Angel-Demon

Seorang kawan tiba-tiba bertanya

“Ca, lo bipolar ya?”

Aku yakin dia sendiri tidak memahami apa itu bipolar sehingga bertanya begitu kepadaku. Pertanyaan itu sesungguhnya semata-mata dipicu perubahan penampilanku. Dua penampilan yang menurut banyak orang seperti melihat dua orang yang sepenuhnya berbeda.

Manusia selalu punya dua sisi yang berbeda

Bukan dua sebenarnya. Banyak.

Bahkan lebih banyak lagi sudut-sudut tersembunyi yang tak terlihat

Sama seperti menikmati kesendirian dalam keramaian

Atau berdiri teguh pada hati yang rapuh

Beberapa yang meng-klaim mengenalku bisa jadi kebingungan

Menuduh aku bukan kawan yang dia kenal, berubah karena pergaulan

Sebagian lagi menuding plin plan, kerap berubah bentuk,

Tanpa terbaca pola dan tujuan

Tapi aku memang bukan untuk dimengerti. Aku hidup, berkembang, dinamis.

Kerap berubah bukan berarti tengah mencari.

Karena di titik-titik perbedaan paling ekstrim yang kujalani saat ini.

Justru di sinilah aku paling merasa menjadi diri sendiri.cf13409e939f519502e07f7fcf0eb75d

Menemukan Hidup

Hidup dengan pengetahuan dan melihat langsung realita sosial seringkali memang membuat frustasi. Rasanya seperti waktu tidur yang hanya 3-6 jam setiap hari, berjibaku dengan berbagai dokumen, hingga debu-debu jalanan, berpikir keras untuk tak sekedar mengkritik tapi memberikan konsep-konsep hingga pasal demi pasal draft UU tandingan itu tidak mampu mendorong roda ini untuk bergerak.

bukan tidak ada gerakan memang. kemenangan-kemenangan kecil, soal gugatan yang dikabulkan, gagalnya Raperda yang akan melegitimasi lebih banyak perampasan lahan, terjadi satu dua, mungkin belasan kali. tapi kemudian apa yang kita hadapi tetap lebih besar dan seperti tidak bisa dilawan. sistem ekonomi, hukum, apalagi politik sudah jelas keberpihakan. dilanggengkan pula dengan sistem sosial, serta apa yang dipercaya sebagai agama.

Satu kali menang ketika MK mencabut aturan yang mengkriminalisasi benih, dan melanggengkan privatisasi Sumber Daya Air. Langkah berikutnya Indonesia kegenitan untuk ikut serta dalam RCEP, dan TPP, mekanisme perdagangan bebas yang menjadikan kebijakan proteksi menjadi ilusi.

Sementara gerakan makin abu-abu, terkubu-kubu cuma gara-gara eleksi yang kepentingannya pun tak kan menguntungkan rakyat banyak. mereka yang mengklaim bicara HAM dan kemanusian, hingga hak perempuan menjadi setuju bahwa HAM itu sendiri terbagi-bagi. di satu sisi menentang fundamentalisme yang mengancam demokrasi, keberagaman dan hak sipil politik, tetapi menutup mata akan pelanggaran HAM secara masif yang terjadi akibat penggusuran dan proyek reklamasi. sementara di sisi lainnya berteriak atas nama rakyat yang digusur, tetapi lupa bahwa teriakan itu bisa ada karena kebebasan bicara. kebebasan berpendapat yang bisa jadi hilang bila sekelompok orang yang merasa mayoritas dan merasa paling benar memberangus keberagaman, demokrasi, dan toleransi.

Rasanya semakin ingin berhenti. ketika sebuah keyakinan yang sekian lama dipertahankan menjadi tercabik-cabik oleh realita yang menenggelamkan.

tapi kemudian bersentuhan langsung dengan mereka memberikan harapan untuk hidup. Hidup yang seharusnya tak sekedar makan, minum, mencari uang, membeli pakaian dan segala barang yang tak diperlukan tapi diinginkan semata-mata karena iklan di televisi.

hidup ada pada suara mereka yang mulai berani menceritakan berbagai persoalan ketidakadilan yang dialami setelah sebelumnya selalu diam

hidup ada pada air mata mereka yang meskipun menangis, tetapi siap melanjutan hidup, menapaki masa depan, keluar dari siklus kekerasan yang bernama poligami

hidup ada pada lantunan teriakkan mereka ketika menyerukan tuntutan pada debu-debu jalanan dan teriknya matarhari

hidup ada pada komitmen mereka yang berkata, “saya bicara karena tidak ingin saudara-saudara saya, perempuan buruh migran yang lain mengalami apa yang saya alami.”

hidup ada pada nyala mata mereka yang bersemangat ketika berdiskusi tentang bagaimana merebut lagi tanah yang dirampas perkebunan tebu.

Maka jika kerumitan ibu kota mematikan segala hasrat untuk hidup, maka aku menemukan hidup yang kuat dan menguatkan, hidup dan menghidupi. panjang umur perjuangan

Diam

Diam

Kita tetap diam dalam bicara

Ketika huruf demi huruf, kata demi kata mengalir tak terhambat

Mereka menceritakan banyak hal

Tapi tetap menyembunyikan yang terpendam

Rasa

 

Betapapun kita sering bersua

Merangkai kata mengujar tanya

Namun tetap menyisakan satu yang tak terungkap

Hingga menjadi mustahil tuk terjawab

 

Kita diam dalam bicara

Bercerita dalam rahasia

Terbuka dalam persembunyian yang tertutup dalam

 

Diam

Tak terungkap

Tak terjawab

Kemudian

Luka

Ketiadaanmu

Jikakah engkau sadar, betapa ketiadaanmu bukan hanya sekedar kamu tak terlihat

 

Sofa sederhana di sudut ruangan termenung bingung. Tak ada lagi jemarimu yang menggelitik seraya menggodaku di atasnya.

Bantal di beranda depan kesepian. Tak merasakan tanganmu yang sesekali menyentuhnya saat membelai kepalaku

Televisi berbicara sendirian, kehilangan sambutan yang biasanya dia dapatkan dari diskusi panjang kita hingga larut malam

Tirai-tirai tak bergerak. Tak lagi tersibak seperti kala kamu menarikku tuk menengok bulan penuh di luar

 

 

 

Aku..

Setengah hidupku hilang bersamamu

 

 

Romansa di Tanah Anarki

Pukul 7 pagi

Sepagi ini kita sudah bangun. Kucoba memaksamu memakan roti dengan selai coklat seadanya. Seperti biasa kamu menolak. Bilang akan mencari gorengan dalam perjalanan.

 

Sebuah kecupan mendarat begitu lekat di keningku. Kutatap dalam tatapan matamu, membelai lesung pipitmu sejenak, sebelum melepaskan langkahmu ke luar pintu.

 

Pukul 9 pagi

Pesan pendek masuk melalui whats app. “Hari ini aku berangkat ke Semarang, ada konflik petani dengan tentara.” Aku sudah tahu, tidak pernah ada opsi untuk melarang. Maka yang bisa kukirim hanya satu frasa pesan: “Hati-hati.”

 

Pukul 10 pagi

Rapat bulanan dimulai. Program demi program, kegiatan demi kegiatan kami bahas bersama. Lengkap dengan capaian maupun tantangan. Perkembangan maupun persoalan. Tak lupa solusi penyelesaian.

 

Pukul 2 siang

Break Rapat. Televisi menayangkan berita. Tentang demonstrasi besar berkedok agama, tentang dilarangnya perayaan natal, ataupun hasil tanding bola semalam.

 

Padahal di sebuah tempat, di mana seorang pemimpin telah mengeluarkan surat izin untuk perusahaan yang merampas lahan rakyatnya.

 

Petani sedang berjuang mempertahankan tanahnya. Berhadapan dengan pentungan dan gas air mata. Perempuan-perempuan maju di garis terdepan seraya menangis dan berteriak, anak-anak pun ketakutan.

 

Tak ada beritanya. Seolah berjuang dalam senyap.

 

“Ras, pacarmu ke Semarang?” kawanku bertanya.

Aku hanya mengangguk perlahan.

“Semoga aman di sana ya”

Aku tersenyum. Berharap yang sama.

 

Pukul 4 sore

Rapat baru saja selesai. Baru kulihat sebuah pesan pendek di ponselku.

“Kamu dapet salam dari Bu Diah. Dia kangen.”

“Bilang aku juga kangen. Gimana kondisi di sana?”

Tak ada jawaban

 

Pukul 6 petang

Pesanmu baru datang, “Apapun yang terjadi memang harus terjadi.”

Deg.

Aku tak bisa mencegah gelisah. Resah menjalar di sekujur tubuh. Tapi aku bisa apa?

Kucoba menyibukkan diri tenggelam dalam berbagai diskusi, koordinasi, dan dokumen yang harus diselesaikan. Sejenak melupakan.

 

Pukul 8 malam

Ponsel tak lepas dari tangan dan pandangan. Berharap datang sebuah pesan atau panggilan. Namun dia hanya memberiku sunyi. Menambah gelisah yang kian menyergap, membuatku tak bisa bergerak.

 

Pukul 11 malam

Belum juga ada kabar, hingga ku langkahkan kaki tuk pulang.

 

Kutatap sepetak kecil kontrakan yang sudah kita tinggali 3 tahun belakangan. Baru kusadar pintu lemari telah kamu perbaiki. Begitupun kunci kamar mandi yang sempat rusak. Kusentuh mereka seakan ingin merasakan sentuhanmu. Mencari jejak-jejak kehadiranmu meski hanya melalui benda-benda yang selama ini telah menjadi saksi bisu.

 

Kucoba membaringkan tubuh seraya mendekap guling kesayanganmu. Menghirup sedikit aroma yang tertinggal. Berharap bisa terlelap dan bermimpi kamu mendekap.

 

Pukul 1 pagi

Pesan pendek masuk. Dari Bu Diah.

“Nak, Masmu sama Bapak dipukuli dan ditangkap aparat. Kita harus bagaimana?”

 

Aku harus bagaimana?

 

inspirasi dari Sunset di Tanah Anarki (Superman is Dead) dan beberapa situasi saat ini.

Sejenak Menepi

Kalaulah pengetahuan itu dirasa kekayaan, seharusnya dia menjadi penawar dahaga, atau setidaknya  mengatasi sejenak penat yang menjegal begitu hebat.

Nyatanya, semakin tahu semakin aku merasa tak bisa bergerak. terjebak dalam ketidakberdayaan dalam lingkaran kehidupan yang membuat frustrasi.

penggusuran, kekerasan, kebencian.

Tiga kata itu rasanya memonopoli segala pengetahuan yang kupunya. sedikit betambah ilmu di satu hari, segudang tantangan dan ancaman kemudian menanti. entah sampai kapan kita bisa mengejar deraan persoalan yang meembelenggu kehidupan.

tidakkah kita berduka dengan direnggutnya nyawa seorang malaikat kecil, merasa perih dengan tangisan mereka yang tergusur, kesal ketika laut ditimbun, tersakiti ketika mereka dipukul, disetrika, dipenjara, diancam hukuman pancung, marah atas perampasan pembunuhan kriminalisasi yang terjadi.

berada di pusaran pengetahuan tentang negeri yang terjajah, tentang dunia yang tak pernah adil, tentang hidup yang bukan sekedar makan, minum, bekerja, dan menimbun harta.

selalu ada kala-kala sejenak diri ini merasa begitu papa. bertanya mengapa harus tahu, mengapa harus menyaksikan, mengapa harus memahami, mengapa harus sadar. sementara segala daya dan tenaga tuk melawan, seakan hampir habis tuk dikerahkan.

maka biarkan sejenak aku menepi, mencoba tuk tetap teguh berdiri. sejenak saja, hingga ku sanggup berjalan lagi, hingga ku kembali berlari.