Konsekuensi

Kadang kita tidak sadar pada jiwa yang tak berkembang meski usia terus bertambah.

Pada tanggung jawab yang membesar tanpa kita tahu ukuran kesanggupan yang kita miliki.

Tapi segala pilihan diambil bersamaan dengan konsekuensi.

Sementara waktu takkan pernah berputar mundur.

Maka menghadapi konsekuensi adalah satu-satunya pilihan yang bisa dijalani

Iklan

Perempuan Pertama

“Telepon dari siapa? Serius sekali sepertinya.”

“Dia, Hmm, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Dia laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi kami tidak pernah memiliki komitmen. Tiba-tiba saja meneleponku. Bertanya apakah aku mau menikah dengannya.”

Gadis ini. Entah apa yang dia lakukan padaku. Ini baru kedua kalinya kami bertemu. Tapi benakku tak pernah kehilangan wajahnya. Dia masih sangat muda dengan semangat yang begitu menyala. Kadang terlihat malu-malu, tapi ketegasan di matanya tak pernah bisa bersembunyi.

 

“Wow, isn’t it good? Bagaimana perasaanmu padanya?”

“Aku menyayanginya. Kami berteman baik belasan tahun.”

“Lalu? Apakah hanya sayang sebatas teman?”

“Tidak juga. Lebih. Perasaan seperti ini tidak pernah ada untuk yang lainnya.”

 

Nafasku menjadi tertahan. Seperti ada yang sesak di dada.

 

“Lalu apa yang membuatmu ragu?”

“Entahlah. Orang bilang menikah adalah untuk selamanya. Memangnya ada perasaan yang untuk selamanya?”

Aku seperti melihat diriku yang dulu. Takut akan komitmen. Awalnya tak menjadi masalah karena pernikahan sesama jenis tak bisa dilakukan di negara ini. Tapi begitu bisa dilakukan, aku menikah dengan perempuan yang telah menjadi pacarku selama 6 tahun. Perempuan yang namanya terukir di cincin kawin yang selalu kukenakan.

“Apakah itu mudah? Memutuskan untuk menikah, dan berkomitmen panjang padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Ketiba-tibaannya menyambar pintu kejujuranku, membuka segala kata yang ingin meluncur sejak kami pertama bertemu.

“Menikah memang soal merawat komitmen. Sementara perasaan akan datang dan pergi tanpa kita punya kendali. Kadang kita menemukan cinta yang lain. Seperti saat ini aku jatuh cinta padamu.”

“Maksudmu?”

“Isn’t it obvious?”

“Is it?”

“I am Madly in love with you.”

Dia hanya tersenyum. Tak menjawab perasaanku. Tapi juga tak menjauh dariku.

Cinta dan pernikahan tak selalu berjalan segaris. Aku bisa saja jatuh cinta pada gadis yang belum kukenal lama ini. Tapi ada nama yang terukir pada cincin di jemariku. Pada nama itu aku mengikatkan komitmen. Pada nama itu akan pulang.

Aku hanya bisa tersenyum. Tak bisa menjawab karena tak akan pernah ada jawaban yang tepat. Dia sudah menikah. Cincinnya sudah bicara sejak awal kami bertemu. Meski pengakuannya beberapa hari yang lalulah yang membuat pupus harapanku.

Ini malam terakhir kami bertemu. Besok aku akan kembali ke kotaku, dia pun akan kembali ke negaranya dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain saling menatap lekat, saling melemparkan senyum. Aku kehilangan kata-kata. Dia pun seperti tak berhasrat tuk bicara.

Jika malam ini lewat, maka berakhir sudah waktuku bersamanya. Aku tak ingin memeluknya apalagi mencumbunya. Aku hanya ingin menikmati wajahnya, menghafal relung-relung senyumnya. Aku hanya ingin menatapnya lekat-lekat dan lama-lama. Merekam tatapan matanya yang begitu manis. Membiarkannya merasuk dan menghangatkan hingga ke dalam lubuk hatiku.

Dari Tepi Sungai Rhein

Tepi sungai Rhein, 18 November 2017

Jembatan sungai Rhein begitu terkenal dengan kisah tentang gembok cinta. Permukaannya dipenuhi berbagai bentuk gembok dengan berbagai nama. Tapi bagiku cerita paling menarik tentang sungai Rhein justru diceritakan oleh Bude.

Pada suatu masa, sungai ini menjadi pemisah antara si miskin dan si kaya. Kisah tentang ketidaksetaraan yang telah berjalan sekian lama. Kisah yang tak pernah berakhir, tetapi justru terus menguat hingga hari ini.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM

“Buk, Pak, aku keterima beasiswa! Tiga bulan lagi sudah harus berangkat ke kampus khayalan di negeri impian.”

Ibu dan Bapak memelukku. Aku bisa merasakan air mata mereka menetas perlahan. Kabar ini memang tak akan bisa membayar perjuangan mereka membesarkanku anak semata wayangnya. Mati-matian mereka bertani, menggarap sawah kami yang tak seberapa hingga aku bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Tapi setidaknya aku bisa meringankan sedikit beban mereka dengan sebuah kebanggaan.

Negeri ini sungguh makmur. Kesejahteraannya tergambar dari teknologi di berbagai hal. Transportasi publik yang jadualnya tak meleset meski semenit. Mobil yang mesinnya mati otomatis setelah berhenti sekian detik. Budaya tepat waktu, hingga disiplin di jalan raya, juga bersih tanpa sampah.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.54 AM1

Penyesuaian diri bukan proses yang terjadi begitu saja. Jet lag, ketinggalan bus karena tak mampu mengukur cepat langkah kaki. Di negeri ini kamu bisa merencanakan perjalanan dengan sangat mudah. Satu aplikasi menunjukkan jarak, waktu, dan alat tranportasi apa yang bisa kita tempuh. Tapi jangan sekali-sekali percaya dengan prediksi waktu untuk berjalan kaki. Kalau mereka bilang bisa ditempuh dalam 10 menit. Setidaknya kaki pendekku baru bisa sampai dalam 15 menit.

Proses di kelas pun bukan persoalan mudah. Bukannya aku tidak bisa mengikuti pelajaran. Kurikulum di sini sangat mendorong kita untuk berbicara di kelas. Ketika mereka, yang mayoritas dari negara-negara adikuasa, fasih berbahasa inggris dengan percaya dirinya. Sementara aku, perempuan yang lahir di sebuah desa di tengah pulau Jawa. Anak gadis yang terbiasa manut dan diam seribu Bahasa. Lebih terbiasa mendengar dan mengangguk, ketimbang berbicara dan menyanggah. Di ruang kelas ini, pun di kepalaku sesak akan jawaban dan pernyataan yang menyeruak ingin ke luar, aku tetap diam. Tersenyum, dan mendengarkan.

Di malam hari, ketika tugas-tugas sudah berhasil terisi, adalah waktu untuk diriku sendiri. Karena kelelahan sepanjang hari hanya bisa diobati dengan sendirian. Kadang kulewati dengan berjalan sendirian di jalan setapak menuju taman. Sesekali mampir di sebuah bar, sekedar menikmati musik dan sebotol minuman.

Di situlah aku bertemu dia.

Dia menyapa di tengah keramaian, ketika aku hampir jatuh tertabrak orang-orang. Detik itu tubuhku tak jadi roboh, tapi hatiku jelas-jelas jatuh. Dia bukan pria dengan wajah manis dan senyum ramah. Kerutan di dahi melengkapi wajahnya yang selalu terlihat serius. Tapi matanya. Mata di balik bingkai persegi panjang itu terlihat sangat tajam dan menyala.

“Hai, kamu gapapa?”

Aku hanya terpaku. Dia menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri, dan mengingatkan bahwa kami ada di kelas yang sama.

Sejak itu, kami sering jalan bersama. Waktu untukku sendiri menjadi sering lenyap. Tapi berdua dengannya, aku tak pernah merasakan lelah. Kami berjalan bersama, seringkali tanpa kata. Menyusuri jalan di taman, atau berdansa menikmati sedikit musik dengan sebotol minuman.

Kami menjadi dekat karena sebuah persamaan. Kami sama-sama berasal dari negara berkembang, berjuang hanya untuk sekedar melanjutkan kehidupan. Berkerja dua kali lipat hanya untuk mendapat uang, makan, dan sedikit lembar pakaian.

Negerinya berada di satu benua dengan negeri adikuasa, di bagian selatannya. Bahasa Spanyol yang menjadi Bahasa sehari-harinya pun buah warisan dari penjajahan 3 abad lamanya.

“Belanda menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Dari penjajahan itulah mereka bisa membangun teknologi demikian dasyat. Menjadi negeri makmur dan maju, meninggalkan kami dalam kondisi miskin dan tereksploitasi.”

“Iya, dan penjajahan di negerimu, di negeriku, masih terus terjadi sampai sekarang. Lihat saja sistem perdagangan, yang memang didesain untuk menjadikan kita smakin miskin dan mereka semakin kaya. Petani tradisional, disuruh bersaing dengan teknologi tinggi, ga boleh disubsidi, import pun ga boleh dibatasi meski hanya melalui pajak atau tarif masuk.”

Baru sekarang aku menyadarinya. Di kampusku dulu, aku belajar soal pembangunan. Katanya pembangunan itu untuk kemajuan, supaya manusia bisa semakin terpenuhi kebutuhannya dan hidup semakin layak. Investasi itu katanya alih teknologi. Membuka lapangan pekerjaan dan memberi orang banyak uang.

“Coba kamu sekali-sekali lihat di negerimu. Berapa banyak investasi yang menggusur penduduk? Bukan hanya menggusur rumahnya, tapi juga lahan untuk bertani, atau bahkan menggusur nelayan dari laut tempat mereka mencari ikan. Belum lagi industri yang ekspolitatif, dan begitu merusak lingkungan, membunuh ekosistem termasuk manusianya. Hari ini kita miskin uang. Anak cucu kita nanti bisa jadi sudah tak punya bumi untuk mereka tinggal.”

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.55 AM

Satu hari dia mengajakku ke sebuah tambang batu bara. Jalanan menuju ke sana awalnya adalah perumahan dengan berbagai pohon dan sawah. Namun tiba-tiba kita disuguhkan pada pemandangan tambang yang membuat perasaanku menjadi kering. “Aku dengar di negerimu, ada tambang emas yang lebih parah dari ini.”

Hari lainnya dia mengajakku ke sebuah perpustakaan yang ada di dalam hutan. Hutan itu tidak jauh dari lokasi tambang. “Hutan ini mulai rusak karena tambang. Kami tinggal di sini, mencoba merawatnya. Sekarang kami sudah 40 orang.”

Hutan itu tentu saja dingin, dan jauh dari teknologi yang bisa berjalan sendiri hanya dengan mencemplungkan koin. Tetapi mereka hadir di sini untuk menciptakan kehidupan. Merawat kehidupan dengan kehidupan.

DN4ryCOWkAEw52V.jpg_large

credit: 350 twitter

Awal November 2017. Konferensi tentang Perubahan Iklim diadakan di negeri ini. Kami tentu tak punya akses untuk masuk ke dalamnya. Maka kami melakukan satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Berteriak di jalanan, berdemo, bergabung bersama ribuan orang.

Keep coal in the ground

Keep oil in the soil

We say Hey, Hey, Ho, Ho, Fossil Fuel has got to go

No Deforestation, No False Solution

What do we want? Climate Justice. When we do want it? Now

We are unstoppable, another world is possible

People gonna rise like the water we gonna calm this crisis down

We hear the voices of great granddaughter, saying climate justice now.

WhatsApp Image 2017-11-21 at 1.23.56 AM

Kami berdemo dengan riang. Musik, kostum, patung. Kami menyanyi, menari, berpelukan, dan berciuman. Kami gembira karena kami tahu bahwa kami tak sendirian. Karena kami yakin solidaritas ini adalah kekuatan dalam berjuang.

Minggu ketiga November. Hari ini dia mengajakku bertemu dengan banyak orang. Mereka datang dari berbagai negara untuk masuk ke dalam Konferensi sebagai observer. Hari ini Konferensi Dunia itu hampir selesai. Mereka bilang pemimpin-pemimpin negara akan memberikan pernyataan. Ah, betapa banyak istilah rumit yang mereka sampaikan. Meski aku berusaha setengah mati, nyatanya tak banyak yang bisa kumengerti

Aku sampai ke kamar, ketika malam sudah datang. Kunyalakan ponselku yang baterainya sudah habis berjam-jam lalu. Ketika sebuah sms kuterima. Dari Bibiku:

“Nak, pulang Nak. Bapak Ibumu mati. Ditembak tentara yang mau ambil tanahmu untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Di televisi, kulihat seorang menteri dari sebuah negeri.

“Kami siap untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi. Kami siap meningkatkan produksi kelapa sawit, sebagai bio energi.”

Dan orang-orang di dalam ruangan itu bertepuk tangan.

Kota Sejuta Sudut

Kota ini bisa begitu kejam pada penghuninya. Ramai sendiri tak pernah berhenti, tanpa peduli bahwa ada orang-orang kesepian yang tersesat di dalam keramaiannya. Tidak, aku bukan salah satunya. Aku sendirian, tapi bukan berarti kesepian apalagi tersesat.

 

Bagikut Jakarta justru bisa menjadi pelarian sempurna. Sudut-sudutnya kerap mengelabui dan mengaburkan jarak dan waktu. Kamu bisa berada dekat tapi seolah-olah jauh. Mengaku telah menempuh jarak waktu yang panjang dengan alasan kemacetan, padahal baru terbangun dari lelap yang membuai.

 

Berada di tempat yang begitu dikenal tetapi tak ada satu pun yang tahu. Padahal sekali mengeluarkan pengumuman kawan bisa jadi datang satu per satu. Itulah Jakarta yang istimewa. Terlalu banyak tempat, terlalu banyak pilihan. Kadang kita bisa bersembunyi dari satu sama lain tanpa harus berlari jauh. Namun kadang dengan randomnya bisa bertemu di satu tempat yang tak direncanakan sama sekali.

 

Tempat ini dengan pemandangan jalanannya telah menjadi teman sehari-hari. Kutelusuri lika likunya beribu kali. Entah berapa cerita juga telah tertumpah. Sedih, amarah, kecewa, tak luput tawa riang meski jarang sekali keluar dari hati.

 

Dia dengan setianya menerima segala luapan perasaan. Tetap menyediakan malam yang tak pernah terlalu gelap. Hingga kaki ini tak pernah ragu melangkah meski tengah malam telah lewat. Suara deru kendaraan dengan warna warni mobil yang lalu lalang, menjadi sebuah lukisan kehidupan yang selalu kunikmati sejenak. Di sela-sela seruputan kopi pahit tanpa gula, dan istirahatnya jari jemari yang mengetik dengan lincahnya.

 

Jakarta di malam hari dengan aktivitas ramainya

Seringkali menahan tetesan air mata dengan suksesnya. Menyingkirkan lelah meski untuk sementara. Menguatkan hati setidaknya agar bertahan sehari lagi saja.

 

Meski di saat-saat tertentu lelah itu seringkali tak bisa ditangkal. Ungkapan lelah hidup pun terucap tak beraturan. Seandainya hidup bisa diakhiri sesederhana istirahat di siang hari. Tapi kita masih punya tanggung jawab, masih ingin mengejar impian, masih memikirkan orang-orang yang disayang.

 

Ah, tapi apa urusannya dengan itu semua. Bilang saja masih takut mati. Takut akan apa yang dirasakan pada saat kematian, atau apa yang akan terjadi setelah kematian. Toh dunia akan berputar sebagaimana mestinya. Kalaupun ada yang kehilangan waktu akan mengobati dan mereka akan bertahan.

 

Jakarta, 24 September 2017

Kita yang Takkan Lagi Ada

Tentang cinta yang menggunakan logika. Tentang pilihan yang tak melulu karena cinta

 

Aku dan dia telah kenal cukup lama. Lebih dari 12 tahun setidaknya. Saling bercerita, berusaha saling mengerti, dan mendukung satu sama lain.

 

Masih ingat di tahun pertama kami saling mengenal, kami duduk bersisian sepanjang malam. Bercerita panjang lebar tentang diri, impian, dan rencana-rencana hidup ke depan. Aku lebih banyak bicara ketika itu, dia lebih banyak diam. Mendengarkan dengan seksama, tersenyum sembari sesekali melemparkan komentar.

 

“Aku masuk kampus ini karena sering melihat mahasiswa-mahasiswinya demo di tivi-tivi. Terlihat gagah dengan jaket berwarna terang mereka,” ucapku bersemangat. Sejak dulu aku ingin sekali jadi aktivis. Orang tuaku dulu ikut turun ke jala di tahun 50-an. Kakakku pun sering cerita kisah tentang reformasi. Dia ikut rapat-rapat menjelang aksi, juga aktif mengumpulkan bantuan dana, dan membelanjakannya untuk kebutuhan konsumsi ataupun logistik mahasiswa yang tengah aksi.

 

Aku selalu bercerita betapa aku ingin terlibat di organisasi pergerakan mahasiswa. Aku selalu membayangkan diriku berdiri di atas Mobil Komando yang tinggi. Berorasi dengan lantang dan disambut sorakan ribuan massa yang mendengarkan dengan bersemangat.

 

Dia? Dia jelas pelajar sejati. Darinyalah kudapatkan catatan-catatan penting berbagai mata kuliah. Kalau dia tidak ingatkan, tugas-tugas kuliah pasti lupa kukerjakan. Dia mengajariku banyak hal, meski yang kuperhatikan hanya sebagian.

 

Suatu hari dia mengajakku ekskursi. Jalan-jalan berdua, tapi tak mengunjungi tempat wisata. Dia malah mengajakku ke kantor-kantor pemerintahan. Menceritakan bagaimana orang-orang di dalamnya sesungguhnya adalah pejuang. Mereka abdi negara yang mati-matian berusaha mengubah sistem dari dalam. Dia bertanya, ketika aku berteriak-teriak dari luar, mengkritik pemerintah, sampai di manakah suaraku dapat terdengar. Sementara aku punya peluang untuk berbuat sesuatu. menjadi abdi negara, mengubah sistem dari dalam. Sebelum pulang, dia bekali aku sejumlah buku. Buku tentang tokoh-tokoh bangsa. Orang-orang terkenal yang memimpin negara ini. Beberapa presiden, beberapa Perdana Menteri, beberapa gubernur, beberapa menteri.

 

Sampai di rumah aku berpikir sangat panjang. Buku-buku itu pun kubaca, dan kukunyah pelan-pelan. Nama-nama tokoh itu mulai merasuk benakku begitu dalam. Meninggalkan keinginan untuk menjadi mereka, atau setidaknya mengikuti jejak mereka. Aku harus jadi menteri pendidikan. Aku bisa jadi gubernur. Atau bahkan presiden?

 

Sejak hari itu, kutanggalkan jaket almamaterku. Bersamanya kubaca buku-buku kuliah beserta berbagai referensi dari majalah hinga website-website di internet. Tujuanku cuma satu. Belajar, mendapat nilai baik, lulus tes PNS, dan menjalani karier sebaik-baiknya, hingga waktunya aku jadi pemimpin dan mengubah Negara ini.

 

Kita pun lulus dengan nilai cukup baik. Tidak sampai cum laude memang, tapi melebihi rata-rata. PNS di Kementerian Pendidikan Nasional pun aku tembus. Sementara dia, memilih untuk langsung melanjutkan sekolah di negeri Ratu Elizabeth.

 

3 tahun yang lalu, giliranku melanjutkan kuliah. Satu tahun saja. Sepulangnya aku dari sana begitu merindunya. Rasanya ingin segera mendiskusikan berbagai teori dan kajian yang kudapatkan dari kampus. Ilmu yang buatku semakin mantap untuk terus berkiprah di pemerintahan, atau mungkin menjadi politisi sekalian.

 

Kami bertemu. Ada yang berbeda dengan dirinya kala itu. matanya begitu gelisah. Rambutnya kali ini gondrong tak beraturan. Pakaiannya seperti tak terseterika. Aku tanya apakah dia baik-baik saja. Dia bilang tidak apa-apa. Hari itu aku sekaligus menyampaikan kepadanya. Aku ditawari naik jabatan. Masalahnya kalau aku terima, aku akan lebih sering pergi ke luar kota. Waktuku akan menjadi sangat terbatas, dan akan semakin sulit bertemu dengannya.

 

“Bagaimana dengan kita?

 

Tanyaku padanya. Tapi dia meyakinkanku bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan selalu ada kita. Kita akan tetap bersama. Aku harus terus maju dan meniti karierku hingga ke puncak. Aku pun akhirnya mengiyakan. Mengejar impianku meski tak lagi memiliki banyak waktu. Kami semakin sedikit bertemu. Semakin jauh, semakin berjarak.

 

Hingga satu saat seorang Kawan mengabarkan sempat bertemu dengannya di Jawa Tengah. Kawanku bilang dia sangat aktif di rapat-rapat masyarakat yang menentang pendirian pabrik semen di sana. Kawanku bilang, dia ikut mendirikan tenda bersama mereka, berdemo di hadapan kantor Gubernur. Aku tertawa. Jelas tak percaya. Dia berdemo? Jelas sekali itu bukan dia. Kawanku pasti salah melihat atau mengira.

 

Nyatanya

Fakta itu kutemukan berkali-kali. Informasi kuterima dari banyak orang, bahkan kusaksikan sendiri melalui televisi. Itu dia. Meski brewoknya menutupi sebagian wajah, tak menghilangkan tatapan mata yang selalu kukenal. Meski suaranya menjadi lantang karena TOA, jelas itu suara yang sama yang mengajariku tentang menjadi anak bangsa bermanfaat. Tentang berjuang membenahi sistem. Tentang menjadi pemimpin yang menggerakkan banyak orang, dan punya kuasa untuk menentukan masa depan.

 

Kini

Siapakah dia kini

Adakah ku saja yang tak kumengerti

 

Dia pergi

Dia menjaraki

Dan ‘kita’ tak akan ada lagi

Kebohongan, Kesaksian, dan Rasa

Pondok Gede, 30 September 2017

Lubang Buaya tentu saja ramai. Lapangan Pondok gede pun padat demi sebuah film propaganda kebohongan yang dibuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan memelihara kebodohan.

Nyatanya kita masih harus berhadapan dengan hal-hal tak logis yang bisa dengan begitu mudahnya menyulut kemarahan dengan keberingasan. Nyatanya pendidikan dan bangku sekolah tak melulu menghasilkan kemauan berpikir apalagi daya kritis terhadap informasi di hadapan. Nyatanya laju teknologi informasi justru lebih mudah digunakan untuk menyulut kemarahan dengan kebohongan, daripada pencapaian tujuan ilmu pengetahuan.

Selamat memperingati hari yang menjadi gerbang kejatuhan bangsa ini. Jatuh semakin miskin karena sumber daya dieksploitasi, bumi dirusak, manusia diperbudak.

Kawan, benar sekali katamu.

Kita bisa bertemu lagi dalam keadaan hidup rasanya begitu takjub.

Kamu memeluk erat sekali tubuhku.

Seakan berkata nyaris saja kita tak lagi bisa bertemu.

Minggu, 17 September 2017

Tubuh ini tidak mau menyerah pada lelah. Meski baru 1,5 jam menginjak rumah Mama, sudah kutinggalkan untuk berangkat ke LBH Jakarta. Syukurlah, kali ini Mama begitu memahami kenapa anaknya harus pergi cepat sekali.

Sekitar pukul 13:20, saya sampai di sana, mulai menyiapkan acara Asik Asik Aksi bersama kawan-kawan muda lainnya. Dari mulai angkat meja, mengatur panggung, sampai mengatur rundown acara, dengan harapan kami bisa mulai tepat waktu. Malam sebelumnya kegiatan ini baru direncanakan. Beberapa pengisi acara setuju untuk hadir meski diberitahu dadakan. Selebihnya kami siapkan sendiri, bersama Kawan-kawan LBH Jakarta.

Keterlibatanku di sana tentu saja bukan kebetulan. Siapa tak marah mendengar Gedung YLBHI diserbu polisi. Apalagi menyusul larangan sebuah diskusi yang diselenggarakan para korban 65. Mereka yang kehilangan kehormatan, kehilangan keluarga, namun tidak kehilangan harapan. Tak ada percakapan tentang isme-isme apalagi hendak membangkitkan sebuah ideologi. Diskusi diselenggarakan semata-mata untuk mencari kebenaran, menelusuri sejarah, memahami peristiwa, mencoba menemukan keping-keping jawaban dari berbagai pertanyaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Dibunuh, diculik, disiksa, dipenjara, diperkosa, dihinakan.

Kegiatan pun berjalan lancar meski dibuka sedikit lebih lambat dari waktu yang tertera di publikasi. Peserta begitu ramai. Kami tak menyangka begitu banyak Kawan dan Solidaritas yang hadir. Bercerita, membaca puisi, menyanyi. Anak-anak, remaja, dewasa, tua, mereka berbicara tentang kecintaan pada negeri, mereka berekspresi untuk demokrasi. Tak lupa kawan-kawan dari berbagai organisasi hadir membacakan pernyataan bersama. Sebuah pernyataan yang dibuat seorang Kawan. Sebuah pernyataan untuk mengajak agar bersama menjadi berani, menjadi terang yang menyilaukan bagi tirani dan represi namun di saat yang bersamaan menghangatkan perjuangan untuk peradaban kemanusiaan. [1]

Sekitar pukul 21.15

Acara hampir selesai.  Aku tersenyum kepada dua orang Kawan. Kami takjub betapa persiapan yang tak sampai 12 jam, tapi dengan hasil yang melebihi ekspektasi kami. Lega. Sudah terbayang segera pulang dan istirahat. Apalagi keesokan paginya tugas memfasilitasi Sekolah Kepemimpinan Feminis telah menanti.

21.36

Informasi baru masuk. Depan gedung YLBI kedatangan Laskar-laskar. Kami pun berbagi tugas. Beberapa melihat situasi, beberapa bertahan mengawal acara di dalam. Aku masih terus menyanyi.

Dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu. Tuk mengingatnya di saat dia taka da. Esok pasti jumpa[2]

Tak lama kemudian

Seorang kawan memanggilku, berbisik

Ca, per sel ya, lantai 2 dan lantai 3. Aku terdiam. Aku tahu persis apa yang dia maksud, tapi aku tak tahu harus berpikir apa, hanya berusaha untuk tenang.

Hingga akhirnya acara dihentikan, satu persatu peserta menaiki tangga menuju lantai 2 dan 3. Aku pun mengikuti mereka, masuk ke dalam ruangan di lantai 3. Sesampainya di sana, yang coba kami lakukan adalah menenangkan peserta. Banyak di antara mereka kawan-kawan mahasiswa yang masih sangat muda. Mereka yang mungkin belum pernah terlibat dalam aksi-aksi demonstrasi, atau kegiatan diskusi politik. Hari itu mereka harus menunda kepulangan, meski sudah begitu malam.

Awalnya kami mencoba mencairkan suasana, mengobrol ringan, memberikan senyuman, dan sapaan, sekedar untuk menenangkan. Aku cek persediaan air di dalam ruangan, setengah di satu galon, dan setengah di tempat air (p*re it) lainnya. Gelas plastik ada beberapa. Bisa juga kami gunakan bergantian. Semoga cukup untuk kami semua di ruangan lantai 3 yang ternyata berjumlah lebih dari 50 orang.

Ada sekitar 4 atau 5 orang panitia yang ada di sana, berusaha berbagi tugas, dan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Menjaga pintu, menyiapkan sofa dan kursi-kursi tepat di depan pintu.

Kami terus memantau informasi dari bawah, sambil memberikan informasi kepada Kawan-kawan di luar yang terlanjur tahu keadaan kami. Situasi masih aman, aku merasa kami hanya tinggal menunggu negosiasi, agar kami semua bisa pulang.

Malam semakin larut. Mungkin sudah lewat tengah malam. Aku tidak lagi mengecek waktu. Suara di bawah semakin terdengar. Suasana pun mulai mencekam. Kami mulai mematikan lampu dengan tujuan agar tak terlihat.

Entah berapa jumlah mereka, yang jelas suaranya cukup banyak. Aku sungguh tak bisa membayangkan. Puluhan? Ratusan? Baru berhari kemudian aku dapat jawaban bahwa kami dikepung sekitar 1500 massa di malam itu.

Massa di luar menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kami mendengarnya dengan jelas. Tiba-tiba lagu Indonesia Raya terdengar dari dalam ruangan. Peserta yang ada di lantai 3 pun panik ketakutan. Mendorong sofa agar pintu tak bisa dibuka dari luar. Berlarian menuju ruangan yang tak seberapa besar. Merapat saling berdekatan. Aku berada di tengah ruangan. Mengenggam tangan seorang kawan. Kita tidak boleh panik, agar apapun yang terjadi, kita bisa putuskan tindakan kita secara jernih.

Syukurlah tak berapa lama ada kawan dari bawah yang mengabarkan. Tadi yang bernyanyi di dalam bukan massa. Melainkan kawan-kawan di bawah yang ikut menyanyikan Indonesia Raya. Hendak mengingatkan massa bahwa kita sama Indonesia. Tak ada massa yang masuk ke dalam gedung. Ketegangan sedikit reda. Tapi tidak hilang.

Kemudian ada peserta yang sakit, vertigo, sesak nafas. Ada juga yang menangis, sembari memeluk lengan temannya. Berusaha tetap tersenyum ketika mataku menyapa. Dua orang kawan mengajak peserta membentuk lingkaran. Saling berbagi perasaan, saling berbagi dukungan.

Aku tak bisa lagi mengingat kejadian detik per detik malam itu. tak sanggup mengingat rasanya. Namun yang jelas suara-suara di bawah begitu membekas

Bakar

Ganyang  — dengan nada yang biasa kami gunakan ketika aksi tolak WTO

Suara pecahan kaca mulai terdengar bertubi-tubi . Ya, mereka tak hanya berteriak. Mereka melempari dengan batu, kayu, benda-benda yang entah mereka dapatkan dari mana. Bisa jadi sudah sengaja mereka bawa.

Dan suara yang juga paling sering adalah

Allahu Akbar

Sempat sejenak aku terdiam

Bagaimana bisa manusia yang mengingat Tuhan adalah manusia yang sama yang hendak membunuh manusia lainnya?

Lalu dalam bayanganku muncul kobaran api hingga sejenak panasnya bisa kurasakan

Pikirku, bagaimana aku bisa meyakinkan kawan-kawan di sini, sementara aku pun meragu. Malam itu bisa jadi saat terakhirku di dunia. Aku menarik nafas panjang. Mengalihkan pikiran dengan kembali melihat mereka yang bersama satu ruangan denganku. Mencari apa yang bisa kulakukan. Menyibukkan pikiranku agar tak dilintasi bayangan-bayangan menakutkan.

Kejadian-kejadian berikutnya begitu cepat, penuh kepanikan dan tekanan. Proses evakuasi sedapat mungkin kami lakukan dengan tertib. Kawan-kawan yang sakit, kawan-kawan yang ekspresinya rentan, kawan-kawan mahasiswa, dan publik umum, baru kami yang aktivis. Hampir semua muda, hampir semua adalah perempuan. Semua berharap melihat jalan pulang. Tapi nyatanya kami masih harus duduk di sudut gang. Di sudut gang, di mana kami bisa saja diserang dari dua jalan. Di situ kami menunggu evakuasi hingga pagi menjelang. Tersudut. Tertekan. Ketakutan.

18 September 2017

Menjelang Subuh aku sampai di kantor. Berpelukan, dan mencoba istirahat sejenak, sebelum masuk sesi SKF tepat jam sembilan. Pikirku aku baik-baik saja. Aku tak tahu benar apa yang kurasakan. Marah? Marah pada siapa? Pada massa yang terbakar fitnah? Aku tak bisa marah pada mereka. Apakah aku sedih? Apakah aku takut? Apakah aku lelah? Apakah aku trauma? Aku tidak tahu apa yang kurasa. Bercerita pun aku bingung mulai dari mana. Aku hanya tahu hari harus berjalan seperti biasanya.

Barulah beberapa hari setelahnya, ketika bertemu mereka yang juga berada di tempat kejadian, seorang kawan berkata: Kita bisa ketemu lagi, kita masih hidup.

Aku baru sadar sejadi-jadinya. Bahwa aku takut, bahwa aku marah, bahwa aku sedih, bahwa aku bingung, bahwa aku kecewa, bahwa aku ingin menangis. Menangis sekeras-kerasnya, sejadi-jadinya.

Tuhan kasih kita hidup untuk terus berjuang. Bukan untuk melangkah mundur.

[1] Penggalan pernyataan sikap bersama yang dibacakan oleh beberapa organisasi pro demokrasi yang hadir pada Asik Asik Aksi. Pernyataan ini disusun oleh seorang perempuan aktivis muda yang telah bertahun-tahun berjuang bersama korban-korban pelanggaran Hak Asasi Manusia

[2] Lagu Banda Neira berjudul Esok Pasti Jumpa. Malam itu dinyanyikan Ananda Badudu sesaat sebelum evakuasi ke lantai 2 dan 3.

Revolusi Agraria

Sesungguhnya aku malu Eyang,

Tapi juga bingung

Berkali teriakkan Reforma Agraria

Padahal sejak tahun 1961 sudah engkau kritik habis-habisan

Katamu UU Pokok Agraria tidak akan bisa menyelesaiankan persoalan ketimpangan yang telah terjadi

Katamu yang kita butuhkan adalah Revolusi Agraria

Katamu sejak tahun enam satu

 

Seaandainya aku punya kesempatan berdiskusi denganmu, Yang

atau setidaknya menemukan literatur-literatur tentang pemikiran Eyang.