Seandainya Kita Mau Belajar

Semalam di sini ada perayaan Supersemar. Rupanya 19 tahun Reformasi tak membuat bangsa ini belajar. Padahal, literature sudah begitu banyak. Menampilkan versi lain dari sejarah buku putih yang penuh kebohongan. Film kesaksian algojo yang dibuat dengan dasyatnya, seolah tak berarti meski telah melalui riset bertahun-tahun lamanya. Sidang rakyat pun telah digelar meski meminjam negara lain. Hanya diabaikan tak lebih berarti dari angin lalu.

 

Hari ini orang-orang masih berteriak ‘awas bahaya komunis.’ Padahal yang hadir adalah bahaya orba dengan otoritarianismenya. Orang-orang menutup mata dari fakta komunis telah ditumpas habis dengan begitu kejinya. Bahkan mereka yang tak bersalah ikut dibunuh, dihilangkan, dianiaya, dipenjara. Orde baru juga sangat senang dengan bumbu-bumbu kengerian yang dibuat-buat. Tetapi cukup untuk membuat siapapun ketakutan. Takut untuk bicara, takut untuk mengkritik, takut untuk protes, apalagi melawan.

 

Sementara hari ini tumbuh menguat kelompok-kelompok yang merasa paling benar. Menghakimi, megkafirkan, menguasai, melakukan kekerasan dengan menggadang-gadang agama. Bersekongkol dengan kuasa modal menjadi anjing-anjing penjaga asset mereka. Merasa paling berkuasa dan bertindak semaunya. Dan negara diam saja.

 

Ah Negara

Negara tidak berdaya di hadapan mereka

Tetapi negara yang sama menggunakan daya untuk menekan rakyatnya.

 

Rezim ini dimulai ketika tempat aksi diistana semakin dipukul mundur. Begitu pun ruang-ruang aspirasi yang terus dibatasi. Diatur sana-sini. Pembunuhan aktivis pun dibiarkan. Waktu berjalan terus tanpa ada kejelasan. Aksi-aksi kerap dibubarkan. Beribu alasan disiapkan tak satu pun masuk akal. Konstitusi dilangkahi SOP polisi. Rakyat diusir, perempuan ditekan, dihadang, dipelintir.

 

Inilah yang terjadi ketika bangsa ini tak pernah belajar. Tak pernah belajar dari masa lalu saat pembunuhan massal dilakukan dengan dilumuri fitnah-fitnah keji. Tak pernah belajar dari kekejaman orde baru ketika suara dibungkam, kecerdasan dan kekritisan dibunuh, yang progresif ditumpas habis.

 

Apakah kita tengah menjelang kembalinya hari-hari di mana kita dipaksa diam? Bergerombol dengan tidak aman, berbicara pun merasa terancam. Apakah kita akan akan membiatkan negara ini kembali ke masa kegelapan? Menjadi negara pelanggar HAM yang kerap menyerang rakyatnya sendiri.

 

Coba pikirkan

Coba renungkan

Untuk negara yang tak mau belajar ini, setidaknya kita telah belajar. Dan diam jelas bukan pilihan.

WhatsApp Image 2017-03-14 at 12.22.47 AM

Taman Mini, 12 Maret 2017

 

Untuk Gadis Kecilku yang Bermata Terang

Untuk Gadis Kecilku yang Bermata Terang

 

Malam ini aku mendengar kabar tentang seorang fotografer yang mengakhiri hidupnya di usia 29. Usiaku. Sementara tiga orang perempuan menyampaikan kisah mereka menjadi korban kekerasan oleh seorang musisi yang kerap menyanyikan keadilan.

 

Dunia memang selalu kejam pada penghuninya. Dunia memang tak pernah ramah. Apalagi pada perempuan.

 

Seiring usiamu bertambah, ada banyak kata harus dan jangan yang akan kamu dengar. Kadang memang dapat dijelaskan dengan masuk akal. Namun lebih banyak yang cuma berujung pada kata ‘pokoknya.’ Aku membayangkan matamu yang besar akan semakin lebar. Alismu berkerut tak dapat menerima begitu saja.

 

Ketika mereka melarangmu memanjat pohon hanya karena kamu perempuan

Ketika kamu diharuskan mencuci piring sementara kakak laki-lakimu tidak

Ketika sederet aturan berpakaian harus kau turuti, tutup sana tutup sini

Namun tetap harus cantik, harus pandai memoles diri

Jangan sampai kulit terbakar menjadi legam

Jangan pulang larut malam

Dan yang terpenting

Jangan sampai hamil

Sementara laki-laki tak pernah diajar dan dilarang

Bebas mencumbu tanpa rasa takut

Merasa berhak memiliki dan menguasaimu

 

Satu ketika di sekolah atau di tempat kerja. Kamu harus berbuat lebih hanya untuk diakui berprestasi. Dibandingkan para lelaki yang hanya ongkang-ongkang kaki.

Suaramu bisa saja lebih lantang, dan langkahmu lebih tegas. Namun kamu tidak dipilih hanya karena dirimu perempuan

 

Mungkin saja itu menjadi duniamu. Masih dunia yang sama yang kuhidupi sekarang.
Sementara kamu bekerja banting tulang, sekedar untuk makan, dan menikmati beberapa lembar pakaian. Keringatmu, energimu dimakan oleh segelintir orang yang menumpuk kekeyaan. Segelintir orang yang sama yang merampas lahan-lahan petani, yang mengkafling wilayah pesisir hingga nelayan menjadi terusir. Dalam situasi tersebut, lagi-lagi perempuan yang paling menjadi korban. Mereka yang selama ini sudah sedemikian ter sub-ordinat, semakin tak memiliki kuasa atas dirinya, atas tubuhnya atas pangannya, atas sumber-sumber kehidupannya.

 

Mereka harus berpikir lebih keras agar anak dan keluarganya bertahan hidup. Bekerja serabutan, hingga meninggalkan kampung halaman. Beberapa dari mereka pergi ke luar negeri. Menjadi pekerja rumah tangga dengan beban kerja berlebih. Seringkali gaji mereka tidak dibayar, dieksploitasi, diperkosa, dianiyaya, bahkan kehilangan nyawa.

 

Gadis kecilku sayang,

Aku tak punya dongen Fairy Tale ala Cinderella. Tapi ingin kuceritakan padamu satu dua cerita. Tentang Teh Ros yang diperkosa, dan malah dipenjara. Menghadapi ancaman hukuman mati sendirian di Uni Emirat Arab tempat dia bekerja menjadi PRT. Dia berhasil lolos dengan perjuangannya. Pulang ke rumah hanya untuk menemukan suaminya telah menikah lagi dengan perempuan lain. Atau cerita tentang perempuan-perempuan Kendeng yang terus melawan. Berada di Garda terdepan menentang perusahaan semen yang menghancurkan sumber-sumber kehidupan mereka.

 

Anakku sayang,

Kelak mungkin kamu juga akan menyasikan betapa manusia adalah makhluk yang paling kejam. Kawan-kawanmu dikejar hanya karena merasa sebagai perempuan meski terlahir dengan penis. Mereka yang diusir, dicaci, bahkan diperkosa hanya karena mencintai sesama perempuan. Mereka yang ditolak bekerja, tidak dilayani oleh institusi kesehatan atau kelurahan hanya karena berbeda, atau distigma karena status sebagai ODHA atau pengguna Narkoba.

 

Hari ini Nak, aku dan kawan-kawanku tak berhasil sampai ke istana. Paada momen di mana seharusnya menjadi perayaan bagi perempuan di seluruh dunia, kami diusir, kami ditekan, kami dihalang-halangi.

 

Hari ini seharusnya menjadi langkah perjuangan perempuan. Sekedar menyampaian situasi yang kami alami, menyampaikan semua yang kuceritakan padamu sejak tadi. Sekedar perjuangan untuk membuat dunia selangkah lebih baik untuk perempuan. Agar cerita-ceritaku hari ini, tak perlu kamu alami kelak nanti.

 

Gadis kecilku yang bermata besar,

Kalaulah perjuangan ini kelak belum berhasil. Kalaulah engkau masih harus melalui apa yang kami alami, berjanjilah padaku satu hal.

Berjanjilah bahwa Engkau akan tumbuh dengan bebas. Menjadi dirimu, mencintai dirimu.

Lebih dari itu, cintailah manusia. Cintailah kemanusiaan. Hingga Engkau tahu siapa yang harus dibela. Siapa dan apa yang harus dilawan.

 

“Pergilah, bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan ribuan orang tertindas oleh hukum yang lalim, dengan faham yang keliru tentang benar dan salah, tentang baik dan jahat. Pergilah, pergilah, tanggunglah derita dan berjuanglah tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang kekal.” (Kartini)

Debu

Kita adalah debu-debu berterbangan di jalan raya

terlindas mobil, tersepak angin

tak terlihat meski sudah sekian lama berteriak di jalan yang sama

 

Kita adalah sebutir tanah tak terlihat

diinjak disingkirkan

meski telah memberi kehidupan pada mereka di balik tembok sana

 

Senin, kita teriakkan nama-nama para koruptor

Selasa, merundung malang untuk lahan-lahan yang dirampas

Rabu, kelabu oleh air mata perempuan teraniaya

Kamis, mencari mereka yang dihilangkan paksa

Jumat, terus menggugat hak-hak yang tak pernah didapat

Sabtu, kencan pun harus menunggu

Minggu, berteriak pada publik yang lebih banyak tak mau tahu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu

Serpihan suara yang tak lebih dari angin lalu

 

Bagi mereka

Kita cuma debu

Mengalir

Suara aliran sungai dini hari ini mengingatkanku pada hidup yang terus mengalir. Kadang deras kadang biasa. Namun pertanyaannya sejauh mana kita terbawa arus, atau kita tetap mampu memegang kendali atas aliran tersebut.

 

Berada di antara rutinitas seringkali membuat kita terlena pada aliran yang kita biarkan tanpa kuasa. Mengikutinya berkelok, tanpa tahu di mana sungai itu akan berujung, kapan kita berhenti untuk mengalir, atau setidaknya sejenak beristirahat pada riak-riak kecil.

 

Aliran ini tentunya bukannya stagnan, aku tetap maju dengan lancarnya. Meski harus meninggalkan pohon-pohon, bebatuan, maupun pemandangan pinggir sungai di belakang. Aku terlarut dalam aliran ini. Bukan tanpa kehendak. Aku membiarkan saja diri terseret tanpa peduli yang kutinggalkan jauh di belakang.

 

Pada titik ini, prioritas harus ditetapkan jelas. Terlalu naif bila kubilang masih mencari. Harusnya aku tak lagi goyah, tak pernah goyah.

 

Aliran ini tidak pernah menjanjikan terang di ujung sana. Tapi dia menuntut ketotalan. Ketundukkan yang paling tinggi yang pernah aku lakukan. Satu-satunya yang aku lakukan. Lebih tunduk dari mereka yang menunggu fatwa pimpinan. Tapi tentu saja bukan naif, karena mensyaratkan kesadaran penuh.

 

Tapi ketotalan ini masih terganjal. Hingga aku harus lepas, bebas dan mendobrak ganjalan itu. Lepas dari segala prasangka dan penghakiman, bebas berpikir tanpa peduli yang mereka pikir. Menjadi diri sendiri, bergantung hanya pada diri sendiri. Maka aku akan bisa tunduk secara total.

Angel-Demon

Seorang kawan tiba-tiba bertanya

“Ca, lo bipolar ya?”

Aku yakin dia sendiri tidak memahami apa itu bipolar sehingga bertanya begitu kepadaku. Pertanyaan itu sesungguhnya semata-mata dipicu perubahan penampilanku. Dua penampilan yang menurut banyak orang seperti melihat dua orang yang sepenuhnya berbeda.

Manusia selalu punya dua sisi yang berbeda

Bukan dua sebenarnya. Banyak.

Bahkan lebih banyak lagi sudut-sudut tersembunyi yang tak terlihat

Sama seperti menikmati kesendirian dalam keramaian

Atau berdiri teguh pada hati yang rapuh

Beberapa yang meng-klaim mengenalku bisa jadi kebingungan

Menuduh aku bukan kawan yang dia kenal, berubah karena pergaulan

Sebagian lagi menuding plin plan, kerap berubah bentuk,

Tanpa terbaca pola dan tujuan

Tapi aku memang bukan untuk dimengerti. Aku hidup, berkembang, dinamis.

Kerap berubah bukan berarti tengah mencari.

Karena di titik-titik perbedaan paling ekstrim yang kujalani saat ini.

Justru di sinilah aku paling merasa menjadi diri sendiri.cf13409e939f519502e07f7fcf0eb75d

Menemukan Hidup

Hidup dengan pengetahuan dan melihat langsung realita sosial seringkali memang membuat frustasi. Rasanya seperti waktu tidur yang hanya 3-6 jam setiap hari, berjibaku dengan berbagai dokumen, hingga debu-debu jalanan, berpikir keras untuk tak sekedar mengkritik tapi memberikan konsep-konsep hingga pasal demi pasal draft UU tandingan itu tidak mampu mendorong roda ini untuk bergerak.

bukan tidak ada gerakan memang. kemenangan-kemenangan kecil, soal gugatan yang dikabulkan, gagalnya Raperda yang akan melegitimasi lebih banyak perampasan lahan, terjadi satu dua, mungkin belasan kali. tapi kemudian apa yang kita hadapi tetap lebih besar dan seperti tidak bisa dilawan. sistem ekonomi, hukum, apalagi politik sudah jelas keberpihakan. dilanggengkan pula dengan sistem sosial, serta apa yang dipercaya sebagai agama.

Satu kali menang ketika MK mencabut aturan yang mengkriminalisasi benih, dan melanggengkan privatisasi Sumber Daya Air. Langkah berikutnya Indonesia kegenitan untuk ikut serta dalam RCEP, dan TPP, mekanisme perdagangan bebas yang menjadikan kebijakan proteksi menjadi ilusi.

Sementara gerakan makin abu-abu, terkubu-kubu cuma gara-gara eleksi yang kepentingannya pun tak kan menguntungkan rakyat banyak. mereka yang mengklaim bicara HAM dan kemanusian, hingga hak perempuan menjadi setuju bahwa HAM itu sendiri terbagi-bagi. di satu sisi menentang fundamentalisme yang mengancam demokrasi, keberagaman dan hak sipil politik, tetapi menutup mata akan pelanggaran HAM secara masif yang terjadi akibat penggusuran dan proyek reklamasi. sementara di sisi lainnya berteriak atas nama rakyat yang digusur, tetapi lupa bahwa teriakan itu bisa ada karena kebebasan bicara. kebebasan berpendapat yang bisa jadi hilang bila sekelompok orang yang merasa mayoritas dan merasa paling benar memberangus keberagaman, demokrasi, dan toleransi.

Rasanya semakin ingin berhenti. ketika sebuah keyakinan yang sekian lama dipertahankan menjadi tercabik-cabik oleh realita yang menenggelamkan.

tapi kemudian bersentuhan langsung dengan mereka memberikan harapan untuk hidup. Hidup yang seharusnya tak sekedar makan, minum, mencari uang, membeli pakaian dan segala barang yang tak diperlukan tapi diinginkan semata-mata karena iklan di televisi.

hidup ada pada suara mereka yang mulai berani menceritakan berbagai persoalan ketidakadilan yang dialami setelah sebelumnya selalu diam

hidup ada pada air mata mereka yang meskipun menangis, tetapi siap melanjutan hidup, menapaki masa depan, keluar dari siklus kekerasan yang bernama poligami

hidup ada pada lantunan teriakkan mereka ketika menyerukan tuntutan pada debu-debu jalanan dan teriknya matarhari

hidup ada pada komitmen mereka yang berkata, “saya bicara karena tidak ingin saudara-saudara saya, perempuan buruh migran yang lain mengalami apa yang saya alami.”

hidup ada pada nyala mata mereka yang bersemangat ketika berdiskusi tentang bagaimana merebut lagi tanah yang dirampas perkebunan tebu.

Maka jika kerumitan ibu kota mematikan segala hasrat untuk hidup, maka aku menemukan hidup yang kuat dan menguatkan, hidup dan menghidupi. panjang umur perjuangan

Diam

Diam

Kita tetap diam dalam bicara

Ketika huruf demi huruf, kata demi kata mengalir tak terhambat

Mereka menceritakan banyak hal

Tapi tetap menyembunyikan yang terpendam

Rasa

 

Betapapun kita sering bersua

Merangkai kata mengujar tanya

Namun tetap menyisakan satu yang tak terungkap

Hingga menjadi mustahil tuk terjawab

 

Kita diam dalam bicara

Bercerita dalam rahasia

Terbuka dalam persembunyian yang tertutup dalam

 

Diam

Tak terungkap

Tak terjawab

Kemudian

Luka