Meleleh

Siapa si yang ga meleleh ngeliat mata Bruno Mars yang berbinar-binar lagi memuji ceweknya.

Bukan hanya video klip-nya, lirik lagu yang dinyanyikan si ganteng ini bener-bener bikin meleleh. Siapa si yang ga mau disayang dan diterima apa  adanya. Ketika pria kita menganggap kita cantik dan amazing dengan apa yang sudah kita punya.

Dan yang bikin lagu ini lebih membuat meleleh, karena kriteria amazing itu justru ga ditetapkan sama Mas Bruno. Kalau saja dia mengatakan perempuannya cantik karena hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang, matanya belo, mungkin gw yang berhidung pesek, mata sipit, dan rambut ikal ini ga akan segitu melelehnya. Tapi Mas Bruno justru memilih deskripsi yang tepat untuk membuat setiap perempuan mampu merasa cantik dengan lagu itu.

her eyes, her eyes, make the stars look like they’re not shining

ga peduli mata kita sipit atau belo, mata kita bisa bersinar-sinar hingga cantik melebihi bintang.

Her hair, her hair, falls perfectly without her trying

Mau keriting, lurus, atau ikal. Mau hitam, pirang, atau merah

Rambut kita bisa tergerai indah dengan alami begitu saja.

Her lips, her lips, I could kiss them all day if she let me

Lagi-lagi ga dibilang kan, apakah bibirnya tipis, tebel, atau dower (*ngaca)  sekalipun :p

Her laugh, her laugh, she hates but I think it’s so sexy

Kalau yang dimaksud Mas Bruno seksi adalah tubuh atau bagian tubuh.. hmmm, gw pasti ga segitu ngefans nya sama lagu ini. Tapi ternyata yang dibilang seksi itu adalah tawa si perempuan. Dan yakinlah, ketika hati kita bahagia, jiwa kita senang, maka hanya keindahan yang akan tampak di wajah dan tawa kita..

Dan yang terpenting,

Ketika dia adalah orang yang tepat untuk kita

Ketika dia adalah orang yang pantas untuk kita

Ketika dia adalah orang yang memang diciptakan untuk kita

Dia akan menerima kita apa adanya,

Tanpa pernah meminta kita untuk berubah

bagaimanapun adanya kita.

Oh, you know, you know, you know, I’d never ask you to change
If perfect’s what you’re searching for then just stay the same

Babies: Empat Peradaban dalam Satu Negara

Babies

Jenis Film
Documentary

Produser
Alain Chabat, Amandine Billot, Christine Rouxel

Sutradara
Thomas Balmes

Produksi
Focus Feature

Durasi
79 menit

Ponijao, BayarJargal, Mari, dan Hattie. Namibia (Afrika), Mongolia, Tokyo (Jepang), dan San Fransisco (Amerika). Empat bayi, empat Negara, empat kebudayaan, dan empat kehidupan yang berbeda di atas bumi yang sama.

Menonton film Babies membuatku mengagumi penciptanya. Kagum bukan karena melihat hal baru yang ditunjukan di dalam layar itu. Tapi karena ide dan upayanya merekam empat peradaban anak manusia yang sangat berbeda. Memperlihatkan betapa empat bayi yang mungil yang lahir di atas bumi yang sama, namun mengalami jalan hidup yang sangat berbeda.

Film tanpa dialog bukan berarti membosankan. Dari awal sampai akhir, kita disajikan proses tumbuh para bayi yang sangat berbeda. Kadang membuat kita tersenyum, kadang geli, kadang miris, dan kadang-kadang menjerit-jerit karena si bayi melakukan sesuatu yang mungkin takkan kita biarkan anak kita melakukannya.

Well, menonton film Babies, pastilah meninggalkan kesan berbeda2 di setiap orang yang menonton. Film ini mengajarkanku tentang kasih sayang orang tua, terutama Ibu. Bagaimana mereka melahirkan anak-anaknya ke dunia. Dengan kondisi apapun, dengan atau tanpa fasilitas, satu hal yang sama, bahwa keempat bayi tumbuh di dalam kasih sayang orang tuanya.

Melihat Hattie yang baru lahir tertawa-tawa ketika ditiup Mamanya, membuatku ingin mendekap bayi di dalam pelukanku. Tawa Ponijao yang memperlihatkan gigi putihnya di tengah2 tubuh tembaganya, Bayarjargal yang menatap polos Ibunya ketika dimarahi, juga Mari yang menangis kesal karena geregetan sama mainannya sendiri, membuatku melihat betapa bayi merupakan sebuah keajaiban dalam keluarga. Betapa mereka tumbuh dalam keceriaan, baik yang tidur di atas tempat tidur, atau dipangkuan kakaknya di atas tanah. Baik yang mandi dengan shower, maupun hanya dibersihkan dengan mulut Ibunya. Apapun kondisi mereka, aku percaya bahwa Ibu mereka telah memberikan yang terbaik yang bisa diberikan.

Ketika menilik lebih jauh lagi, film ini tak sekedar menampilkan perbedaan. Tapi bagaimana suatu kesenjangan semakin lebar. Kapitalisme Global. Entahlah satu frase yang mungkin tengah diperlihatkan di sepanjang film. Satu Frase yang membuatku berpikir setengah mati bagaimana menjelaskan kepada empat anakku yang ikut menonton bersamaku saat itu. Mimpi2 yang banyak menjadi slogan. Kita begandengan tangan, dunia penuh keadilan dan kesetaraan, dan slogan-slogan lainnya. Ahh,, mereka hanya slogan. Sementara nyatanya kesenjangan itu terus melebar.

Dan bagiku, perbedaan serta kesenjangan yang diwakili empat Negara di tiga benua itu tidak perlu jauh2 ditemukan. Karena ada sebuah Negara, di mana di dalamnya terdapat kesenjangan yang sangat lebar. Dimana empat peradaban yang sangat berbeda itu ada di dalamnya. Itulah negaraku, Indonesia.

Ponijao (Namibia)
Bayerjargal (Mongolia)

Mari (Tokyo)

Hattie (San Fransisco)

Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Politik Tanpa Solusi

Ulasan Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Hanya untuk yang sudah menonton

(Dilarang keras bagi yang belum menonton)

#bagi yang belum menonton silahkan baca:

http://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2010/04/17/alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/

Satir Politik Tanpa Solusi

Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya!

Sepenggal jargon itu adalah kata-kata penyemangat sahabat-sahabat kecil kita mengawali harinya sebagai pencopet. Mereka yang di mall, mereka yang di pasar, dan mereka yang di angkot, berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya uang yang bisa mereka dapatkan. Suatu perjuangan yang keras bagi anak negeri ini. Anak-anak yang kata UUD 1945 harus dipelihara oleh negara. Yang harus mendapatkan hak atas pendidikan. Dan dilindungi dari kekerasan dan ancaman ketakutan.

Komet, Glen, Ribut, dan teman-temannya mendapatkan jauh dari itu. Untuk makan sehari-hari mereka harus mencopet. Itu pun hanya untuk makan. Pendidikan? Mereka semua tak bisa membaca, menulis, dan menghitung.

Di sisi lain, Jupri sedang memamerkan leptop barunya kepada Rohmah. Tercengang menikmati gambar ikan berwarna warni. Tahu bahwa leptop itu bisa digunakan untuk internet, untuk bisa mengetahui dunia. Kenyataanya leptop itu hanya dipakai untuk memandangi screensaver dan main game saja.

Realitas itulah yang diangkat Dedy Mizwar dan kawan-kawan dalam film bertajuk Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Komedi Satir yang mengungkapkan ‘keajaiban’ Indonesia.

Keseluruhan film dipenuhi satir2 politik yang cerdas. Jauh dari itu film ini membuka mata kita semua. Tentang pendidikan, tentang pengangguran, tentang kerasnya hidup di jalanan, serta kritik pada penguasa negeri ini. Tanpa pemahaman, filmi ini hanya akan sekedar menjadi komedi belaka. Tanpa tahu apa maksud indonesia raya dinyanyikan dan disertai “Amiiinnnn.” Tidak merasa adanya sindiran ketika si calon anggota dewan hanya memandangi gambar ikan di leptopnya. Dan tertawa ketika seorang waria diseret sat pol PP. Semoga para anggota dewan yang menonton cukup cerdas, agar satir yang ditampilkan tak sekedar menjadi humor saja.

Pendidikan Tidak Menjamin Kesejahteraan

Buktinya, Muluk yang menyandang gelar Sarjana Manajemen (atau sarjana Ekonomi-red) mengalami kesulitan mecari kerja. Begitu juga yang dialami Syamsul yang menyandang title Sarjana Pendidikan. Sementara dua kakak Rohmah yang hanya lulusan Tsanawiyah dan Madrasah (CMIIW) sukses dengan kios dan konveksi sablonnya.

Satu realita yang kita hadapi sehari-hari. Betapa banyak sarjana yang menganggur. Sebagian yang lebih beruntuk beralih profesi. Berdagang, sopir angkutan, bahkan pemulung. Pengangguran merupakan fenomena sosial yang menjadi permasalahan di negara kita. Apakah kita harus menyalahkan lapangan kerja yang kurang, atau sistem pendidikan kita yang dibuat untuk mencetak buruh. Yang jelas pengangguran dan kemiskinan merupakan persoalan yang kompleks, yang membutuhkan penanganan komprehensif.

Pendidikan yang tidak membebaskan

Itulah kurikulum kita. Pendidikan yang tidak membebaskan. Dimana kita selalu diajar dengan buku dan mendengarkan kata Pak/Bu Guru. Dimana kita disajikan berbagai teori yang seringkali ga match sama realita. Dimana kita selalu dihadapkan dengan papan tulis, pinsil, buku, meja kayu, dan seragam yang kaku.

“Kalian boleh menulis dengan cara apapun, asal hasilnya menjadi huruf A.” Satu kritik  terhadap pendidikan kita yang seringkali dipenuhi kata harus. Memang lucu melihat cara2 mereka dalam menulis huruf A. namun kebebesan menentukan kemauan anak-anak untuk belajar.

Tengoklah apa yang dilakukan sebuah lembaga pendidikan alternatif Qori’ah Thoyibah. Atau mungkin ada di antara teman-teman yang sudah membaca buku Toto Chan. Mereka menentukan kurikulum mereka sendiri. Mereka boleh memilih pelajaran mana yang ingin mereka pelajari terlebih dahulu. Sistem belajar mereka sungguh menyenangkan, dinamis, dan jauh dari membosankan.

Suatu kali saya bertemu dengan Bapak Utomo Dananjaya. Pada hari yang sama saya diperlihatkan kegiatan di Qori’ah Thoyibah melalu video singkat. Kegiatan yang benar-benar mencari ilmu pengetahuan. Bukan sekedar mencari nilai. Adakah relevansi seragam dengan kecerdasan? Adakah relevansi definisi absolut dari sebuah buku dengan pemahaman murid? Maka lepaskan semua ketidakbebasan. Karena ilmu pengetahuan jauh lebih bebas, jauh lebih liar, dan jauh lebih luas.

Mengejar nilai, itulah yang diterapkan di sekolah-sekolah konvensional. Dengan sistem kaku yang menjemukan. Yang memberikan nilai kuantitatif tanpa ada relasinya dengan kecerdasan. Suatu sistem yang juga dikritik lewat film India 3idiots. Suatu sistem yang juga dilanggengkan di Indonesia.

Koruptor: Profesi untuk yang Berpendidikan

Lagi-lagi pendidikan dikritik. Pendidikan membuat orang menjadi pintar. Bukan hanya lebih pintar dalam mengelola negara, tetapi juga lebih pintar mengeruk uang negara. Nyatanya pendidikan tidak membuat orang taat hukum. Pendidikan tidak membuat orang mampu membedakan mana uang mereka dan yang bukan. Pendidikan tidak membuat orang bisa menbedakan yang benar dan yang salah. Tanpa pendidikan orang hanya bisa jadi copet. Dengan pendidikan, orang bisa jadi koruptor.

“Kalo korupsi bisa kan bg? Kan kita sudah berpendidikan.”

Sebuah Dilema: Budi Luhur vs Haram

Yang dilakukan Muluk, Pipit, dan Syamsul, adalah satu tindakan progresif untuk mengembangkan Komet dan kawan-kawan. Tindakan mereka patut diacungi jempol. Walau bertahap, namun arah mereka jelas, untuk membantu teman-teman kecil mereka meninggalkan profesi haram mereka. Toh segala sesuatunya tidak bisa instan. Nyatanya mereka tetap butuh uang. Dan jadilah mereka digaji dari hasil mencopet murid-murid mereka.

Kenyataan itu begitu pahit ditelan oleh orang tua Pipit dan Muluk. Uang haram telah mengalir di darah mereka. Kedua sahabat seperguruan pesantren itu menangis sejadi-jadinya. Meratapi jerih payah mereka selama ini untuk selalu jujur, selalu memberi makan dan membesarkan anak mereka dengan uang yang halah. Kenyataannya, anak mereka mendapatkan uang haram.

Di satu sisi, perbuatan mereka adalah budi luhur untuk membantu orang lain. Namun nilai agama mengutuki mereka. Menyudutkan apa yang mereka lakukan ke tempat yang haram, ke tempat yang salah, ke tempat yang dosa.

Ingatkan kata-kata Pipit? Seandainya Pipit anak orang kaya, tidak membutuhkan uang, dia akan melakukan pekerjaan itu, mendidik anak-anak itu tanpa mengambil bagian uang hasil mencopet mereka. Apa mau dikata, Pipit butuh uang untuk kehidupan sehari-harinya.

DPR: Bukan Cerdas yang Dicari

Jupri sang calon anggota legislatif. No urut 200 sekian (lupa euy) dari Partai Asam Lambung. Semua pasti tertawa begitu melihat apa yang ia tunjukan kepada Rohmah. Gambar ikan, itu saja. Leptop itu tidak untuk mengetik visi misi,program, dan renstra. Tidak untuk menjabarkan permasalahan rakyat dan penanggulangannya. Tidak juga berisikan data-data kebutuhan rakyat yang akan menjadi knstituennya.

Mungkin adegan ini mengingatkan kita pada satu peristiwa. Ketika anggota DPR menuntut untuk dibelikan leptop, dan kita pun bertanya-tanya. “Apa mereka semua bisa menggunakannya?”

Penegak Hukum = Bos Mafia

Dua orang berbadan besar, menghampiri Muluk, Jarot, dan kawan-kawan kecil kita. menegur dan bertanya, “Omset lagi gede ni?” Terlihat oleh kita, Jarot memberikan lipatan rupiah kepada salah satu dari mereka, dan mereka pun pergi.

Muluk pun bertanya siapa mereka. Anak-anak butuh pelindung. Jarot lah yang melindungi. Jarot pun butuh pelindung. Kedua orang itulah yang melindungi. Polisi, sudah pasti profesi itulah yang terlintas di kepala kita. mereka berdua pasti polisi.

Di banyak negara, mafia diburu. Mafia menjadi musuh penegak hukum. Mereka dengan gerakan bawah tanahnya senantiasa berhadapan dengan polisi. Tapi di Indonesia, di negeri yang alangkah lucunya ini, mafia berasal dari penegak hukum.

(Belum) Indonesia Raya

Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Cermatilah kata per kata lagu kebangsaan kita tercinta. Sungguh indah bukan? Sayangnya Indonesia Raya masih menjadi doa. Indonesia Raya belum menjadi nyata. “Amiiiiinnnn” pun menjadi kalimat yang paling cocok tuk diucapkan selesai menyanyikan Indonesia Raya.

Pedagang Asongan vs Koruptor

Pedagang Asongan diburu Sat Pol PP. Sementara koruptor dibiarkan bebas begitu saja. Kenapa? Karena koruptor tidak mengganggu jalan. Karena itu, daripada mengganggu jalan dengan berdagang asongan, lebih baik merusak jalan, dengan mengkorup dana pembangunan jalan tersebut sehingga pembangunannya tidak maksimal.

Ending yang Menampar: Law in the book vs Law in action

Muluk tampak tersenyum senang. Setelah mati-matian mengajarkan mereka. Memberikan pemahaman moral, pancasila, dan agama. Membuat mereka mengerti mana yang haram dan mana yang halal. Mendapat penolakan dan keengganan untuk berubah. Akhirnya kotak asongan yang dibelinya dipakai juga oleh Komet dan kelima temannya. Komet dan teman-temannya pun senang bisa melihat Muluk lagi. Mereka saling menyapa, melambaikan tangan dan tertawa bahagia. Syamsul pun pernah bilang , “kalau jadi tukang asongan, kalian tidak akan dikejar polisi lagi.”

Tiba-tiba tawa Muluk berubah. Kekhawatiran membayangi wajahnya ketika ia berteriak sambil berusaha keluar dari kobil. “Lari,” ujarnya. Komet dan kawan-kawan pun lari seketika. Mereka memang tak dikejar polisi, mereka juga tidak dikejar massa. Tapi mereka dikejar sat Pol PP yang siap menggaruk pedagang asongan, gelandangan, pengemis, dan anak jalanan.

Mencopet adalah pekerjaan haram. Risiko ditangkap, dipenjara, dan digebuki massa pun menjadi tantangan yang biasa. Dan ketika niat berubah sudah dilaksanakan, profesi mencopet sudah ditinggalkan, toh mereka dikejar-kejar juga.

Satir Politik Tanpa Solusi

Bagi yang berharap kisah ini akan berakhir bahagia, tidak akan menemukan apa yang dicari dalam film ini. Sepotong kalimat dari UUD 1945 mengakhiri film ini. Sepotong kata yang semakin absurd. Yang jelas diakui dan wajib dijalankan oleh negara karena tertuang dalam landasan hukum tertinggi negeri kita.

Film ini tak menyajikan akhir yang menjawab pertanyaan kita. Dia hanya menangkat realita yang ada. Yang dibenturkan dengan “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Satu tamparan besar bagi negeri ini. Apa yang ada di UUD, sama sekali tak terjadi.

Tanpa solusi, saya dan kawan-kawan beasumsi Dedy Mizwar pun tak menemukan solusi. Memangnya solusi apa yang bisa kita dapatkan dalam kondisi negeri sekarang ini? Saking ‘ajaibnya’ Indonesia. Saking ‘istimewanya’ sistem hukum kita. Tak ada solusi, di Negeri yang alangkah gilanya ini.

Alangkah Lucunya Negeri Ini: Satir Cerdas Realita Negeri

Alangkah Lucunya (Negeri Ini):

Satir Cerdas Realita Negeri

Pendidikan adalah alat untuk melompat.

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Muluk, yang menyandang gelar Sarjana Manajemen. Muluk, seperti banyak sarjana lainnya kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Muluk kerap kali ditantang dan disindir untuk mendapatkan pekerjaan. Hingga akhirnya Muluk dipertemukan dengan seorang pencopet kecil bernama Komet. Pertemuannya dengan Komet mengantarkannya pada satu pekerjaan yang dilematis.

Film yang digarap Dedy Mizwar ini mengangkat realita sosial dengan komedi satir yang cerdas. Perdebatan diawali dengan penting tidaknya pendidikan. Satu kondisi yang riil dewasa ini, karena pendidikan tinggi ternyata tidak menjamin kesejahteraan sesorang. Buktinya, Muluk yang notabene sarjana, belum juga mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya, Muluk memutuskan untuk berbuat sesuatu terhadap Komet dan teman-teman pencopetnya yang berusia belasan. Dia melakukan kesepakatan dengan bos para mereka yang bernama Jarot untuk membantu para pencopet itu berkembang dengan ilmu manajemen yang ia miliki. Syaratnya, 10% dari seluruh hasil mencopet harus diserahkan ke Muluk setiap harinya.

Judul Film: Alangkah  Lucunya (Negeri Ini)
Jenis Film : Comedy Satire
Sutradara : Deddy Mizwar
Penulis : Musfar Yasin
Produser : Zairin Zain
Produksi : Citra Sinema
Pemain Reza Rahadian, Deddy Mizwar , Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo , Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting , Sonia

Impian Muluk begitu besar, ia ingin anak-anak itu berhanti mencopet di suatu saat nanti. “Pendidikan itu alat untuk melompat,” ujarnya. Menrut dia, menjadi pedagang asongan adalah lompatan pertama, sebelum lompatan-lompatan yang lebih tinggi seperti membuka kios, dan akhirnya membuka mall.

Sehari-hari, kelompok copet ini dibagi menjadi tiga kelompok kecil. Pencopet mall, pencopet pasar, dan pencopet angkutan umum. Masing-masing dari mereka memiliki jargon. Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya. Muluk tidak muluk-muluk dengan langsung melarang mereka mencopet

Muluk tidak sendirian. Dia ditemani Syamsul yang pekerjaan sehari-harinya bermain gaple walau ber-title Sarjana Pendidikan, dan Pipit, seorang pengangguran yang hobinya mengikuti undian. Ketiganya datang ke markas Komet dimana terkumpul sekitar 18 anak. Setiap harinya, ketiganya datang untuk memberikan mereka pendidikan, termasuk pendidikan pancasila, moral, dan agama. Kepada ayah mereka, Muluk dan Pipit mengaku bekerja di bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia suatu perusahaan.

Proses yang mereka lalui bukanlah mudah. Mereka menghadi berbagai masalah, dari mulai ketidakpercayaan dari anak-anak, ketidakinginan diatur, hingga tantangan dari ayah mereka ketika mengetahui anak-anaknya mendapatkan uang dari hasil mencopet.

Hingga suatu hari, jumlah uang yang dikumpulkan sudah cukup besar. Sebagian digunakan Muluk untuk membeli beberapa keranjang asongan. Muluk menyemangati anak-anak untuk beralih profesi dari pencopet ke pedagang asongan. Anak-anak itu menolak karena berdagang asongan lebih lelah dengan hasil yang lebih sedikit ketimbang mencopet.

Saat itulah Muluk dan kawan-kawan mendapatkan tantangan. Orang tua mereka tiba-tiba datang dan mengetahui apa yang selama ini dikerjakan anak-anaknya. Para orang tua yang notabene satu perguruan pesantren itu terpukul dan kecewa terhadap anak-anak mereka. Muluk dan Pipit harus menyaksikan kedua ayah mereka menangis sambil berdoa memohon ampun bersama di masjid dekat rumah mereka.

Akankah sikap orang tua mereka menghentikan perjuangan Muluk dan Pipit? Akankah Syamsul yang mulai merasa hidupnya bermakna harus kembali menghabiskan hari-harinya dengan bermain gaple? Akankah anak-anak itu mengambil keranjang asongan dan meninggalkan profesi mencopetnya? Untuk mengetahui jawabannya, silahkan langsung tonton film ini. Tidak hanya penikmat film, film ini bahkan penting untuk ditonton para wakil rakyat. Hanya saja, film ini dipenuhi satir cerdas yang bisa membuka mata tentang realitas sosial bangsa ini. Perlu suatu pemahaman, agar film ini tak sekedar menjadi komedi penghibur biasa. Apapun endingnya, film ini hendak mengangkat realita yang ada. Dan realita yang ada menunjukkan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

#untuk yang sudah nonton, silahkan lihat ulasannya di

http://publite.wordpress.com/2010/04/18/ulasan-film-alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi/

atau

http://dindanuurannisaayura.wordpress.com/2010/04/17/alangkah-lucunya-negeri-ini-satir-politik-tanpa-solusi-2/