. Syaratnya, 10% dari seluruh hasil mencopet harus diserahkan ke Muluk setiap harinya.

Judul Film: Alangkah  Lucunya (Negeri Ini)
Jenis Film : Comedy Satire
Sutradara : Deddy Mizwar
Penulis : Musfar Yasin
Produser : Zairin Zain
Produksi : Citra Sinema
Pemain Reza Rahadian, Deddy Mizwar , Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo , Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting , Sonia

Impian Muluk begitu besar, ia ingin anak-anak itu berhanti mencopet di suatu saat nanti. “Pendidikan itu alat untuk melompat,” ujarnya. Menrut dia, menjadi pedagang asongan adalah lompatan pertama, sebelum lompatan-lompatan yang lebih tinggi seperti membuka kios, dan akhirnya membuka mall.

Sehari-hari, kelompok copet ini dibagi menjadi tiga kelompok kecil. Pencopet mall, pencopet pasar, dan pencopet angkutan umum. Masing-masing dari mereka memiliki jargon. Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya. Muluk tidak muluk-muluk dengan langsung melarang mereka mencopet

Muluk tidak sendirian. Dia ditemani Syamsul yang pekerjaan sehari-harinya bermain gaple walau ber-title Sarjana Pendidikan, dan Pipit, seorang pengangguran yang hobinya mengikuti undian. Ketiganya datang ke markas Komet dimana terkumpul sekitar 18 anak. Setiap harinya, ketiganya datang untuk memberikan mereka pendidikan, termasuk pendidikan pancasila, moral, dan agama. Kepada ayah mereka, Muluk dan Pipit mengaku bekerja di bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia suatu perusahaan.

Proses yang mereka lalui bukanlah mudah. Mereka menghadi berbagai masalah, dari mulai ketidakpercayaan dari anak-anak, ketidakinginan diatur, hingga tantangan dari ayah mereka ketika mengetahui anak-anaknya mendapatkan uang dari hasil mencopet.

Hingga suatu hari, jumlah uang yang dikumpulkan sudah cukup besar. Sebagian digunakan Muluk untuk membeli beberapa keranjang asongan. Muluk menyemangati anak-anak untuk beralih profesi dari pencopet ke pedagang asongan. Anak-anak itu menolak karena berdagang asongan lebih lelah dengan hasil yang lebih sedikit ketimbang mencopet.

Saat itulah Muluk dan kawan-kawan mendapatkan tantangan. Orang tua mereka tiba-tiba datang dan mengetahui apa yang selama ini dikerjakan anak-anaknya. Para orang tua yang notabene satu perguruan pesantren itu terpukul dan kecewa terhadap anak-anak mereka. Muluk dan Pipit harus menyaksikan kedua ayah mereka menangis sambil berdoa memohon ampun bersama di masjid dekat rumah mereka.

Akankah sikap orang tua mereka menghentikan perjuangan Muluk dan Pipit? Akankah Syamsul yang mulai merasa hidupnya bermakna harus kembali menghabiskan hari-harinya dengan bermain gaple? Akankah anak-anak itu mengambil keranjang asongan dan meninggalkan profesi mencopetnya? Untuk mengetahui jawabannya, silahkan langsung tonton film ini. Tidak hanya penikmat film, film ini bahkan penting untuk ditonton para wakil rakyat. Hanya saja, film ini dipenuhi satir cerdas yang bisa membuka mata tentang realitas sosial bangsa ini. Perlu suatu pemahaman, agar film ini tak sekedar menjadi komedi penghibur biasa. Apapun endingnya, film ini hendak mengangkat realita yang ada. Dan realita yang ada menunjukkan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

#untuk yang sudah nonton, silahkan lihat ulasannya di

http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/

atau

https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2010/04/17/alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi-2/

One response to “Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Cerdas Realita Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s