Relaksasi

 

Kemarin tanpa sengaja aku memgikuti salah satu kelas di Fitness First, yaitu kelas Body Balance. Bod Balance memadukan antara tai chi, yoga, philatest, dan teknik-teknik lainnya. Jangan Tanya bisa apa nggak. Ini kelas paling susah yang pernah aku ikuti sejauh ini. Mendingan disuruh jejingkrakan di Zumba atau Body Combat deh. Tapi tulisan ini bukan untuk membahas kelas-kelas itu. Tulisan ini Cuma ingin sedikit berbagi pengalaman yang aku dapat di sesi relaksasi.

Di akhir sesi, instruktur meminta kami untuk berbaring santai di atas markas. Lalu dia menyetelkan lagu yang lembut, meminta kami menutup mata, membayangkan energi positif masuk perlahan-lahan ke tubuh kami, dan membuat kami semakin nyaman. Pendeknya, dia menggunakan metode hypnosis, yang sebenarnya tidak asing lagi buatku. Karena sejak beberapa tahun lalu, aku juga beberapa kali mengikuti kelas-kelas hypnosis, termasuk relaksasi dan self healing. Namun memang sudah lama aku tidak mempraktikan hal-hal tersebut. Sehingga relaksasi semalam, kembali memberikan efek yang dasyat pada diriku.

Gambar pertama yang muncul adalah ingatan ketika aku bersentuhan dengan alam. Beberapa moment yang belum lama ini kualami. Di anyer, dan di Thailand. Saat-saat aku merasa betapa awan begitu indah, betapa angin begitu lembut membuat kita nyaman. Saat aku merasa betapa berkomunikasi dengan semesta senantiasa menghadirkan rasa syukur di diriku. Dan yang terpenting, berbicara dengan semesta juga berarti berbicara dengan diri kita sendiri. Dengan tubuh, dengan pikiran, dengan hati. Aku yang merasa, betapa sebagai individu, aku sudah sangat bahagia.

Lalu tiba-tiba muncul wajah anak-anakku. Kirana yang ketika baru lahir memberikan sekilas senyumannya saat pertama kali aku melihatnya. Tristan kecil yang setiap aku pulang sekolah/kuliah, berteriak dengan kencang memanggil namaku. Radit yang kerap tertidur di pangkuanku di mobil, dengan posisi yang selalu sama. Muthia kecil yang  panggilan khasnya selalu menbangunkanku dari tidur, saat semester akhir di kampus aku terbiasa bangun siang, karena tinggal mengerjakan skripsi. Derryl yang saat bayi kalau tidur tidak perlu digendong, tapi cukup dipeluk di tempat tidur, Dylan yang matanya tetap terbuka saat tertidur di lenganku. Dan Arsa, yang langsung mencondongkan tubuhnya, dan mengulurkan tangannya ke arahku, ketika melihatku pulang setelah perjalanan enam hari ke luar kota.

Di titik itu, aku tersadar. Bahwa aku sudah memiliki begitu banyak harta, begitu banyak kebahagiaan, begitu banyak kasih sayang.

7 miracles

Sosok mamapun muncul. Mama yang hingga saat ini, masih memperlakukanku sebagai anak bungsunya, putri kecilnya. Selalu memelukku kapanpun aku butuh. Menangis terharu untuk beras pertama yang kubeli untuk keluarga. Mama yang keningnya tak pernah luput kukecup hampir setiap malam, kapanpun aku tidur di rumah.

Di titik ini aku berucap:

Aku tak kan mau menukar hidupku dengan hidup siapapun, menggantinya dengan apapun.

 

Dan bayanganku tak berhenti sampai di situ. Aku melihat aku, berdiri di antara apa-apa yang kukerjakan sekarang. Wajah-wajah tersenyum buruh migrant yang berhasil pulang. Tawa canda kawan-kawan seperjuangan. Berbagai kesempatan yang aku dapatkan. Bertemu banyak orang. Belajar dari setiap kata, rasa, manusia, dan kebijaksanaan alam yang aku temui. Gila ya, segininya aku dikasih kesempatan. Untuk hidup, untuk berada di sini, melakukan apa yang aku suka, menyukai apa yang aku mau, mencintai yang aku punya.

Tuhan, aku tahu Engkau ada

Aku berbicara padamu melalui semesta

Engkau berbicara padaku melalui kasih sayang yang tertumpah tak terbatas

—————II—————-

Ketika sesi relaksasi selesai

Akupun membuka mata dengan beberapa tetes air mata.

Air mata bahagia

Terpaku

Aku bisa saja menghabiskan seluruh sisa jam hari ini

Terpaku memandangi layar leptop, tak berpaling dari deretan-deretan tulisan

Blog pribadimu

Mengagumi setiap kata yang kamu kumpulkan menjadi kalimat, menjadi paragraph, menjadi artikel utuh. Seperti menyelami sisi lain darimu yang sebelumnya tak pernah kulihat, atau mungkin kuabaikan.

Huruf demi huruf, gambar demi gambar, memancing rinduku tuk kian membuncah. Meski tetap tertahan paksa, tetap terpendam.

Setumpuk laporan telah memanggilku melalui folder-folder yang kususun rapih berdasarkan isu dan acara. Mereka tak mampu membuatku berpaling.

Melewati jam kerja, menjelang malam

Aku masih tenggelam menyelami sisi berbedamu

Jakarta, 31 Mei 2013

Hujan

Hujan
Di bawah rintiknya
Aku kecil menari-nari
Berlari menyambut setiap butirnya yang menerpa wajahku

Hujan
Dia tahu ketika aku remaja jatuh cinta
Apalagi ketika aku patah hati
Dia sembunyikan air mataku
Dengan tetesannya yang lembut menyentuh pipiku

Hujan
Dia pun kini mengajarkanku
Bahwa cinta itu universal
Bahwa cinta itu perjuangan
Ketika hujan mengiringi langkah-langkah kakiku
Mantap menyusuri jalan juang yang kuputuskan

8 Maret 2013
Untuk ketigakalinya aksi diguyur hujan :D

‘Kencan’ Hemat Bersama Kirana

Hang out bareng Kirana bermula ketika dia curhat ke aku. Dia tengah kecewa karena teman-teman sekolahnya membatalkan janji untuk nonton bareng 5 cm yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Jadilah aku mengajaknya nonton, dan akan menemaninya, meski sebenarnya aku sudah menonton film tersebut. Namun, hang out kami kali ini agak berbeda dari biasanya. Perbedaannya adalah, kalau biasanya hanya aku yang keluar duit, kali ini aku minta berhemat. Karena memang bulan ini aku harus memperketat pengeluaran.

Jadilah,,

Kami berangkat ke mall dengan berjalan kaki. Jarak dari rumahku ke mall itu memang tidak terlalu jauh sih, mungkin sekitar 250 meter. Maka kami berdua berjalan santai sambil mengobrol. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di mall.

Sesampainya di mall, kami langsung ke bioskop, dan membeli tiket. Kirana membayar sendiri tiket bioskopnya. Dari awal bayar sendiri-sendiri sudah menjadi perjanjian kami. Karena sebenarnya Kirana pun sudah merencanakan untuk menonton film tersebut. Sehingga, logikanya dia sudah menyiapkan dana untuk membeli tiket.

Karena film yang akan ditonton masih lama, jadilah kami berkeliling dahulu. Kalau biasanya, pasti ada yang dibeli, atau setidaknya kami akan mencari tempat makan untuk menunggu jam tayang. Kami keliling ke beberapa toko, tanpa membeli apapun. Hanya saja sempat ‘mampir’ ke foto box, karena memang aku sudah meniatkan untuk foto box bareng Kirana sejak sebelum berangkat.

IMG03918-20121229-2104edit

Setelah foto box, kami menikmati eskrim, seharga Rp2.500,00. lalu kami kehausan. Di dekat tempat memberi eskrim, ada yang menjual minuman dingin. Kami bersepakat untuk membeli air mineral. Bandrol yang dipasang untuk air mineral gelas Rp1000. Sementara air mineral botol kecil (bukan yang 600 ml), dibandrol dengan harga Rp2000. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli air mineral di toko swalayan, agar lebih murah. Kami menghabiskan 1 botol 600ml, dan 1 botol yang kecil, sebelum masuk ke studio bioskop.

IMG03916-20121229-1609edit

Selesai menonton, sudah masuk jam makan malam. Kamipun kelaparan. Namun kami sempat ke sebuah toko, dan membeli dua buah gelang yang sama. Satu untukku, satu untuk Kirana. Gelang tersebut masing-masing berharga Rp3000.

IMG03922-20121229-2110

Karena lapar, kami memutuskan untuk makan malam sebelum pulang. Namun tidak di dalam mall, supaya bisa lebih murah. Akhirnya kami ke warung padang yang berada di terminal dekat mall tersebut. Kami berbagi sepiring nasi, dan dua buah lauk. Pilihan minum kami? Tentu saja air putih.

Setelah menyantap nasi padang kamipun pulang. Lagi-lagi dengan berjalan kaki. Sambil pulang kami mendiskusikan tentang banyak hal. Tentang film yang kami tonton, tentang band yang sedang manggung di lapangan dekat rumahku, dan banyak hal lainnya.

Di tengah jalan Kirana berkata, “Wah Cha, kita malam mingguan bareng.” Haha.

Sindrom Seperempat Abad

Setelah tertunda lebih dari seminggu, akhirnya kesampaian juga mengabadikan momen menjelang 25 tahunku ini melalui tulisan. Jadi, sebulan yang lalu sempat kepikiran juga soal hidup. Soal lifeplan, capaian, dan yang terutama langkah-langkah ke depan. Karena itu, aku merencanakan ‘perayaan’ ulang tahunku yang jatuh pada tanggal 22 November dengan cara yang istimewa. Aku ingin melewati malam pergantian usiaku sendirian, di luar rumah, di bawah bintang. Supaya aku bisa berdiskusi dengan diriku sendiri, bertanya apa maunya, bagaimana mewujudkan si mau, dan komitmen-komitmen apa yang perlu dilakukan atau diperbarui. Akhirnya, rencana memang tak sepenuhnya menjadi kenyataan. Beginilah perayaan seperempat abadku dilakukan:

Pengantar

21 November setelah lewat tengah hari

Pukul 13.30 aku melangkahkan kaki ke luar rumah. Rencananya hari itu akan memoderatori launching sebuah buku bertajuk Hari-hari Salamander yang ditulis oleh sepuluh orang perempuan dan diterbitkan secara independen. Namun sebelumnya aku terpaksa mampir ke mall di dekat rumah, karena keypad BBku ngambek, huruf a nya tidak mau keluar. Seraya menunggu BBku dibongkar, aku pun iseng-iseng menato sementara punggung tangan kiriku. Setelah memilih beberapa gambar, aku sempat mempertimbangkan gambar tinker bell, tapi akhirnya aku memilih kalajengking, yang menjadi lambang zodiakku. Tato kalajengking, kuanggap itu kado pertama untuk diriku, meski terlalu awal.

tato

Selesai dengan tato, aku mampir ke Toko Buku. Sayangnya waktuku sempit. Aku hanya hendak membeli sebuah buku tulis untuk kugunakan malam nanti. Saat itu dalam hati, aku masih berharap akan menjalankan rencanaku untuk merayakan ulang tahunku yang ke 25. Terpaksa aku menahan diriku dari buku-buku yang terpajang menggiurkan.

buku coklat

Kedai Tjikini, 15.50

Sampai di Kedai Tjikini bertemu dengan beberapa aktivis perempuan, dan berdiskusi dengan mereka sebelum acara launching dimulai. Sayangnya acara baru dimulai sekitar pukul 17.30 (jadwalnya 17.00) lantaran narasumber terhalang oleh kondisi jalan yang macet. Namun launching dan diskusi berlangsung sangat seru. Hari-hari Salamander menunjukan betapa kisah perempuan, seringkali sederhana, atau kadang kala sangat detil dan rumit. Namun pengalaman perempuan sangatlah kaya, dan mendokumentasikannya ke dalam buku bisa jadi cara yang efektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Bersama penulis, tim penerbit, dan narasumber Hari-Hari Salamander

Usai acara, aku masih terlibat diskusi dengan beberapa orang kawan. Temanya macam-macam, dari aborsi sampai Pekerja Rumah Tangga. Puas berdiskusi, kemudian seorang kawan yang membawa kendaraan menanyakan tujuanku selanjutnya, seraya menawarkan tumpangan Akupun teringat, aku belum memutuskan akan kemana. Bimbang, sore hari hujan turun dengan deras. Tak ada bintang di langit. Tempat yang tadinya hendak kutuju pun pasti basah kuyup. Namun di sisi lain, rasanya sayang menggagalkan rencanaku.

Tanpa pikir panjang, akhirnya aku meminta temanku mengantarkanku ke sebuah tempat. Bukan tempat yang kurencakan sebelumnya, tapi aku harap tetap tak mengurangi ‘perayaan’ seperempat abadku.

Menjelang Seperempat Abad

Diringkas dari catatan di buku coklat baruku

20.10

Aku mulai membuka buku baruku. Di sebuah warung, memesan minuman hangat. HPku sudah kumatikan, agar aku benar-benar sendirian, tidak ada yang menganggu, baik di dunia nyata, ataupun di dunia maya. Aku pun menulis apa saja yang bisa kutulis, toh hal tersulit adalah memulai. Namun begitu sudah dimulai, jariku seakan tak mau berhenti bergerak mengisi buku baruku. Sayang, aku mendapatkan kabar buruk. Tempat itu akan segera tutup artinya, aku harus mencari tempat lainnya, segera.

20.33

Akhirnya aku mendapat tempat yang cukup terang, dekat bioskop, dan lumayan berisik sebenarnya. Karena tidak jauh dari tempatku duduk, ada dua sanggar berbeda yang sedang latihan. Keramaian itu justru bagus karena aku jadi merasa aman. Lagipula, kadang kesepian di tengah keramaian tu jauh lebih syahdu.

Well, melihat anak-anak ini menyanyi dan menari, kelihatan kalau mereka menikmati apa yang mereka lakukan. Coba dari kecil aku begitu. Mampu mengidentifikasikan diriku sendiri, mauku apa, apa yang aku suka, dan apa yang aku inginkan dalam hidup. Ah, tapi tidak ada kata terlambat kok, apalagi untuk mencapai kebahagiaan. Untuk itu juga kan aku ada di sini, buat ngobrol sama diri sendiri, dan untuk bisa benar-benar memahami harapan dan keinginan diri sendiri.

“Kita senasib sepenanggungan terhimpit dalam ……… zaman. Bergantung pada masa depan. Sebab di sana ada harapan”

(lirik lagu yang dinyanyikan sambil menari oleh anak-anak yang sedang berlatih)

21.00

Latihan menari dan menyanyi yang ada di dekat tempatku duduk sudah selesai. Mereka pun berangsur pulang. Mayoritas mereka dijemput oleh orang tua atau anggota keluarga yang lain. Aku menggeser duduku ke tempat yang lebih tersembunyi. Namun tetap cukup terang untuk menulis, dan dalam jarak 100 meter masih terlihat orang lain. Aku harap kafe di depan bioskop ini buka 24 jam, sehingga aku bisa tetap ‘aman’ di sini.

Tanganku terus menggoreskan pulpen ke kertas. Mulai menyusun impian-impian yang aku simpan. Ada yang aku coret, ada yang tetap kuputuskan untuk menjadi impian. Tahun-tahun mulai mengisi masing-masing impian. Beberapa target sudah ditetapkan.

21. 33

Ternyata kafe 21 itu tidak buka 24 jam. Petugasnya mulai merapihkan beberapa kursi, suasanapun mulai sepi. Mungkin paling lambat pk 22.00 aku sudah harus hengkang. Namun tampaknya resolusiku pun tak lama lagi akan rampung. Maka aku terus menulis dan menulis.

Setelah lima belas halaman yang terdiri dari brainstorming dan RTL (Rencana Tindak Lanjut), akhirnya aku selesai. Termasuk di dalamnya komitmen-komitmen jangka pendek, terkait keuangan, pola hidup, target membaca, menulis, dan lain-lain. Aku selesai, semua sudah diputuskan.  Aku memutuskan meninggalkan tempatku menumpahkan segala pemikiran dan berdiskusi dengan diriku sendiri. Namun waktu masih jauh dari pergantian umurku. Kuputuskan untuk berjalan, kemanapun, sesuai kaki ini berkehendak.

Taman Ismail Marzuki, 21 November 2012, 22.10 WIB

—II—

Kakiku sudah terasa pegal, bahkan merasa hampir kram. Entah sudah berapa lama waktu kulalui seraya berjalan kaki. Namun aku tetap melangkah, dengan tekad melewatkan pergantian usia sendirian, di luar rumah. Sejak kapan momen pertambahan umur menjadi sesentimentil ini? entahlah.

22.48

Entah kenapa, kakiku berbelok ke tempat ini. setelah berjalankaki dari TIM hampir 40 menit aku memutuskan untuk singgah. Tempat di mana orang-orang tidur bergelimpangan. Hanya beralas tikar, berselimut kain sarung, beralaskan seperi kanopi berbahan triplex yang setengah terbuka. Pembicaraan di sini seputar angka. Angka puluhan ribu rupiah yang keluar setiap hari, yang tak cukup untuk mendapatkan tempat singgah yang layak sekedar untuk beristirahat. Sehingga di sinilah mereka, berusaha tidur di tengah udara dingin dan nasib yang tidak menentu.

22 November  2012, 00.00 WIB

Selamat ulang tahun Nisaa. Akhirnya sampai ke usia 25. Aku melewatkan seperempat abadku seraya membaca sebuah buku, diiringi berbagai cerita yang kebanyakan sendu. Aku menyongsong seperempat abadku bersama cerita seorang ibu yang kerabatnya mengalami kecelakaan. Sang kerabat tidak memiliki jaminan sosial, dengan gaji tidak mencapai UMR sebagai satpam di sebuah yayasan. Sesekali aku mendengar Ibu dan Bapak lainnya, mengabarkan pada kawan di sebelahnya bahwa kerabat mereka belum mendapatkan kamar. Penuh kerap menjadi alasan.

Akupun memutuskan untuk beranjak pulang. Setelah ‘merayakan’ ulang tahunku sendirian, rencananya pukul 10.00 aku akan ‘merayakan’ ulang tahunku bersama puluhan ribu buruh. Maka aku harus beristirahat, agar kondisi kesehatanku pun optimal. Namun sebelumnya aku mampir ke kamar kecil, yang letaknya agak jauh. Mengejutkan, karena ternyata ada lebih banyak lagi orang yang tidur bergelimpangan beralaskan tikar. Di sepanjang lorong yang kulewati, selalu penuh dengan perempuan/laki-laki, tua/muda yang mengisi lantai. Sebagian menggunakan tikar, namun tak sedikit yang menggunakan koran. Ah, Indonesiaku jika pendidikan, rumah, dan kesehatan menjadi begitu sulit untuk diakses, maka apa fungsimu wahai negaraku?

RSCM, 22 November 2012, 00.46

Catatan Tambahan: ulang tahunku kali ini juga menjadi sangat istimewa, itulah pertama kalinya aku berorasi di hadapan ribuan buruh, merasakan semangat dan solidaritas mereka. Merasakan gema dasyat ketika suara mereka mengikuti ucapanku

Hidup Buruh

Hidup Buruh Migran

Hidup Pekerja Rumah Tangga

Hidup Perempuan

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

merayakan ulang tahun dengan ribuan buruh

 

Berbagi

Kejadian ini terjadi malam tadi ketika saya pulang kantor dengan menggunakan angkutan umum (seperti biasa). Di tengah jalan masuk dua orang pengamen. Satu orang laki-laki usia remaja membawa gitar kecil, dan satu orang perempuan masih anak-anak. Setelah mereka menyanyikan lagu Butiran Debu, beberapa penumpang pun memberikan uang. Sementara saya memberikan sekotak susu uht kecil yang memang biasa saya siapkan di tas.

Setelah lampu merah perempatan kali bata kedua pengamen itupun turun. Mobil angkutan umum yang saya tumpangi berhenti agak lama untuk mendapatkan lebih banyak penumpang. Saya memperhatikan pengamen kecil yang sudah turun itu dengan senang. Karena ternyata dia langsung meminum susu yang diberikan.

Tiba-tiba tanpa sengaja si pengamen kecil menabrak seorang Bapak yang tidak bisa melihat, dan menggunakan tongkat. Tanpa melihat sosok yang menabraknya, si bapak menyodorkan telapak tangannya. Si pengamen kecil langsung merogoh kantongnya, mengambil sejumlah uang dan memberikannya kepada di Bapak.

Peristiwa sederhana, yang membuat saya tersenyum. Dan bukan hanya saya, karena beberapa penumpang yang ada di dalam angkutan saya juga tengah memperhatikan si pengamen kecil. Kami saling berpandangan, saling melempar senyuman. :)

Dinner sama para Expert

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah acara konsultasi nasional terkait kebijakan Perlindungan Buruh Migran. Acara itu diselenggarkan di Jakarta dengan mengundang berbagai pihak, termasuk Buruh migran dan mantan Buruh Migran.

Nah, di salah satu hari, kita makan malem bareng di sebuah restoran Jepang. Tipe restoran yang ngambil daging sendiri terus bakar sendiri di meja masing-masing. Satu neja itu ada dua bakaran, dan disediakan enam kursi. Saat itu aku semeja dengan empat orang lainnya. Dua orang mantan BMP dari Hong Kong, salah satunya membawa anaknya yang masih balita, serta dua orang dari kalangan NGO seperti aku.

Jujur, aku jarang makan di restoran Jepang macam itu. Selain itu aku juga ga jago masak. Ya bisa si masak dikit-dikit, kalo cuma buat bawa bekel buat diri sendiri mah. Tapi paling menunya ga jauh-jauh dari tahu goreng, kentang balado, sama tumis brokoli telur puyuh, hehehe. Jadilah pas malam itu aku norak. Ga tau tanda-tanda cumi mateng gimana, udang enaknya masaknya berapa lama, dan lain-lain.

Untungnya ada dua mbak-mbak mantan BMP yang sangat ahli. Mereka bener-bener ngajarin plus bimbing aku. Jadi, aku bisa makan cumi dan daging yang matengnya tu pas. Mereka juga ngajarin aku kalo udang yang enak itu justru dibakarnya sebentar aja, cuma sampe berubah warna dikit. Bahkan dia merelakan udangnya buat aku cobain biar aku bisa ngerasain bedanya rasa udang yang dibakar sebentar, sama yang kecoklatan. Dan beneran lho rasanya enak. Jadi berasa seger gitu, dan lebih manis. Nyummie.

Sementara bakaran di sebelahku yang digunakan dua temenku yang sama-sama di NGO sudah hangus duluan, lantaran lemak-lemaknya juga hangus duluan. Ya, kemungkinan karna salah cara masak, karna lemaknya banyak dicelupin dan di bumbu sebelum dibakar. Jadinya kita berbagi satu bakaran berlima deh, dan makan sampe kenyang. Hehehe.

Jadi, siapa bilang masak, atau pekerjaan rumah tangga lainnya ga butuh keahlian? :)

Bakar! :D

Tentang Perahu Kertas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buku:

Judul: Perahu Kertas

Penulis: Dewi Lestari

Penerbit: Bentang Pustaka

Film:

Judul: Perahu Kertas

Produser : Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko

Produksi : STARVISION, MIZAN PRODUCTIONS & DAPUR FILM

Sutradara : Hanung Bramantyo

Well, lagi-lagi mungkin ini ga tepat disebut resensi si, tapi ulasan yang pengen gw ulas aja soal Perahu Kertas. Setelah baca bukunya, akhirnya gw juga nonton filmnya, karena penasaran bakal kayak gimana. Secara garis besar, ya gw lebih suka bukunya daripada filmnya. Tapi wajar, karena dari buku gw bisa dengan bebas mengkhayal, dan memvisualisasikannya dengan amat kaya. Dan juga bukan berarti filmnya ga bagus. Menurut gw filmnya bagus kok. Ada beberapa improvisasi dari bukunya meski ga banyak, dan karena ga banyak jadi ya ketebak hampir seluruh adegannya, hehe.

Intinya, kalo bisa melepaskan apa yang udah kita baca di bukunya, filmnya pasti jadi bagus banget. Sayangnya, gw udah baca bukunya, dan lebih sayangnya, gw baca bukunya ga lama sebelum filmnya tayang. Jadi masih bener-bener inget sama jalan cerita, bahkan detil ceritanya. Ohiya, sebelum lanjut ngebahas, peringatan aja, bisa jadi ini Spoiler. So, buat yang belum baca atau nonton dan berencana baca atau nonton, kayaknya lebih baik ga lanjut baca. hehe

Tokoh dalam bayangan dan dalam Film

Kalo dibandingin sama bukunya, di awal film udah ada improvisasi, ketika Kugy mau pindahan pake dus, padahal kalo di buku, Kugy Cuma bawa tas ransel. Selain itu di beberapa adegan Kugy nya juga rada kurang berantakan. Kelihatan cuek iya si, tapi ga berantakan, hehe. Cuma jujur gw juga ga kepikiran si siapa lagi yang lebih cocok meranin Kugy, dibanding Maudy Ayunda.

Sementara tokoh yang lain terasa pas. Eh nggak juga de, soalnya tokoh Eko yang gw bayangin ga sekonyol yang ada di film. Hehe. Tapi yang lainnya pas. Baik itu Wanda, Ojos, Luhde, Noni, dan juga Keenan.

Ah ya, khusus untuk Keenan, Adipati Dolken itu emang ganteng banget ya. Mancung, keriting, dan mukanya juga pas disorot kamera ga terlalu mulus. dan gw suka banget sama tatapan mata dia, baik ke Kugy maupun ke Luhde. Berasa kalo dia lagi jatuh cinta, meski tanpa kata. Haha.

Sementara untuk Remi, alias Reza Rahardian, ga tepat kalo gw bilang dia ga pas. Tapi dia tetep beda sama yang gw bayangin di buku. Bukan soal fisik, tapi visualisasi-visualisasi lainnya, gimana sikapnya, gimana dia natap Kugy, dll. Soalnya Remi yang ada di film lebih keren daripada Remi yang ada di bayangan gw pas gw baca bukunya. Seperti biasalah ya, Reza Rahardian emang keren. Secara fisik si ga ganteng versi gw, tapi entah kenapa selalu terlihat keren.

Adegan yang Terlewat

Ohiya, beberapa adegan di buku juga di cut. Misalnya waktu mereka lagi main truth or dare, dan Eko ngaku pernah suka sama Kugy. Menurut gw itu cukup signifikan, karena ngegambarin gimana akhirnya mereka berempat terbonding, dan sebenernya akan signifikan juga kalo konfliknya Kugy-Noni lebih dipertajam kayak di buku. Karena di filmnya, konfliknya diper-simple hanya karena Kugy ga dateng ke ulang tahunnya Noni.

Nah, sebenernya adegan di buku yang paling bikin air mata gw berderai-derai tu adegan pas Noni akhirnya ngebaca buku yang Kugy buat untuk ulang tahun Keenan, dan akhirnya Noni sadar kalo kugy jatuh cinta sama Keenan. Tapi pas di film agak kurang dramatis si. Meski gw tetep nangis (secara emang cengeng, hee).

Banyak adegan yang dipotong si, tapi wajar lah ya, karena persoalan durasi. Ohiya, Perahu Kertas juga rencananya akan dibagi jadi dua film, makanya yang film pertama ini belum selesai. Posisinya masih Kugy sama Remi, Keenan sama Luhde. Sementara Noni nikah sama Eko. Meski sebenernya udah lebih dari setengah buku (kalo ga salah), tqpi memang konflik pasca pernikahan Eko Noni sampe akhir lumayan seru si. Jadi gw menduga akan ada banyak adegan di buku yang dipertahankan. Harapan gw, dan sepertinya memang akan menjadi kenyataan, Reza Rahardian tetep akan meranin Remi. Karena gw si ngebayangin beberapa adegan Remi di buku itu bakal keren banget kalo Reza Rahardian yang bawain.

Dari semua yang kepotong-potong, gw agak menyayangkan nama panggilan sayang Keenan ke Kugy yang ga dipake. Kecil. Menurut gw nama panggilan itu jadi faktor yang signifikan di Perahu Kertas. Karena gw selalu dapet kesan yang special tiap Keenan manggil Kugy dengan panggilan Kecil. Karena Kugy memang kecil, dan entah kenapa terasa begitu intim, dan special.

Dramatisasi

Nah, selain adegan yang dipotong, ada juga adegan-adegan lain, yang sepertinya memang ditujukan untuk mendramatisasi cerita. Misalnya Bayu yang terlihat cemburu ngeliat kedekatan Keenan sama luhde, atau partner kerjanya Remi (gw lupa namanya) yang juga terlihat cemburu ngeliat kedekatan Kugy dan Remi. Karena adegan-adegan itu ga gw tangkap di buku,

Terus, seinget gw di buku justru Kugy ga buatin kopi pas lagi magang. dan itu dipertegas lewat kalimat di dalam cerita. tapi di film, Kugy justru terlihat beberapa kali sibuk membagikan kopi untuk tim Advocado yang lain.

Selain itu, pas adegan ultahnya Noni, ada adegan Noni sangat terlihat tidak menikmati pesta, dan langsung meninggalkan ‘panggungnya’ setelah meniup lilin di kue ulang tahunnya, sehingga mengundang pertanyaan dari para undangan. Padahal kalo di buku ceritanya para undangan ga sadar bahwa sebenarnya pesta itu sudah kacau, dan buat gw justru itu (yang di buku) terasa lebih miris. Tapi ya mungkin sulit untuk menggambarkan kekecewaan di dalam hati Noni ke dalam wujud film, kecuali kalo kekecewaan itu diperlihatkan.

Dipermanis

Selain itu ada degan yang menurut gw ‘dipermanis.’ Adegan apa itu? Adegan ciuman! Kalo di buku ada beberapa kali ciuman antara Luhde dan Keenan, juga Kugy dan Remi, tapi di film masing-masing Cuma sekali. Dan dijadikan berbarengan. Tapi jadinya ‘manis’ banget, dan jadi ‘aman’ ditonton sama remaja si. Hehe.

Jalan memutar

Baik di buku maupun di film pasti ada unsusr-unsur utama yang ga mungkin dihilangkan. Kayak gaya Kugy dengan tangan antena neptunusnya, karakter Kugy yang berantakan, dan Keenan yang cool, si Fuad yang sering mogok, dan lain-lain.

Dan yang pasti merasuk ke setiap pembaca dan penonton adalah pesan bahwa cita-cta kadang harus memutar. Tapi meskipun kita harus jadi orang lain dulu, cepat atau lambat, kita akan menjadi diri kita sendiri.

“Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri.”

– Keenan to Kugy.

Tapi ternyata jalan memutar itu ga Cuma buat cita-cita, tapi juga cinta. Memang seinget gw ga ada quoteyang menjelaskan itu secara tersurat si. Tapi kita semua pasti tau bahwa cinta Kugy dan Keenan harus memutar melalui Luhde dan Remi. Buat gw, intinya, cita-cita ataupun cinta, kalaupun dia harus berputar, cepat atau lambat dia harus kembali ke tujuan yang tepat.

‘Tradisi’ PSAF

Yak, setelah sekian tahun ga ‘maink-main’ ke kampus, akhirnya gw dateng lagi ke Fakultas tercinta itu. Percaya atau nggak, gw diundang dateng PSAF (semacam ospek), suatu acara yang sudah bisa dipastikan gw banyak ga sepakatnya. Bentar, gw bukan ga sepakat sama keberadaan acara pengenalan kampus buat mahasiswa baru. Tapi gw ga sepakat sama metode yang digunakan. Gw masih inget banget tu pas PSAF jaman gw. dari mulai alarm, bunyi gong, sampe disuruh duduk rapat dengan kata-kata “cium bau keringat kawan kalian.” Eitz ga itu aja, belojm lagi hormat bikun dan Dada-dada sama kereta. Dan yang paling menyebalkan adalah suara melengking Kakak-kakak panitia di depan muka. Ga Cuma bikin pengang, tapi kadang-kadang muncrat juga.

Well, pas jaman gw dulu si, ga semua Kakak-kakak itu gw sebelin. Ge respect kok sama beberapa orang, yang emang bisa diajak dialog, dan bahkan mereka selalu ngejelasin apa kesalahan gw, apa yang mereka harapkan dari gw, dll. Ngomongnya si ga sambil mesam-mesem. Tetep tegas. Tapi juga ga bacrit teriak melengking gitu. Mereka-mereka itulah yang akhirnya sampe gw ga jadi Maba lagi, dan menjalani tahun-tahun di FH terus menjadi kakak-kakak tempat bertanya dan bercerita akrab. Termasuk juga dengan senang hati masuk ke kepanitiaan yang mereka jadi PJ nya. Hehe.

Tapi sayangnya, yang model begitu Cuma sebagian aja. Masih banyak yang justru bikin sebel. Soalnya, masalah sebenernya justru ada pada sistem PSAF itu sendiri. PSAF itu buat apa, dan ngebawa semangat apa. Sebuah tradisi yang dipertahankan terus menerus, atas nama kedisiplinan dan menumbuhkan solidaritas, tanpa ada hubungan antara dua nilai baik tersebut dengan metode yang disajikan.

Balik ke FHUI tahun ini, PSAF tetep ada. Awalnya gw berharap adik-adik kelas gw yang harusnya lebih ‘modern’ ga lagi mempraktikan bullying yang so last year itu. Nyatanya, bentakan ga penting tetap ada. Ketika seorang mahasiswa baru ingin mengemukakan pendapatnya, lalu kakak-kakak di sekitarnya mengerubunginya, menyuruhnya duduk, berteriak keras-keras di depan mukanya.

Memang, tidak ada kekerasan fisik di PSAF. Namun tetap saja benar-benar membuat tidak nyaman. Dan lagi-lagi, menurutku ketidaknyamanan itu tanpa esensi. Hey, ga ada seorangpun yang berhak membuat diri kita ga nyaman.

Selain itu, gw percaya bahwa praktik bullying yang terus dilestarikan itu punya andil signifikan terhadap terbentuknya feodalisme dan senioritas ga penting di FHUI. Kita ga bisa nutup mata bahwa di kampus besar itupun, masih banyak praktik-praktik ketidakadilan, dari mulai soal nilai, sampe ‘tubruk-tubrukan’ dalam rangka jenjang karir. Contoh ekstremnya, beneran ada lho yang kesandung di mata kuliah tertentu, sampe ga lulus-lulus, dan akhrinya harus pindah ke ektensi untuk mendapatkan gelar SH, cuma gara-gara dosen mata kuliah itu ga suka sama dia.

Satu hal si yang gw bingung, pas ada berita IPDN, Don Bosco, dll pada protes. Pada ngomongin soal kemanusiaan, seakan-akan mereka anti Bullying. Gw pikir ga perlu gelar SH buat tau kalo yang namanya kekerasan tu bukan cuma kekerasan fisik.

Sebenernya pas PSAF kemaren itu, berhubung gw punya kesempatan ngomong di depan Maba, gw juga nyebut-nyebut si kalo harusnya mereka ngelawan. Kalo mereka ngerasa ada yang salah ya lawan aja. Tapi gimanapun gw ga bisa nyalahin Mabanya juga. Apalagi PSAF itu adalah rangkaian penerimaan mahasiswa baru yang legal. Harusnya memang sistemnya yang diubah. Tapi ya gimana? Kalo dosen yang in charge di PSAF aja masih hobi neriakin mahasiswa baru ya apa yang mau diharapkan coba?

Ya mudah-mudahan aja, kampus gw tercinta itu akhirnya mendapatkan pemimpin yang tepat, yang juga concern sama penghapusan bullying. Jadi selain regulasinya juga dibuat tepat, orang-orang yang dipilih untuk menyelenggarakan PSAF juga orang-orang yang tepat.

Dan harapan gw, semoga ada generasi yang cukup cerdas dan kritis. Yang ketika giliran generasi itu menyiapkan ‘penyambutan’ untuk mahasiswa baru akan mengubah sistem agar adik-adik mereka tidak mengalami ketidaknyamanan yang mereka alami. Bukan generasi pendendam yang melestarikan tradisi bullying yang ga penting.

I Don’t Forward Violence

Lagi-lagi berita bullying di sekolah mewarnai halaman media kita hari ini. Kejadian ini pertama kali terungkap ke publik ketika seorang Ibu dari anak yang menjadi korban bullying   membagikan pengalaman anaknya melalui jejaring sosial twitter. Apa yang dialami Ary, siswa kelas 1 SMA Don Bosco Pondok Indah ini, tentunya bukan kejadian pertama, apalagi kejadian satu-satunya. Fenomena Bullying yang biasanya ‘masuk’ melalui kegiatan siswa/mahasiswa baru (MOS/OSPEK), terus dialami selama bertahun-tahun, bahkan dianggap wajar, dan parahnya dianggap sebagai ‘tradisi.

Saya sendiri masih ingat ketika pada masa kuliah, bersama beberapa orang kawan, bermimpi untuk menghapuskan bullying  di OSPEK kampus. Well, pada saat itu di kampusku sendiri memang tidak ada pemukulan, sundutan rokok, seperti yang dialami Ary. Namun, bagiku ketika kami dibentak-bentak untuk kesalahan yang tidak kami perbuat, ataupun ketika kami diperintahkan hal-hal yang tidak masuk akal maka itu adalah bagian dari Bullying.

Alasan pembentukan mental untuk ‘marah-marah’ adalah common bullshit. Berbagai bentuk bullying itu sama sekali tidak terkait dengan pembentukan mental, mendorong keberanian, atau hal-hal semacamnya.

Alasan lucu lainnya adalah tradisi. Come on! Sejak kapan tradisi buruk dan ga ada gunanya layak untuk dipertahankan? Atau justru pertanyaannya adalah, sejak kapan berbuat kekerasan dianggap sebagai tradisi, yang dilanggengkan secara turun menurun. Sebuah ‘tradisi’ yang diwariskan melalui rasa dendam.

Namun, satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, bahwa orang yang melakukan kekerasan atau bullying biasanya adalah orang yang juga pernah menjadi korban kekerasan. Saya bukan ahli psikologi si, jadi tidak bisa memberikan penjelasan yang ilmiah mengenai hal itu. Tapi setau saya, memang ada studi yang menyatakan demikian, bahwa orang yang menjadi korban kekerasan cenderung akan melakukan kekerasan.

Saya sering mendengar Ilustrasi terkait Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebagai berikut: Kebutuhan ekonomi yang dialami seorang keluarga seringkali membuat sang  ayah (sbg pencari nafkah) stress, pelampiasannya melalukan kekerasan terhadap istrinya. Istrinya yang juga stress karena harus mengatur pangan keluarga, ditambah mengalami kekerasan dari suaminya, akhirnya melampiaskan dengan melakukan kekerasan kepada anaknya. Lalu si anak, akhirnya turut melakukan kekerasa, terhadap PRT mereka.

Pada intinya, korban kekerasan cenderung akan melakukan kekerasa balik terhadap orang/pihak yang kedudukan/posisinya kuasanya lebih rendah dibanding dia. Maka kekerasan itu akan terus menjadi kekerasan berantai yang menelan banyak korban.

Kondisi yang lebih spesifik dialami oleh anak. Pada dasarnya, anak mencontoh orang dewasa di sekitarnya, mengambil prilaku orang dewasa sebagai role model  kemudian menduplikasinya menjadi prilaku dia. Maka apabila kamu melihat seorang anak berprilaku dan bergaya bicara kasar, aku jamin, pasti ada orang dewasa di sekitar si anak yang memiliki gaya dan prilaku yang mirip dengan anak tersebut.

Bagaimanapun orang tua pada khususnya, dan semua orang dewasa pada umumnyalah yang paling bertanggung jawab terhadap anak, termasuk memberikan contoh baik untuk prilaku mereka. Kita tidak bisa melarang mereka untuk melakukan hal-hal buruk yang kita sendiri melakukannya. Kita juga tidak bisa mewajibkan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik yang kita sendiri tidak melakukannya. Karena pada dasarnya, mereka belajar dengan mencontoh orang-orang dewasa di sekitarnya.

Kita jugalah (orang dewasa) yang bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan kita sehingga kondusif bagi si anak untuk tumbuh dengan baik. Termasuk tidak menutup mata dan telinga ketika terjadi kekerasan.

Sebelum berbicara mengenai kebijakan yang harus dibuat, terkait tanggung jawab sekolah, atau pihak-pihak lainnya, ada langkah sederhana yang bisa diambil. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakui bahwa Bullying itu benar-benar terjadi. Bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga kekerasan verbal dan serangkaian tindakan tidak masuk akal lainnya adalah bentuk Bullying. Kita harus sama-sama sadar bahwa yang terjadi adalah sebuah kekerasan, bukan proses menempa mental, apalagi proses pelestarian tradisi.

Dengan begitu kita tidak boleh diam. Kekerasan harus terus dilawan, harus terus dihilangkan. Pengecut itu adalah orang yang melakukan Bullying dan takut dilaporkan, bukannya korban bullying yang dianggap ‘mengadu.’ Sebaliknya tindakan bersuara dan melawan ketika menjadi korban bullying adalah tindakan pemberani.

Selain itu, mungkin kita semua pernah menjadi korban kekerasan, maka yang harus kita lakukan adalah berkomitmen untuk tidak memforward kekerasan. Karena seperti yang saya uraikan di atas, orang yang menjadi korban kekerasan cenderung akan menjadi pelaku kekerasan.

I Don’t Forward Violence!!!!

Eh tapi kalo pelestari ‘tradisi’ Bullying itu justru dosen dosen yang masih demen neriakin Maba (Mahaiswa Baru) gimana ya? #justsaying :p

Sahabat Menulis Setia sejak 2008 ;)