Di Antara Hidup dan Mati

Ini aku Antara hidup dan mati.   Bukan. Aku tidak sedang berada di tepi jurang atau pinggir atap gedung, bersiap untuk loncat Aku tidak sedang menantikan kehabisan darah karena lengan yang tersayat Aku tidak sedang di atas kursi berhadapan dengan tali gantung Aku tidak sedang di tengah rel kereta api, atau jalan raya menunggu besi beroda menghantam tubuhku.   Ini aku Bisa jadi aku sedang minum di kedai kopi Bisa jadi sedang menonton konser sambil bernyanyi keras-keras Bisa jadi sedang menggerakkan tubuh menikmati musik dengan segelas minuman yang kunikmati sesap demi sesap. Bisa jadi sedang bicara lantang di hadapan banyak … Lanjutkan membaca Di Antara Hidup dan Mati

21st Floor Views

I have 21st floor views. Just here in my room. Where I can see the sunset Or the fireworks in the new year eve.   Through the push window I like to do people watching Observing every detail that never be the same everyday   Sometimes, I make it’s frame wet with my tears In the nights when my chest is very tight And then I will look up to the sky Let the moonlight dries my tears   This push window Only have narrow cavity That won’t fit for my jumping body. Lanjutkan membaca 21st Floor Views

Gelap

Kita bertemu di sebuah jalan yang gelap Aku tidak bisa melihat wajahmu, sementara kamu sama sekali tidak peduli seperti apa penampakanku.   Jalan itu, kita menyusurinya bersama Tanpa bergandengan, tanpa saling menatap Hanya cerita yang saling bertukar Bersama pikiran-pikiran liar yang saling berkelindan   Ternyata tidak lama Hanya hitungan hari kita sampai di ujung jalan Sebuah jalan yang ternyata tak pernah terang sepanjang kita menapakinya   Karena gelap itu, berasal dari kita Dari segala ketakutan, kegelisahan, Serta badai yang mati-matian ditahan, namun siap untuk menenggelamkan Lanjutkan membaca Gelap

Menstrual Cup: Sebuah Review

  Intinya, jangan dipaksa. Santai, dan relax. Coba saja, makin lama akan makin tahu bagaimana menggunakannya. Cari informasi lebih banyak di internet, bukan hanya cara memakainya, tapi juga cara melepaskannya.   Beberapa tahun yang lalu, 2010 atau 2011, saya pernah memposting sejumlah tweet (kultweet) soal Menspad. Pada satu masa saya pernah menggunakan Menspad, atau pembalut kain yang bisa dicuci dan dipakai lagi, dengan tujuan untuk mengurangi sampah pembalut, yang biasanya juga dibuang dengan pembungkus, baik kertas, maupun kantong plastik kecil. Selain itu, menspad sendiri nyaman digunakan, dan tidak seperti yang banyak dikhawatirkan, biasanya saya selalu berhasil mencucinya sampai bersih. Namun … Lanjutkan membaca Menstrual Cup: Sebuah Review

Pertanyaan [Tidak] Sederhana

Waktu SMP dulu, cita-cita saya jadi psikolog. Tapi seorang sahabat menyampaikan kekhawatirannya: “Nanti lo bunuh diri lagi, stress dengerin curhat orang2”   Saat itu, bahkan belum terbersit di pikiran saya bahwa pada saatnya nanti, tema-tema depresi dan mental break down, anxiety jadi tema diskusi sehari-hari, obrolan umum antar pengguna dating app, sampe jadi tema lagu2 yang paling dirasa relate sama pendengarnya.   Dari mulai Isyana Saraswati, yang nyanyi buat nemenin hati kamu yang terluka, Kunto Aji yang nyuruh rehat, Navicula yang ngingetin bahwa untuk Berhenti itu juga perlu keberanian, hingga Hindia yang bilang bahwa ya, kita semua gagal, dan kesia-siaan … Lanjutkan membaca Pertanyaan [Tidak] Sederhana

10 Tahun

Seperti proses menikmati kopi Berkenalan dengan aromanya, menyesap perlahan, hingga jatuh cinta. Menjadi sebuah adiksi, namun tetap menjaga logika ketika gelas keempat membuat jantung berdetak terlampau kencang. Begitulah aku menikmatinya. Juga menikmati perayaan 10 tahun bersamanya Dalam sunyi, dengan senyum. Seintim pikiran yang tengah bercakap-cakap dengan hati.   *dibuat pada momen 10 tahun bersama Solidaritas Perempuan Lanjutkan membaca 10 Tahun

Memikirkan Bahagia

Apa yang sering kamu pikirkan saat malam telah menyentuh pertengahannya? Tentang gambaran manis kenangan sore hari, atau harapan menjelang pagi hari? Bagiku Setiap malam hampir sama Setiap malam yang tak lagi mampu bertemu nyenyak   Beberapa tahun lalu, seorang kawan mempertanyakan tentang kebahagiaan. Saat aku merasa baik-baik saja, dia menekankan pertanyaan itu berkali-kali: “Yakin, lo bahagia?” Tanpa dia pernah menyadari bahwa pertanyaan itu membekas begitu dalam. Kerap muncul dan berkembang, bercabang pada pertanyaan demi pertanyaan lainnya. Hari ini tidak lagi kutanyakan apakah aku bahagia. Pertanyaan tentang apa itu bahagia pun telah berlalu. Menyisakan kesimpulan sederhana. Bahwa bahagia lebih banyak ditentukan … Lanjutkan membaca Memikirkan Bahagia

Ini Tentang sang ‘Kawan’

Writing is healing Maka aku menulis dengan harapan menjadi proses penyembuhan. “Ini bukan tulisan berisi optimisme atau penyengat harapan, maaf.” Ini tentang satu hari ketika aku menangis sesenggukkan di sebuah ruangan yang untungnya tidak ada orang. Sesekali memang ada yang masuk, sesekali itu pula aku berpura tidur. Beralasan lelah perjalanan pagi itu dari bandara langsung menuju kantor. Juga tentang bermalam-malam tanpa bisa tidur, dengan pesan-pesan yang datang. Pesan yang akan hilang dalam waktu tak lebih dari satu jam, namun tertinggal di kepala, mungkin hingga berbulan-bulan. Juga tentang satu hari berbagai dekapan pada seorang kawan. Saat itu dia tengah berbagi air … Lanjutkan membaca Ini Tentang sang ‘Kawan’

Rindu

Sudah dua minggu tak bertemu. Ah, sejak kapan bertemu dengannya menjadi rutinitas. Bisa-bisanya aku mulai menghitung berapa lama tak bertemu. Apa artinya bertemu dengannya. Mengapa tak bertemu mulai menjadi keanehan. Mulai terasa ada kekosongan. Hari ini akhir pekan di Jakarta saja. Rumah sepi meninggalkan aku seorang. Tubuh ini enggan bergerak, apalagi beres-beres kamar dengan pakaian bersih menumpuk di kasur. Belum masuk ke lemari sejak kuambil dari gerai cuci kiloan. Kemrungsung. Membaca buku pun tak menghilangkan keresahan. Kenapa aku ini? Hingga malam, mata tak mau terpejam. Apa lebih baik aku beranjak ke luar? ‘Mungkin akan membantu jika aku tidak sendirian,’ begitu … Lanjutkan membaca Rindu