Emang Demo ada gunanya??

“Gerakan KOREKTIF dr Gerakan Mahasiswa berbuah manis dg dikabulkannya uji materi #UUBHP,” (Tweet Fadjroel Rahman)

Dari dulu, bahkan hingga sekarang saya sering mendengar
‘ah aksinya ga pake kajian.’ atau
‘mereka demo asal demo aja, tau isunya juga nggak’ atau
‘Emang apa si hasilnya demo2 mulu? Emang ada gunanya?’

Well, saya akui, memang ga semua demo itu tidak semuanya mengubah kebijakan. Karena memang ada saatnya kita demo untuk membangun opini publik, kampanye soal pemikiran yang kita punya, bahkan emang Cuma demo awalan yang dilakukan demi eskalasi masa.

Dan demonstrasi memang bukan satu2nya jalan. Demonstrasi justru harus dilakukan dengan upaya2 lain, dijalankan dengan sinergis dan strategis.

Tapi saya pikir kejadian akhir2 ini seharusnya lebih dari cukup untuk menyadarkan kita betapa kekuatan civil society, termasuk lewat aksi demonstrasi itu memegang peranan penting bagi masyarakat. Teman-teman tentu masih ingat dengan beberapa kisah yang akan saya jadikan contoh, karena memang terjadi belum lama ini.

Prita dengan koinnya. Membukakan mata kita betapa hukum b isa dibolak balikan. Betapa pengadilan masyarakat justru bisa memutuskan lebih baik daripada para sarjana hukum yang katanya terhormat. Pun perkara perdata menjebak Prita membayar sejumlah uang. Tapi secara pidana Prita bisa bebas. Proses peradilan pidananya sendiri berjalan setelah kasus Prita mencuat. Diberitakan di berbagai media massa, aksi-aksi dukungan, Dibuatkan group dukungan di facebook, yang juga menjadi ajang menyatakan pendapat masyarakat menanggapi kasus ini. Bahkan, dengan adanya koin untuk prita yang mencerminkan dukungan masyarakat kepadanya. Bahwa masyarakat sudah memutuskan sebelum pengadilan memutuskan.Putusan (masyarakat) yang justru sangat tepat.

Cinta Indonesia, cinta KPK (Cicak) menjadi gerakan yang populer, dengan group di facebook yang memiliki lebih dari 15 ribu anggota. Saat itu polisi sempat ngotot bahwa penahanan Candra-Bibit sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi masyarakat yang memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menilai hukum berdasarkan nilai keadilan berkata lain. Erbagai aksi pun dilakukan. Hingga akhirnya presiden turun tangan. Walau dengan tindakan yang sangat tanggung, setidaknya salah satu skenario pelemahan KPK dengan menahan Candra-Bibit bisa digagalkan.

Dan kemarin, baru saja kemarin. Prosesnya memang panjang. Juga bukan proses yang main-main dan sembarangan. Bukan proses tanpa kajian yang mendalam. Bukan proses yang tidak dipahami dengan kesadaran kritis yang optimal. Juga bukan proses yang tanpa strategi dan hanya mengandalkan reaksioner dan bergantung pada momentum.

Satu proses yang membutuhkan berpikir, bernalar, bertindak, diskusi, pemikiran, pendalaman, pemahama, kajian, lobi. Membutuhkan berkali-kali yang tak terhitung jumlahnya untuk berdiri, berseru di bawah terik matahari, diguyur hujan, hingga kemudian kering lagi..

Tapi akhirnya, BHP dicabut kan?

Dan saat itu terjadi, segala kelelahan, kesedihan, keputus asaan yang sempat dirasa menguap begitu saja.

Demonstrasi sia2 dan tak berguna?
Semoga mata dan hati kita masih cukup terbuka untuk tidak berpikir demikian,,

Semangat!! Perjuangan ke depannya membutuhkan usaha dan kerja keras yang lebih optimal,,🙂

KajianBem UI soal BHP bisa diunduh di:
http://www.4shared.com/get/252064769/f87fc8b/kajian_ui_fixed.html

Putusan MK: http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/putusan/PUTUSAN%20UU%20BHP_baca_31%20Maret%202010%20-%20Copy%20(2).pdf

Berita terkait:
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4bb37a39de6cc/mk-batalkan-uu-badan-hukum-pendidikan

7 responses to “Emang Demo ada gunanya??

  1. Ping-balik: Tweets that mention Emang Demo ada gunanya?? « Berbagi Dunia -- Topsy.com

  2. aku juga sempet berkomentar kenapa mereka mau capek2 turun dijalan padahal gak jarang opini serta pendapat yg dilontarkan saat demo cuma dianggap angin lalu, dan kemudian kadang dicemoohkan. apalagi melihat kadang mereka bertindak anarkis.tapi sebenarnya walau tampak seperti tak ada guna sesungguhnya pasti akan ada hasil dari semua usaha unutk melontarkan pendapat menyampaikan aspirasi itu walau prosesnya lama.

    • iya mbak, seringkali memang para pendemo dianggap sebagai angin lalu..

      dan yang bisa bertahan justru adalah orang yang sadar bahwa yang namanya advokasi kebijakan itu memang jalan yang panjang dan berliku. sehingga mereka siap menjalani kondisi yang kadang membuat lelah, jenuh, dan merasa diremehkan..

      seiring dengan kebebasan berpendapat, kita memang mencicipi manisnya berdemonstrasi tanpa tekanan, penculikan, kriminalisasi, dll (walau di beberapa kasus masih terjadi)

      tapi bersama dengan itu, kita berhadapan dengan pemerintah yang semakin bebal dan tuli, tanpa peduli apa yang disuarakan..

  3. Sugeng dalu,
    Demo atau demontrasi itu tujuannya untuk memberi tahu kepada audiens bahwa yang kita tawarkan tentunya berguna.Apapun demonya jika disajikan secara menarik maka tujuannya pun akan tercapai (memberi tahu. Soal apa yang akan kita beri tahu itu akan digunakan atau tidak itu sudah menuju pada penekanan dari demo itu sendiri.
    Demonstrasi yang ada di Indonesia untuk menyikapi berbagai masam isu sentral tentunya sudah ada mindset yang rapi bila tidak ingin digagalkan dengan mudah. Masalahnya adalah menyikapi demo yang tersaji secara brutal atau anarki. Orang juga melihat, demo tak jarang lebih disorot oleh media jika dilakukan dengan aksi yang fenomenal. tanpa aksi itu, anggapan angin lalu itu sudah biasa, setidaknya pernah aku alami waktu dulu.
    Beberapa negara di luar menyajikan demo dengan lebih atraktif, dibarengi dengan penarikan simpati dari publik yang mungkin bisa dikatakan golput soal politik (lain halnya soal nonpolitik), namun pembelajaran bagi publik bisa tersaji di media.
    Itu PR bersama untuk memeberikan pendidikan politik yang makin bijak dengan penekanan diterimanya masyarakat sebagai hal yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka.
    Salam,

    Tokoh
    (tokoh_easy@yahoo.co.id)

  4. itulah yang saya pikir kita semua sudah ikut pasar,,

    sinetron cengen ga mendidik tetap diproduksi karna laris manis di indonesia. saya kangen sinetron seperti Keluarga Cemara..

    Begitupun soal demonstrasi. Media menyoroti apa yang dianggap menarik oleh pasar. Salah satunya demo menjadi tidak menarik kalau hanya begitu2 saja,, Karena nya media lebih suka menyoroti kalo rusuh.

    Nah akibatnya, para pendemo pun mengikuti selera pasar. Akhirnya demo rusuh jadi kebutuhan agar aspirasi mereka tersampaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s