Tentang Politik, Polarisasi dan Halusinasi yang Tak Disadari

Bukannya kita tidak sadar ketika fundamentalisme itu menguat. Tidak instan, dia merasuk di berbagai lini kehidupan. Terutama, pendidikan. Terejawantah melalui tatapan sinis dan cibiran terhadap tubuh yang tak penuh terbungkus. Hingga kontrol atas tubuh, dan ruang gerak perempuan yang dibekukan dalam pasal-pasal kebijakan.

 

Ketika dia bergenggam erat dengan kepentingan politik. Memainkan narasi tentang kafir, bahkan Cina, bukankah ini sudah kita prediksikan. Bukan berarti diri harus skeptis, hanya saja berusaha untuk tidak reaktif. Diam bukan berarti tak peduli. Tapi mengamati sepenuhnya, menganalisis, hingga menentukan siasat yang paling tepat. Jika kau anggap ini lambat, mungkin untuk mencapai sebuah kecakapan yang cepat butuh proses pembelajaran yang panjang. Proses kami, pengalaman kami, ini yang bisa dilakukan.

 

Lalu ketika muncul -isme lain sebagai respon dari sang Fundamentalisme, kenapa kita seolah membenarkan. Seakan-akan dia muncul sebagai antitesis. Apakah kita lupa bahwa selama ini Fundamentalisme, Militerisme, bekerja bersama Patriarki dan menindas perempuan habis-habisan, berlapis-lapis. Bukankah ketakutan diciptakan oleh keduanya, secara saling menguntungkan? Menyisakan kita senantiasa ada di pihak yang kalah. Meski segelintir kita merasa menang. Bicara tentang halusinasi. Kita semua bisa menjadi korban, namun tetap merasa menang.

Climate Depression

Screen Shot 2019-03-26 at 15.49.19

 

According to some articles that I found in Google, Climate Depression refers to “The mental health effects of global warming.” It includes depression, increases in stress, negative mental health and resignation about the future.

 

And it’s real!

 

Some people might think that I am very lucky to get a very huge opportunity in experiencing international negotiation such UNFCCC. I’ve met a lot of people there. Artists, Activists, who’ve been struggling for a long time to save the world. Yes, I am glad to meet them, and learn a lot from them. As well as to share and gather a lot of energies to continue the struggle.

 

But as I said before, Climate Depression is real. For me, it is not only about the report that show us how this earth is already hurted, and will be wrecked after reach above 1,5 degree Celsius. In fact, I am not that lucky to only meet those good people I mentioned above. Unfortunately, I also have to meet them, Government, Companies, so I have to witness that all influential persons don’t have any willingness and efforts to save this earth.

 

I witness how this world are made to extend the disparity between rich and poor, to improve gap of power structure in every context. They are who have power will do everything, to makesure that they don’t have to share their power with others.

 

If you think that UNFCCC will seriously talking about how to save the earth, and the sustainability of our life, well, this negotiation is more become a space for industries and developed countries to escape from their responsibilities. This negotiation keep resulting ideas about how to keep the industries going on as business as usual, while giving more burdens to people

 

Let me show you some simple examples.

REDD+. The logic is simple. Developed countries who have money can pay to poorer countries such as Indonesia, to save carbon, so they can continue to pollute with their industries. Meanwhile, Indonesia has to restrict their forest from the people who’ve been depend on their forest as their livelihood resources since centuries ago. They are who taking from the forest but also preserve it so it can be sustain. In that case, the rich countries, still able to make money. While people in Indonesia are losing their livelihood resources and trapped in the impoverishment.

 

Palm Oil as Biofuel. Come on, we all know how palm oil industry are the big problems in Indonesia (and other places). Not only destroying our bio-diversity, but also resulting land grabbing and human rights violation. But suddenly it appears as ‘solution’ for energy transformation. Who will get benefit, clearly the industry, and some consumers who able to pay more. But for people in Indonesia, it will expand our suffers.

 

Insurance for Loss and Damage. It is not a solution for people who already impacted or potentially impacted by climate change. It’s just the insurance companies trying to making money and get benefit from disasters.

 

When I know some women in community, personally. They are who will be the most vulnerable groups in experiencing climate disasters. They are who have initiatives to manage the forest, and other natural resources. With all they heart, considering sustainability, because for them, forest is their life. But I have to witness how the negotiation are keep producing false solution, avoiding women and community’s rights, and never care that we only have this earth for living. For future generation. For sustainability of life.

 

Here is a bonus. a song to play while you read this 🙂

Menyatakan Golput, Karena Nyatanya Kita Tidak Baik-baik Saja

Apatis, merugi,[1] pengecut, pecundang,[2] tolol, ga berguna, cari perhatian, tidak cinta pada negara, tidak strategis, tindak pidana, hantu, sampai TAIK[3], kata-kata yang dilontarkan kepada Golput akhir-akhir ini.[4]

Screen Shot 2019-02-03 at 00.58.18

Aneh. Golput itu ya biasa-biasa saja. Periode ke periode, Golput selalu ada, dengan berbagai alasannya.

Untuk kali ini, bagaimana bisa memilih Prabowo ketika kita ikut melingkar di aksi kamisan, diskusi dengan mereka yang pernah diculik, mewawancara langsung seorang Ibu yang anaknya dihilangkan paksa, tanpa ada kabar, bahkan hingga si Ibu meninggal dunia.

Bagaimana bisa memilih Jokowi ketika perampasan lahan, kekerasan, penangkapan, pembunuhan, dan kriminalisasi aktivis, kita geluti sehari-hari. Di Kulonprogro, Ogan Ilir, Takalar, Teluk Makassar, Tumpang Pitu, Taman Sari, Teluk Jakarta, Gunung Solok, di Papua, di mana-mana. Pun bertahun-tahun aksi kamisan tak ditanggapi secara serius oleh Jokowi yang sudah berjanji di nawacitanya. Sampai hari ini pelanggaran HAM masa lalu tak pernah disentuh apalagi diselesaikan. Malah deretan pelanggaran HAM terus bertambah

HAM bukanlah daftar check list yang dilihat sebagai pilihan. Bukan tentang melawan penculikan, namun kompromis terhadap perampasan lahan dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Prabowo adalah Orba. Banyak yang bersepakat dengan ini. Tapi bukankah Jokowi juga Orba?

  • Wiranto, Hendropriyono, Luhut Panjaitan, dan jenderal-jenderal Orde baru lain di belakangnya
  • Berbagai kejadian persekusi, terhadap kelompok minoritas orientasi seksual dan ekspresi gender, maupun minoritas politik yang didukung pembiaran bahkan difasilitasi oleh aparat keamanan maupun pernyataan dukungan pemerintah
  • Razia dan penyitaan buku-buku kiri dan yang dianggap kiri, pelarangan dan pembubaran diskusi, hingga pelarangan ibadah yang lagi-lagi juga didukung dan difasilitasi aparat
  • Penyelesaian Konflik Agraria dengan pendekatan represif dan militeristik
  • Keterlibatan Militer dalam Pertanian
  • Perppu Ormas, yang kemudian menjadi UU Ormas (Perubahan), RUU Permusikan, dan penggunaan UU ITE yang berpotensi maupun telah membungkam Hak Warga Negara

Kurang Orba apa??

Dan orba bukanlah sekedar bicara soal represi, dan militer. Orba juga mencerminkan perampasan hak-hak dan sumber kehidupan masyarakat atas nama ‘pembangunan’.

  • Berbagai proyek yang merampas sumber-sumber kehidupan rakyat
  • Aparat keamanan negara sebagai pengaman perusahaan
  • Orientasi Kebijakan Mempermudah Investasi, di antaranya PP One Single Submission, yang memungkinkan pengusaha/perusahaan mendapatkan izin sebelum AMDAL beres, Pencabutan Perda-perda dan Peraturan Mendagri yang memperketat Investasi, berbagai Perjanjian Perdagangan Bebas yang telah ditandatangani maupun sedang dinegosiasikan, dan lain sebagainya.

Belum lagi deretan nama pengusaha tambang, sawit, dll yang ada di belakang kedua calon, menjadikan ke-Orbaan Jokowi dan Prabowo semakin paripurna.

Maka pilihan sebagai Golput seharusnya sudah tidak lagi dipertanyakan. Pertanyaan yang kemudian dimunculkan kepada kami adalah kenapa Golput harus ribut? Kenapa tidak diam-diam saja? Belakangan, Golput justru mendapatkan banyak sorotan, caci maki (seperti di paragraf  pertama tulisan ini), bahkan diancam-ancam pidana dengan interpretasi pasal yang diada-adakan. Golput dimasukkan pula sebagai Ancaman Faktual di dalam Inpres Bela Negara

Mereka bertanya, ‘Kenapa Golput harus dinyatakan?’

Pertanyaan saya, ‘Kenapa Golput tidak boleh dinyatakan?’

Kenapa ketika menyatakan bahkan mengkampanyekan Jokowi-Prabowo bebas-bebas saja, lalu menyatakan Golput menjadi masalah?

Bagi saya, Golput merupakan sebuah sikap politik yang memang perlu dinyatakan. Di saat banyak yang terlena dengan jalan tol, bagi-bagi sertifikat, ataupun kursi-kursi pemerintahan [dan saham-saham BUMN] untuk segelintir orang yang masih mengaku Kawan, kita perlu suara yang mengkritisi. Sekedar mengingatkan untuk bilang, bahwa KITA TIDAK SEDANG BAIK-BAIK SAJA. Bahwa negara ini dijalankan dengan arah maupun sistem politik dan pembangunan yang tidak baik-baik saja. Bahwa berbagai penggusuran dan pelanggaran HAM yang terjadi adalah tidak baik-baik saja. Bahwa kekerasan, tuduhan, dan persekusi terus menerus terhadap kawan-kawan Papua, korban dan aktivis 65, kawan-kawan LGBT terutama transpuan adalah tidak baik-baik saja. Bahwa politik identitas yang dimainkan kedua kubu, tidak baik-baik saja. Bahwa demokrasi di Indonesia yang masih mengejar prosedural, dan menghilangkan substansi demokrasi itu sendiri, yaitu Hak Asasi Manusia, tidak baik-baik saja. Bahwa secara spesifik, sistem Politik dan sistem Pemilihan Umum hari ini juga tidak baik-baik saja.

Silahkan saja kalau mau pilih Jokowi, atau pilih Prabowo. Apapun hasilnya pemilu ini, tidak akan mengubah nasib kita yang terus ditekan dan ditindas. Kita telah bergelut dalam perjuangan setiap harinya. Sekian detikmu di bilik suara tidak akan membuat perjuangan menjadi lebih mudah.

 

NB:

Ga usah berharap mereka serius soal isu perempuan, kalau yang bisa mereka ungkapkan hanya sebatas perempuan di kursi menteri atau wakil ketua partai.

 


[1] Mahfud MD

[2] Budiman Sujatmiko

[3] Alit Ambara

[4] Kata-kata yang lain meski tidak mencantumkan narasumbernya namun nyata muncul di berbagai media sosial. Berkali-kali.

Ngelindur

Adakah kiranya sisa energi yang bisa kau bagi? Di tengah hari penuh kehampaan di mana jemari hanya bisa bergerak menurut perintah sang otak. Bersemburan kata demi kata yang melintas begitu saja tanpa dirangkaikan. Malam sudah lewat. Dini hari masih menjelang. Mata tak mengantuk. Meski lelah telah menggantung siap menghadang. Apalah aku ini di antara miliaran manusia yang masing-masing berjalan ke arah yang berlainan. Kadang dengan tujuan, kadang mengikuti saja kaki melangkah.

 

Ah, kakiku yang mulai kebas. Mataku yang mulai berkedut. Rambutku yang tidak rontok namun helainya kian menipis. Rasa-rasanya menjadi lebih tua dari usia. Tak bisa dicegah, meski setengah mati mencari jalan. lalu sampai kapan bisa bertahan? Mana aku tahu?

 

Sejauh mana manusia punya kuasa atas dirinya? Sedang hidup mati saja tak berani diputuskan sendiri. Lalu haruskah kita menyerah dan mengakui akan adanya kuasa besar yang mencengkram hidup kita? Adakah kita memang hanya wayang, meski sang dalang tak pernah kelihatan wujudnya?

 

Untuk apa hidup? Hidup untuk apa? Itu saja yang menari-nari menjadi tanya. Tanya yang mungkin bisa saja dijawab. Tapi bahkan diri ini yang mengajukan tanya, hanya ingin lemparkan tanya. Tanpa ada keinginan untuk menjawabnya.

 

Apalah yang bisa dijawab? Memangnya jika terjawab lalu mau apa? Apa bisa mengubah kuasa? Apa bisa mengubah langkah-langkah yang setiap hari itu-itu saja? Langkah setia menyusuri jalan dengan tujuan tak berwujud. Jalan terus sekedar untuk mengisi hidup.

 

Malam telah lewat, Kawan. Dini hari pun belum datang.

Dan ngelindur menjadi satu-satunya yang mampu dilakukan.

Pembelajaran, Energi, dan Persahabatan yang Jujur

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.49

Persahabatan yang jujur adalah adalah alat politik utama dari pergerakan kita

(Komunike Musyawarah “Dunia Warga Yang Melampaui Kuasa Bank”)

Rasa-rasanya merupakan kalimat yang repesentatif menggambarkan pembelajaran yang didapatkan selama berproses dalam perlawanan terhadap Bank Dunia, IMF, dan sistem ekonomi global. Ini tentunya bukan sekedar kegiatan. Karena World Beyond Banks sendiri tidak dirancang untuk hanya sekedar menjadi kegiatan. Bukan hanya melalui World Beyond Banks, perlawanan juga digelorakan melalui beberapa kegiatan lainnya seperti Festival Pangan Perempuan, dan Feminist Carnival.

WhatsApp Image 2018-10-15 at 23.41.53

Persahabatan yang jujur.

Ini telah menjadi refleksi besar dan dalam sejak sebelum kegiatan dimulai. Tentu saja persahabatan yang jujur tidak bisa didapat lewat senyum pemerintah yang tak pernah berpihak pada rakyatnya. Persahabaran yang jujur juga selayaknya tegas berposisi terhadap ruang keterlibatan yang disediakan oleh aktor-aktor serupa Bank Dunia dan IMF. Atas nama perbaikan mekanisme, atas nama perbaikan standard pengamanan, nyatanya menambah deretan legitimasi agar ia bisa terus melancarkan serangan. Merampas tanah, air, dan sumber-sumber kehidupan, menenggelamkan desa, merusak tatanan sosial, budaya dan ilmu pengetahuan, membunuh manusia, dan menambah lapisan penindasan perempuan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.02

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.26

Maka pilihan kami kemudian menjadi tegas. Sejak awal gagasan World Beyond Banks dibangun dengan kesepakatan bahwa kami tidak mengkritisi Bank Dunia dan IMF sebagai institusi, melainkan sebagai sebuah ideologi. Ideologi yang kemudian menghadirkan paham-paham serupa ekstrativisme, infrastrukturisme, moneteisme, dan komodifikasi.

Sejak hari pertama pun Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah ‘dimatikan’ sebagaimana yang tertuang di dalam narasi dan video framing. Maka pilihan kami tegas bahwa yang banyak perlu disuarakan adalah korban, komunitas yang mengalami langsung berbagai persoalan ketidakadilan dan penidasan akibat sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan ideologi keruk ini. Mereka yang juga memiliki geliat dan inisiatif tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga melawan seraya melestarikan sistem hidup yang adil, setara, serta menjaga keberlangsungan alam dan kehidupan.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.28.50

WhatsApp Image 2018-10-14 at 14.24.41

Sejak awal pun kami memiliki kesepahaman bahwa perempuan bukanlah sektor, maka suara perempuan harus ada di setiap sesi, situasi perempuan harus disuarakan dalam setiap diskusi. Maka aku mengulum senyum ketika seorang jurnalis asal Korea bercerita kepadaku: “Tadi saya wawancara juga peserta perempuan yang dari Korea, dia bilang surprise sekali melihat ada banyak perempuan yang aktif bicara pada forum ini.”

Sejak awal gagasan World Beyond Banks sebagai gerakan pun dipahami seluruh pihak. Maka kawan-kawan musisi dari berbagai negara, tidak sekedar datang untuk performance. Melainkan untuk mengikuti seluruh proses, mendengarkan cerita, terinspirasi dan menciptakan sebuah karya. Pada akhirnya, sebuah lagu berjudul World Beyond Banks pun dinyanyikan bersama.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.29.18

WhatsApp Image 2018-10-12 at 14.36.38

Sejak awal kami tahu persis bahwa kapitalisme menciptakan pemerintahan oligraki. Menghancurkan demokrasi, bahkan megkooptasi gerakan rakyat. Para pengusaha di balik pemerintah, kriminalisasi rakyat yang memperjuangkan haknya, pembubaran diskusi di mana-mana, hingga penurunan dan perusakan baliho, yang terjadi menjelang pertemuan bank dunia dan IMF. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tak lebih dari alat untuk menyerang warga negaranya demi kepentingan mereka yang melihat Indonesia tak lebih sebagai keuntungan yang bisa dikeruk.

Maka ketika tindakan-tindakan represif mulai datang. Sembayang diintimidasi, pemakaian tempat dibatalkan sepihak, kami tahu persis bahwa kami tak ingin masuk pada jebakan mereka. Menyikapi sesuai porsi menjadi pembelajaran yang begitu berharga di tengah kemarahan dan keinginan untuk mengamuk segera.

WhatsApp Image 2018-10-19 at 13.27.37

WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24 (1)

Pun aku belajar menerima tentang apa yang disebut seorang kawan sebagai berantakan. Rundown yang tak kunjung final, penerjemah dan alatnya yang tak tersedia di semua forum paralel, tenda panggung utama yang begitu panas, video yang tidak terlihat, dan masih banyak deretan kekurangan lainnya, selayaknya diterima sebagai kekurangan tanpa perlu embel-embel tetapi. Berbagai keterbatasan yang membuat mata dan rasaku menyaksikan mereka yang bekerja begitu keras. Berdiskusi siang malam, berpikir substansi hingga teknis. Mereka yang ringan tangan meski tidak berasal dari panitia, bahkan tak berasal dari Indonesia. Mereka yang aku yakin bergerak karena merasa turut memiliki forum ini.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 17.11.37

Betapa komunitaslah yang mendukung kami berkumpul dan menyelenggarakan musyawarah ini. Hingga panganan sepiring 15 ribu namun dengan menu yang luar biasa lezatnya. Dilengkapi teh manis dingin dengan cita rasa tinggi, memberimu energi di bawah langit Bali yang begitu terik. Dimasak dan disiapkan dengan cinta oleh Bu Tini, meski sebelumnya dia sempat diintimidasi dan ditanya macam-macam soal kegiatan seputaran mengkritik Bank Dunia dan IMF.

Pun Komunitas Jatijagat Kampung Puisi, yang menyambut kami dengan rangkulan persahabatan. Memberikan ruang dan karyanya untuk bersama-sama melawan. Saling menjaga, saling menguatkan.

WhatsApp Image 2018-10-14 at 21.51.24

Maka di forum ini kami tak hanya saling berbagai cerita dan pembelajaran. Tetapi juga berbagi energi untuk saling menguatkan. Seperti ketika bernyanyi bersama Kawan-kawan komunitas SP diiringi petikan gitar Mas Budi Pego. Atau ketika menggenggam tangan Ibu Asnir menatap senyumnya yang mencuat di sela-sela kegelisahan memikirkan kampung halaman. Juga tetap setia mendengar cerita bu Halimah, yang terus setia melawan privatisasi air. Energi yang begitu hangat tersebut, sesungguhnya merupakan kemewahan yang tiada tara.

Persahabatan yang jujur

Ketika di akhir hari seseorang memelukku dan berkata, “Mbak, jangan bosan mempersatukan gerakan.” Kami pun bersepakat. Mempersatukan apa yang memang selayaknya diperjuangkan. Dalam sebuah solidaritas ideologis. Pertemanan yang jujur. Jumlah kami memang kecil, tapi kami layak untuk terus ada. Semakin kuat. Semakin solid.

Kejahatan ini dilakukan secara global. Maka perlawanannya pun harus global, menembus ruang, waktu, dengan keberlanjutan yang konsisten dan kesetaraan antar generasi. Meski global, perlawanan itu harus tetap terasa dekat. Perlawanan itu melekat dengan tekad di dalam hati kita. Mengisi setiap jengkal tubuh kita. Mengalir seperti darah. Sedekat nadi yang berdenyut. Begitu ia terasa.

Di atas langit Denpasar menuju Jakarta, 17 Oktober 2018

 WhatsApp Image 2018-10-19 at 12.59.24

 

 

18 September 2017

Menjelang Subuh, 18 September, Setahun yang lalu

Kami berhasil ke luar

Tapi ada luka yang membekas di dalam

 

Tepat menjelang subuh, saya sampai di kantor. Kawan-kawan memeluk. Saya tersenyum dan tertawa. Tenang, saya baik-baik saja. Kami pun istirahat sejenak sebelum melanjutkan sesi Sekolah Kepemimpinan Feminis di pagi hari.

 

Pukul 09:00

Mulai memfasilitasi kegiatan yang sudah berlangsung selama beberapa bulan. Sekilas aku bisa merasakan tatapan yang berbeda dari mereka. Terkadang terasa seakan hanya sekilas, namun betul-betul berbeda. Mati-matian aku mencoba meyakinkan. menangkap energi baik dari setiap jengkal ruangan. Menghadirkan senyum di segala sudut. Sekedar hendak menyampaikan: Tenang. Saya baik-baik saja.

 

Siang hari tangis pertama pun pecah. Lalu muncul rasa bersalah. Bahkan rasa sesal tak mampu kuhindari.

Menjelang malam, takut itu datang. Disusul lemah, kalah. Bertubi kata-kata itu menyesak di kepalaku. Membuat sesak dadaku. Semakin sesak karena marah kemudian juga datang. Menghimpit, sekaligus mengguncang.

 

Hari ini

Sudah satu tahun,

Berbagai berbagai perasaan masih saling mengikat, bercampur, mencampuri, dan enggan pergi. Takut tidak pernah benar-benar meninggalkan. Sesak masih datang sesekali. Marahpun kadang datang tanpa diundang.

 

Sudah setahun

Pemikiran berkelindan saling menimbulkan pertanyaan. Tidak hanya soal ‘kenapa,’ lebih banyak ‘untuk apa.’ Untuk apa hidup, atau hidup untuk apa? Bisakah kita punya daya untuk bertahan, sementara kuasa mereka begitu besar?

 

Sudah Satu tahun

Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa memetik pembelajaran dari setiap peristiwa yang aku lalui. Karena aku yakin, semua yang terjadi mengandung hal penting. Asal kita mau belajar.

 

Belajar menerima diri dengan segala kelemahan, kekurangan, ketakutan, ketidaksempurnaan. Menerima diri sebagai manusia, mencoba lepas dari segala konstruksi yang ada.

 

Sudah satu tahun

Hidup tak pernah menjadi lebih mudah sejak hari itu

Tak juga lebih ramah, tak juga adil

 

Tapi kita hanya tahu berjalan

Meski membawa luka yang takkan padam

 

Cerita kejadian di: https://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2017/09/30/kebohongan-kesaksian-dan-rasa/

Pilihan

Ketika kata kunci ‘Ciri ciri Depresi’ di google membawaku pada sebuah artikel[1]:

 

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

 

– Merasa tertekan (sedih, kosong)

– Kehilangan minat beraktivitas

– Nafsu makan/ berat badan terganggu

– Masalah tidur

– Gangguan psikomotorik

– Merasa lelah atau tidak berenergi

– Merasa tidak berharga/ bersalah

– Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan

– Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Setidaknya enam dari sembilan, kini begitu sering menghampiri

 

Bagaimana melihat batas antara depresi dengan kelelahan sesaat? Ketika saya memang tidak menangis selama 2 minggu berturut-turut, namun perasaan gagal kerap datang dan pergi selama 2 minggu, 3 hari, apa artinya? Depresi? Atau cemas sesaat saja? Atau ketika sesekali pikiran tentang mati terlintas, namun semua aktivitas tidak pernah terlewat. Atau ketika mata berkedut terus menerus, namun nafsu makan justru meningkat. Atau ketika bersikap biasa sepanjang hari, rapat, mengetik, berdiskusi, sambil setengah mati menahan air mata yang hampir menyeruak ke luar.

 

Apakah saya depresi, atau lelah sesat? Atau mungkin juga saya tengah menyerah. Bahwa lemah adalah keniscayaan. Bahwa menjadi kuat bukan kewajiban. Bawa menerima kekalahan adalah pilihan.

[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya”, https://sains.kompas.com/read/2015/02/05/100320523/apakah-saya-depresi-kenali-tanda-tandanya. Penulis : Retha Arjadi, M.Psi