Perempuan Itu

Cerita I

Perempuan itu menatap nanar ke selembar foto hitam putih di tangannya. Mengenang masa ia mengikatkan diri pada pernikahan impian. Saat ia Nampak polos di dalam make up yang sederhana, di dalam sehelai baju yang juga sederhana pengantin Jawa. Di sebelahnya, sosok itu. Sosok yang begitu ia kenal. Sosok dimana ia tautkan kesetiaan yang begitu kokoh. Serta pengabdian yang begitu teguh. Setitik air mata menetes, diikuti butir-butir yang semakin deras. Kesetiaan.. masih adakah artinya saat itu..

Baru saja hitungan hari berlalu, ketika lelaki yang begitu ia kenal bersimpuh di hadapannya
“Maafkan Papa Ma, Papa Khilaf. Semua salah Papa”
“Apa kurangnya Mama di mata Papa?” suara miris perempuan itu bergetar hebat ketika bicara.
“Nggak ada Ma, bukan karena Mama, semua karena salah Papa”
“Apa salah Mama Pa? Apa yang ga mama kasih ke Papa? Apa lebih nya perempuan itu dibanding Mama?”
Dan lelaki yang ia cintai sepenuh hati itu hanya menangis. Bersumpah atas nama Tuhannya bahwa tak ada yang salah dari perempuan itu.

Perempuan itu pun termenung. Masih mencari alasan yang tak juga terasa masuk akal. Masih bertanya apa yang membuat kekasihnya tercinta. Suami yang begitu ia puja dengan kepatuhan dan kesetiaan yang luar biasa. Berpaling pada perempuan lain. Seorang janda, seorang penjual nasi uduk, yang sempat menjadi buruh cuci untuk menghidupi ketiga anaknya. Tapi juga seorang perempuan yang jauh lebih muda. Tak lebih dari lima tahun usianya lebih tua daripada anak pertama perempuan itu..

“Sejak kapan Pa?”
“Tujuh tahun yang lalu”
Tujuh tahun. Tujuh tahun kebohongan itu telah bergulir. Bahkan sang suami sudah memiliki anak dari yang lain itu. 6 tahun usianya. Tujuh tahun. Bagaimana mungkin kebenaran itu tersembunyi di dalam kepercayaan si perempuan yang tak ada habisnya..

Tujuh tahun terakhir, dia percaya saja ketika suaminya bilang harus mengantar dagangan ke pelanggan di luar kota. Mengizinkannya dengan doa yang tulus ketika si suami harus menginap di kota tersebut. Hampir seminggu sekali. Tujuh tahun terakhir, tak ada rasa curiga sedikitpun. Di hari-hari ketika seorang perempuan menelfon suaminya selama berjam-jam. Dan sang suami menutup tirai ruang tamu ketika menjawab telfon itu di ruang tamu. Pelanggan. Satu kata itu cukup untuk menentramkan hati si perempuan. Hingga tak bertanya, semata-mata karena kepercayaan yang mendalam.

Tujuh tahun terakhir ia lalui tidak dengan mudah. Tebayang hari-hari panas. Ketika perempuan itu bolak-balik ke pasar Tanabang. Membeli bahan untuk membuat seprei. Menenteng dua kantong plastik dengan beban yang tak ringan masing-masing di kedua tangannya. Untuk menambah penghasilan suaminya yang saat itu menurun drastis. Bahkan noda hitam di wajahnya masih pekat tanda disentuh oleh cahaya matahari begitu lama.

Tujuh tahun lalu, teringat ketika tiba-tiba aja sang suami memiliki utang yang menumpuk. Dan ia relakan anak mereka memilih untuk di PHK. Agar pesangon yang didapatkan digunakan untuk membayar utang Bapaknya. Dan hari ini perempuan itu menjadi bertanya-tanya. Adakah utang itu untuk biaya pernikahan suaminya? Pernikahan dalam kebohongan yang ia simpan selama Tujuh tahun terakhir ini.

Dan tiba-tiba seorang ustad mendatangi perempuan itu.
“Menjadi isteri pertama itu berkah. Allah menjanjikan surga sebagai balasannya”
Perempuan itu hanya diam. Sementara hatinya terkoyak begitu dalam.
“Kalau Ibu tidak bisa terima, artinya Ibu belum paham mengenai hukum Allah”
Perempuan itu hanya berdoa di dalam hatinya. Sungguh ia tidak memungkiri satupun dalil sang kuasa. Sungguh tak ada setitikpun keraguannya kepada ke Maha Esaan Allah SWT. Tapi bukankah Allah mensyaratkan adil. Bagaimana bisa adil ketika dia saja tidak tahu suaminya menikah lagi. Jangankan izin dia lontarkan. Dan salahkah apabila ia memilih untuk tidak sanggup dimadu? Walau ia tahu imbalan surga memang dijanjikan Allah. Tapi rasa sakit itu amat nyata. Dan perasaan mual begitu dasyat melanda. Ketika ia membayangkan sang suami bersama perempuan lain. Bermesraan, melakukan hubungan suami isteri. Rasa mual itu begitu tak tertahankan. Walau bayangan itu hanya sedetik menghampirinya.

Cerai, kata itu tiba-tiba terlintas. Perempuan itu mengubungi kakak iparnya. Sekedar untuk curhat, dan tiba-tiba kata cerai terlintas begitu saja. Terucap sekilas, dan apa yang ia dapat? Sang kakak ipar terdengar tidak bersimpati sedikit pun.
“yah, wajar lah namanya juga laki-laki, Jangan terlalu dibesar-besarkan”
Kecewa. Tentu saja itu yang dirasakan si perempuan. Seraya menarik nafas panjang tak habis pikir, ia letakkan gagang telfon itu. Seketika ia menyadari putri kecilnya mendengar pembicaraanya di telfon. Si perempuan pun menghampiri anak terakhirnya yang sebentar lagi akan menempuh ujian kelulusan SMP. Hatinya teriris karena putri kesayangannya hanya menangis. Tak berkata sepatahpun. Hanya membasahi pelukannya dengan air mata yang hangat.
“Kita harus kuat ya Nak, kita harus saling menguatkan”
Dan sang puteri hanya mengangguk. Tetap tanpa kata.

Di hari-hari berikutnya, putri kesayangannya bicara.
“Papa aja yang aku tahu banget kalo papa sayang sama mama bisa kayak gitu, apalagi cowok yang baru aku kenal satu dua tahun ya Ma? Mendingan aku nikah sama cowok yang ga aku cinta. Biar kalau dia macem-macem, akunya ga terlalu sakit.”
Dalam hatinya perempuan itu berucapa
“ Ya Allah, cukup aku saja yang merasakan sakit ini. Kenapa putri kecilku juga harus menanggung trauma. Berikan ia yang terbaik ya Allah. Buat ia percaya bahwa ada kebahagiaan yang Kau siapkan untuknya.”

Cerita II

Seorang perempuan yang lain. Usia menjelang 50. Namun dengan keriput di wajahnya yang membuat ia terlihat lebih tua dari usianya. Dengan tatapan mengambang bercerita pada seorang gadis yang baru ia kenal. Seorang mahasiswa. Yang datang untuk mewawancaainya seputar pendidikan di daeranya. Namun entah kenapa si perempuan bercerita bebas saja. Mungkin hanya butuh sekedar membagi beban hidupnya. Mendapat teman bercerita walau hanya ia kenal sebatas nama.

Suaminya sudah meninggal. Dan rumah yang ia tempati di atas tanah yang ia beli sendiri, malah harus ia bagi dengan isteri pertama suaminya. Ketika suaminya masih hidup pun, nafkah yang diberikan hanya sekedarnya. Dan si perempuan begitu gigih. Sebagai tukang pijit, ia kumpulkan sedikit demi sedikit lembaran rupiah. Asal anaknya bisa sekolah. Dan kini setelah anaknya mulai dewasa. Bekerja dan memiliki penghasilan. Si perempuan tidak lantas diam saja. Tetap memberikan jasa pijatnya. Dan membuka warung kecil-kecilan di rumahnya. Gaji anaknya yang tak seberapa, digunakan untuk keperluan seorang anak kecil yang diasuhnya. Anak kecil yang walau tak ada hubungan darah dengannya tapi bisa membuatnya berjuang mati-matian. Termasuk berdemonstrasi agar si kecil bisa bersekolah di SD negeri sekitar rumahnya. Uang yang dihasilkan dari warungnya tidak seberapa. Bahkan tidak ada untung. Hanya saja ia bisa ikut makan lauk pauk yang dijualnya. Itu saja untung baginya.

Perempuan itu, berkeluh kesah tentang menjadi isteri kedua. Tentang bagaimana cemoohan dan sikap tak enak dari isteri pertama. Tentang hasil kerja kerasnya yang terkadang harus ia bagi dengan keluarga suaminya yang satu lagi. Hingga kini pun anaknya masih harus membagi gajinya dengan isteri pertama sang Bapak. Betapapun sang isteri pertama, dirasa tak pernah habis sindiran dan hinaannya. Semua dia terima. Sebagai resiko yang memang harus ia tanggung sendiri.

Cerita III

Perempuan yang lain lagi. Melangkah perlahan dengan sedikit terseok. Usinya belum mencapai 40. Namun bias-bias penderitaan membuat wajahnya menjadi terlihat senja. Dia tetap mencoba berdiri, walau langkahnya hanya terseret. Mencoba terlihat tabah walau kegalauan tak pernah meninggakan hatinya.

Suaminya. Laki-laki yang telah memberikan 4 orang anak. Terlihat semakin baik fisiknya. Semakin memancarkan pesona. Sebagai seorang pria yang memiliki dua isteri. Dua isteri yang tidak ribut. Dua isteri yang terlihat rukun. Membuat ia bangga dengan keseolah-olahan bahwa ia berhasil adil dalam menjalani sandiwara poligaminya.

Sementara si perempuan. Semakin terkikis hatinya. Namun tak ada keluh yang pernah ia keluarkan. Semua ia tutup rapat hanya untuknya saja. Pasrah. Toh, tak mungkin meminta cerai. Tak bisa lepas dengan alasan untuk kepentingan anak-anak. Karena ia, perempuan yang mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga. Tak sekali pun bekerja. Menjadi Ibu rumah tanggak sejak lulus SMA, ketika pria itu menikahinya. Maka ia hanya pasrah. Tak mampu melawan nasib, betapapun hatinya didera penderitaan yang luar biasa.

Bersikap seolah-olah ia baik-baik saja. Tidak menolak kehadiran madunya, apalagi berani melontarkan kata cerai. Juga demi menjaga image suaminya. Hanya satu yang ia tak sadar. Bahwa sinar diwajahnya menjadi pias. Bahwa tubuhnya semakin layu. Dan semua orang bisa melihatnya.

Perempuan itu adalah aku. Juga perempuan-perempuan lainnya adalah aku. Karena aku perempuan. Perempuan yang banyak dimarginalkan. Perempuan yang mengalami relasi yang timpang. Perempuan yang senantiasa menjadi nomor dua. Atas nama budaya. Ahh, bukankah budaya bisa diubah? Atas nama agama. Padahal yang kupahami islam justru mengangkat derajat perempuan.

Perempuan yang tetap teguh di tengah badai. Namun juga menyerah pada kepasrahan. Perempuan yang sanggup bertahan pada kesetiaan. Walau kesetiaan itu tampaknya bukan kata yang diperuntukkan padanya. Perempuan yang masih saja dikorbankan. Yang oleh emansipasi selalu ingin diangkat. Namun dijatuhkan lagi oleh konstruksi budaya yang mapan. Yang terinternalisasi berabad-abad lamanya. Menjadi doktrin yang tak juga terpatahkan. Perempuan yang bukannya tidak merasakan penderitaan. Namun penderitaan itu begitu dilegalkan. Begitu diwajarkan. Begitu dibiasakan..Perempuan yang….. Ah, sudahlah. Toh tak semua di antaranya sadar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s