Sekolah ala Kopaja

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah konferensi pers menjelang UU BHP dicabut oleh MK. Ada suatu analogi yang menarik yang diungkapkan seorang advokat muda bernama Taufik Basari.

Antara sekolah dengan kopaja,,

Suatu hari saya pulang dari kantor. belum terleru larut, sekitar pukul 21.00. Aku dans eorang temanku menaiki kopaja P20 jurusan Senin-Lebak Bulus. Tujuan kami tidak jauh, kami naik di depan menara imperium dan akan turun di jalan baru, beberapa meter setelah Pasar Festival.

Jalanan saat itu tergolong ramai lancar. Maklumlah, kawasan Kuningan memang selalu ramai hingga malam. Sejak kami masuk, kenek kopaja terlihat sangat sibuk dan waspada terhadap keadaan. Sambil mengambil ongkos penumpang yang baru masuk, mata dan kepalanya senantiasa menengok ke belakang.

Tiba-tiba si kenek berteriak, “enam belas, enam belas.”

Supir: “Kanan atau kiri?”

Kenek: Kanan

dan pindahlah kopaja ke jalur kanan.

Kenek: enam belas pidah kiri

kopajapun kembali beralih ke kiri.

Kondisi tersebut bertahan sekian lama, hingga mobil berpindah-pindah jalur beberapa kali. Tiba-tiba:

Kenek: Sepulur masuk jalur cepat

Sopir: Pantau terus itu, jangan sampai lewat

Tidak lama kemudian,kondisi jalanan mulai renggang, kopaja pun leluasa untuk memacu kecepatan. Dari Pasar Festival, hingga Jalan BAru, kopaja melaju dengan kencang. Dan di Jalan BAru pun kami turun. Tidak lebih dari 5 detik waktu yang kami miliki ketika kopaja itu berhenti.Buru-buru dan hati-hati. Pernah di waktu lain menyaksikan seorang ibu yang sedang turun terjatuh dari Kopaja.

Di saat lainnya, Kopaja justru berjalan sangat lama. berhenti di setiap gedung, memanggil penumpang, melambaikan tangan sambilmeneriakan rute tujuan. Hal ini tentu saja terjadi tatkala Kopaja kekurangan penumnpang. Mereka tak mau jalan, sebelum seluruh kursi dipenuhi. Bahkan harus berdiri.

Di lain waktu si Kopaja sudah penuh. Jam menunjukkan pukul 5 sore tanda waktu kerja telah habis. Penumpang pun ramai. Kopaja yang sudah penuh, terus dipaksa menampung muatan.

————————————-

Taufik Basari menganalogikan pendidikan dengan dan tanpa BHP. BHP menghilangkan peran negara sebagai penanggungjawab utama pendidikan. Ibarat sarana transportasi umum, Tobas ingin membandingkan antara transjakarta dan kopaja.

Transjakarta disubsidi oleh pemerintah. dia bisa berjalan dengan teratur, tidak perlu ‘ngetem’ untuk mendapatkan muatan, berjalan sesuai jalurnya, dengan kecepatan relatif sama.

Si supir tidak perlu memikirkan hal lain, selain menjalankan tranjakarta sesuai dengan relnya, dengan tujuan dari transjakarta itu sendiri. Memilih rute yang tepat, agar transjakarta bisa sampai ke tujuan dengan epat, tepat dan selamat.

Kopaja? Rasanya saya sudah memaparkan panjang lebar..

Begitupun lembaga pendidikan. Adanya tanggung jawab  pemerintah yang dominan dalam bentuk pendanaan, akan menyebabkan lembaga pendidikan fokus untuk menjalankan fungsi pendidikan. pengelola tidak perlu dipusingkan dengan pengelolaan, pendanaan dari luar, membangun perusahaan, berpikir untung rugi untuk membuka usah. Sehingga menjadi lupa sebenarnya pendidikan itu untuk apa. Sebenarnya pendidikan itu barang apa. Sebenarnya pendidikan itu untuk siapa..

#DPR tengah menyiapkan RUU badan hukum pendidikan yang baru. Sementara pemerintah berpegangan pada PP No. 17 tahun 2010 serta berencana membuat permendiknas untuk mempertahankan BHMN.

berita terkait:

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4bc0a8d5bd745/kemendiknas-siapkan-pp-pengganti-uu-bhp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s