sekedar berbagi

Re post

(pertama kali ditulis 24 Februari 2010)
Menginjak empat bulan sudah aku mendapatkan pengalaman sebagai wartawan,,
*eh, ralat, baru empat bulan.
Menjadi wartawan merupakan impian tersendiri yang kupendam sejak duduk di SMA, yang tak terduga akhirnya kesampaian juga.
Aku memimpikannya, karena ingin melihat dunia yang luas. Dunia bukan dalam arti himpunan Negara-negara besama kondisi geografisnya. Tapi dunia spectrum berpikir yang sangat luas, dan tak akan pernah menemukan ujungnya.
Benar saja, aku menemukan banyak hal di sini. Dari yang bikin senang, hingga yang bikin geleng2 kepala. Aku hanya ingin membagi sedikit saja dari apa yang kutemui di sini.
Tentang perjuangan yang tak pernah berakhir, air mata, semangat, dan optimisme…

Tak perlu ditanya, soal para aktivis LSM dan LBH. Sudah banyak yang menulis tentang mereka. Aku pun tak ragu mengangkat topi, dan menyanjung mereka. Kegigihan, ketulusan, dan semangat berbagi adalah hal nyata yang jelas kulihat dan kurasa.

Tapi bukan mereka yang ingin kuceritakan. Yang ingin kuceritakan adalah sederet nama yang mungkin tak satupun kau mengenalnya.
Ada seorang Bapak yang terus gigih memperjuangkan keadilan. Rumahnya jauh, di dekat perbatasan Timor Leste sana. Dia pernah dituduh melakukan penyelundupan. Polisi pun meminta uang tebusan dengan janji dia akan dilepaskan. Tawar menawar terjadi si Bapak tak bersedia, dijebloskanlah ia ke penjara. Sejumlah kaleng soft drink bernilai puluhan juta modal dagangnya dirampas. Dinyatakan tidak bersalah, soft drink itu tak dikembalikan juga. Ia pun memperjuangkan haknya ke Pengadilan Tinggi Kupang, hingga menginap di sana. Tak ada hasil, dia terus berjuang. Hartanya sampai habs. Tanah tak lagi dia punya. Hingga dia daang ke Jakara. Terlunta-lunta. Di saat saudara seumatnya menikmati hari raya natal dengan penuh suka cita, entah dia bermalam dimana.
Ada seorang Ibu datang dari Jambi. Di kampungnya dia punya ladang, atas nama menantunya yang ditaksir sebah perusahaan yang memaksa ingin membeli ladang itu. Dia dan keluaganya tidak mau melepaskan. Keluarlah ancaman, ‘kalau ibu tidak mau menjual ladang itu, saya akan bayar Kapolri, Ibu bisa ditangkap’. Tak berapa lama kemudian ditangkaplah sang menantu. Dijemur setengah hari penuh, hingga pening, dan dipaksa menandatangani surat yang tak boleh dilihat isinya. Masih juga dituduh menyerobot tanah, dipindah ke tahanan yang jauh dari rumah dan disidang. Uang 7 juta yang diberikan koperasi setempat pun digunakan untuk membaya pengacara. Tapi mereka ditipu. Si pengacara tidak mau meneruskan membela menantu si ibu. Jadilah dia ke Jakarta, menumpang truk ke sana ke mari, hanya dengan sehelai pakaian yang melekat dan uang Rp200 ribu. Air matanya tak pernah berhenti bercucuran ketika kisah ini dia tuturkan.

Ada lagi seorang waria yang aktif mengadvokasi teman2nya. Kaena waria memang rentan terhadap tindak diskriminasi dan kekerasan. Dibunuh, disiksa, kasus terakhir adalah penyiksaan yang dilakukan polisi.
Ada seorang yang tanahnya akan digusur. Dia tidak tinggal diam dan berpangku tangan. Dia pun turut aktif menlakuakan advokasi. Dari mulai menyuarakan aspirasi mereka ke pejabat, hingga demonstrasi.
Ada seorang Bapak yang anaknya tidak lulus UN. Padahal, si anak selau mendapat ranking 10 besar selama SMA,-dan FYI dia bersekolah di SMA yang cukup bagus. Bapak ini adalah pengusaha. Namun sejak 2006 anaknya menjadi korban UN, dia melepaskan usahanya. Aktif dalam kegiatan2 advokasi hingga saat ini. Sebagai pihak yang mendaftar dalam gugatan citizen law suit. Diskusi ke sana ke mari, Komnas Ham, pemerinah, DPR, juga demonstrasi. Dia bertekad, tidak akan kembali berusaha sebelum UN dihapuskan.
Ada sekumpulan buruh migrant yang terus berteriak akan nasib mereka dan teman2 mereka. Mereka yang disiksa, yang gajinya tidak dibayar, yang diperkosa, yang dirampas hak-hak mereka justru di terminal khusus TKI bandara Soekarno Hatta.
Ada sekumpulan keluarga yang menanti anak, adik, kakak mereka yang menjadi korban kasus penghilangan paksa. Aktivis 1997/1998 saja masih 13 orang yang hingga saat ini belum ditemukan. Hidup atau mati mereka sudah pasrah. ‘Jika hidup kembalikan dia, jika mati, tunjukanlah Dimana dia dikubur,’ itu saja harap mereka.

Ahh, masih banyak, masih sangat banyak. Bahkan yang kuceritakan di atas tak mampu menjagkau kedalaman emosi masing-masing kisahnya.

Apa yang kudapat membuatku terpesona. Tepesona dengan cara-Nya mengajarkanku tentang hidup. Apabila kisah di atas Anda anggap menggambarkan kesedihan dan kenestapaan. Anda salah besar. Karena di dalam tiap kisah, seberat apapun itu, sepedih apapun rasa yang mereka alami, ada satu rasa yang sama. Rasa yang kuat. Rasa yang pekat. SEMANGAT, ya mereka tidak berputus asa. Mereka korban, sekaligus pahlawan. Mereka sanggup mempejuangkan keadilan untuk mereka sendiri. Walau seakan keadilan itu adanya jauh sekali. Tapi lihat. Lihat bagaimana mereka tetap berjuang. Lihat bagaimana keterbatasan yang mereka miliki, harta yang habis, pakaian yang hanya satu yang melekat di badan, relasi kekuasaan yang timpang dengan pemilik modal, pemerintah yang tak peduli, mereka tetap berjuang. Tekad mereka tak pernah berkurang.

#Sekali lagi, benar2 terpesona dengan cara Allah mengajarkan hidup Semoga hati ini senantiasa tertunduk dalam rasa syukur yang tak berkesudahan.

3 responses to “sekedar berbagi

  1. Salam kenal,
    Maaf kawan, beberapa hal darimu relah kubaca dan kuambil sebagai bahan rujukan diskusi. Tentunya aku tak lupa berterimakasih padamu atas smua yang kau posting ini. Sungguh, menarik sekali. Uraian simpelmu mudah kucerna, seakan memang tanpa ada rekayasa dan hanya kejujuran semata yang kau sajikan.
    “Kita hidup untuk diri sendiri atau orang lain”, tanya seorang teman kepadaku. Itu saja kawan, semoga dapat mengispirasimu..
    salam,

    Tokoh

  2. waw, kehidupan wartawan seru juga ya ka?
    postingannya bagus banget, inspiratif dan mengajarkan kita untuk terus berjuang tanpa kenal lelah…
    SEMANGAT!

    nb: keep posting hal-hal yg seperti ini ya ka ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s